Sumpah Pemuda dan Obor SEA Games Haram


Beberapa tempo lalu sempat terjadi kisruh kewenangan antara Kemenag dengan MUI tentang sertifikasi halal. Sekarang ini pemerintah bahkan sedang mengajukan RUU tentang sertifikasi halal, artinya negara mulai mengurusi soal halal-haram dan domain halal-haram bukan lagi bersifat voluntary namun telah menjadi mandatory daripada undang-undang. Dalam arti lain berarti kampanye masuknya agama pada wilayah hukum positif mulai dijalankan secara halus dan tanpa koar-koar seperti dulu yang frontal lewat pergantian sistem secara total. Tetapi bicara soal halal-haram berarti tidak hanya menyangkut pada makanan semata, pun terhadap hal lainnya termasuk perilaku manusia.

Berkaitan dengan soal urusan halal-haram tersebut, seperti biasa minggu pagi di masjid dekat rumah saya diadakan ceramah keagamaan dan sebagaimana biasanya infiltrasi ulama-ulama yang menyerukan kekerasan teologis dan puritan sudah benar-benar menyebar di wilayah Jabodetabek, termasuk pula masjid dekat rumah saya itu. Makanya waktu mendengar bahwa ketua NU Said Agil Siradj meminta kepada pihak-pihak dari kelompok keagamaan tertentu agar berhenti merebut masjid yang mengamalkan praktik-praktik tradisi kerakyatan, saya cukup menyambut baik hal tersebut. Karena dengan adanya perebutan atau pergantian praktik dan amalan di masjid-masjid, kentara sekali bagaimana politik telah masuk masjid dan mengubah masjid tak ubahnya barak perang.

Minggu pagi kemarin tumben-tumbenan si ulama menceramahi jamaah tentang persoalan sumpah, menurutnya sumpah yang mengatasnamakan selain daripada nama Allah berarti telah melakukan kesyirikan. Ada hadis riwayat Ibnu Umar yang dikeluarkan oleh Imam Muslim yang dikutip olehnya dan juga populer dikutip oleh ulama-ulama lain:

“Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah atas nama ayah-ayah kalian, maka barangsiapa bersumpah hendaklah dia bersumpah atas nama Allah atau hendaklah dia diam.”

dan juga hadis riwayat Ibnu Umar yang dikeluarkan Imam al-Tirmizi dan al-Hakim:

Barangsiapa bersumpah atas nama selain Allah, maka sungguh dia telah memersekutukan Allah.”

Kemudian si ulama itu bilang bahwa orang Arab menganut sistem patrilineal, nama suku didirikan atas nama pendiri, atau si bapak tertinggi yang menjadi founder atau pewaris dari pada suku-suku terdahulu. Karenanya bersumpah atas nama suku berarti juga haram dan syirik. Langsung saja saya teringat, analisa framing saya langsung jalan, karena ceramah itu bertepatan dengan bulan oktober yang di mana sebentar lagi bangsa Indonesia memeringati hari Sumpah Pemuda. Apalagi ketika si ulama atau ustaz itu memertanyakan apakah kita dibolehkan bersumpah atas nama bangsa, bahasa, dan negara? Para jamaah yang saya lihat cuma mengangguk-angguk saja waktu dicekoki bahwa sumpah-sumpah semacam itu berarti telah melakukan perbuatan yang diharamkan oleh agama, bukan cuma diharamkan namun juga telah menyekutukan Allah.

Bicara soal syirik ini saya juga mendapati slentingan menarik yang mengatakan bahwa obor SEA games adalah contoh kemusyrikan yang telah dilakukan secara berjama’ah oleh bangsa ini dari tingkat pemerintah sampai masyarakatnya. Seperti orang Majusi dan bangsa pagan kuno yang kerap menyembah api. Lalu biasanya para ulama semacam ini kerap mengaitkannya dengan bencana alam. Berarti dengan kalimat lain alasan mengapa bencana alam terus terjadi di Indonesia, dikarenakan orang-orang Indonesia mempraktikkan perbuatan haram bersumpah dengan mengatasnamakan selain daripada Allah, dan kesyirikan telah menyerupai penyembah api kaum pagan dan majusi.

Jadi pembenaran demi pembenaran teologis terus ditempel-tempel seolah itulah realitas yang menyelimuti manusia. Makanya siapa tahu kampanye sertifikasi halal yang dilakukan oleh institusi keagamaan, nantinya juga akan merambah pada sertifikasi haram. Setelah sertifikasi halal-haram menyentuh produk makanan dan bersifat legal formal karena telah diundang-undangkan, terus kemudian apalagi? Apakah akan ada undang-undang sertifikasi halal-haram untuk hal-hal di luar produk makanan? Okelah mungkin tidak akan sampai sejauh itu, tetapi sekarang ini semuanya seolah terasa berjalan beriringan, yakni antara kekerasan teologis dan fisik mulai menyusup ke wilayah struktural dan akar rumput. Strateginya mudah saja dengan menyebarkan klaim-klaim semisal salah satunya haram dan syiriknya sumpah pemuda serta perayaan obor SEA games. Nantinya masyarakat terus terjebak antara perebutan domain agama dan negara yang menurut saya di zaman sekarang sudah semestinya dipisahkan. Terserah apakah saya mau disebut sekuler atau sepilis (sekuleris, pluralis dan liberalis), tetapi ini opini pribadi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s