Politik Ewuh Pekewuh, Indonesia Banget


“Ini kan semua katanya-katanya, fakta hukum itu tidak bisa katanya-katanya.” begitu kata Nazar.

“Partai Demokrat mengumpulkan dana secara clean dan clear...Pasca kongres partai Demokrat, tidak ada yang disingkirkan dan dipinggirkan.” tegas Anas.

“Tindakan pelengseran Nazar dari posisi bendahara umum Demokrat, hanya keterpaksaan…Mungkin untuk menyelamatkan citra partai Demokrat, atau nama presiden sendiri, ini soal kompromi.” kata Adnan Buyung.

Yang terbaru adalah Nazar menuding Menpora Andi Mallarangeng dan adiknya, sebetulnya mengetahui soal kasus suap pada proyek wisma atlet, bahkan diakui Nazar bahwa semua proyek di Menpora dikendalikan oleh Menpora. Lalu sampai di mana kasus ini bergulir atau cuma jadi buntelan kentut mirip Century, atau justru semua kasus korupsi yang muncul saat ini saling terkait, baik antar perorangan maupun institusi?

Lantas apakah KPK berani mengupas tuntas, atau memilah-memilih agar tidak terlalu mengutak-utik pejabat tinggi negara, atau partai-partai politik yang terkait?

Mengapa harus menunggu sembilan bulan dahulu, baru Mahfud berkoar-koar, padahal sebelumnya dia masih malu-malu kucing. Mengapa ketua Mahkamah Konstitusi itu tidak lekas melaporkan pada kejaksaan, kepolisian atau KPK? Malah konferensi pers bareng Presiden, seolah sedang menggelar pengaduan atau  curhat colongan di depan publik. Kalau dilihat alasannya nampaknya dia jenuh dan geram dengan intimidasi, setelah sebelumnya dia adem ayem saja dan hanya memberi tahu soal pemberian uang oleh si Nazar secara diam-diam kepada presiden. Andaikan saja Mahfud langsung melaporkan ke KPK, apakah institusi tersebut langsung menindak lanjuti ketika mereka harus berurusan dengan seorang anggota dari partai penguasa. Atau justru malah pekewuh.

Sementara di luar Ruhut terus berkilah dengan asas praduga tak bersalah, dan berbalik menuding motif politik Mahfud yang mungkin menurutnya ada muatan kekuasaan, atau ingin membuktikan dirinya sendiri adalah seorang pejabat yang bersih. Demikian pula si Amir yang ingin menyelamatkan citra partainya berbalik menyalahkan segala tudingan miring masyarakat dan pers.

Dari situasi politik seperti ini, nampak masing-masing ingin cuci tangan dan mencitrakan pribadi atau institusinya sebagai yang paling bersih. Tapi kalau ditanya balik, “mengapa harus menunggu sembilan bulan dahulu?” apakah jawabannya semata “untuk mencari waktu yang tepat.” entah harus dimulai dari mana menelusuri borok skandal pejabat di negeri ini. Namun kalau misalnya kita berpendapat bahwa hukum harus tidak boleh pandang bulu. Ketimbang mengatakan bahwa hukum harus punya nilai keadilan, saya lebih suka hukum harus kejam. Sama seperti ungkapan “hukum tidak boleh seperti mata pisau, tajam ke bawah, tumpul ke atas.” Maka sekarang saatnya hukum harus kejam. Kejam ke atas, dan kejam ke bawah. Bisa menusuk siapa saja.

Jika nantinya terbukti, semisal Nazaruddin menyuap (memberikan gratifikasi, atau apalah) salah satu anggota mahkamah konstitusi. Maka hukum harus kejam terhadapnya. Demikian pula hukum harus kejam pula kepada Nyonya Adang, si Nunun, yang katanya saat ini jadi pesakitan. Sehingga politisi tak sembarangan bisa mempraktikkan politik ewuh pekewuh ini. Mau teman, mitra, separtai, atau bahkan keluarga sendiri, harus merasakan kejamnya hukuman jika memang terbukti bersalah di pengadilan. Semua dibabat habis sampai ke akar kalau memang janji bahwa “hukum menjadi panglima” itu dilaksanakan.

Tetapi kita ini juga manusia, anggota DPR itu juga manusia yang masih punya nurani dan pastinya etika ewuh pekewuh tetap dijunjung tinggi. Misalkan si Ruhut dan Amir sudah berteman lama dengan Nazar, apakah karena kasus ini persahabatan mereka terpaksa bubar. Pastinya tidak, rekan-rekan di Partai Demokrat tentu akan tetap melindungi saudaranya. Dan saya kira setiap orang juga sama, tidak rela mengorbankan orang-orang di dalam lingkaran dalam hidupnya, malah cenderung membela. Kecuali kalau ada orang-orang mirip Hitler atau Stalin di era sekarang. Tidak perduli siapa yang dikorbankan, asalkan tampuk kekuasaan tetap dipegang, maka semua cara akan dilakukan.

Saya pernah menonton film Stalin, katanya di masa itu, orang-orang lingkaran dalam Stalin akan keringat dingin jika tidak diundang makan malam bersamanya. Kalau tidak diundang berarti alamat esok hari akan mati atau diasingkan. Namun sekarang ini mungkin tidak ada tipikal dua orang pemimpin fasis tersebut. Sekarang yang ada, pemimpin bergaya mafioso Italia, selama orang-orang yang merugikan mereka masih bisa ditolerir dan dimaanfaatkan, maka tetap akan dijaga. Sekalipun mesti diberi sanksi, paling-paling cuma dipenjara tak lebih dari 2 tahun. Lihat saja berapa banyak koruptor yang sekarang melanggeng bebas karena ringan hukumannya, dan berapa banyak orang-orang yang dikorbankan mendekam dalam penjara karena berani mengutak-utik penguasa.

Itulah nikmatnya menjadi patron dalam sistem perpolitikan. Orang-orang akan ewuh pekewuh pada para patron, hampir mirip dengan apa yang dikatakan Mario Teguh, “orang besar tidak membawa pulpen, tapi orang lain yang membawakannya.” Begitulah politik ewuh pekewuh ini. Yang satu tidak enakan dengan lainnya, demikian pula sebaliknya, dan sandiwara sandera-menyandera kepentingan terjadi dalam pentas negeri.

Kalau mau dibilang bahwa gaya politik ewuh pekewuh ini khas orang Jawa banget, mungkin kita akan dibilang rasis. Namun jika mencari apa sih yang Indonesia banget dari ewuh pekewuh ini, jawabannya bisa jadi akibat pelestarian gaya-gaya feodal-kolonial yang masih dipakai hingga era yang katanya reformasi ini. Coba saja perhatikan bentuk-bentuk politik, dari yang terkecil dalam rumah tangga, hingga negara, tidak bisa terlepas dari yang beginian. Namun memang inilah Indonesia, entah bisa dikatakan warisan budaya atau bukan, tapi politik pun tak bisa dilepaskan dari budaya suatu bangsa. Dan jika sistem politik serta budaya saling berkaitan, bisa jadi memang politik ewuh pekewuh merupakan sesuatu yang given bagi sistem perpolitikan negara ini.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s