Penggal Saja Para TKI Itu!


Bicara persoalan buruh migran di Saudi, saya jadi ingat dahulu sewaktu kerja di sana selama musim haji. Saya bekerja di perusahaan catering dan kargo, dan menjalin pertemanan dengan seorang TKI asal Madura. Bahkan ketika masa kerja selesai saya sempat menginap beberapa hari di rumahnya di Jeddah. Ada sebuah kawasan di Jeddah yang rata-rata dihuni oleh TKI berasal dari Madura, sehingga dia berkelakar menyebut kawasan itu sebagai Hayy Madura, alias distrik Madura. Dari ceritanya ketika masa-masa bekerja itu saya mengetahui beberapa penderitaan yang dialami para TKI di Saudi, termasuk para TKI yang bisa dibilang oportunis untuk memerkaya diri. Tak ketinggalan oknum KBRI yang bertingkah biadab, seperti ada pegawai KBRI yang dipukuli oleh TKI karena menjadi makelar perempuan-perempuan Indonesia untuk diperdagangkan, alias dijual.

Kalau dari pengalaman sendiri sih, ketika di Mekkah ada TKW yang menawari untuk tidur dengan harga 50 riyal. Murah sekali dan kalau mau jujur, perempuan itu mungkin tidak pernah mau melakukan hal tersebut. Akan tetapi bagaimana lagi, keadaan memaksanya untuk bertahan hidup. Paspornya ditahan majikan dan dia sendiri kabur dari rumah majikannya karena menerima perlakukan kasar. Belum lagi ada yang digilir oleh majikannya, entah itu si kepala keluarga atau anak lelaki di keluarga majikan itu yang saban hari minta jatah. Derita-derita semacam itu menimbulkan trauma sehingga si buruh migran ini merasa tubuhnya telah benar-benar hina. Lebih baik baik menghinakan diri dengan menjajakan tubuhnya sekalian.

Inilah yang kadang tidak dilihat oleh orang-orang yang mengaku dirinya suci semisal para pejabat yang mengurusi persoalan buruh migran ini. Mereka hanya melihat pada tataran normatif, dan menafikan sisi psikologis. Akibatnya ketika ada peristiwa para buruh migran yang terancam hukuman pancung, mereka cuma bisa menilai dari sisi normatif hukum, di mana Saudi menggunakan hukum Islam bahwa yang membunuh harus dibalas dengan hukuman mati, alias qishash. Padahal dibalik yang normatif itu ada sisi-sisi lain yang dapat ditelaah. Kalau dari penuturan kawan saya itu, banyak TKI yang setelah 3 bulan masa percobaan pelatihan, langsung dioper majikannya untuk melayani keluarganya di tempat yang berbeda.

Trik permainan para majikan di Saudi yang sudah kena Black List biasanya dengan meminta saudara atau keluarganya untuk menyewa buruh migran atas nama mereka, lalu setelah 3 bulan masa pelatihan barulah mereka mengambil buruh migran dari rumah keluarga yang menyewanya. Karena biasanya setelah 3 bulan masa pelatihan, pengawasan dari KBRI atau pihak penyalur sudah tidak ada lagi, atau bisa jadi sudah tidak berjalan karena telah menerima duit sogokan. Kemungkinan begitu karena buktinya bisa dilihat dari sistem yang tidak lagi berjalan. Jadi semestinya kalau ada kasus mengapa seorang TKI kena vonis hukum pancung, disimak dan diperhatikan mengapa mereka sampai berbuat begitu. Boleh jadi karena dia tidak tahan disiksa atau diperkosa terus menerus oleh majikannya dan gajinya tak dibayarkan, maka dia nekat berbuat begitu. Karena tekanan psikis dapat menyebabkan seseorang berbuat apa pun.

Jika para pejabat, baik kementrian, KBRI, dan sebagainya, mau sedikit simpati dan berempati terhadap mereka dengan melihat sisi lain dari sebuah vonis hukum, setidaknya mereka akan terus berupaya secara serius untuk menangguhkan hukuman. Kalau perlu membebaskan para tervonis itu dengan membayar denda, serta melakukan pembenahan dalam mengurusi para TKI. Ketimbang apa yang terjadi sekarang ini, nampak jelas bahwa pemerintah cuma berlindung dibalik slogan “Pahlawan devisa” yang sesungguhnya mereka melecehkan buruh migran tersebut. Buktinya kalau TKI kembali ke tanah air, mereka diperlakukan seperti kambing yang digiring ke kandang bernama Terminal 3, lalu dipajaki dengan biaya yang lebih gamblang sebagai pemerasan.

Saya pernah waktu pulang dari Mesir sempat dikira TKI, tetapi sengaja saya tidak membantah ketika baru sampai di tempat pengambilan barang. Para aparat bandara sudah menggiring saya, menarik saya dan beberapa TKI yang baru mencari barang-barang bawaan mereka, untuk segera ke terminal 3. Seperti tidak mau kecolongan incaran uang yang menyilaukan mata hijau mereka. Padahal katanya para TKI ini adalah pahlawan devisa, tetapi perlakuan terhadap mereka baik itu di negeri orang dan di negeri sendiri tak ubahnya sapi perahan. Ketika saya sampai di terminal 3 itu saya baru tahu bagaimana mereka memerlakukan para buruh migran, kadang dengan nada kasar dan membentak, lalu saya membalikkan badan hendak ke terminal 2. Tetapi ada petugas yang menahan saya, dan saya bilang saja waktu itu kalau saya mahasiswa sembari memerlihatkan paspor.

“Saya cuma pengin lihat mereka digimanain sama pemerintah.” itu alasan saya waktu petugas itu menegur mengapa saya ikut masuk ke terminal 3. Tapi itu dahulu, entah sekarang bagaimana perlakuan terhadap TKI setelah katanya ada pemindahan terminal. Apakah pungutan liar dan perilaku diskriminasi oleh bangsa sendiri masih ada atau tidak. Yang jelas penderitaan para TKI takkan pernah berakhir sebelum pemerintah benar-benar serius menangani mereka dengan tidak bersikap diskriminatif serta memerlakukan mereka benar-benar selayaknya pahlawan negara. Bukan cuma kiasan atau bumbu penyedap saja, walaupun kalau melihat Menakertrans sekarang, kayaknya saya kurang yakin jika Cak Imin bisa membenahi persoalan TKI.

Ya kalau tidak mau repot, mendingan biarkan saja para TKI itu dipenggal di sana. Kita tutup mata dan telinga, seolah warga Indonesia di Saudi cuma yang hadir saat musim haji saja, yang memubazirkan uang demi beli oleh-oleh, dan yang kelihatan penuh suka cita telah menyaksikan Ka’bah. Sedangkan buruh migran itu anggap saja sampah dari antah berantah yang untuk menyelesaikan segala permasalahannya cukup dengan dijadikan tumbal bagi berbagai macam kepentingan.

Kok tidak ada yang menyatakan jihad melawan Arab Saudi atas kelakukan mereka terhadap TKI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s