Apakah Adang Bisa Menggoyang PKS?


13081034891483207941

Beberapa pakar ilmu politik seperti Bachtiar Effendy mengatakan bahwa perolehan suara partai-partai politik Islam pada tiga pemilu setelah reformasi, yaitu tahun 1999, 2004, dan 2009, cenderung menurun. Ini antara lain disebabkan tiadanya figur kuat yang bisa menjadi teladan spirit keislaman dan kebangsaan yang mengakar di masyarakat luas. Pada Pemilu 1999, total suara yang diperoleh partai-partai Islam 37,5 persen. Pada Pemilu 2004 naik menjadi 38,35 persen. Namun, turun menjadi 24 persen pada Pemilu 2009. Menurut Bachtiar Effendy, penurunan itu terjadi akibat partai Islam tidak memiliki figur kuat. Figur itu tidak hanya mencerminkan semangat Islam, kebangsaan, tetapi juga punya akar ke masyarakat luas. Berbeda dengan pemilu tahun 1955.

Di antara partai berbasis agama, PKS mendapatkan jumlah suara yang sangat signifikan berada di urutan lima besar. Walaupun tetap saja dinilai menurun dibandingkan tahun 2004, akan tetapi PKS sebagai partai Islam tergolong sukses dan mendapatkan kredit bagus di mata masyarakat. Selain PKS partai yang mendulang suara fenomenal adalah partai Demokrat yang keluar sebagai pemuncak daftar perolehan suara terbanyak. Namun belakangan ini popularitas dan rating partai Demokrat digadang-gadang oleh sejumlah survei serta pengamat politik sedang anjlok. Penyebabnya banyak petinggi partai tersebut terlibat kasus korupsi, yang terakhir adalah Nazaruddin, istrinya Neneng, dan Andi Nurpati.

Karuan saja kasus per kasus ini menggoyang partai Demokrat. Secara internal yakni dikhawatirkan muncul perpecahan di antara petinggi partai, sedangkan secara eksternal adalah turunnya popularitas partai Demokrat. Terutama dalam penilaian masyarakat yang disinyalir begitu kecewa oleh sepak terjang tokoh-tokoh partai tersebut yang bukannya mengimplementasikan saran ketua pembinanya, alias presiden sendiri, untuk dengan tegas melawan praktik-praktik KKN. Sebaliknya malah banyak tokohnya di daerah atau pusat yang terlibat kasus KKN. Belum lagi ditambah dengan statement-statement para petinggi partai Demokrat yang dinilai tidak satu kata satu perbuatan, atau ngawur, banyak omong, dan sebagainya.

Sekarang ini sorotan semacam itu sedang bergerak perlahan ke tubuh partai PKS, utamanya sejak kasus Pariporno beberapa tempo lalu. Kemudian muncul lagi kasus Adang dan istrinya Nunun. Walau kasus itu menimpa Nunun sang istri, tetapi publik tidak dapat melepaskan diri Nunun dari sosok Adang. Demikian pula dengan manuver kader PKS di parlemen itu yang dalam pandangan mainstream publik dianggap tidak taat hukum. Celakanya sejumlah petinggi Partai PKS malah mendorong Adang Daradjatun untuk tetap tegar dan membela sikapnya yang bersikeras tidak kooperatif kepada KPK sebagai aparat penegak hukum.

Sebagaimana diketahui bahwa sikap keras Adang untuk melindungi keberadaan Nunun yang merupakan saksi kunci dalam kasus penyuapan pemilihan Gubernur BI, dituding sebagai tindakan menghalangi penegakkan hukum. Sementara Adang terus berdalih istrinya sedang sakit dan menjalani perawatan, sehingga tidak dapat hadir di persidangan. Akhirnya KPK mengubah status Nunun sebagai tersangka, lagi-lagi Adang berulah bahwa penggantian status itu oleh KPK adalah cacat hukum.

Namun sesungguhnya publik tidak seluruhnya bisa melihat jelas persoalan hukum secara prosedural legal, melainkan hanya dari etika moral yang jauh dari aspek normatifitas hukum. Publik menuntut agar Adang membantu penyelidikan KPK dan benar-benar bersikap ksatria jika memang istrinya tak bersalah, maka pengadilan adalah satu-satunya jalan untuk membuktikannya. Tapi berbagai dalih untuk berkelit tetap dilontarkan Adang. Lantas bagaimana efek atau implikasi yang ditimbulkan dari kasus ini terhadap partai PKS sebagai wadah di mana karir politik Adang bernaung?

Apakah nasib PKS akan sama seperti Demokrat, terguncang karena kader-kader partainya. Atau sebaliknya tidak akan membawa pengaruh besar bagi PKS karena partai berbasis agama yang satu ini punya kader-kader dan partisipan yang sangat militan. Dibentuk melalui jejaring halaqah atau proses pengkaderan ala pengajian yang benar-benar mendidik kader serta partisipannya menjadi militan dan fanatik terhadap partai. Sehingga ketika ada kasus-kasus yang menyerempet partai PKS, justru mereka akan semakin memegang teguh dalih bahwa partai mereka sedang dizalimi. Contohnya dalam kasus Pariporno Arifinto, beberapa kader PKS yang saya kenal justru membela Arifinto dan PKS tengah terjebak dalam fitnah besar dari lawan politik.

Demikian pula saat ini dalam kasus Adang dan Nunun, saya pikir takkan berpengaruh besar terhadap partai politiknya sendiri. Dan perolehan suara PKS di 2014 nanti, kemungkinan masih bisa menempatkan partai itu dalam urutan lima besar. Karena ada bedanya antara kader partai nasionalis dengan partai agamis. Ideologi yang diusung partai nasionalis beragam dan pendidikan kader biasanya tidak benar-benar dididik dalam lingkup ideologi yang militan. Sementara berbeda dengan partai seperti PKS yang begitu militan untuk membela ideologi yang diusung PKS. Ada relasi antara agama dan politik yang tidak dilepaskan PKS untuk mendidik kadernya, Islam adalah tujuan ideal, absolut, dan tertinggi sementara jalannya melalui kendaraan politik, yakni partai.

Lagipula siapa sih Adang di PKS? Adang Daradjatun tadinya bisa saja bukan kader PKS tapi “disewa” atau “menyewa” PKS. Mirip mantan menteri olahraga Adhyaksa Dault. Pun Adang bukanlah jajaran ideolog PKS sekelas Anis Matta, Hidayat Nurwahid, artinya bukan elit penting dan berpengaruh di PKS. So, bisa jadi kasus yang menimpa Adang kali ini tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap perolehan suara PKS di 2014 nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s