Kebarat-baratan dan Ketimur-timuran, Islami dan Tidak Islami


Beberapa waktu lalu saya mengirim tulisan berjudul terjebak dalam bahasa dakwah, dan benar saja baru-baru ini terulang lagi fenomena seperti yang saya sampaikan dalam tulisan saya tersebut, yakni mengenai fenomena orang Indonesia yang mudah terjebak dengan kata-kata “Islami” dan bahasa-bahasa Arab yang dianggap bahwa dengan menggunakan simbol arabisasi semacam itu berarti telah islami. Salah satunya adalah dalam dialog sebuah sinetron reliji di sebuah stasiun televisi yang jualan utamanya adalah sinetron dalam berbagai genre. Dialog dalam sinetron itu mengatakan bahwa kata mami-papi atau papa-mama tidaklah islami dan kebarat-baratan. Ditambahkan lagi hadis Nabi dijadikan sebagai pembenaran atas cara pandang semacam itu.

“Panggilan papa-mama atau yang sejenisnya itu sebenarnya tidak Islami karena Nabi Muhammad mencontohkan, beliau memanggil istri-istrinya dengan namanya masing-masing, seperti Aisyah, bukannya dengan nama lain. Nama istri-istrinya pun tidak mengikuti nama Rasulullah, melainkan namanya sendiri, misalnya Siti Aisyah binti Abu Bakar.” demikian sepenggal dialog tersebut. Pemakaian hadis sebagai pembenaran atau klaim kebenaran, ibarat cap stempel yang dibubuhkan agar sesuatu dibilang legal, absah, dan benar. Persis sama dengan penggunaan hadis untuk klaim kebenaran agar bisa dibilang mana yang islami atau tidak islami.

Pertama saya akan mengutip tulisan saya terdahulu soal sebutan mami-papi, atau mungkin kita biasa memanggil orang tua kita, atau kepada pasangan kita dengan mama-papa. Saya katakan bahwa orang Arab sendiri yang sejak lahir berbahasa Arab, tidaklah memanggil orang tua mereka atau pasangan mereka dengan abi-ummi yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah ayah-ibu, melainkan mereka juga mengatakan baba-mama. Kata-kata abi-ummi adalah bahasa yang dijumpai dalam buku, mirip bahasa Indonesia EYD yang cuma ada di dalam buku pelajaran atau kamus. Tetapi sehari-hari, orang Arab memanggil orang tua mereka atau pasangan mereka (suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya), dengan kata-kata Baba wa Mama, alias Papa dan Mama. Kenapa jadi Baba, karena mereka sulit melafalkan huruf P, makanya iklan SPRITE ditulis SBRAIT dalam abjad Arab. Tapi tidak ada yang bicara abi-ummi kepada orang tua mereka, di sekolah-sekolah, di obrolan sehari-hari, mereka bilang baba wa mama. Justru para suami banyak yang memanggil istrinya mama dan para istri juga sebaliknya memanggil suaminya baba.

Jadi apakah kita telah islami dengan hanya bilang abi wa ummi? atau justru kita sedang latihan bahasa Arab dalam kamus? Atau apakah kita tidak islami hanya karena memanggil istri atau suami kita dengan mami-papi?

Kemudian dengan tudingan kebarat-baratan. Mengapa kita seringkali terjebak kepada pengkotak-kotakkan seperti masa-masa perang dunia, antara blok Timur dan blok Barat? Memang antara Barat dan Timur bisa dibilang berbeda, tetapi apakah yang kebarat-barat-an selalu buruk? Dan apakah yang ketimur-timur-an selalu baik? Sekarang kalau kita letakkan pada konteks manusianya, apakah orang Timur harus selalu menganggap semua yang ketimuran adalah memang telah given untuk mereka, dan apakah sebaliknya orang Barat juga harus selalu melahap yang kebarat-baratan?

Sering kali alasan, “Kita ini kan orang Timur.” selalu dikemukakan. Alasan seperti ini di era sekarang bagi saya klise banget. Memangnya apa yang menjadi standar Timur dan Barat, dan apa yang bisa membedakan serta membuat salah satu pihak lebih unggul dari pihak lainnya? Standar-standar yang dibuat ternyata absurd, atau terkadang menjadi jelas karena sengaja dibuat aturan ketat oleh rezim politis yang mengangkanginya. Absurditas standar yang disebut orang Timur dan Barat akan makin kentara ketika kita bicara soal negara bangsa yang di dalamnya terdapat keanekaragaman suku bangsa seperti misalnya Amerika. Makanya ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa menyebut Amerika sebagai negara bangsa, mungkin tidak bisa lagi dikatakan sebagai negara bangsa. Namun telah berubah menjadi sekedar territorial state (negara teritorial), mengingat ragam suku bangsa yang tinggal dalam negara tersebut serta terjaminnya kesetaraan hak warga negara, utamanya tidak adanya warga kelas dua.

Tak tertutup pula kemungkinan nantinya Indonesia sebagai negara yang sering diletakkan dalam blok Timur, dan orang-orangnya pun mengaku orang Timur, tradisinya pun ala ketimur-timuran, nantinya akan berubah tidak lagi nation state (negara bangsa) melainkan menjadi territorial state. Karena lihat saja orang Indonesia hidup dalam serba keanekaragaman suku bangsa dan juga bahasa. Haruskah keaneka ragaman manusia ini digiring kepada pengkotak-kotakkan antara Barat dan Timur? Kalau kita letakkan umat Islam di dalam pengkotak-kotakkan ini, maka sampai kapan pun kita akan selalu bilang panggilan mami-papi kebarat-baratan dengan nada nyinyir dan pejoratif, sementara orang muslim di Barat pun sampai sekarang tetap menggunakan bahasa inggris mereka, tetap memanggil mom and daddy, hubby, mommy, dan segala sebutan yang oleh kita di Timur ini sering bilang kebarat-baratan. Lalu apakah yang kebarat-baratan itu tidak berhak digunakan oleh kita yang notabene orang Timur? Apalagi sampai dilabeli Tidak Islami?

Saya yakin muslim Jepang dan China tetap menggunakan sumpit setiap kali mereka mau makan, artinya mereka tidak akan meninggalkan identitas kebangsaan mereka, dan tetap menggunakan bahasa mereka sendiri tanpa perlu diarabisasi. Demikian pula muslim Inggris tetap makan pakai garpu dan pisau, tetap menggunakan bahasa Inggris dalam berinteraksi sesama mereka. Lalu apakah dengan begitu mereka tidak islami? Apakah mereka harus memakai bahasa arab untuk bisa dibilang islami dan kemudian mengatakan sesuatu yang bukan berbau bahasa arab sebagai tidak islami? Apakah mereka terkena sindrom yang sama dengan sebagian kalangan muslim Indonesia, yang di satu sisi doyan kearab-araban karena biar dianggap islami. Sementara di sisi lain, mungkin karena pengaruh efek sisa kolonisasi, gemar mengatakan apa yang kebarat-baratan tidak islami?

Fenomena sebagian kalangan muslim Indonesia yang sangat mudah dikotak-kotakkan hingga saling membenturkan hal yang sesungguhnya sepele, dikarenakan lebih suka membesar-besarkan persoalan di permukaan kulit saja, alias hal-hal yang berupa formal simbolis belaka. Bahkan kadang tayangan sinetron televisi dengan berdalih menyadarkan dan mengedukasi umat, malah turut andil menyuapi masyarakat dengan skenario-skenario picisan semacam itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s