Defeatisme: Setelah Baghdad Jatuh


BELAJAR dari kekalahan pahit bangsa Arab (Mesir, Jordania, dan Suriah) dalam perang enam hari, Juni 1967, saya khawatir, jatuhnya Baghdad akan meninggalkan luka lama, dan mendorong munculnya sikap defeatisme di kalangan mereka.

Pada gilirannya, perasaan itu dapat di- “ekspor” ke seluruh bangsa Islam di seantero dunia, lalu menciptakan semacam “mood melankolis” tentang kekalahan dalam benak umat Islam di mana-mana.

Solidaritas keumatan akan menciptakan perasaan, jatuhnya Baghdad adalah jatuhnya harga diri umat Islam secara keseluruhan. Karena kejatuhan kota ini oleh serangan brutal pasukan AS dan Inggris, dengan mudah hal itu akan menimbulkan perasaan kebencian kepada dua negara itu. Bukan tidak mungkin, kebencian itu akan berkepanjangan sehingga menjadi kebencian atas “Barat”, betapapun kaburnya pengertian “Barat” sendiri dalam pikiran umat Islam.

DEFEATISME adalah kekalahan yang diabadikan terus-menerus, diratapi secara “melankolis”, akhirnya memenjarakan orang bersangkutan dalam lorong gelap tak berkeputusan. Defeatisme adalah laksana labirin, seperti lorong bercabang-cabang yang tanpa ujung; manakala seseorang terjerembab dalam ruangan itu, dia akan sulit keluar dari sana. Defeatisme ingin mengabadikan kekalahan, dalam pelbagai bentuk, dan tidak mengubah kekalahan itu menjadi semacam energi untuk bangkit.

Dari defeatisme itulah akan lahir semacam frustrasi kolektif, dan salah satu bentuknya “menyalahkan terus pihak lain” tanpa ada kesediaan untuk menelaah ke dalam diri sendiri secara kritis. Seperti dengan baik pernah diulas Fouad Ajami dalam buku The Arab Predicament yang terbit tahun 1981 (14 tahun setelah kekalahan pahit itu), defeatisme yang menghantui bangsa Arab sejak tahun 1967 lalu melahirkan gejala fundamentalisme di seluruh kawasan Arab. Sejak itu, mulai populer semboyan “Islam adalah solusi” (Al Islam huwal hall), dan hancurlah seluruh kepercayaan bangsa Arab pada gagasan liberal yang sempat mendapat dukungan cendekiawan Arab di peralihan abad ke-20 (seperti direkam dengan baik Albert Hourani dalam Arabic Thought in the Liberal Age). Kekalahan bangsa Arab pada tahun itu, menaikkan popularitas Islam sebagai “alternatif ideologi”, dan memerosotkan secara drastis ideologi- idelogi sekuler lain yang dianggap telah bertanggung jawab menghancurkan identitas asli dan harga diri mereka.

Kembali kepada tradisi, memburu otentisitas, itulah tema pokok yang menguasai kesadaran bangsa Arab setelah kekalahan itu. Islam lalu ditoleh sebagai “kendaraan” yang diharapkan mampu menebus kekalahan itu. Tetapi, seperti ditunjukkan Ajami, tradisi yang hendak ditoleh kembali adalah tradisi yang telah mengalami “keretakan”; Ajami menyebutnya sebagai fractured tradition. Di satu pihak, bangsa Arab hendak kembali ke masa lampau, ke zaman Nabi yang gemilang dan suci-jernih, tetapi di pihak lain, kenyataan bangsa Arab abad ke-20 justru memperlihatkan betapa mereka, baik sebagai pemerintah dan bangsa, amat tergantung pada negara-negara asing di luar Arab. Di depan pintu mereka berdiri negara Israel yang seperti menyempurnakan perasaan pahit sebagai bangsa kalah. Lebih menyakitkan lagi, kenyataan bahwa bangsa Arab diperintah para penguasa yang despot. Dengan getir, penyair Palestina, Mahmoud Darwish, menggambarkannya, “I saw nothing but a scaffold/With one single rope for two million necks/I see armed cities of paper that bristle/With kings and khaki”. Kehendak untuk kembali kepada tradisi dan mencari otentisitas (biasa disebut di kalangan intelektual Arab sebagai ashalah), malah makin menimbulkan perasaan getir lebih dalam, dan menambah dalamnya defeatisme dalam “psike” bangsa Arab.

Itu sebabnya, “bahasa kemarahan” lebih mendominasi wacana bangsa Arab dalam tiga dekade terakhir ini. Bahasa ini akhirnya mempengaruhi bagaimana wacana Islam dibentuk sepanjang periode itu: suatu “genre” Islam yang sarat kutukan dan kemarahan yang diarahkan “keluar” begitu rupa sehingga tidak ada lagi ruangan cukup untuk “menelaah ke dalam”. Bahasa Islam yang sarat kemarahan inilah yang “diekspor” ke kawasan-kawasan lain di luar Arab.

SETELAH tragedi 11 Seprtember 2001, muncul mood atau perasaan hati yang kuat di kalangan umat Islam untuk melakukan soul searching, kritik diri, suatu kesediaan batin untuk menerima kenyataan bahwa ada yang salah dalam “kesadaran” umat Islam, karena itu suatu reform atau pembaruan perlu dilakukan. Di mana-mana, orang berbicara tentang bahaya pemahaman agama yang parokialistik, yang sempit, yang hanya bertunjang pada penelaahan harafiah, tetapi abai terhadap visi besar Islam sendiri. Saya kira, ini suatu kecenderungan yang baik dan positif. Mood yang sama juga mulai muncul di Indonesia setelah terjadinya pengeboman di Bali.

Mood itu, kini tampaknya mulai menguap, diganti kemarahan atas Barat, wa bilkhusus atas AS. Keharusan memperbarui pemahaman Islam juga mulai kehilangan relevansinya. Dalam kemarahan, orang lebih suka melihat “obyek” lain di luar untuk ditonjok, ketimbang menengok ke “dalam”, dan melakukan koreksi diri. Dampak buruk perang Irak, dan kejatuhan Baghdad, adalah suatu kekecewaan yang lalu berubah menjadi kemarahan terhadap barat, dan dengan demikian melemahkan kembali kesadaran kritis yang sudah pelan-pelan mulai muncul setelah terjadinya tragedi WTC. Saya khawatir, setelah Irak kalah, umat Islam akan mudah terjerembab ke dalam defeatisme, lalu “disandera” wacana-wacana keagamaan fundamentalistik.

Dalam retorika yang berkembang di masyarakat Islam, orang-orang yang mendorong proses pembaruan pemahaman Islam, kerap dipandang sebagai “antek” atau boneka kepentingan bangsa asing (AS dan Yahudi). Retorika itu sengaja diembuskan untuk membangkitkan sentimen negatif umat Islam terhadap tiap gagasan pembaruan.

Setelah perang Irak, saya khawatir aneka tuduhan semacam ini akan meningkat. Yusuf Qardlawi, ulama Mesir, pernah menulis buku, Al Hulul Al Mustauradah, Solusi-Solusi Yang Diimpor, sebagai kritik atas wacana-wacana Islam liberal- progresif yang dianggap sebagai wacana impor dari bangsa asing; wacana yang menurutnya pasti gagal. Aneka tuduhan pada kaum Muslim progresif dan liberal sebagai pengimpor gagasan-gagasan asing dari Barat akan amat mungkin makin menguat setelah kejatuhan Baghdad yang tragis. Sebagai pengimpor gagasan asing, kaum Muslim liberal-progresif akan rentan menjadi sasaran kemarahan umat Islam.

Harus diakui, kesadaran umat Islam modern yang sarat bahasa kemarahan dipengaruhi Barat. Karen Armstrong, dalam The Battle for God, menggambarkan dengan amat baik, bahwa kemarahan umat Islam adalah produk “modernitas” yang datang ke dunia Islam dalam bentuk “serbuan”, bukan dalam bentuk pembebasan dan kemakmuran.

Modernitas hadir ke dalam memori kolektif umat Islam dalam bentuk tank dan pesawat tempur yang membunuhi anak- anak dan perempuan tak berdosa di Irak dan Palestina. Dengan begitu, tak heran jika umat Islam lalu menoleh kembali ke tradisi kegemilangan yang kemilau di masa lampau, dan mulai menampakkan muka bersungut-sungut kepada Barat dan kepada orang-orang yang dianggap sebagai “agen” dan “boneka” mereka?

Apakah defeatisme ini harus dibiarkan, dan kita maklumi karena itulah konsekuensi logis dari keberandalan dan kekurangajaran Barat?

Bagi saya, tidak ada pilihan lain bagi umat Islam kecuali mencari pintu keluar dari defeatisme yang sarat kemarahan itu. Defeatisme akan menggerogoti sendiri tubuh umat Islam dan memojokkan mereka terus-terusan dalam mentalitas apologetik dan defensif, yang sama sekali berbahaya.

Meski agak menyakitkan dan getir, tetapi kata-kata Bernard Lewis dalam What Went Wrong, amat perlu dipertimbangkan, “Manakala mereka (bangsa Arab, juga umat Islam-Red) bisa membuang jauh-jauh kemarahan dan perasaan mereka sebagai korban (victimhood), mengatasi aneka perbedaan mereka, lalu menyatukan kembali bakat, tenaga, dan sumber daya mereka dalam usaha kreatif, saat itulah mereka akan menjadi pusat peradaban di zaman modern, seperti pernah terjadi di zaman klasik.”

Saya tidak suka semangat buku yang ditulis Lewis itu, tetapi nasihatnya amat penting untuk didengar. Bahasa kemarahan tidak akan bisa menyelesaikan masalah umat. Defeatisme akan bisa diatasi bila umat Islam berhenti mengutuk, berhenti melihat sejarah masa lampau, (sejarah Nabi, sahabat, dinasti-dinasti klasik) sebagai sesuatu yang “suci” yang tidak boleh ditelaah secara kritis. Umat Islam juga harus mulai bertanya: apakah betul jargon “Islam sebagai solusi alternatif” adalah jargon yang berdasar, atau hanya retorika untuk menutupi kekalahan? Bukankah jargon itu akan menambah umat Islam terisolasi diri, dan memusuhi, sumber-sumber kreatif yang datang dari barat atau tempat- tempat lain, dan dengan demikian makin menambah umat Islam terpuruk ke dalam mentalitas defeatisme?

Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL). Associate researcher di Freedom Institute, Jakarta.

URL Source:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/17/opini/261209.htm

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=1707&coid=1&caid=53&gid=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s