Debu Revolusi Tanpa Api


Belakangan ini banyak ide revolusi berkembang di kalangan aktivis pengadilan jalanan. Seiring dengan keadaan negara yang dirasa oleh masyarakat sudah di titik kulminasi, maka seruan revolusi makin santer terdengar. Tapi apa benar Indonesia membutuhkan revolusi? Jangan-jangan revolusi hanyalah strategi untuk mencapai kekuasaan atau sekedar pelampiasan ego kekanakkan semata. Jangan-jangan perjuangan yang selama ini dielukan melalui jargon revolusi adalah artifisial. Perjuangan apa yang dapat diraih dengan semua itu. Apakah setiap kali jika kita tidak menyukai sesuatu maka kita harus menghancurkannya dan membangun lagi dari awal? Sebenarnya tiap kali revolusi didengungkan, tiap kali pula kebimbangan muncul. Siapa sebenarnya yang menginginkan revolusi, masyarakat kelas menengah ke bawah atau para elit?

Berikut ini saya akan memberikan tips strategi revolusi yang semoga jitu dan dapat diterapkan oleh orang-orang yang ketagihan revolusi. Hanya saja strategi berikut tidak cocok digunakan oleh mereka yang doyan aksi chaos dan kekerasan. Tapi sebelumnya saya akan mencoba membahas seputar kejadian 29 November 1999, aksi demonstrasi di Seattle Amerika yang  memprotes pertemuan tingkat menteri anggota WTO. Protes tersebut ditujukan dalam rangka menolak ketidakadilan global, mengingat sebelumnya di tahun 1998 telah terjadi krisis ekonomi di seluruh dunia dan dampak paling telak utamanya diterima negara-negara berkembang di Asia dan Afrika. Mengapa saya harus membahasnya? Karena strategi revolusi yang jitu adalah jika dilakukan secara anarkis, tapi seperti apakah yang dimaksud pola revolusi anarkisme tersebut?

Demonstrasi yang berlanjut sampai lima hari di Seattle itu sering dijadikan contoh neo-anarkisme, dan sekaligus ingin mengembalikan bahwa anarkisme bukanlah berarti kekerasan. Distorsi ini diberikan oleh pemerintah dan media. Dan peristiwa Seattle itu terjadi dikarenakan semangat damai. Setiap elemen masyarakat kompak turun ke jalan untuk memblokade jalur menuju area pembukaan sidang WTO tanggal 29 November 1999. Sejak pagi mereka menyebar di beberapa titik dan memblokade jalanan yang akan dilalui delegasi pertemuan dengan rantai manusia. Uniknya, pemblokiran arus lalu lintas tidak menggunakan cara-cara “klasik” misalnya dengan membakar ban atau memancing bentrokan di jalanan. Alih-alih mengunakan idiom klasik revolusi (pistol, molotov, tentara pembebasan, dll), mereka menggunakan perangkat-perangkat unik ukuran raksasa yang bermakna satir dan mengundang senyum (misalnya boneka karikatur pemimpin dunia). Spanduk-spanduk dan perangkat agitasi juga dibuat sekreatif mungkin, bahkan kostum peserta aksi sengaja dibuat untuk menyindir polisi yang mengawasi demonstrasi damai dengan pakaian tempur lengkap yang lebih mirip kostum Death Vader dalam film Star Wars.

Senjata yang digunakan adalah kemoceng untuk menyindir polisi yang membawa senjata, menggunakan kostum badut kura-kura, kostum peri, tokoh fiksi di film atau komik, untuk menyindir polisi yang lengkap dengan seragam anti huru hara. Dan yang membuat media serta pemerintah tecengang adalah fakta bahwa dibalik aksi yang sangat rapi dan massif ini tak kelompok atau pemimpin tunggal satu pun yang berperan sebagai “aktor utama”. Inilah anarkisme sejati, kondisi di mana tiada hierarki kepemimpinan seperti yang kita saksikan sekarang pada tubuh organisasi paling besar yaitu negara. Di hari itu setiap orang sukarela keluar rumah menyuarakan suara mereka dengan bebas tanpa takut dipentungi petugas. Tanpa harus membalas apa yang diperbuat oleh aparat, mereka hanya keluar rumah walaupun cuma berdiam diri di depan pagar.

Kerap kali anarkisme didistorsi sebagai gerakan anti globalisasi. Istilah yang sangat tidak tepat dan cenderung mencitrakan demonstran sebagai kelompok masyarakat yang anti kemajuan. Sehingga kemudian anarkisme menjadi lekat dengan praktik kekerasan dan kekacauan. Padahal anarkisme adalah gerakan anti ketidakadilan global secara keseluruhan. Sebagaimana yang terjadi dalam protes lima hari di Seattle, rupanya diikuti juga oleh faksi yang lebih memilih melakukan kekerasan dalam setiap aksinya. Meski jumlah mereka relatif kecil, namun media massa gencar mencitrakan protes lima hari itu sebagai sebuah protes yang penuh dengan pengrusakan, penjarahan, dan chaos. Apalagi ketika Black Block, salah satu faksi dalam demonstrasi itu, melakukan perusakan terhadap ikon kapiltasime semisal Starbucks dan McDonald’s. Protes lima hari di Seattle sejatinya merupakan protes damai tanpa kekerasan. Kalaupun ada kelompok yang melakukan kekerasan, jumlah mereka relatif kecil dibandingkan dengan ribuan demonstran damai lainnya. Kekerasan yang kemudian terjadi pun lebih banyak yang dipicu oleh kekerasan polisi dalam penanganan demonstrasi.

Lalu bagaimana dengan tips strategi revolusi tanpa api yang ingin saya sampaikan pada para penggila revolusi? Langsung saja ke TKP.

1. Jangan pamrih:

Jangan mengharap orang lain mendukung apalagi mengikuti langkah anda. Selain itu tegaskan dalam diri bahwa setelah demonstrasi selesai anda akan kembali menjadi bukan siapa-siapa.

2. Jangan memilih:

Jangan pernah mengikuti acara pemilu dan pilkada, nikmatilah menjadi orang yang abstain senikmat mungkin. Jika anda ingin sedikit oportunis, ambil saja uang serangan subuh dan datang ke TPS tapi tak perlu memilih. Karena dengan demikian anda akan ikut berkontribusi menciptakan situasi deligitimasi politik.

3. Jangan berhenti menyuarakan ide anda:

Terus bersuara dan kritis di ruang publik seperti internet, forum, seminar, acara diskusi, obrolan sehari-hari, tapi hindarkan propaganda dan hasutan. Mengapa? Karena ingat prinsip pertama, anda berbuat semua ini tanpa pamrih.

4. Jangan mengandalkan jumlah:

Meskipun anda tidak sedang menjaring pengikut atau jama’ah, tetapi bentuklah kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang berkualitas. Minimal tiga orang karena biasanya organisasi-organisasi besar ternyata hanya digerakkan oleh tiga orang. Atau mungkin empat sampai lima, tapi jangan lebih dari sepuluh orang, hal itu berguna untuk merencanakan aksi demonstrasi secara rapi dan damai.

5. Jangan kecanduan televisi:

Ketika media menjadi candu seperti yang terjadi sekarang, maka kita harus melakukan sesuatu sebelum mereka menekan kita tentang apa yang harus dilakukan dan tidak. Bukan berarti tidak boleh menonton televisi. Namun ada sebuah kalimat mengatakan, “belajarlah untuk mematikan televisi dengan demikian mereka akan memertimbangkan acara seperti apa yang mereka siarkan.”

6. Jangan menyerah:

Percayalah bahwa jika anda keburu mati tanpa bisa menyaksikan revolusi, maka orang lain akan dapat merasakan buah hasil kerja anda.

7. Jangan terbiasa bernalar kekerasan:

Hal ini penting agar tidak terpancing aksi represif aparat pemerintah di jalanan ketika sedang berdemonstrasi. Karena itu biasakanlah melatih pola pikir anda dalam berinteraksi sehari-hari dengan orang lain tanpa harus lebih dahulu mengedepankan perkelahian, atau berdebat kusir yang berujung pada emosi serta gelap mata. Jika tidak membiasakannya maka percuma setiap aksi protes malah kita berlagak sebagai pahlawan kesiangan dengan merasa hebat dipentungi polisi yang tidak lain hanyalah kekonyolan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s