Tag

, , ,


PKI juga manusia

Pertanyaannya sederhana, sebenarnya setiap kali bangsa ini menemui pertemuan waktu antara 30 september dan 1 oktober, apa yang kemudian kita kenang? Sebagian orang bersikap mirip seperti buku sejarah sekolahan, hanya mengulang-ulang tentang nama jendral yang dijebloskan ke dalam sumur. Sedangkan 30 tahun lebih bangsa ini terus dicekoki oleh film-film yang juga diskenario-kan mirip buku sekolahan. Bahwa PKI berkonspirasi melakukan kudeta atau meng-komuniskan negeri ini terus dianggap satu-satunya sejarah paling benar. Sementara dengungan jangan sekali-kali melupakan sejarah juga dikooptasi menjadi hanya satu sejarah yakni sejarah milik pemerintah.

Adakah alternatif lain dari sejarah? Banyak. Namun terus diredam kemunculannya agar masyarakat lagi-lagi hanya berada pada satu dimensi. Akhirnya yang terjadi mirip seperti di Amerika ketika tragedi 9/11 atau Holocaust pada masa Nazi. Begitu ada orang-orang yang berusaha menyajikan pembacaan berbeda maka akan dituduh subversif, hal ini karena kejadian semisal tragedi 30 september atau 1 oktober PKI sudah dianggap sebagai tautologi yang tak terbantahkan. Dan sejarah selalu menjadi milik pemenang yang kemudian menjadi penguasa, kemudian  semakin dipertahankan secara sadar atau tidak sadar.

Apparatus pemerintah melalui institusi pendidikan, sosial kemasyarakatan, sampai agama, berlomba-lomba memapankan sejarah itu agar terus menerus dikonsumsi oleh rakyat. Melalui institusi pendidikan yang bersistem pedagogis, para siswa disuapi oleh guru mereka menu yang sama. Menurut para guru, menu alternatif itu belum cocok buat mereka. Tapi lama kelamaan menu itulah yang paling cocok bagi mereka sehingga sampai jenjang sekolah tinggi, setiap siswa terus menyantap menu yang sama. Tidak ingin dan malas mencari menu alternatif karena dianggap tidak pasti dan tidak menyehatkan jiwa, pikiran, dan tubuh mereka. Dalam institusi agama menu alternatif dibahasakan sebagai kesesatan, penyimpangan, dan perusak persaudaraan. Sama tingkatannya dengan perusak persatuan nasional. Itulah yang selalu didongengkan di negeri ini.

Sekarang kita terus mengenang tragedi dan konspirasi PKI sebagaimana apa yang dicecoki oleh semua apparatus negara dari sejak berada di dalam rumah sampai ke luar, dengan berbagai dalil dan pembuktian yang sesungguhnya hanya untuk pembenaran demi pembenaran tautologi. Meski sejarah katanya terus berulang, tetapi sejarah yang berulang selalu milik pemenang. Padahal sejarah para pemenang ini juga dikonstruk dengan cara-cara konspiratif. Maka apabila sejarah pemenang yang terus berulang, percuma saja kita terus belajar.

PKI juga manusia, hanya sejarah milik pemenang yang terus menerus mengubah mereka jadi binatang.

Iklan