Hukuman Pancung Cuma Isu?


1309468577233856670

Hukum pancung itu bukan barang baru. Isu ini sengaja dikobar-kobarkan oleh mereka yang non-Muslim untuk menyudutkan umat Islam. Demikian dikatakan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ali Yafie kepada voa-islam usai Kajian Al-Qur’an Komprehensif yang diadakan Yayasan Al-Washiyyah di Jakarta.

“Apa bedanya, hukum pancung dengan hukum mendudukkan seseorang di atas kursi listrik. Kan sama saja, hanya medianya saja yang berbeda. Jadi itu bukan hal yang prinsip. Tak usah kita repot menanggapi persoalan ini,” ujar kiai. Menurut KH Ali Yafie, ada upaya untuk menjelek-jelekkan Islam dalam fenomena-fenomena tertentu yang sifatnya musiman. Termasuk isu hukuman pancung yang dikait-kaitkan dengan Islam. Kita tahu, di seluruh dunia, umat Islam disudutkan, Timur tengah dikocar-kacirkan. “Yang jelas, sikap kita jalan terus, tetap istiqamah dengan sesuatu yang kita anggap benar,” tegas Ali Yafie yang juga penasihat Yayasan Al Washiyyah.

——————————————————————————————

Jadi buat orang-orang Indonesia yang pada teriak soal hukuman pancung para TKI di Saudi, lebih baik tutup mulut saja. Untuk apa membela mereka karena nanti dituding bersekongkol dengan orang-orang non-muslim untuk mengacak-ngacak Islam. Walaupun alasannya adalah karena kemanusiaan, tetapi tetap saja itu memberikan citra buruk kepada Islam. Sekarang bagaimana kalau kita balik logika orang-orang seperti Ali Yafie ini dengan mengatakan bahwa yang menyudutkan Islam adalah karena orang-orangnya sendiri.

Bagaimana jika kekuatan luar yang selalu jadi bahan tuduhan sebenarnya datang dari dalam? Kadang kala ketika seseorang tersudut maka muncul mekanisme self defense dalam diri dengan cara menyalahkan orang lain, mencari-cari dalih untuk mengatakan si anu, si ini, si itu sebagai kambing hitam. Lagi pula apakah solidaritas sesama bangsa tanpa melihat latar belakang agama seperti yang dilakukan beberapa organisasi atau lembaga swadaya adalah salah? Apakah bisa selalu dibilang menyudutkan Islam sementara jelas yang dibela adalah manusianya. Kepala manusia yang mempunyai identitas warga negara Indonesia dan sebentar lagi akan dipancung.

Kemudian muncul lagi dalil begini, “Itulah kelemahan sistem negara bangsa, membuat sesama muslim di seluruh dunia saling gontok-gontokkan.”dan disambung dengan, “Makanya harus ada sistem yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Caranya dengan sistem Khilafah atau Kekhalifahan.” Lagi-lagi jawaban seperti ini yang muncul. Jadi sama saja, nilai kepala manusia tidak akan berharga demi tegaknya sebuah sistem yang digadang-gadang ideal.

Kalau logika “Menyudutkan Islam” ini terus dipakai maka jurang pemisah itu akan terus terjadi. Seseorang yang berkebangsaan Indonesia tetapi non-muslim tidak bisa menyuarakan solidaritasnya atas nama kemanusiaan. Karena ketika menyinggung soal hukuman pancung maka akan terbelit dan berbenturan dengan agama. Sementara di belahan negara lain, mereka pun bebas menyuarakan gerakan anti hukuman mati, baik dengan menggunakan kursi listrik atau suntikan mematikan. Inilah apa yang disebut dengan defeatisme, kekalahan yang diabadikan terus-menerus, diratapi secara “melankolis”, akhirnya memenjarakan orang bersangkutan dalam lorong gelap tak berkeputusan. Dari defeatisme itulah akan lahir semacam frustrasi kolektif, dan salah satu bentuknya “menyalahkan terus pihak lain” tanpa ada kesediaan untuk menelaah ke dalam diri sendiri secara kritis.

Justru seharusnya gerakan-gerakan mengecam hukuman pancung, atau katakan hukuman mati kepada para TKI di luar negeri, dapat dijadikan sebagai momen agar pemerintah melek terhadap kondisi rakyatnya sendiri. Apakah setiap ada kejadian seperti ini, lantas kita tidak boleh bersuara cuma gara-gara khawatir dibilang menyudutkan Islam. Bagi saya sih alasan seperti ini adalah non-sense. Dan apakah para pembela buruh migran itu mengaitkan hukuman pancung dengan hukum Islam? Atau jangan-jangan karena orang-orang semacam Ali Yafie saja yang tersudutkan karena kebetulan fenomena ini sedang marak sekarang terjadi di Arab Saudi yang notabene sistem negaranya mengadopsi hukum Islam, dan juga oleh sebab apa yang ke-arab-arab-an selalu diasosiakan oleh orang Indonesia dengan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s