Subjektifitas Agama


Kadang saya bertanya sebenarnya apa sih yang diinginkan orang-orang yang menyatakan kepada orang lain bahwa agamamu salah, atau cara beragamamu salah. Ketika saya berdialog dengan orang-orang seperti itu dan menanyakan apakah sebenarnya tujuan akhir yang hendak dicari, biasanya mereka menjawab bahwa Tuhan tidak menilai hasil akhir, melainkan prosesnya. Jadi dengan kata lain mereka akan tetap melakukan itu tanpa tahu apa yang hendak dituju, dan hanya menjalankan sesuatu yang dianggap sebagai proses. Kebanyakan proses itu kemudian diterjemahkan sebagai perintah agama, dan siklus mengatakan orang lain salah dalam beragama akan terus berputar tanpa henti dalam kehidupan ini.

Jika Tuhan menilai prosesnya, lalu kriteria bagaimana dalam proses itu yang dinilai Tuhan paling benar? Apakah masih pantas untuk dipakai logika semisal kalau tidak bisa pakai tangan maka pakai mulut, dan jika tidak bisa keduanya maka cukup di dalam hati? Jawabannya mungkin karena ini bukan logika tetapi bagian dari sebuah teks agama, maka sepanjang hayat manusia harus mempraktikannya. Namun kalau dikembalikan ke pertanyaan di atas, sebenarnya apa yang hendak dicapai dengan terus memainkan peranan sebagai pelaksana penggalan bunyi teks ini? Dan lagi-lagi dalih yang dipakai, Tuhan tidak menilai hasil akhir melainkan prosesnya. Makanya siklus ini terus berputar-putar tiada henti.

Padahal kalau kita seringkali mendengar kata-kata, “Lakum diinukum waliyaddin.” alias untukmu agamamu dan untukku agamaku. Dalam pemahaman rasional saya yang sering distempel sesat, makna untukmu agamamu dan untukku agamaku, tidak hanya berhenti pada makna tekstual agama sebagai acuan normatif. Selain itu ada bingkai subjektifitas di dalamnya yang berakar pada masing-masing individu manusia. Tiap kelas atau stratifikasi sosial, menyimpan bentuk-bentuk subjektif yang jika dipaksakan untuk diseragamkan melalui satu sistem kode atau nilai tertentu, maka yang timbul adalah relasi dominasi-hegemoni. Seperti kelas terpelajar kepada kelas non-terpelajar, kelas agamawan kepada non-agamawan.

Sementara di sisi lain subjektifitas manusia bukanlah terbentuk dari lahan kosong dan tiada isinya. Setiap orang membawa latar belakang beragam yang tidak bisa serta merta dipaksa seragam oleh sakralitas teks yang dibilang sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Sedangkan dorongan dalam diri berdasarkan latar belakang subjektif itu begitu kuat untuk melakukan pembuktian-pembuktian. Seorang yang berprofesi sebagai dokter dengan segala subjektifitas dia karena mempunyai latar belakang ilmu kedokteran semestinya boleh saja melakukan pembuktian-pembuktian terhadap dalil-dalil teks agama, demikian pula orang-orang lain yang punya latar belakang berbeda. Karena itu beragama adalah persoalan subjektif yang dikembalikan kepada masing-masing individu.

Namun kadang kala kita terbentur oleh gagasan totalitas sebagai mahluk sosial yang mudah digiring kepada cita-cita utopis untuk mewujudkan ummatan wahidah, umat yang satu, dan istilah-istilah semacamnya. Bukankah nantinya jika kita telah menjadi umat yang satu, maka akan ada umat-umat yang kita anggap sebagai musuh. Dan atas nama kesatuan itu, lagi-lagi kita dikorbankan untuk sesuatu yang absurd. Bahkan sudah bertahun-tahun cara pandang kita dikonstruk semakin garang kepada orang-orang yang berbeda. Dan pertanyaan di awal akan datang kembali, apa sih yang hendak kita raih demi semua pertentangan ini?

Masing-masing kita beragama dengan kebenaran yang kita percaya sebagai kebenaran, jika memang demikian untuk apa menjadikan agama hanya sebagai legitimasi pembantaian atas nama surga, juga pengenyahan kemanusiaan atas nama neraka. Bukan tak mungkin jika agama menjadi neraka bagi kemanusiaan itu sendiri. Tapi kadang kala kita tetap bersikeras bahwa hidup di dunia ini harus ada yang menang dan kalah, karena dunia itu sendiri sering dibilang sebagai permainan.  Lalu setelah itu apa yang kita dapat kalau kita berada di kubu pemenang? Ketenaran? Kekuasaan? Atau apa?

Tetapi kemudian pertanyaan di awal dikembalikan kepada saya pribadi, ternyata saya pun tidak terlepas dari praktik-praktik justifikatif terhadap pihak lain yang saya tidak sukai. Dalam artian, subjektifitas agama ketika terintegrasi ke dalam subjektifitas individu akan menampilkan dua hal; ego dan respect. Dua hal ini batasnya sangat tipis, dan banyak faktor yang saling memengaruhi. Kadang bisa mendorong kita untuk menghargai keragaman subjektifitas di antara manusia, kadang bisa mendongkrak ego kita lebih tinggi. Mungkin pertanyaannya perlu diubah, bukan apa yang didapat sebagaimana pertanyaan di paragraf awal. Tetapi bagaimana kita menatap agama atau cara beragama lain yang berbeda? Apakah dengan ego atau respect?

Ternyata kita cuma bisa berkelit di balik, Tuhan hanya menilai prosesnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s