Islamphobia, Kristenphobia, Yahudiphobia


Mengapa ketika ada berita tentang gerakan anti Islamisasi, lantas kemudian dituding sebagai Islamphobia. Padahal sadar atau tidak, ketika kita sebagai umat Islam menyuarakan anti Kristenisasi, maka kita juga akan berperilaku sama, yakni Kristenphobia. Mungkin di masa lalu kita pernah mendengar ungkapan, kristen itu agama londo, alias kristen itu agamanya para penjajah. Padahal apa yang dilakukan misionaris Kristen sebetulnya sama saja dengan para pendakwah muslim. Menjual dagangan berupa agama kepada orang lain agar dibeli, diikuti, dipeluk. Ketika ada sejumlah muslim ditawari satu kardus mie dan sembako oleh misionaris kristen, langsung dibilang sebagai aksi pemurtadan. Padahal itu cuma cara saja bagaimana seorang pendakwah agama menarik orang lain agar menjadi pengikut agama tersebut.

Persoalan teknis dan cara itu kemudian dibesar-besarkan, sementara kenyataannya seseorang dapat memeluk suatu agama dengan cara bermacam-macam, bisa dengan cara persuasif semisal bujukan sekardus mie tadi, atau bahkan dengan cara-cara menegakkan pedang atau melepaskan bom. Maka dari itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang takluk oleh bangsa lain yang jauh lebih kuat, umumnya mengikuti agama dan budaya bangsa penakluknya. Itu jika dipandang dari sisi imperial. Tetapi kalau yang lebih subtle alias halus, bisa dikatakan bahwa bangsa yang menjadi tradisi besar, atau episentrum dari suatu tradisi besar, umumnya akan ditiru oleh tradisi-tradisi lain yang lebih kecil.

Contohnya Nusantara, walaupun dikatakan dulu pernah ada negara-negara teokrasi besar yang mengangkangi Nusantara, seperti kerajaan Hindu dan Budha. Namun dilihat dari kacamata dunia ternyata cakupannya hanya kecil. Sementara di belahan dunia lain, imperium besar, baik imperium Kristen maupun Islam, sedang berkecamuk yang akhirnya dimenangi oleh Kekhalifahan Turki Ottoman. Kemudian Turki Ottoman runtuh di abad 18-19 M, lalu berganti era merkantilis-kolonialisme Eropa dengan perang dunia buatan mereka, sampai terciptalah negara bangsa-bangsa. Lantas di mana keberadaan negara Hindu dan Budha yang pernah besar di Nusantara, ternyata lambat laun tergusur dan digantikan oleh kerajaan-kerajaan Islam, seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara yang katanya proses penyebarannya sudah ada sejak abad ke 2 Hijriah (berarti pada masa sahabat Nabi). Namun selain peperangan, akses kerajaan Hindu dan Budha itu, baik perdagangan, budaya, tradisi, sosial, dan politik, sangatlah kecil di mata dunia Internasional yang dikuasai imperium besar yang berlainan agama.

Tapi mengapa di masa sekarang masih diributkan soal Islamphobia. Memangnya jika ada dua ratus warga Amerika menolak Islamisasi, lantas dapat dikatakan telah mewakili seluruh orang Amerika. Jika orang-orang yang bernama Muhammad dicurigai berlebihan setiap kali masuk pintu pemeriksaan di Bandara Amerika, apakah itu bisa dikatakan bahwa Islamphobia telah terjadi di Amerika, sementara jumlah penganut Islam di Amerika justru berkembang pesat? Aneh rasanya jika dibilang hal tersebut sebagai Islamphobia. Atau bisa saja dibilang Islamphobia, tetapi apa salahnya dengan sikap Islamphobia. Di Indonesia saja yang mayoritas muslim, ternyata juga mengidap phobia terhadap agama lain. Contoh sederhananya saja ketika ada desas-desus istri SBY orang Kristen, langsung ramai-ramai diperbincangkan. Entah bagaimana jadinya jika nanti presiden Indonesia adalah orang Kristen.

Justru terkadang ketika seorang muslim bersikap anti terhadap agama lain, malah yang ditimbulkan adalah cara pandang tumpang tindih, seperti tidak mampu membedakan mana yang disebut ajaran suatu agama, dan sikap dari pemeluk agama. Tentunya orang Islam tidak mau dibilang teroris karena Islam tidak mengajarkan terorisme. Sama halnya dengan anggapan bahwa dalam ajaran Yahudi katanya ada ajaran untuk membasmi agama lain (semisal dalam Talmud), tetapi apakah seluruh orang Yahudi bersikap seperti itu? Ternyata ada pula orang-orang Yahudi, misalkan organisasi Naturei Karta, yang menolak rezim Zionis yang mendirikan negara Israel. Dan mereka tidak mau disamakan dengan rezim Zionis tersebut.

Ajaran agama dan pemeluk agama memang tidak selalu sinkron, dalil ini biasa dipakai oleh umat Islam ketika agamanya dituding sebagai agama teroris. Mereka berdalih bahwa apa yang direpresentasikan pemeluk agama Islam bukanlah merepresentasikan ajaran agama tersebut. Namun mengapa pandangan ini tidak bisa diberlakukan setara ketika melihat pemeluk agama lain? Padahal faktor yang membentuk seorang pemeluk agama bukan cuma agamanya, tetapi ada hal-hal lain, bisa jadi kepentingan ekonomi, prestis, atau politik. Dan terkadang faktor agama hanya sepersekian persen lebih kecil ketimbang kepentingan-kepentingan lainnya. Seperti contohnya seorang koruptor tapi beragama Islam dan tetap berpuasa di bulan Ramadhan, atau seperti seorang presiden Amerika yang beragama Kristen tetapi menjajah suatu negara kecil namun memiliki sumber daya minyak melimpah. Apakah agama jadi faktor dominan di dalam kasus tersebut?

Persoalan mengapa kemudian timbul istilah phobia yang direkatkan pada agama, adalah karena kita tidak memahami bahwa beragama adalah persoalan individu untuk memilih suatu agama yang diyakini, dan bukan karena dipaksa oleh kekuatan-kekuatan di luar manusia. Padahal sekarang kita berada dalam lintasan sejarah yang berbeda, seseorang berhak beragama apa saja bahkan tidak beragama sekalipun sesuai pilihan pribadinya. Dan agama apapun yang kita pilih, atau kita memilih untuk tidak beragama, ternyata tidak membawa implikasi signifikan terhadap pola kita berinteraksi dengan orang lain.

Jika ada seseorang di Norwegia yang meledakkan gedung dan melukai puluhan orang, apakah agama orang tersebut yang Katolik, kemudian bisa disebut sebagai faktor dominan yang menyebabkan dia melakukan perbuatan tersebut?

Jika ada seseorang di Indonesia yang meledakkan bom di kawasan markas kepolisian, apakah agama orang tersebut yang Islam, kemudian bisa disebut sebagai faktor dominan yang menyebabkan dia melakukan perbuatan tersebut?

Ternyata tidak sepenuhnya bisa dijustifikasi demikian, masih banyak faktor dominan lainnya sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, bisa karena faktor ideologi politik, kebutuhan ekonomi, atau mungkin faktor psikologis. Jadi mengapa kita dengan mudah mengaitkan apapun dengan agama? Saya juga pernah membaca surat kabar di Indonesia yang memberitakan tentang protes yang dilakukan komunitas Hindu di Amerika atau Canada, saya lupa tepatnya, mereka memprotes kantin sekolah yang dijadikan tempat shalat Jumat di mana pada jam-jam tersebut adalah waktu istirahat dan makan siang, sementara pihak sekolah telah mengizinkan penggunaan fasilitas sekolah untuk digunakan shalat jumat. Surat kabar tersebut seenaknya mengatakan aksi itu sebagai Islamphobia.

Apakah komunitas Hindu yang protes itu dikarenakan ajaran agamanya memerintahkan untuk berbuat demikian, atau kalau kita pakai istilah Islamphobia, apakah mereka diperintahkan ajaran agamanya untuk bersikap phobia terhadap Islam? Apakah komunitas Hindu yang hanya segelintir itu merepresentasikan seluruh komunitas yang ada di dalam sekolah itu. Jika jawabannya tidak, bagaimana bisa dikatakan sebagai Islamphobia, sementara protes terhadap hal yang tidak kita sukai adalah sesuatu yang wajar dan bebas. Sama saja kedudukannya kalau kita protes terhadap sumbangan-sumbangan yang diberikan yayasan Kristen kepada korban gempa di Aceh sebagai taktik pemurtadan dan Kristenisasi. Kalau kita menggunakan kata phobia itu, semestinya bisa saja umat Islam disematkan sebagai Kristenphobia.

Dahulu ketika tahun 1998 terjadi kerusuhan Mei, keluarga saya sempat menampung keluarga Tiong Hoa non-muslim yang sudah lama menjadi rekanan bisnis ayah saya. Selama beberapa hari mereka tinggal di rumah kami. Dalam suatu obrolan ayah saya bertanya kepada kawannya, “Kapan dong situ masuk Islam?” pertanyaan begini kan sebenarnya ajakan persuasif. Si Tiong Hoa ini bisa saja berpikir, “Rupanya kamu menolong saya supaya saya masuk Islam.” atau berpikir, “Saya harus masuk Islam karena kamu telah menolong saya.” Namun tidak ada salahnya seorang muslim seperti ayah saya mengajukan pertanyaan persuasif untuk mengajak kawannya masuk Islam. Pada akhirnya semua itu dikembalikan kepada si Tiong Hoa non-muslim dengan segala hak pilih yang bebas dalam dirinya apakah mau masuk Islam atau tidak. Kondisinya sama pula jika ayah saya misalnya seorang Kristen, dan kawannya yang Tiong Hoa itu adalah muslim.

Ada lagi yang lebih lucu, saya pernah secara spontan dituding Islamphobia hanya karena menyuarakan bahwa saya tidak suka istilah bank-bank Syari’ah. What?!! Terus terang saya jadi heran sendiri mengenai siapa sih yang memulai perang tuding phobi-phobi-an begini. Dan mengapa harus terjadi fenomena demikian. Jelas sekali dalam pandangan saya bahwa fenomena seperti ini merupakan praktik penganut agama dalam menjalin hubungan antara umat beragama, sama sekali bukan didasarkan karena ajaran agama itu sendiri, walaupun pada praktiknya kerap membawa dalil-dalil agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s