Mengapa Segala Hal Harus Dibenturkan Dengan Agama?


Saya pernah mengirimkan tulisan mengenai contoh isi khutbah kaum puritan di hari raya Idul Adha 1430 H. Kali ini kembali saya akan mengirimkan lagi tentang isi khutbah kaum puritan, namun bertepatan di hari raya Idul Fitri 1432 H, dan masih di daerah tempat saya tinggal di Bekasi. Entah mengapa saya makin yakin dari hari ke hari bahwa Bekasi, utamanya daerah Selatan dan Barat, merupakan tempat berkumpul kaum puritan semacam salafi Wahabi, HTI, atau FPI yang saban hari terus menjamur. Sepertinya Bekasi sudah benar-benar dikuasai dan menjadi basis gerakan-gerakan semacam ini. Belum lama ini di Bekasi juga ada stasiun TV Lokal yang getol menyuarakan doktrin Salafi Wahabi meskipun memakai kedok Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Nama stasiun TV nya adalah Insan TV dengan slogan Untuk Semua Insan.

Dalam khutbah seorang pendakwah mereka di hari Idul Fitri ini, yang diangkat adalah persoalan tentang invasi pemikiran yang menyerang kaum muda. Sang pendakwah mengatakan bahwa saat ini generasi muda diserang oleh tiga hal: Song, Sport dan Sex. Okelah kalau soal Sex mungkin dapat dipahami, akan tetapi secara terus terang si pendakwah mengatakan bahwa Sport dan Song, alias olahraga dan musik telah menjadi wabah bagi generasi muda khususnya yang muslim. Sekarang ini generasi muslim tak ada lagi yang mau belajar agama sejak kecil dan menghafal al-Qur’an, karena sejak usia dini sudah ikut pembinaan atlit macam-macam, atau terobsesi dengan yang namanya profesi musisi sebagaimana band-band di televisi yang sesungguhnya merusak keimanan dan keislaman.

Saya menyoroti perkataan curcol si pendakwah ini ibarat seorang jendral perang yang kehabisan anak buah, lalu datang ke desa dan kota agar seluruh pemuda mau mendaftar jadi tentara, sementara minat orang-orang akan perang sudah usai. Begitulah pengandaiannya, ketika pemerintah sedang menggalakkan pembinaan atlit-atlit muda dari segala bidang, di sisi lain ada pendakwah-pendakwah yang mencecoki doktrin seperti ini di masyarakat. Jika saja ada 30 pendakwah yang menjadi Imam Besar di tiap propinsi yang kemudian mencecoki doktrin seperti ini, justru malah mengacaukan program pemerintah. Mungkin dalam pikirannya si pendakwah ini yang namanya program Kemenegpora adalah hanya untuk mendidik generasi muda supaya menghasilkan para penghafal-penghafal Qur’an, sehingga dia berpandangan demikian.

Sedangkan generasi muda sekarang sudah mulai bosan menonton pertentangan-pertentangan generasi tua yang terus menerus berkutat dalam bidang agama yang justru menyebabkan kemandegan negeri ini. Mengapa tidak sekalian saja diusulkan kepada pemerintah agar mengambil sikap diskriminasi, artinya yang boleh jadi atlit atau jadi musisi hanya yang non muslim, sementara generasi muda yang muslim semuanya harus jadi penghafal Qur’an. Naif banget nggak sih? Ya, di Indonesia ini memang banyak orang naif yang sering dijadikan tokoh pemegang otoritas keagamaan, mereka mengeksploitasi kebebasan mereka untuk bersuara, tapi juga menghina-hina kebebasan yang dihasilkan dari sistem yang mereka anggap telah menyimpang dari agama.

Pemerintah juga sedang mencanangkan persatuan bangsa melalui program-program olahraga. Karena hanya olahraga yang bisa lintas agama dan budaya. Apalagi jika kita menunjuk spesifik olahraga tertentu semacam sepakbola, bola voli, atau bulu tangkis. Tapi program tersebut kurang mendapatkan dukungan dari kalangan elit yang merasa termajinalisasi, seperti elit agama. Padahal dulu sebelum era reformasi, porsi elit agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat jelas dan benar-benar terasa. Namun kali ini otoritas mereka seolah dipreteli dan dagangan mereka lumayan tidak laku lagi. Masyarakat mulai bosan dengan hal-hal yang selalu dianggap tabu dan dipertentangkan oleh elit-elit agama. Hal-hal baru justru mendapat tempat ketika dirasa kerukunan antar umat beragama terangkai lebih indah, di mana setiap entitas bangsa bahu membahu membangun Indonesia, dan bukan tugas salah satu pihak saja atau superioritas satu entitas masyarakat saja.

Akhirnya wacana-wacana pemersatu bangsa di luar mainstream agama mulai merekah, seperti dunia olahraga, tari, seni rupa, industri kreatif, dan sebagainya yang bisa melampaui batas sekat-sekat agama atau etnis. Tetapi ketika batas sekat-sekat ini mulai cair dan dapat diterima oleh elit-elit sosial politik termasuk agama, lantas muncul lagi orang-orang dari kalangan puritan yang kembali memersoalkan sekat-sekat itu. Menegakkan kembali dinding-dinding yang mereka istilahkan dengan pemurnian akidah, sunnah versus bid’ah, taqlid versus ittiba’, dan sebagainya. Tapi inilah realitas di Indonesia di mana segala hal akan selalu dibenturkan dengan agama, sebelum diolah, diberi stigma, ditambahi klaim keagamaan, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s