Surplus Prestise dan Ekonomi Bermodalkan Simbol Keagamaan


hijab

Pernah melihat perempuan cantik menampilkan paha atau bahu telanjang hanya sekedar untuk mengiklankan sabun mandi, obat nyamuk, salep kulit, bahkan sampai pompa air? Mungkin di antara kita sering protes sendiri kalau melihat hal tersebut berikut dalih macam-macam. Tetapi Bagaimana reaksi kita ketika melihat seorang pendakwah menjual jok mobil atau minuman energi, apakah kita memprotes? Reaksi kita justru kebalikannya dan mungkin bilang bahwa sah-sah saja pendakwah jadi bintang iklan juga. Sama halnya dengan model-model perempuan yang seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk memasarkan suatu produk. Apalagi jika memang profesi utamanya adalah model.

Namun terkadang ketika sebagian dari kita melancarkan kritik terhadap praktik arus industrialisasi semacam itu, lantas datang dalil apologetis pragmatis seperti, “ya sudahlah ngapain dipersoalkan, ambil baiknya saja.” atau “yang penting niatnya berdakwah, soal duit itu cuma efek samping.” memang sih efek samping tetapi bagaimana jika efek samping itu ternyata bisa dikalkulasi. Katakan saja jika tiap satu episode di masa permulaan sebelum popularitas menanjak, dihargai sebesar 1 juta rupiah, berapa kemudian hitung-hitungannya kalau sampai 10 episode atau lebih? Apa kemudian lagi-lagi kita dibungkam dengan ucapan, “itu kan sudah rezeki dari Tuhan, yang penting niatnya berdakwah.”

Tidak jauh beda seperti tukang obat di jalan atau SPG di pameran-pameran. Hanya karena mentang-mentang bulan Ramadhan, lantas aktor/aktris dan tampilannya diganti dengan kostum atau atribut yang mencirikan simbol keagamaan. Seperti acara kuis sms yang biasanya selain bulan Ramadhan menampilkan belahan dada, ujug-ujug jadi memakai jilbab. Mungkin takut dirazia sama ormas-ormas urakan sehingga begitu, tapi trik demikian yang telah menjadi komoditas pasar memang sangat jitu digunakan. Hubungan timbal baliknya bagi si aktor/aktris adalah meningkatnya surplus mereka, baik prestise maupun ekonomi.

Surplus non-materi berangkat dari modal sosial atau modal simbolik yang berupa surplus prestise. Surplus prestise dapat diraih pula melalui modal materi atau modal ekonomi, akan tetapi yang lebih berpengaruh ternyata sisi modal simboliknya dan modal sosial kulturalnya seperti, keturunan darah, hubungan kekerabatan, modal teologis, modal akademis, dan sebagainya yang bersifat non-material. Kadang kala dua modal ini (simbolis dan non-simbolis, sosial kultural dan ekonomi) saling berkaitan satu sama lain dalam mengonstruk surplus prestise seseorang. Sebaliknya surplus prestise juga turut meningkatkan surplus ekonomi si aktor, agen, atau pelaku tersebut.

Semakin meningkat surplus prestise, semakin sering kita dengar istilah asal caplok seperti public figure. Makanya kalau ada yang menyinggung mengapa jampi-jampi agama laku di momen bulan Ramadhan. Itu dikarenakan momen atau kondisinya memang sangat sesuai untuk memasarkan produk ekonomi dengan bermodalkan simbol-simbol keagamaan.  Selain itu patut dilihat pula kondisi sosial masyarakat yang memang masih menggandrungi hal-hal semacam itu. Kondisi sosial ini bisa saja dikonstruk melalui jejaring kuasa di luar manusia dan komunitasnya, seperti media cetak maupun elektronik, ataupun secara internal berasal dari dalam diri manusianya dan komunitasnya sendiri. Seperti misalnya adanya tuntutan dari beberapa komunitas keagamaan untuk ditayangkan sinetron-sinetron religi untuk menyaingi sinetron-sinetron non religi yang sering dipandang tidak agamis. Namun lagi-lagi mekanismenya melalui industrialisasi yang ditempelkan dalil apologetis pragmatis, makanya tak jarang isi sinetron-sinetron religi isinya adalah menggurui para penonton.

Ada sinetron religi yang berusaha menjual cara-cara berpoligami, hanya didasarkan pemahaman teks keagamaan bahwa poligami itu satu-satunya jalan keluar dari praktik perzinahan dan merepresentasikan model romantika percintaan yang diklaim paling benar karena dibungkus kerangka agama. Tapi itu semua tak terlepas dari nilai tambah yang didapatkan para pelaku sebagai distributor, dan korporasi media sebagai produsen. Perkara laku dan tidaknya tetap diserahkan kepada pasar dan biar pasar yang menentukan, walaupun terkadang isi sinetron religi sering mengkritisi praktik-praktik kebebasan pasar. Namun kebebasan pasar yang dikritik adalah hal-hal yang non religi atau dipandang tidak agamis.

Lalu apa? Apakah praktik demikian benar atau salah?

Nah, kebiasaan menanti hasil akhir dan kemudian harus dijustifikasi sebagai benar-salah adalah logika yang selama ini dibangun. Turunannya adalah logika baik-buruk, meskipun perdebatan lama tentang baik-buruk tidak selalu kongruen dengan benar-salah juga merupakan perdebatan yang masih booming sampai sekarang. Pertanyaannya bisa kita ganti dengan mengapa produk-produk simbolik semacam ini laku dipasaran dan bagaimana standarisasi yang diberlakukan untuk memprediksikan sebuah produk bisa laku dipasaran?

Konsep awal yang dibangun adalah dengan kesimpulan mentah bahwa sebuah produk bisa laku jika produk itu baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan, selama itu baik maka lanjutkan. Konsep kedua ialah dengan menempatkan faktor-faktor yang dianggap otoritatif atau bisa melegitimasi produk tersebut sebagai yang baik, misalnya dengan menaruh agen pemasaran berupa seorang pendakwah. Konsep ketiga dengan menjadikan sebuah produk sebagai alat untuk mereproduksi modal sosial kultural. Produsen membuat produk yang dapat mereproduksi, contohnya sinetron-sinetron religi yang menggurui dan menjual dalil agama agar kondisi masyarakat dengan sendirinya terkonstruk. Bahasa halusnya sih edukasi masyarakat.

Ketika sebuah produk benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat, alias masyarakat konsumerisme telah tercipta sedemikian kompleks. Maka dengan sendirinya surplus-surplus prestise dan ekonomi akan kembali atau istilah awamnya balik modal, yang kembali memberikan nilai tambah kepada si distribusi para agen dan juga korporasi besar para produsen. Tetapi kalau kita sebagai konsumen tetap ngotot ingin mendapat kepastian benar-salahnya atau baik-buruknya mengenai produk-produk semacam itu, kita dapat berdalih apologetis pragmatis seperti disebutkan diatas, atau mungkin bersikap sebagaimana sebuah petuah yang disampaikan Einstein yang dapat kita renungkan, “Let every man be respected as an individual and no man idolized.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s