Mantan Mentri yang Sakit Hati dan Bubarnya Koalisi


Kasihan sekali bang Fadel yang merasa dizalimi oleh pencopotan dirinya sebagai Mentri Kelautan. Dari siaran berita di televisi, katanya dia baru tahu kabar mengenai pencopotan dirinya di hari yang sama menjelang pelantikan Mentri baru. Kemudian Fadel mendatangi istana Presiden untuk memertanyakan perihal pencopotan dirinya sekaligus alasan-alasan SBY bertindak demikian. Dan posisi Mentri Kelautan yang baru diisi oleh Syarif Cicip Sutardjo yang katanya juga berasal dari partai yang sama dengan Fadel, yakni dari Golkar. Apakah setelah penzaliman ini Fadel bisa-bisa melompat ke partai tetangga misalnya Nasdem atau lainnya.

Lain Fadel lain pula Patrialis Akbar, kelihatannya dia lebih tegar menghadapi pencopotan dirinya sebagai Menkumham dan akan balik ke kampus menyelesaikan s3-nya yang terkatung-katung. Namun sedikit banyak pasti ada rasa dizalimi pula seperti halnya Fadel Muhammad. Saya herannya apakah segitunya perasaan seseorang yang dicopot dari jabatan prestisius seperti Mentri. Bagaimana jika misalnya Muhaimin dan Suryadharma Ali yang dicopot. Padahal mereka itu ketua Partai, pasti malu banget sama kader-kader partainya kalau sampai mereka berdua dicopot dari Menakertrans dan Menag.

Tetapi dari peristiwa bongkar pasang kabinet ini saya jadi tahu bahwa ternyata perjuangan politik partai dan orang-orang yang duduk di dalamnya bukan murni demi rakyat, paling utama adalah demi perut dan status prestisius. Apalagi keistimewaan-keistimewaan berlimpah diberikan sebagai fasilitas untuk melayani kerja seorang Mentri, tambah menarik lagi jabatan tersebut. Dan kalau dikaitkan dengan partai politik, sering kan ketika masa pemilu tiba kemudian tiap partai saling mengunggulkan kerja partai mereka untuk masyarakat melalui figur-figur yang dipasang di pos-pos kementrian tertentu. Makanya ada partai yang langsung rapimnas untuk membicarakan apakah keluar dari koalisi atau tidak begitu tahu jatah kementrian bagi partainya dikurangi, seperti misalnya PKS.

Sebab kalau semakin berkurang jatah kementrian bagi suatu partai tertentu, maka semakin berkurang juga kans meraup suara banyak di pemilu dan kian berkurang pula figur-figur yang dijadikan alat untuk kampanye serta menampilkan keunggulan partai dalam mengobral janji-janji. Sasaran masing-masing partai saat ini sudah jelas yaitu 2014. Tetapi bagi partai yang berkoalisi, justru istilah etika koalisi merupakan boomerang tersendiri bagi mereka. Karena itu PKS mengambil langkah cepat menggelar rapimnas untuk menentukan sikap. Yang paling adem ayem sih partai-partai di luar koalisi yang sedikit banyak masyarakat mulai menaruh harapan kepada mereka walaupun tidak bisa dipastikan seberapa besar prosentasenya.

Melihat para mantan Mentri yang sakit hati beserta geliat partai-partai koalisi yang semakin tidak tahan untuk tetap bersama sampai 2014, kemungkinan menurut saya yang namanya koalisi juga akan menghadapi gonjang-ganjing di jagad persilatan. Bisa jadi ada bongkar pasang atau mungkin bubrah sekalian. Tetapi kalau memang partai-partai koalisi terus solid sampai 2014, hal itu merupakan sejarah baru bagi sistem presidensial di negara ini. Pun drama antara kubu koalisi dan oposisi akan kian baku sebagai cara berpolitik bangsa ini, bahwa tiap pasca pemilu (apakah pemilu partai maupun presiden) harus terus ada yang namanya koalisi serta oposisi. Namun pertanyaan klasik tetap terus muncul, apakah benar partai merepresentasikan rakyat, apakah benar suara partai suara rakyat? Lalu rakyat yang mana? Atau malah partai-partai politik yang memanipulasi suara rakyat?

ps. presidensial: presiden yang selalu sial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s