Haruskah Meributkan Antara Taqabbalallahu dan Minal Aidin?


Mengapa ya hidup di Indonesia ini selalu saja persoalan utama di tengah masyarakat adalah yang berkaitan dengan agama. Apa-apa selalu dikaitkan dengan agama, dan ketika ada perbedaan dari pihak yang mayoritas maka kemudian dituding salah, atau menyimpang. Dulu ketika ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum belum begitu digandrungi oleh masyarakat, dan di mana-mana masih jamak ucapan Minal Aidin wal Faizin, maka orang-orang yang mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum dilihat berbeda, salah, dan menyimpang. Tapi kemudian banyak gerakan-gerakan ormas keagamaan yang mempopulerkan ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum beserta tinjauan hadisnya, kondisinya berbalik justru orang-orang yang berucap Minal Aidin wal Faizin dibilang belum tahu ilmunya, belum mengerti hadisnya, salah kaprah, dll.

Saya heran mengapa sampai yang namanya ucapan saja diributkan di Indonesia, padahal di Timur Tengah sendiri banyak sekali ragam ucapan yang biasa digunakan orang-orang Arab ketika ada hari raya seperti ‘Idul Fitri, dan ‘Idul Adha. Ada yang menggunakan ucapan Eid Sa’id artinya Selamat hari raya penuh kegembiraan. Atau Eid Mubaarak artinya Selamat hari raya penuh keberkahan. Ada pula yang jamak seperti Kullu ‘Amin wa Antum bi Khairin artinya Semoga sepanjang tahun kalian berada dalam kebaikan. Ucapan-ucapan selamat semacam ini tergantung kondisi dan kebiasaan masyarakat lokal setempat.

Tetapi bedanya kalau di Indonesia ketika menjelang lebaran, justru antara kelompok yang satu dengan yang lain meributkan soal ucapan-ucapan semacam ini plus disertai bantahan dan sanggahan, kalau perlu tudingan. Padahal Tuhan tidak kursus bahasa Indonesia untuk mengerti bahasa Indonesia, ucapan Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin, saya rasa sudah cukup. Kalaupun ditambahkan Minal Aidin wal Faizin, memangnya Tuhan tidak bisa mengerti geneologi dan historisitas mengapa ucapan ini kemudian menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Lantas kenapa harus ada orang-orang yang meributkan ini salah kaprah, ini menyimpang dari hadis, ini begini, ini begitu, dan sebagainya. Seolah mereka-lah yang ditunjuk Tuhan langsung sebagai penjaga teks agama. Jangan-jangan bukannya menjaga teks-teks agama, justru menyembah terhadap teks-teks agama, memberhalakan teks-teks agama itu sendiri.

Begini ini fenomena di Indonesia, selalu meributkan apa saja, dari soal tanggal, bulan, sampai ucapan ketika menjelang Idul Fitri. Khususnya soal ucapan apakah Taqabbalallahu minna wa minkum, atau Minal Aidin wal Faizin. Orang Arab sendiri saja di Timur Tengah tidak meributkan ucapan berbahasa Arab yang mereka ucapkan setiap kali ada perayaan keagamaan. Namun mengapa di Indonesia bahasa Arab seolah menjadi bahasa Agama dan kemudian diperebutkan mana yang paling beragama atau tidak beragama sesuai bahasa-bahasa yang diucapkan, atau apakah ucapan-ucapan itu telah sesuai dengan teks keagamaan atau tidak. Termasuk soal ungkapan halal bi halal juga dipermasalahkan hanya karena tidak ada dalam agama soal perayaan dan ungkapan semacam itu. Padahal apa bedanya halal bi halal sama ungkapan open house, sama-sama isinya makan-makan. Memangnya merayakan Idul Fitri apa lagi kalau bukan makan-makan, tapi mengapa persoalan istilah yang justru dibesar-besarkan.

Indonesia… Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s