Siapa yang Akan Membinasakan Pancasila?


“Bung Karno Sang Penggali Pancasila itu tak memasukkan Pancasila sebagai kurikulum pelajaran sekolah. Beliau cuma mengingatkan kita untuk bekerja keras mewujudkan nilai-nilai Pancasila serta merumuskan formula Trisakti untuk tercapainya Pancasila yakni: Berdaulat dibidang Politik, Berkepribadian di bidang kebudayaan, serta Berdikari di bidang ekonomi.”

Tapi Bung Karno juga tidak hidup di masa sekarang yang mana gejolak anti Pancasila sudah beragam, bebas, dan dalil-dalilnya pun sangat variatif. Justru karena alasan historis bahwa Pancasila di setiap orde dan rezim pemerintahan sering dijadikan kedok bagi otoriterianisme, maka akhirnya masyarakat lebih baik meninggalkan Pancasila. Gerakan anti Pancasila juga diajarkan turun temurun, dari generasi ke generasi dengan cara mewarisi “misi suci” yang belum tuntas tersebut. Bahkan sampai dijadikan lahan untuk berjihad dalam rangka meraih surga.

Simak saja beberapa propagandis ulung yang berlindung di balik kedok agama untuk menggeser Pancasila. Dalam sebuah acara Tabligh Akbar bertajuk, “Bekasi Bersyariah” di Masjid Islamic Center Bekasi, seorang propagandis bernama Abu Muhammad Jibril dari Majelis Mujahidin Indonesia menegaskan bahwa Syariat Islam tidak akan tegak, jika tidak ada penegaknya. Sesungguhnya orang yang menentang, mengingkari, dan tidak mempercayai al-Quran, mereka pasti akan binasa. Sangat disayangkan, statement SBY yang menyatakan perang dengan mengatakan, tidak ada ideologi lain selain Pancasila.

Pancasila yang dianggap hasil galian Soekarno itu diteruskan oleh Soeharto, yang menetapkan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi, di mana semua agama berada dibawahnya. Padahal, asas Pancasila ditemukan dalam Kitab Talmud. Asas pertama, monotheisme diganti dengan Ketuhahan. Kedua, Nasonalisme, berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu tanah Yahudi. Kemanusiaan yang adil dan beradab bagi bangsa Yahudi. Kembali pada Pancasila, berarti kembali pada doktrin Yahudi. Padahal, Allah sudah menetapkan: Ikutilah jalan-Ku yang lurus, jangan ikuti jalan-jalan yang lain selain yang ditunjukkan oleh al-Qur’an.

“Jika kalian mengikuti jalan Pancasila, nasionalisme, liberalisme, komunisme, kalian pasti bercerai-berai dan akan binasa. Satu-satunya jalan yang menyelamatkan umat Islam adalah al-Qur’an, tiada yang lain,” ujarnya.

Para penguasa di negeri ini lebih memilih ajaran nenek moyangnya, yakni Pancasila. Ketika ditawari al-Qur’an, syariat Islam mereka menolak. Jika Indonesia ingin menjadi lebih baik, maka ganti rezim ganti sistem, jadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Amalkan seluruh ajaran Islam, jangan ikuti langkah setan, karena setan musuhmu yang paling nyata. Artinya, laksanakan Islam seluruhnya dalam bentuk kekuasaan atau negara. Ketahuilah, Rasulullah Saw, Abu Bakar As-Shiddiq ra, Umar bin Khaththatb ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra, adalah pelaksana al-Quran dalam bentuk kekuasaan negara. Maka mustahil kita akan melaksakan Islam jika kita tidak punya kekuasaan dan negara,” jelas Ustadz.

Saat ini umat Islam harus melaksanakan dakwah dan jihad. Kita tidak mau dihimpun dalam parlemen bersama Abu Jahal, Abu Lahab. Kita sudah saksikan, parlemen itu tempat kotor, tempat para koruptor berkumpul. “Barangsiapa tidak meyakini syariat Islam untuk mengatur di muka bumi, maka Islamnya, shalatnya, puasanya, zakatnya, hajinya menjadi batal. Orang yang dikatakan beriman adalah jika ia meyakini bahwa syariat Islam sebagai penyelamat, tidak ada keberatan hati untuk menerima syariat Islam,” kata Ustadz Abu Jibril.

Apabila diserukan kepada Allah dan Rasulnya untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasulnya, itulah orang orang sukses dan jaya, panduannya hanya Quran dan sunnah saja. Jika mengikuti Pancasila, tidak akan selamat selama-lamanya. “Kita saksikan hari ini, pemimpin demokrasi di dunia ini sedang berlaku sombong terhadap umat Islam. Betapa tidak, umat Islam dijelek-jelekkan, difitnah, diintimiasi, ditangkap, dibunuh dan dibantai di dunia,” katanya.

Jadi untuk apa Pancasila diajarkan di sekolahan dengan menggunakan apa yang disebut oleh para pakar pendidikan, pendekatan subjek dan pendekatan integrasi. Toh Pancasila tidak bisa mengantarkan orang ke Surga. Makanya Pancasila yang justru harus menyesuaikan diri dengan Syariat Islam. Seperti kata Adian Husaini, bahwa Pancasila bukan pandangan umat Islam. Lalu bagaimana agar Pancasila bisa sesuai dengan Syariat Islam, ya caranya dengan kerangka tafsir berdasarkan Syariat Islam. Orang-orang non-Muslim jangan sok menafsirkan Pancasila, nggak berhak.

“Pancasila dari awal disepakati oleh para tokoh nasionalis maupun tokoh Islam. Tokoh Islam Muhammad Natsir tahun 1954 mengatakan, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Yang diprotes kemudian oleh tokoh Islam pada masa Orla dan Orba adalah penafsiran yang menyimpang dari Pancasila, misalnya Pancasila ditafsirkan secara Nasakom, di mana Pancasila justru mengakomodir komunisme. Hal itulah yang tidak bisa diterima oleh tokoh Islam. Jadi, bukan Pancasilanya yang tidak bisa diterima, tapi ketika Pancasilan dijadikan sebagai worldview atau rumusan kehidupan. Tidak bisa, konsep ketuhanan dirumuskan oleh Pancasila. Dan sudah pasti, akan bertabrakan dengan konsep agama, terutama Islam,” papar Adian. Harusnya Pancasila, lanjut Adian, tidak masuk ke wilayah worldview itu. Sebab, worldview itu wilayahnya agama. Karena itu, jangan jadikan Pancasila sebagai landasan moral atau perilaku. Dikhawatirkan menjadi bias dan menimbulkan kebingungan. Orang yang berilaku menurut Pancasila akan bertabrakan dengan Islam. Mengingat Islam sendiri sudah punya konsep perilaku.

Ternyata Bhineka Tunggal Ika hanya papan gantungan di kaki burung garuda Pancasila saja. Slogan yang sesungguhnya basi sebab Pancasila tidak bisa menyatukan bangsa Indonesia. Buktinya tiap golongan ingin berusaha mengkooptasi Pancasila atau membuangnya ke tong sampah sekalian. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ketidaksaktian Pancasila akibat ulah orang-orang Indonesianya juga. Tapi kok kita masih merayakannya terus. Padahal sebagaimana dinyatakan oleh Abu Jibril bahwa siapa yang ikut Pancasila akan binasa.

Pertanyaannya sekarang adalah, “Yang bikin binasa Pancasila, orang-orang Indonesia juga, atau Tuhan, atau orang-orang yang digerakkan Tuhan untuk membinasakan Pancasila?” Kalau saya sih lebih memilih jawabannya adalah karena faktor orang. Buktinya di Indonesia ini ada orang-orang semacam Abu Jibril, Abu Bakar Ba’asyir, Adian Husaini, dan lain-lain, yang memang ingin agar Pancasila binasa, atau paling tidak dikooptasi secara sepihak oleh penafsiran tafsiran agama yang kebetulan menjadi mayoritas dianut di negara ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s