Sakralisasi Sumpah Pemuda


Semalam melihat acara Mata Najwa tentang manifesto pemuda, ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari beberapa sumber. Namun yang saya soroti adalah pernyataan pak Ichwan Azhari (Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan) bahwa Sumpah Pemuda bukanlah peristiwa penting sejarah. Semula peristiwa itu disebut Kongres Pemuda namun kemudian menjadi Sumpah Pemuda oleh karena dikonstruksi sedemikian rupa oleh Muh. Yamin dan Soekarno. Adapun menurut pak Abdul Chaer (Pakar Linguistik dan Sejarah Linguistik), sejak abad ke-5 orang-orang Nusantara telah terbiasa menggunakan bahasa Melayu yang merupakan akar dan rumpun bahasa Indonesia. Bahasa Melayu telah menjadi bahasa perdagangan atau lingua franca. Demikian pula pada masa kolonial, bahasa Melayu juga dianggap bahasa resmi selain bahasa Belanda dan bahasa lokal suku-suku.

Lalu muncul peristiwa seolah bersejarah bernama Sumpah Pemuda yang mana salah satu butirnya mencantumkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kesannya pada waktu kongres pemuda dilangsungkan, pada saat itu pula bangsa Indonesia menegaskan jati diri ke-Indonesiaannya. Dan lagi peserta kongres itu tidak banyak yang berbahasa Melayu, padahal bahasa Melayu sendiri telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang-orang Nusantara dari Malaka sampai Papua sana. Hal ini menunjukkan bahwa para peserta kongres tersebut adalah sekumpulan orang yang cuma bisa berbahasa asing (sampai harus diperlukan Muh. Yamin menerjemahkan jalannya kongres), dan bukan representasi entitas bangsa Indonesia.

Lalu apa kepentingan Muh. Yamin dan Soekarno? Di kongres itu Muh. Yamin adalah sekretaris kongres dan dia dekat dengan Soekarno. Dalam kongres itu Soekarno memang tidak datang dan menyertai jalannya kongres, artinya peristiwa itu memang tidak terlalu dianggap penting. Namun kemudian Muh. Yamin mengonstruksi demi popularitas dirinya agar mendapatkan peranan penting dalam sejarah Indonesia yang sampai tahun 60-an dalam buku-buku sejarah anak sekolah belum ada dimasukkan peristiwa kongres pemuda di bulan Oktober tahun 1928. Muh. Yamin mengutip Sumpah Palapa dan Sumpah Sriwijaya sebagai rentetan mata rantai persatuan Nusantara yang diinginkan oleh orang-orang Nusantara dan berujung pada Sumpah Pemuda. Maka berbeda dengan Buya Hamka yang membantah pendapat Yamin tersebut.

Menurut Hamka, Tidak benar kalau Sumpah Palapa dijadikan referensi persatuan oleh Yamin dan bukti integrasi masyarakat Nusantara sejak zaman kerajaan. Dalam Amukti atau Sumpah Palapa disebut bahwa Gajahmada tidak akan berhenti sebelum menghancurkan kerajaan-kerajaan demi memersatukan Nusantara, sedangkaan saat itu kerajaan-kerajaan yang diserang oleh Majapahit adalah kerajaan Islam seperti Samudra Pasai. Dalam pandangan Hamka tidak akan mungkin bisa orang-orang Islam kala itu dipersatukan dibawah panji kerajaan Hindu. Maka bukti pengintegrasian masyarakat Nusantara yang bisa dilacak melalui rentetan Sumpah adalah hanya imajinasi seorang Muh. Yamin belaka.

Mungkin Soekarno pernah berkata seribu orang tua dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia. Namun jargon ini dipakai juga demi kepentingan kekuasaan dirinya yang mana dalam rezimnya, Soekarno ibarat si Bapak Besar dan rakyat adalah bawahannya, yang terjadi justru relasi patron-klien dan jargon pemuda generasi penerus bangsa merupakan alat manipulasi generasi muda. Pembelokan terjadi di era Soekarno ketika semakin disakralkan bahwa bahasa Indonesia lahir sejak tahun 1928 di kongres pemuda, artinya Yamin sedang mengonstruksi sejarah bangsa Indonesia dimulai sejak tahun 1928 dengan strategi menonjolkan sisi bahasa. Soekarno juga menggunakan Sumpah Pemuda sebagai alat justifikasi terhadap lawan-lawan politiknya yang waktu itu dianggap sebagai kelompok separatis. Seperti pada tahun 1958, dalam pidatonya Soekarno mengatakan, “Jangan coba-coba mengkhianati Proklamasi dan Sumpah Pemuda. Mereka yang sekarang ingin memisahkan diri dari Indonesia adalah para pengkhianat yang lupa kepada Sumpah bangsa ini.”

Di rezim Soeharto, pembelokan sejarah demi kepentingan penguasa lagi-lagi diteruskan. Istilah-istilah persatuan dan kesatuan menjadi trade mark atau kata lain dari penyeragaman dan pembungkaman terhadap lawan-lawan politik dan pengkritik-pengkritik yang dituduh subversif. Mereka dituding pengkhianat negara yang bisa dengan mudah dihilangkan. Namun Sumpah Pemuda terus disakralisasi sampai kini sampai era reformasi.  Itu semua tidak lain hanya untuk melayani kepentingan Bapak-isme dan menjaga relasi patron-klien. Kemudian bagaimana sakralisasi Sumpah Pemuda di era reformasi ini? Karena zamannya telah berganti, sakralisasi mitos Sumpah Pemuda adalah dengan menggunakan alat yaitu para selebritis yang berjingkrak-jingkrak dalam setiap acara konser perayaan Sumpah Pemuda di televisi. Kamuflasenya berganti rupa sesuai tuntutan budaya pop dan pasar di zaman sekarang.

Semangat pemuda kembali direpresentasikan bukan lagi oleh sekelompok pemuda yang tidak bisa berbahasa Indonesia, namun kini oleh sekelompok musisi yang juga cari makan di acara-acara semacam konser tersebut. Semangat perjuangan kaum muda direduksi dalam selumit tampilan glamor. Hal itu demi membungkam semua daya kritis para pemuda, untuk menstimulasi kesenangan sesaat para pemuda agar melupakan keadaan bangsa ini yang masih terjajah dan belum merdeka.

ps. Sakralisasi Sumpah Pemuda melalui konser? ngepek nggak sih? ato cuma buat jualan produk iklan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s