Andaikan Nabi Pegawai Kantoran atau PNS


stress di kantor demi sunnah nabi

Kemarin minggu saya mendengar ceramah dari seorang pendakwah yang menyatakan bahwa profesi pedagang dan entrepreneur, adalah sunnah Nabi. Entah mungkin banyak dari kita sering mendengar hal ini. Kesannya yang namanya Sunnah nabi cuma berpihak pada satu profesi. Naif banget gak sih kalau kita mengira bahwa semua orang di dunia ini harus menjadi pedagang hanya karena profesi itu sering diulang-ulang mendapatkan legitimasi dari sunnah Nabi. Padahal seorang pengusaha yang punya beberapa perusahaan pun tetap saja membutuhkan orang-orang yang kerjanya di belakang meja, alias yang berprofesi sebagai karyawan atau pegawai-pegawai kantoran untuk mengurusi perusahaannya.

Lalu ada juga pertanyaan dari saya, jika misalnya pedagang itu sunnah Nabi, lantas bagaimana dengan menggembala? Nabi Muhammad pernah tercatat sebelum sering ikut berdagang dengan pamannya, dia juga pernah menggembala. Kalau misalnya ditaruh dalam konteks kekinian, menggembala sama saja seperti buruh-buruh yang bekerja di peternakan orang. Apa pekerjaan mereka tidak sunnah Nabi? Pertanyaan itu memang tidak terjawab, tapi dasar pendakwah keliling, mereka tetap saja bersikukuh dengan pendapatnya sambil mengeksploitasi sejarah Nabi yang pernah berdagang itu.

Saya juga menanyakan bahwa sebelum menikah dengan Khadijah, justru Muhammad jadi bawahan Khadijah yang membawa barang-barang komoditas milik Khadijah untuk diperdagangkan di luar kota. Jadi sesungguhnya posisi Nabi waktu itu juga sebagai buruh alias bawahan, dan kalau lagi-lagi ditaruh pada konteks masa kini posisi bawahan seperti itu tidak jauh beda dengan orang-orang yang saban hari menghitung pembukuan kantor, duduk di depan komputer, dan mengurusi keluar masuk uang perusahaan, sementara si bos asik-asik travel ke luar negeri atau duduk santai di rumah. Jadi yang disebut pedagang adalah sunnah Nabi dalam teks hadis itu, pedagang yang bagaimana? yang mendagangkan barang-barang dagangan miliknya sendiri atau ketika Nabi menjadi bawahan orang lain dan menjual dagangan orang lain. Terus bagaimana dengan memerdagangkan jasa seperti calo atau makelar?

Pertanyaan itu juga tidak dijawab dengan jelas, dan justru ada lagi pernyataan si pendakwah yang menggelikan. Mengapa pedagang adalah profesi yang disunnahkan Nabi, salah satu alasannya karena pedagang adalah satu-satunya profesi di mana seseorang bisa tidur siang di antara waktu zuhur dan ashar, sebab (lagi-lagi) diklaim tidur siang adalah sunnah Nabi. Saya heran saja mengapa banyak sekali orang-orang yang sedikit-sedikit mengatakan segala apa yang diperbuat Nabi adalah sunnah. Terlalu tekstual sekali pemahaman demikian. Apalagi jika diletakkan dalam konteks masa kini. Akibatnya timbul pemahaman yang diskriminatif hanya karena mencoba menyesuaikan dengan bunyi teks. Jangan-jangan kalau dulu Nabi pegawai kantoran, bisa-bisa sekarang ini pegawai kantoran di bilang mengerjakan sunnah Nabi.

Kasihan sekali nasib orang-orang yang jadi PNS, apalagi PNS yang kelas bawah. Tidak bisa tidur siang, terus dibebani pekerjaan kantor bertumpuk sehingga kadang bergadang sampai tengah malam. Kenapa sunnah Nabi tidak ada yang diperuntukkan para PNS, seperti untuk PNS disunnahkan bergadang. Terkadang saya masih menemui pendakwah-pendakwah semacam ini yang membawa bahan ceramah yang sifatnya diskriminatif dan generalisasi. Mungkin dalam pandangan mereka, PNS atau pegawai kantoran sering merupakan profesi yang dekat dengan wilayah syubhat, karena dinilai dikelilingi praktik-praktik korupsi, dan semacamnya. Padahal kalau melihat realitasnya, banyak juga pedagang yang terlibat kasus suap dan korupsi, apalagi pedagang yang sudah main skala besar ekspor-impor misalnya. Tidak jauh beda juga dengan para PNS dan pegawai kantoran yang ketahuan korupsi, entah korupsi uang atau waktu. Sebaliknya banyak pula pegawai-pegawai kantoran yang tidak melakukan praktik-praktik tersebut di tempat kerjanya.

Tetapi memang begini realitas sosial kemasyarakat di negeri ini, agama tak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa. Masyarakat yang sepekan penuh sibuk mencari materi dunia, lalu disuguhi berbagai macam kajian pada hari minggu pagi sehabis shubuh oleh para pendakwah keliling yang bertebaran di masjid-masjid. Apa yang dikoar-koarkan seolah membandingkan sesuatu yang disebut baik dan buruk, benar dan salah, namun di sisi lain justru membawa kepada kerancuan.

A: Bukankah semua pekerjaan itu baik asal halal?
B: Tidak, cuma pedagang yang mempunyai keutamaan di mata Nabi.
A: Kalau dagang ayat bagaimana?

2 thoughts on “Andaikan Nabi Pegawai Kantoran atau PNS

    • Ya, tetapi kita bicara pada tataran praksis, bukan ide, bukan dogma. Pada tataran praksis yang dilihat adalah masyarakat alias manusianya. Dan apa yang saya tulis adalah berdasarkan pengalaman keberagamaan dalam realitas masyarakat. Bukan dogma di mana anda berangkat selalu dari sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s