BKKBN dan Berpoligami


Seputar Indonesia siang ini (28/06/11) mengungkit soal banyaknya kepala daerah yang berpoligami menimbulkan kendala tersendiri terhadap pelaksanaan program-program BKKBN di daerah. Dengan mengambil contoh Walikota Bogor yang sudah berusia 56 tahun tetapi baru saja menikah untuk keempat kalinya dengan perempuan berusia 19 tahun, demikianlah sebagaimana yang diberitakan di RCTI. Ada benarnya juga menyimak hal tersebut, jika kepala daerahnya berpoligami apalagi dilandasi karena dalih agama, pertanyaannya apakah bisa benar-benar objektif mendukung program BKKBN di daerah? Karena kalau kepala daerahnya sendiri tidak bisa berlaku adil terhadap program BKKBN, dikhawatirkan fasilitas yang diberikan hanya sekedar untuk formalitas saja.

Di lain sisi apa BKKBN tidak belajar dari era Soeharto bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini sudah terlanjur dikonstruk untuk mengatakan “Program KB itu haram.” dulu kan timbul polemik dan perdebatan antara berbagai lapisan masyarakat sampai ke tingkat elit politik dan agama. Akhirnya di kalangan elit agama pun ada yang tetap mengharamkan, ada yang membolehkan dengan berbagai macam ketentuan, dan sebagainya. Namun di tataran grass root sudah terbentuk lebih dahulu pola pikir-pola pikir anti program KB.

Dulu slogan “Dua anak cukup.” sering jadi bahan cacian dan sering dibenturkan dengan entah adagium atau pepatah atau mungkin jadi bagian dari doktrin agama, yang mengatakan bahwa “Banyak anak banyak rezeki.” Sementara rezeki itu datangnya dari Tuhan. Jadi untuk apa takut atau diatur-atur pakai KB, toh setiap kepala bayi yang brojol sudah ditentukan rezekinya di muka bumi. Kalau ditarik lagi dikaitkan dengan poligami yang nota bene juga mendapatkan dukungan dari ayat Tuhan, maka poligami termasuk salah satu cara untuk menghasilkan banyak keturunan, membuat dinasti sendiri, menciptakan calon tentara-tentara Tuhan (Jundullah), sehingga berpoligami itu justru sangat bagus dan malah semakin banyak mendatangkan rezeki. Oleh karena itu menjadi lumrah di negara ini, orang-orang yang berada dalam lingkaran elit seperti orang kaya, pejabat negara, tokoh agama, rata-rata memiliki banyak istri. Tidak semuanya, tetapi banyak yang begitu.

Jadi untuk apa ada program BKKBN yang kerjanya sekarang malah jadi dagang alat-alat kontrasepsi plus ceramah yang dibahasa keren-kan penyuluhan. Kalau memang ternyata program BKKBN malah banyak mendapatkan kendala oleh kepala daerah yang berpoligami, untuk apa perlu dilestarikan. Ujung-ujungnya cuma sekedar formalitas biar turun dana, sumbangan, proposal, sementara programnya sendiri tidak sampai di telinga masyarakat. Apalagi kalau mempunyai banyak anak dibenturkan dengan kepadatan penduduk, ngapain memersoalkan kepadatan populasi penduduk, toh setiap orang yang lahir dan memadati Indonesia pasti sudah ditentukan rezekinya oleh Tuhan.

Masyarakat mau banyak anak, mau poligami, mau mengatur jarak kehamilan, mau pasang kondom atau tidak, terserah mereka-lah. Toh bayi yang ditakdirkan mati sehingga meningkatkan angka kematian bayi juga sudah suratan takdir. Sama saja kalau bicara soal pertambahan jumlah penduduk, rezekinya sudah diatur dari alam azali. Maka dari itu tidak perlu membenturkan antara BKKBN dan poligami. Biarkan jalan sendiri-sendiri.

Orang-orang yang berpoligami itu kan sudah pada merasa dirinya bisa adil, mampu jadi matahari, menjalankan perintah agama, dan yakin bisa membawa sampai ke surga. Sedangkan BKKBN itu apa, cuma program buatan manusia yang tidak menjamin balasan di dunia dan akhirat. Malah bikin polemik di tengah masyarakat, hentikan saja penyuluhan-penyuluhan KB. Membangun keluarga kan hak masing-masing individu, tak perlu diajarkan caranya merencanakan bangun keluarga, terlebih menurut BKKBN. Tiap orang sudah punya pegangannya sendiri untuk membangun sebuah keluarga termasuk karena agama.

Pemerintah tak perlu khawatir jumlah penduduk Indonesia makin meningkat setiap kali sensus diadakan. Mungkin suatu saat penduduk Indonesia bisa sampai semilyar seperti China yang sekarang justru mulai melaksanakan program-program keluarga berencana untuk menanggulangi kepadatan penduduk. Tetapi kan itu di China, kalau di Indonesia semuanya pasti bisa tertanggulangi dengan kalimat sederhana, “Banyak anak, banyak rezeki. Namanye rezeki, ude dari sononye ade Tuhan yang ngatur.”

Bukankah selama ini negara dijalankan berdasarkan logika-logika sederhana seperti itu. Pun orang-orang kaya juga bisa dimanfaatkan untuk berpoligami dalam rangka mengurangi jumlah kemiskinan, karena kan biasanya kalau ada yang dapat menantu orang kaya, nanti mertua sekaligus ipar-ipar juga ikut ketiban rezeki. Apa dibuat program sebaliknya saja, budayakan poligami untuk menanggulangi kemiskinan. Semua sudah diatur rezekinya, tinggal muncrat dan tunggu adonannya matang. Betapa sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s