Media dan Partai Politik


13118367601461228762

Wajar apabila ketika TV One meliput tayangan tentang keluarnya pak Sultan Hamengku dari Nasdem, tapi juga ironis karena selama ini TV One tidak pernah menayangkan soal Nasdem, pasti lebih banyak menayangkan Golkar dan Abu Rizal Bakrie. Lantas mengapa saya katakan wajar? Kalau sepintas ditinjau dari dua kubu besar di Golkar, yakni Abu Rizal dan Surya Paloh, maka TV One berada pada kubu Abu Rizal. Sedangkan rivalnya, yakni Surya Paloh sudah lebih dahulu diendorse Metro TV, atau justru Metro TV yang dikuasai Paloh.

Adapun mengenai ironinya, karena ketika Surya Paloh belum mencetuskan Nasdem sebagai partai melainkan baru Ormas, mengapa TV One tidak pernah menayangkan seputar Nasdem. Namun ujug-ujug ketika sejumlah deklator atau inspirator keluar dari Nasdem, termasuk Sultan kraton Yogyakarta itu, karuan saja mereka memberitakannya. Apakah itu cuma sekedar berita saja, atau ingin mengatakan kepada Surya Paloh bahwa Ormas Nasdem takkan bertaji ketika bermetamorfosis jadi Partai politik.

Tapi ada keraguan dalam diri saya, apa benar Nasdem jadi partai politik? meskipun tadi pagi saya lihat tayangan berita tentang pawai budaya ala “Partai Nasdem” di Metro TV. Memang sejak awal banyak yang menuding bahwa deklarasi Nasdem sebagai ormas digadang-gadang hanya untuk menggalang kekuatan dan dukungan sebelum bertransformasi menjadi partai politik. Tetapi apakah hal ini tidak diketahui oleh orang sekelas Sultan? Atau apakah Sultan masih setia dengan Golkar? Atau Golkar menjanjikan kepada Sultan kedudukan penting di 2014 nanti, atau malah Sultan ingin mengamankan posisinya sebagai orang penting yang populer di negeri ini saja. Karena untuk menjadi presiden pun, Sultan masih terbelit jabatan dia saat ini yang belum selesai proses regulasinya, undang-undang tentang daerah istimewa itu justru menjadi polemik tersendiri andaikan dia menginginkan atau ada sebagian orang yang mendukung langkahnya menuju RI 1.

Kembali ke soal media dan partai politik, setelah era reformasi ini makin kentara bagaimana media menjalin jejaring kuasa dengan partai politik. Selain Metro TV dan TV One, stasiun televisi lainnya nampaknya adem ayem karena lebih banyak menitikberatkan hiburan-hiburan populis seperti sinetron reliji, musik musiman, reality show, kuis, dll. Mereka seolah tak mau menyentuh jagad politik walaupun ketika membicarakan peristiwa politik tanah air, bias-bias menghamba pada partai-partai politik tertentu tak dapat dielakkan. Yang menarik belakangan ini ketika Demokrat menjadi lawan politik bersama, dua media yang gencar memberitakan berita; Metro TV dan TV One, seperti sedang dilanda kemesraan. Makanya orang-orang Demokrat mencak-mencak dan menggeneralisir menyalahkan pers, walaupun mungkin saja yang dimaksudkan adalah dua stasiun televisi tersebut. Sebab pemberitaan terhadap partai mereka tak segarang dan sesering di Metro TV dan TV One.

Menurut saya bagus juga jika setiap partai punya stasiun televisi sehingga tidak perlu beriklan di stasiun televisi lain. Mau menayangkan subjektifitas partai dipersilahkan, mau promosi jargon dan janji yo monggo. Mirip klub sepakbola di Inggris, ada MU TV, Chelsea TV, dll. Yang demikian malah lebih jelas kompetisinya, tidak seperti saat ini seolah independen dan objektif tapi tersirat (bahkan kadang sarat) kepentingan partai politik di balik tayangan-tayangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s