Contoh Relatifitas Kebenaran


Sebenarnya untuk membuktikan bahwa kebenaran manusia itu bersifat relatif, maka akan kita dapati beberapa contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tergambar jelas dalam kasus persidangan Ba’asyir. Misalkan perkataan Ba’asyir sendiri ketika menolak vonis hukum terhadapnya, alasannya karena vonis itu dijatuhkan berdasarkan undang-undang Republik Indonesia yang merupakan undang-undang Thagut, setan, haram, dan sebagainya. Sehingga dia merasa harus menolak putusan tersebut. Keberadaan NKRI dipandang sebagai negara thagut oleh orang semacam Ba’asyir karena tidak menggunakan syariat Islam secara keseluruhan di dalam sistem perundangan negara ini. Sedangkan bagi sekelompok muslim lain yang moderat, katakan seperti Hasyim Muzadi yang berulang kali menyatakan di televisi bahwa negara Indonesia bukan negara agama (baca: Islam), melainkan negara Pancasila. Maka sistem perundangan di negeri ini dibentuk dengan mengakomodasi berbagai nilai yang dapat berlaku di dalam kondisi masyarakat yang sangat majemuk. Berbeda dengan Ba’asyir yang berpendapat bahwa kemajemukan masyarakat di Indonesia harus sepenuhnya diatur oleh hukum Islam.

Sementara muslim lainnya yang lebih sekuler berpendapat bahwa antara agama dan Pancasila tidak perlu dipertentangkan, dapat berjalan bersama dan berkoeksistensi. Masyarakat di dalam ruang publik diatur oleh hukum yang dibuat berdasarkan konstitusi negara UUD 45 dan dasar negara Pancasila. Sementara di dalam ruang privat, setiap komunitas dipersilahkan menyelenggarakan normat adat, tradisi budaya, atau ajaran agama. Dari sini sudah dapat dilihat perbedaan bagaimana masing-masing kelompok dalam komunitas muslim menerjemahkan, dan menafsirkan teks yang berasal dari Tuhan dan Nabi. Artinya ada kebenaran-kebenaran subjektif di antara tiap kelompok yang saling berkontestasi. Kadang yang satu menganggap apa yang diyakini sebagai kebenaran oleh kelompok lain, adalah suatu kesalahan dan penyimpangan. Tetapi ada pula yang mengakui.

Contoh lain misalnya kita di Indonesia setiap bulan Ramadhan sering terjadi penggerebekan ormas-ormas terhadap rumah makan-rumah makan yang katakan tidak memasang penutup kaca, atau terhadap klub-klub malam yang masih berbuka. Hal ini bisa ditolerir dalam rangka menghargai umat Islam yang berpuasa. Justru orang-orang yang ketahuan makan di depan umum ketika bulan Ramadhan adalah tindakan yang salah. Akan tetapi berbeda dengan di Turki, jangankan menggerebek rumah makan yang buka di siang hari atau klub yang beroperasi di malam hari. Kalau di jalan kita melihat banyak orang makan, kemudian kita tegur kepada mereka untuk menghentikan acara makannya itu, justru malah kita yang bisa dipersalahkan karena menyandera hak asasi manusia.

Di Turki sangat jamak melihat orang yang makan minum di siang hari ketika bulan Ramadhan, urusan orang mau makan dan minum adalah urusan pribadinya sendiri, perihal tiap individu berpuasa dan tidaknya merupakan ruang privat antara dirinya dan Tuhannya. Jadi tidak perlu mengatur orang lain yang berbeda  untuk berperilaku atau berpendapat sama terhadap dirinya. Dari dua fenomena ini kita dapat melihat bahwa kebenaran memang relatif, manusia biasa hanya interpreter terhadap teks yang berasal dari Tuhan atau manusia suci semacam Nabi. Tetapi terkadang kita bersikap sebagai miniatur Tuhan, dan berusaha memaksakan kebenaran subjektif yang kita yakini kepada orang lain. Bahkan kalau perlu dengan intimidasi seperti mengatakan orang lain sesat, bid’ah, dan kafir, atau dengan regulasi seperti memformulasikan menjadi peraturan negara jika memang punya akses ke area legislasi.

Berikutnya dalam undang-undang hukum keluarga. Di beberapa negara dengan penduduk mayoritas muslim terdapat undang-undang negara tentang poligami. Di Suriah (Syria) misalnya, suami yang berpoligami tetapi jika dilaporkan oleh istri tidak berbuat adil dan terbukti di pengadilan demikian, maka pengadilan dapat menjatuhkan cerai antara keduanya. Undang-undang Suriah juga memberikan hak istri mengajukan gugatan cerai kepada suami dengan sejumlah alasan. Misalnya, suami menderita penyakit yang dapat menghalangi untuk hidup bersama, suami gila, suami meninggalkan istri atau dipenjara lebih dari tiga tahun, suami dianggap gagal memberikan nafkah, dan suami menganiaya istri. Lain halnya dengan Tunisia, Negara ini secara radikal telah melarang praktek poligami ini. Keharusan perceraian di pengadilan dan larangan untuk berpoligami. Bahkan dalam beberapa kasus pelaku-pelakunya dapat dikenakan sanksi denda dan penjara.

Tetapi apakah semua masyarakat di negara itu benar-benar sepakat dengan undang-undang tersebut, pasti ada juga yang menolaknya. Sama saja ketika di Indonesia ada rencana undang-undang Pernikahan Siri dan Anti-Pornografi, menjadi kontroversial karena masing-masing pihak memegang kebenaran dalam perspektifnya sendiri. Permasalahannya adalah ada orang-orang yang tidak terbiasa berkontestasi dan frustasi dengan relatifitas kebenaran yang ada di muka bumi ini, akhirnya memimpikan kebenaran absolut yang bisa dipaksakan kepada seluruh manusia untuk mematuhinya.

Contoh lain dalam bidang ilmu pengetahuan secara umum. Sebagaimana disinggung oleh Feyerabend, dia melihat sesuatu yang menakutkan di dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, yang di dalam sejarahnya lahir untuk melawan metafisika khususnya metafisika agama, telah menjelma menjadi sebuah agama baru. Seperti halnya agama yang mempunyai klaim otoritatif yang tidak bisa diganggu gugat karena klaim ilahiah, ilmu pengetahuan pun mulai mencapai status “ilahiah”-nya melalui klaim metode ilmiah yang tidak bisa dibantah. Bagi Paul Karl Feyerabend, tiap pengetahuan mempunyai basis paradigmanya tersendiri, demikian pula pengetahuan yang berasal dari metafisika dan agama. Tiap-tiap paradigma tidak bisa diukur dengan standar yang sama. Ada kerangka yang digunakan seseorang untuk mengatakan ini benar dan salah. Kalau dibenturkan maka akan ada kekacauan. Misalnya adalah konsep “panjang” dalam fisika Newtonian dan fisika relatifistik. Dalam fisika Newtonian, “panjang” adalah sebuah entitas yang independen terhadap kecepatan benda, kecepatan pengamat dan medan gravitasi, namun dalam fisika relatifistik “panjang” tidaklah independen terhadap kecepatan benda, kecepatan pengamat dan medan gravitasi. Dengan kata lain “panjang” dalam fisika Newtonian adalah mutlak, sedangkan dalam fisika relatifistik adalah relatif.

Sesuatu yang mutlak sesungguhnya relatif jika dipandang dengan kacamata berbeda atau oleh orang yang berbeda. Seperti dalam kasus Syariat Islam harus secara mutlak diterapkan di Indonesia, ada pula yang berpendapat sebaliknya. Ba’asyir menyebarkan kebenaran dalam pemahamannya itu kepada komunitasnya, dan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya juga mengajarkan kebenaran dalam pemahamannya itu kepada komunitasnya. Pilihannya adalah hendak membenturkan masing-masing kebenaran yang relatif itu atau berdialog atau justru berjalan terpisah sendiri-sendiri. Kalau kita mencoba untuk berdialog dan ditemukan titik temu, lantas apakah itu dapat dikatakan sebagai kebenaran mutlak dan absolut, apalagi dianggap Divine Truth. Bagi saya sih tidak, itu hanya kebenaran yang dalam istilah Jurgen Habermas adalah common ground sebagai hasil tindakan komunikatif dalam ruang publik, semisal dari common ground ini adalah Pancasila.

Tapi terkadang common ground, kesepakatan bersama, nilai-nilai yang dianut mayoritas, dapat berubah menjadi tiran ketika penyelenggaraannya dijalankan dengan sistem otoritarian, seperti pernah terjadi di era Orde Baru yang menurut sebagian orang bahwa Pancasila digunakan oleh rezim untuk melanggengkan kekuasaan. Tapi memangnya ajaran agama tidak bisa digunakan untuk melanggengkan kekuasaan pula? Dalam sejarah banyak sekali rezim-rezim otoriter yang menggunakan agama untuk menaklukkan dan memberangus rakyatnya, sederhananya untuk memaksakan kebenaran yang diyakini rezim-rezim itu menjadi kebenaran universal, absolut dan mutlak harus dipatuhi oleh rakyat.

Contoh sederhananya dalam hal musik dan pakaian untuk perempuan, ada yang mengharamkan musik dan pakaian celana panjang atas perempuan lantaran dalam kerangka pemahaman Salafi Wahabi yang diajarkan kepada pengikutnya adalah seperti itu. Ada pula yang berpandangan sebaliknya. Bisa saja musik atau pakaian celana panjang dibilang haram karena mengacu kepada teks, bahwa musik itu termasuk instrumen-instrumen yang melalaikan, bahwa di zaman Nabi para sahabat tidak bermain musik tetapi berperang. Dan bisa saja celana panjang bagi perempuan dibilang haram, karena pakaian perempuan muslim dalam pandangan Salafi Wahabi adalah berjilbab besar dan bercadar. Dan pendapat seperti ini bisa juga diklaim sebagai kebenaran absolut, tunggal, dan mutlak. Walau demikian tetap saja ada pendapat yang berbeda yang membolehkan perempuan memakai celana panjang dan tidak mengenakan cadar sebagaimana di belahan negara-negara Timur Tengah.

Dari perbedaan-perbedaan ini justru saya bisa memelajari bahwa ada cara untuk mencari dan mengonstruksi kebenaran secara literal tekstual, itulah metode yang digunakan  di kalangan Salafi Wahabi itu. Tidak kontekstual dan melihat perkembangan manusia secara historis, sosial, politik, dan ekonomi. Semua metode yang dipakai ini menghasilkan kebenaran-kebenaran yang relatif dan kadang bisa saja atas hubungan yang timpang, ayah-anak, pemerintah-rakyat, tokoh-pengikut, ada salah satu pihak yang dipaksakan untuk menerima sesuatu yang dianggap benar oleh pihak lain.

Entah apakah kebenaran itu dianggap secara dogmatis menjadi kebenaran tunggal, absolut, dan mutlak. Atau sebaliknya dipandang dalam kacamata manusia yang serba relatif. Persoalannya adalah bagaimana sesuatu yang dianggap sebagai “Kebenaran” itu, dikonstruksi, disakralisasi, dan strategi apa yang digunakan untuk menyelenggarakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s