HTI Seolah Menentang Gerakan NII


PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
GERAKAN NII

Beberapa pekan terakhir ramai diberitakan tentang gerakan NII, terutama setelah terungkap maraknya mahasiswa/pelajar yang hilang atau orang tua yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya. Ditambah dengan pengakuan dari mereka yang pernah direkrut atau pernah menjadi bagian dari gerakan itu, membuat isu NII ini semakin menghangat di tengah masyarakat.

Sesungguhnya persoalan gerakan NII ini bukanlah hal baru. Dia sudah ada sejak beberapa puluh tahun lalu. Kasus hilangnya anggota keluarga juga sudah terjadi sejak lama. Bahkan usaha untuk membongkar jaringan ini, termasuk mengungkap keterkaitan antara pesantren al-Zaitun dan AS Panji Gumilang dengan gerakan NII dengan segala penyimpangannya baik secara fiqh maupun sosial dan ekonomi (keuangan) juga sudah dilakukan. Tapi, meski semua temuan itu berikut bukti dan saksi cukup lengkap, tidak pernah ada tindakan apapun dari aparat yang berwenang.

Oleh karena itu, mencuatnya kembali kasus NII di tengah berbagai persoalan yang tengah membelit bangsa ini dan pembiaran oleh aparat berwenang tentu mengundang tanya. Berdasar pada bukti dan fakta ada, maka:

Pertama, sangat boleh jadi ini semua dilakukan untuk mendiskreditan dan monsterisasi (memunculkan ketakutan) di tengah masyarakat terhadap kegiatan dakwah (pengajian, training-training keislaman dan sebagainya) dan  gagasan mengenai penegakan syariah.  Buktinya, sekarang ini ada usaha sistematis untuk misalnya, mengawasi kegiatan-kegiatan dakwah di sekolah-sekolah dan kampus. Juga munculnya ketakutan pada sementara anggota masyarakat di berbagai tempat sehingga mencegah anggota keluarganya ikut dalam kegiatan pengajian.

Kedua, ini dilakukan untuk makin mematangkan situasi dan kondisi serta psikologi masyarakat guna memuluskan pengesahan RUU Intelijen. Terbukti, pernyataan sejumlah pejabat di bidang polhukam, didukung oleh beberapa pengamat, selalu menunjuk lemahnya kewenangan aparat intelijen sebagai penyebab dari ketidakmampuan pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya rangkaian teror bom, termasuk membendung aktifitas yang mengatasnamakan gerakan NII itu.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Menolak segala bentuk usaha pembatasan kegiatan dakwah dan gagasan mengenai penegakan syariah, karena dakwah adalah kegiatan yang sangat mulia dan penting guna meningkatkan kualitas umat. Sementara penegakan syariah, dan negara yang menerapkan syariah, mutlak diperlukan sebagai jalan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah membelit bangsa dan negara ini. Dan juga sesungguhnya penerapan syariah di semua aspek kehidupan dan di semua level, termasuk oleh negara, merupakan manifestasi ibadah kita kepada Allah SWT.

2. Menolak pengaitan maraknya isu gerakan NII, juga serangkaian teror bom yang terjadi akhir-akhir ini, dengan keperluan pengesahan segera RUU Intelijen. Di dalam RUU itu masih sangat banyak pasal-pasal yang bermasalah. RUU semacam itu tidak boleh disahkan, karena pasti akan menimbulkan madharat yang sangat besar buat kehidupan masyarakat, khususnya terhadap aktifitas dakwah.

3. Menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi dan tidak gentar dalam memperjuangkan tegaknya kembali syariah dan khilafah karena inilah jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan yang akan membawa negeri ini kepada kebaikan yang hakiki. Insya Allah.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto

——————————————————————————————————————————————————————-

Melihat pernyataan HTI di atas, saya jadi melihat rona ketakutan sendiri di tubuh HTI karena jualan mereka soal penegakkan syariah makin ke sini makin tidak laku. Kalaupun laku ya laku di kalangan mereka sendiri. Dan lagi antara NII dan HTI, pola rekrutnya juga nggak terlalu berbeda. Walaupun HTI mengaku tidak ada yang namanya iuran kelompok serta penculikan, tetapi HTI pun melakukan pendekatan-pendekatan persuasif berupa dialog demi dialog, dan kemudian mengajak sasaran mereka untuk ikut pengajian ke dalam halaqah-halaqah (grup-grup) yang diselenggarakan di beberapa rumah anggota mereka dengan jadwal rutin.

Dan tuduhan monsterisasi. Sebenarnya siapa yang ketakutan, mahasiswa di kampus-kampus atau HTI sendiri? Padahal mahasiswa sebagai orang akademis semestinya dituntut untuk bisa mengkaji, melakukan penelitian, dan berpikir rasional dalam menilai suatu peristiwa dan berdialog. Bukan untuk didoktrin, baik oleh kampus, dosen, atau organisasi-organisasi tertentu. Ketika saya mengajar, maka saya selalu mengajak mahasiswa untuk berpikiran luas dan bebas, tidak terpaku pada apa kata saya, dan sebaliknya saya pun tidak boleh mendoktrin mereka dengan pemikiran saya. Tapi apa yang dilakukan kelompok-kelompok macam NII atau HTI, justru menurut saya adalah kebalikannya, yakni memaksakan sesuatu yang menurut mereka benar ke dalam pikiran mahasiswa-mahasiswi (terutama s1) yang masih labil. Jadi yang me-monsterisasi sesungguhnya siapa, gerakan-gerakan dakwah seperti HTI itu atau pengajar-pengajar yang berpikiran seperti saya.

Menurut saya, mereka berada dalam kondisi ketakutan, dan karena ketakutan-ketakutan mereka, maka mereka menuduh orang lain tengah merencanakan sesuatu yang bersifat sistemik untuk mematikan gerakan dan dakwah mereka yang ingin mengganti negara kesatuan ini dengan khilafah Islamiyah. Padahal selama ini mereka bebas berbicara di mimbar-mimbar, bebas menerbitkan buletin-buletin mini, dan menyuarakan lewat majalah-majalah tertentu. Justru di era kebebasan seperti sekarang, mereka mengeksploitasi demokrasi sedemikian rupa untuk melancarkan ajaran mereka. So what, sah-sah saja mereka melakukan itu. Tapi semestinya mereka rela diajak saingan dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka, dan rela beradu wacana di ruang publik.

Ruang publik seharusnya tidak dikooptasi oleh satu macam perspektif ala HTI saja, melainkan beragam perspektif ada di dalamnya. Justru di sinilah terjadi dialektika wacana. Mereka bebas melancarkan wacana tegaknya khilafah, dan orang-orang sekuler pun bebas meng-counter wacana tersebut. Demikian pula yang selalu saya katakan kepada mahasiswa-mahasiswa s1, bahwa jangan terlalu fanatik dengan satu perspektif di dunia ini, apalagi mudah terdoktrin. Namun semua itu kan pilihan mereka, apa mau terdoktrin atau tidak, mau terlibat dalam suatu hal yang harus diperjuangkan mati-matian atau bersikap moderat.

Adapun soal pengajian di masyarakat, memangnya ketakutan seperti apa yang diderita masyarakat akan pengajian. Masyarakat itu bukan kumpulan individu-individu homogen yang tidak dapat menilai mana yang baik atau buruk untuk diri pribadi. Tentunya tiap anggota masyarakat pasti mempunyai penilaian sendiri akan suatu pengajian. Di Indonesia ini banyak pengajian yang isinya mengajarkan pluralisme, tenggang rasa, dan toleransi terhadap umat beragama, atau pun aliran-aliran keagamaan. Pengajian-pengajian seperti itu tetap saja laku dan diminati masyarakat. Demikian pula pengajian-pengajian yang mengajarkan bahwa negara ini bersistem thagut atau setan pun juga banyak dan dibeli oleh masyarakat. Jadi jangan terlalu berlebihan menilai bahwa pemberitaan tentang NII dan pengajian, telah menciptakan stigma tersendiri terhadap sesuatu bernama pengajian. Karena pengajian akan tetap ada di masyarakat, di situlah masyarakat membangun paguyubannya, atau dalam bahasa Durkheim, solidaritas mekaniknya. HTI tetap bebas dengan pengajiannya, demikian pula organisasi-organisasi lain seperti NU atau Muhammadiyah akan tetap mengadakan pengajian-pengajian mereka.

Dalam konteks pernyataan HTI terhadap NII, seolah-olah mereka menolak gerakan NII. Tapi sebaiknya HTI berkaca terlebih dahulu, apakah mereka tidak jauh berbeda dengan NII. toh dua gerakan ini (HTI dan NII), sama-sama ingin mengganti sistem pemerintahan negeri ini, dan dasar negaranya. Jadi untuk apa saling memersalahkan, atau malah HTI memersalahkan NII agar gerakan mereka pun terlindungi dari sikap represif pemerintah, dan kecurigaan masyarakat?

Itulah pembacaan saya sementara, tanpa penelitian yang lebih mendalam, menurut saya pernyataan HTI ini hendak menutupi sesuatu, semisal perasaan terancam akan gerakan dakwah mereka, atau ingin menunjukkan diri bahwa mereka pembela tegaknya negara Islam yang sejati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s