Membangunkan Sang Pemimpi


Sebagai salah satu butir hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, Republik Indonesia Serikat yang dipandang sebagai kelanjutan Pemerintah Hindia-Belanda, harus menanggung hutang pemerintah Hindia-Belanda kepada Pemerintah Belanda sebesar 6,5 miliar gulden. Belum lagi terlunasi, bertubi-tubi hutang menjejali negara ini melalui badan-badan keuangan dunia seperti IMF atau World Bank. Dan hutang-hutang itulah yang mengendalikan Indonesia selama ini. Negeri yang begini kaya diubah jadi negara pengemis. Kita bekerja siang malam dan membayar pajak cuma untuk membayar hutang-hutang dan membayar upeti bagi segelintir orang, jaringan korporasi yang memastikan sampai tujuh, delapan, sembilan, sepuluh generasi kita nanti tetap dalam kondisi tak jauh berbeda. Apakah kita sudah merdeka? Jangan-jangan kemerdekaan ini cuma hasil tukar guling saja. Meski personel dalam kepemerintahan sering berganti tapi tetap bermental kacung yang rutin bertekuk lutut di hadapan kekuatan monopoli dunia.

Mari kita tertawa menertawakan betapa kita diminta berbangga diri sebagai suatu bangsa yang sejatinya tak lebih dari koloni budak. Dan uang yang kita taruh dalam dompet tidak lain merupakan pengganti surat hutang kita. Ketika standar emas sebagai penjamin mata uang dihapuskan, maka uang tak lebih dari secarik kertas yang menjamin tiap kepala rakyat Indonesia untuk sekedar menyambung hidup, alias tak berharga sama sekali. Sementara di sisi lain kekayaan hasil bumi Indonesia yang berupa mineral emas dan perak, digerogoti oleh perusahaan-perusahaan asing. Sekali lagi bangsa ini ditipu habis-habisan. Sudah diperas tenaganya dirampas pula hartanya.

Aneh bukan bila sistem finansial di negeri ini menyebarkan secarik kertas tak berharga yang nilainya hanya dijamin berdasarkan jumlah kertas yang beredar di masyarakat. Tetapi supaya lebih canggih dibuatlah aturan-aturan ala “inflasi-deflasi” oleh berbagai otoritas yang berwenang. Tambah aneh lagi ketika kertas itu distandarkan dengan kertas lain bernama Dollar, di mana Dollar sendiri dikendalikan Federal Reserve System yang sama sekali tidak berada di bawah peraturan apapun dari pemerintah USA, melainkan sebuah kebijakan korporasi swasta yang juga menghutangi Amerika. Dalam kalimat lain, sistem yang mengangkangi negeri ini dibuat cuma untuk menjaga kestabilan sistem “di sana” yang mengangkangi seluruh dunia.

Dan satu hal yang gamblang hanyalah kewenangan untuk mengatur jumlah uang yang beredar. Plus kewenangan untuk mengatur nilainya, dan sekaligus kewenangan untuk bisa meruntuhkan seluruh perekonomian dan masyarakat. Makin ajaib lagi jika perang dunia 1 dan ke-2 ternyata dibiayai oleh sistem ini, di mana pada tahun yang sama ketika rezim Nazi tumbang, sebuah negara bernama Indonesia merdeka sekaligus berhutang. Perang dunia kedua berakhir, dan kemerdekaan negara kepulauan di asia tenggara itu tak lebih merupakan bagian dari rencana bagi-bagi tanah untuk memetakan kembali kolonialisme dengan target lahan-lahan pasar potensial. Termasuk di antaranya tanah air tumpah darah gemah ripah loh jinawi Indonesia raya. Dan dampaknya hingga sekarang dirasakan atau tidak, perbudakan itu terus merajalela.

Menarik bukan melihat sekelompok orang yang mampu mengendalikan dunia dengan permainan-permainan liciknya. Bahkan kejadian demi kejadian itu tergambar jelas di mata kita berulang kali. Tetapi kondisi kita di sini tetap sama, diperas dan dibiarkan terus bermimpi sembari menunggu mati. Sedangkan di luar sana perang demi perang terus berlangsung, entah dalam rangka mencari sumber kekayaan baru semisal jalur pipa minyak, atau supaya negara-negara yang sedang berkonflik meminjam uang untuk membeli senjata. Para majikan di pucuk tertinggi itu mengendalikan dunia tanpa henti. Naasnya dunia ini tidak dikendalikan oleh cinta. Tetapi beruntung ada kata-kata manis yang bisa dijadikan pelarian dan terdengar menyejukkan, “Aku anak Indonesia. Aku Cinta Rupiah.”

 

Jam dinding berdentang nyaring
Membangunkan sang pemimpi
Walau kembang tidur masih mewangi
Tiada malas untuk jalani Hari
Tiada surut peluh mengering

13083602601908547702

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s