Ru’yah Global ala HTI: Eksploitasi Perbedaan Demi Keuntungan Politis-Ideologis


Menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, Hizbut Tahrir Indonesia atau yang disingkat dengan HTI, mendapatkan kesempatan untuk menjual dagangan mereka di salah satu stasiun TV lokal di Malang (Rabu 27/7/11). Dalam kesempatan itu, HTI kembali menyerukan pentingnya sistem institusi khilafah atau kekhalifahan Islam. Karena dengan demikian umat Islam dapat disatukan dan diseragamkan. Contoh perbedaan yang sering kali diributkan adalah mengenai penetapan awal Ramadhan dan juga 1 Syawal. Menurut HTI, faktor yang penting untuk diperhatikan oleh umat islam yang menyebabkan dominasi perbedaan umat dalam mengawali dan mengakhiri ramadhan terletak pada faktor politis yaitu ketika umat islam hidup tidak memiliki institusi politik pemersatu umat yaitu khilafah islamiyah, sehingga umat Islam terpecah belah kedalam sekatan negara-negara yang berpegang pada emosi nasionalisme.

Karenanya solusi yang dianjurkan oleh HTI adalah adanya ru’yah Global, yaitu satu ru’yah terlihat berlaku untuk seluruh negeri di belahan bumi manapun. Sekilas hal ini seperti sebuah solusi namun jika kita melihat profil daripada HTI, maka jelas bahwa selama ini HTI adalah pengusung tegaknya sistem kekhalifahan di Indonesia. Maka kacamata yang mereka gunakan ketika melihat perbedaan adalah kacamata burung (bird’s eye view), yang melihat perbedaan dari atas sehingga selalu mengartikan sebagai perpecahan serta bukan kemajemukan. Implikasi dari cara pandang seperti ini adalah, sikap yang ditunjukkan adalah superioritas seolah mereka paling benar sementara masyarakat yang mereka lihat adalah orang-orang yang penuh dengan kesalahan. Otomatis logika yang dipakai ialah logika juru selamat, bahwa hanya cara, metode, pendapat, doktrin yang mereka sampaikan adalah yang paling benar sembari di belakang mereka terus menghina-hina kondisi kemajemukan bangsa Indonesia.

Apalagi jika mereka sampai mengeksploitasi perbedaan di tengah masyarakat agar berujung pada perpecahan. Caranya simple saja yaitu dengan terus mengobarkan serta memanas-manasi situasi yang pangkalnya adalah persoalan ru’yah dan hisab. Bahkan dikatakan bahwa pemerintah tidak patuh dan taat kepada fatwa ulama Saudi yang telah mengeluarkan fatwa jatuhnya tanggal 1 Syawal. Dari sini semakin jelas bahwa motif dan kepentingan HTI adalah agar orang Islam Indonesia jengah dengan perbedaan, lalu menganggapnya sebagai ketidakteraturan, dan perpecahan. Sementara gambaran Islam di negara lain yang kebetulan merayakan hari Idul Fitri bertepatan dengan Saudi, dikatakan bahwa negara-negara itu telah patuh terhadap satu keputusan fatwa, dan satu sistem ru’yah global.

Polemik mengenai perbedaan 1 Syawal makin memanas lagi ketika media ikut-ikutan membikin keruh persoalan yang cenderung menjustifikasi bahwa pemerintah orde reformasi tidak tegas seperti zaman Orde Baru yang berhasil menyeragamkan perbedaan. Justru kalau kita melihat dari kulitnya saja seperti itu, maka kita akan setuju lagi cara-cara seperti Orde Baru dilakukan oleh pemerintah sekarang, yakni dengan cara represif. Nahasnya lagi orang Indonesia pun banyak yang mengamini propaganda ini hanya karena terjebak dalam pandangan sempit tadi, bahwa perbedaan berarti ketidakaturan dan perpecahan, dan bukan sesuatu yang wajar serta lumrah terjadi di masyarakat yang majemuk seperti rakyat Indonesia. Sampai-sampai ada berbagai macam slentingan yang mengatakan, “Pemerintah Indonesia kualat nggak ikut Saudi seperti negara-negara muslim lainnya.”

Tentunya di tengah perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal ini, HTI sedang bergembira karena bisa mengambil momen untuk menyebarkan ajaran mereka tentang ru’yah global ini. Mereka sudah punya kalkulasi sendiri berapa banyak orang-orang Indonesia yang anti perbedaan, maka dengan demikian mereka akan mendapatkan simpati, dukungan atas konsep ru’yah global ini. Dan semakin mereka setuju dengan produk-produk HTI, maka semakin mudah menjaring pengikut atau simpatisan HTI. Yang lebih anehnya lagi, HTI selama ini tidak pernah berkiblat ke Saudi, tetapi mengapa untuk di tahun 1432 H ini, justru yang jadi patokan adalah perayaan Idul Fitri di Saudi yang katanya jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Mungkin bisa jadi karena dalam pandangan HTI, selama ini Saudi adalah negara Islam dianggap yang paling ideal, sehingga ujug-ujug mereka berkiblat ke struktur hirarkis otoritas keagamaan di Saudi.

Belakangan saya membaca katanya Saudi salah menentukan tanggal, dan akhirnya meralat keputusan sebelumnya yang berarti 1 Syawal 1432 H juga jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 sehingga rakyatnya wajib qadha satu hari. Walaupun dikatakan hal tersebut bukan keputusan pemerintah, tetapi hanya salah satu lembaga astronomi saja. Namun HTI di situs voa-khilafah telah melansir bahwa penetapan pemerintah Indonesia akan 1 Syawal 1432 H ditertawai oleh negara-negara Islam lainnya. Jadi jelas bahwa HTI sengaja mengeksploitasi perbedaan yang ada di Indonesia sembari turut menghina-hina perbedaan tersebut. Adapun solusi mengenai ru’yah global tambah absurd saja ketika tiap negara mempunyai titik tolak bulan dan matahari sendiri-sendiri, makanya malam dan siang antara Saudi dan Indonesia jelas waktunya berbeda.

 Sekarang tergantung masing-masing dari kita per individu, apakah melihat perbedaan itu sama seperti cara pandang HTI dan ormas-ormas semacamnya yang membenci perbedaan, atau justru sebaliknya menganggap bahwa perbedaan itu adalah hal biasa dan wajar. Karena jurang perbedaan itu akan terus ada dan membesar jika masing-masing dari kita terus membesar-besarkannya, apalagi jika ditunggangi embel-embel kepentingan semisal dalam wujud sederhana adalah adanya pengakuan bahwa hanya saya lah yang paling benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s