Atas Nama Bangsa Dipuja dan Dicela


1306462907492543494

Dahulu ketika LPI bergulir, sanjungan bertubi datang, bahkan ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan acara sekedar untuk membandingkan kebobrokan ISL dan PSSI ala Nurdin yang kerap menyedot APBD, dengan memuji LPI dan tentunya sosok Arifin Panigoro sebagai agen perubahan dalam arena persepakbolaan nasional.

Dalam sebuah situs olahraga yang sangat cepat update-nya setiap sepersekian detik, sosok Arifin Panigoro dianggap sebagai tokoh revolusioner di bidang persepakbolaan Indonesia, dan diharapkan dapat membawa angin segar dengan segala rencana-rencana spektakulernya yang sedemikian mandiri dan professional. Apalagi kalau melihat LPI dengan slogan change the game-nya yang semarak di beberapa iklan dengan menampilkan sejumlah selebritis yang mau dibayar untuk seolah mendukung liga illegal dalam kacamata FIFA itu.

Namun saat ini keadaan berubah, Arifin Panigoro seakan kena getahnya akibat semua manuver yang dia lakukan. Malah keberadaan LPI dituding sebagai langkah awal Arifin Panigoro untuk menghancurkan PSSI. Hanya saja untuk menyelamatkan muka, maka yang dikambing hitamkan adalah segelintir orang bernama kelompok 78. Atas nama bangsa, begitulah yang kerap didengungkan oleh sejumlah tokoh dari mantan pemain Timnas, sampai mantan menteri olahraga. Dan masyarakat jadi ikut-ikutan menyalahkan, baik kelompok minor ini dan juga si penggagas LPI.

Kejadian ini tak ubahnya seperti Soeharto, yang pernah dipuja dan dibela, lalu dicaci maki sampai dihina begitu rendah oleh orang-orang yang mengatasnamakan rakyat. Tetapi sekarang pun rakyat kembali merindukan sosok sepertinya. Entah valid atau tidak, namun survei IndoBarometer telah membuktikan bagaimana masyarakat negeri ini ternyata lebih menyukai Orde Baru ketimbang Orde Reformasi. Di Indonesia ini masyarakat adalah korban rekayasa, sampai hal seperti persepsi publik pun sangat mudah untuk dijungkirbalikkan. Masyarakat sangat gampang dibawa ke dalam ruang simulasi para aktor dalam melancarkan strategi kuasa mereka.

Dalam keadaan terombang-ambing ini, yang ada hanyalah kealpaan. Tak ada sesuatu yang dapat dipegang sebagai hal-hal yang prinsipil. Karena setiap persepsi, prinsip, nilai, dan sebagainya yang dianggap pasti, akan diuji dalam ruang simulasi ini. Lihat saja bagaimana mudahnya hanya dengan sebuah isu kecil, persepsi publik pun digiring ke sana-sini. Contoh lain seperti orang bernama Susno, awalnya dicaci maki saat kasus Antasari bergulir. Namun selanjutnya dianggap membawa harapan cerah, karena aksi whistle blower yang dilakukan olehnya. Tapi sekarang setelah Susno ciut, kembali dirinya ditinggalkan.

Banyak contoh-contoh serupa, bahkan sekarang pun dalam kasus Nazar, nyaris dan bisa jadi kalau Nazar berani bicara dan membeberkan fakta, kemungkinan posisinya di mata masyarakat akan bergeser. Kembali ditahbiskan sebagai martir yang rela berkorban demi membongkar jaringan mafia di tubuh partainya sendiri, dan juga secara umum di seputar istana serta senayan. Ketika keburukan masa lalu dibumi hanguskan, lalu diganti oleh kata “Perubahan”, harapan mulai muncul di mata-mata naif. Namun saat perubahan membawa justru membawa kehancuran. Kenangan masa lalu kembali datang sebagai pelarian, sementara setiap orang beranggapan dirinya, masanya, rezimnya, adalah yang paling benar. Tetapi tidak ada yang mau menanggung risiko atas kata “Perubahan”, cuci tangan dan berbalik badan tanpa perduli ketelanjuran yang diperbuat.

Dan ternyata harapan-harapan yang dikira sebagai harapan oleh rakyat negeri ini cuma harapan semu yang terdiri dari romantika kedamaian, keselarasan, kesejahteraan, dan mimpi utopis akan republik ideal ala atlantis-nya Plato atau masa para Nabi. Tapi toh Atlantis pun tak berdiri lama, setiap kejayaan masa lalu juga pada gilirannya hancur lebur ditelan waktu. Sementara kita masih terus mengandaikan kesemuan itu.

Semestinya saat ini kita menyadari kondisi kealpaan pribadi masing-masing, sehingga tidak mudah berlagak sebagai orang suci yang menghina -umpamanya- seorang anggota DPR, atau sekelompok orang seperti kelompok 78 di satu kesempatan, lalu tiba-tiba berubah di kesempatan lain, hanya karena isu-isu yang berkembang di ruang simulasi. Negara ini sudah menjadi ruang simulasi besar yang secara sadar atau tidak, telah memermainkan rakyatnya. Cuma dibilang “Atas Nama Bangsa” maka serentak semua orang seperti punya musuh bersama untuk diganyang habis-habisan. Cuma karena ada jargon “Reformasi” lantas penyembelihan besar-besaran dilakukan. Maka dari itu saya pernah mengatakan dalam sebuah tulisan di kompasiana, bahwa revolusi di negara ini cuma tai kucing belaka.

Atau kalau mau dibilang anget-anget tai ayam juga tidak mengapa. Karena tiap orde berganti, tiap gagasan baru dicanangkan selalu harus membutuhkan korban yang turut dijadikan bancakan. Tahun 1998 reformasi bergulir, tiga belas tahun sesudahnya, muncul lagi wacana revolusi total. Nanti kalau rakyat ini sudah masuk era revolusi, gagasan apalagi yang mau dijargonkan jika situasi di negeri ini misalkan sama saja tidak berubah. Inilah realitas dunia simulasi bernama Indonesia. Atas Nama Bangsa, Atas Nama Negara, Atas Nama Hwarakadah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s