Terjebak Dalam Bahasa Dakwah


Saat jumatan kemarin, sang penceramah dari atas mimbarnya mengatakan kepada jama’ah bahwa ulama-ulama di Indonesia jaman dahulu tidak pernah mengatakan ucapan assalaamualaikum disandingkan dengan kata-kata salam sejahtera. Menurut penceramah itu, apa yang dilakukan oleh orang muslim sekarang dengan mengatakan salam sejahtera berarti telah menyalahi pedoman yang diberikan oleh rasul. Contohnya misalnya kepala negara atau pejabat negara mengucapkan assalaamualaikum disertai dengan salam sejahtera. Menurutnya kalau ada orang muslim bicara seperti itu, maka keislamannya patut dipertanyakan.

Tapi kalau bagi saya sendiri, seharusnya penceramah itu yang dipertanyakan. Kalau perlu dikritik habis-habisan. Pertanyaan mendasarnya adalah, “Memangnya Tuhan tidak mengerti bahasa Indonesia?” kenapa demikian, karena ucapan salam sejahtera memakai bahasa Indonesia, maka tidak sejajar dengan assalaamualaikum yang menggunakan bahasa Arab. Apa karena Nabi mengajarkan cara bersalam kepada orang lain dengan mengatakan assalaamualaikum yang bahasa Arab, maka kita tidak boleh bersalam dengan bahasa lain yakni bahasa Indonesia?

Sebab kalau kita terjemahkan assalaamualaikum, maknanya tidak jauh berbeda dengan salam sejahtera. Assalaamualaikum berarti salam (ada yang mengartikan semoga) keselamatan atas kalian. Kalau begitu apa bedanya dengan salam sejahtera. Bedanya cuma karena yang satu bahasa Arab dan lainnya bahasa Indonesia. Secara substansi, ucapan seperti assalaamualaikum dan salam sejahtera merupakan doa, sekarang apakah Tuhan tidak bisa menerima doa orang yang menggunakan bahasa Indonesia? Sedangkan di seluruh dunia ini, umat muslim terdiri dari berbagai suku bangsa dan bicara dengan bahasa masing-masing. Seperti ulama-ulama terkenal dunia, misalkan Imam Bukhari yang periwayat hadis paling masyhur. Imam Bukhari adalah orang Rusia, lahir di Bukhara, daerah yang pernah masuk wilayah kekuasaan Uni Soviet di abad 20. Tetapi di masa lampau, apakah Imam Bukhari lantas cuma berbahasa Arab saja ketika berdakwah di daerah asalnya? pastinya tidak, dan pastinya dia juga mengucapkan salam yang menjadi tradisi budaya mereka.

Makanya ketika ada ulama mengharamkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, dengan alasan takut kata-kata Assalaamualaikum sirna dari permukaan. Bagi saya itu adalah alasan yang non-sense. Karena bagaimana pun juga umat muslim tetap mengatakan Assalaamualaikum dalam berbagai kesempatan, tapi tidak ada salahnya juga umat muslim di Indonesia mengucapkan salam sejahtera atau selamat pagi, seperti ketika orang muslim Inggris bilang good morning atau peace be upon you. Seperti orang Arab ketika bilang shabahul khair atau Ma’as Salamah.

Apakah mereka salah mengucapkan bahasa ibu mereka sendiri yang bukan bahasa Arab. Sedangkan orang Arab sendiri tidak memersoalkan hal-hal seperti itu. Sebagai contoh di negara-negara Arab yang pernah saya kunjungi seperti Saudi, Mesir, dan Kuwait. Di sana orang non-muslimnya juga memakai bahasa Arab, dan mereka melafalkan ucapan Allah, bismillah, alhamdulillah, Allahu Akbar selayaknya orang muslim melafalkan kata-kata tersebut. Lantas apakah karena mereka orang non-muslim Arab, terus mereka harus menggunakan bahasa Aramaic atau Ibrani. Yang ngawur ajalah kalau begitu, realitanya tidak mengatakan seperti itu.

Makanya kalau sedang mengobrol dengan sahabat saya yang Kristen, saya sering tanya mengapa orang Kristen melafalkan Allah dengan bunyi seperti Alah, kenapa tidak seperti orang Islam yang bilang Allah dengan bunyi terdengar seperti Awloh. Toh orang non-muslim di Timur Tengah juga bilang Allah sama seperti orang muslim. Tapi kemudian sahabat saya sambil bercanda ngeles, “Kita kan orang Indonesia, makanya membaca huruf selayaknya orang Indonesia.” Hahaha… kami tertawa. Baiklah, alasan tersebut bisa diterima. Namun saya bukan tipe orang muslim yang suka mengklaim di mimbar-mimbar Jumat bahwa kata Allah hanya milik orang Islam, dan bukan orang kafir seperti agama-agama lainnya.

Lantas kenapa ada klaim-klaim seperti penceramah jumatan yang saya hadiri itu? Jawabannya menurut saya, karena orang Indonesia yang sejenis dengannya, terlalu berlebihan menggunakan simbol-simbol keagamaan, sampai akhirnya terjebak pada permainan simbol-simbol tersebut. Terjebak di dalamnya, dan merasa itulah bagian dari agama.

Kalau kita sering mendengar jargon jualan kelompok-kelompok muslim dalam berdakwah, bisa diklasifikasikan berdasarkan bahasa yang mereka gunakan dalam berdakwah. Dan ketika menggunakan bahasa-bahasa tersebut, maka akan berubah menjadi simbol, atau menyatu sebagai simbol keagamaan. Padahal bisa jadi sebaliknya bahwa bahasa-bahasa tersebut sesungguhnya bebas digunakan siapa saja tanpa harus terikat dengan politik simbol, atau dalam bahasa Bourdieu-nya adalah kuasa simbolik. Permainan strategi mengoperasikan kuasa yang disebut Melucci sebagai medium kompetisi untuk berebut otoritas, kontrol, kuasa, dan sebagainya dengan menggunakan simbol. Adapun simbol bisa berbentuk apapun, dari atribut pakaian hingga bahasa.

Contohnya, kita bisa mengenali bahasa seperti kuasa kudus, salam sejahtera, alkitabiah, kasih Tuhan sebagai trademark pendakwah-pendakwah Kristen. Tapi apakah salah orang muslim memakai bahasa-bahasa dakwah mereka? Apakah bahasa harus selalu dikaitkan dengan teologi? Jawabannya mungkin tidak harus demikian, tetapi dalam berdakwah, maka bahasa melekat pada doktrin yang kemudian didengar oleh para pendengar bahwa itulah bahasa agama, itulah simbol agama, itulah agama. Namun kalau kita mau menanyakan balik, itulah agama, bagian dari agama, atau seolah menyatu dengan agama.

Sama dalam komunitas muslim, orang-orang Kristologi seperti kelompok Arimatea, pendukung khilafah seperti HTI, atau aliran tekstualis seperti Persis, seringkali menggunakan istilah Khilafah Islamiyah atau kekhalifahan Islam dan memertentangkan dengan pasukan salibis, tentara salib, dan sejenisnya. Itulah trademark mereka. Pendakwah Shi’ah pakai kata-kata Mullah, Imamah, Ahl-Bait. Wahabi pakai istilah Dakwah Salafiah, Manhaj Sunnah, Salaf al-Shalih, Sunnah vs Bid’ah. NU terkenal dengan Aswaja, Ubudiyyah, Sorogan, Yasinan, Sukuran, Tahlilan. Muhammadiyah, dan ada kesamaan dengan orang Persis, sering pakai kata-kata paling Rajih ketika menarik putusan hukum. Tapi apakah istilah-istilah tersebut mutlak hanya dimiliki oleh masing-masing kelompok? Kalau jawabannya tidak, maka setiap lintas kelompok sah-sah saja menggunakannya.

Lalu bagaimana dengan bahasa, misalnya bahasa Arab dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab dengan bahasa Inggris. Apakah bahasa Arab hanya dimiliki orang Islam karena al-Qur’an bilang dalam ayatnya bahwa kitab suci itu diturunkan dengan bahasa Arab? Demikian pula apakah jika bahasa selain Arab digunakan, maka tidak bisa meraih capaian transendental dan spiritualitas manusia kepada Tuhan? Apakah orang muslim yang tidak menggunakan bahasa Arab, maka tidak islami atau tidak berislam?

Fenomena terjebak dalam bahasa dakwah, atau dalam kuasa simbolik juga melahirkan fenomena kategorisasi manusia melalui bahasa yang digunakannya. Misalnya menggunakan bahasa Arab berarti Islami, contohnya saja seperti menjamurnya penggunaan kata Syari’ah. Dari bank-bank sampai ke tukang obat, semua menggunakan simbol baru, yakni Syari’ah untuk dagangan mereka.

Biasanya orang-orang PKS paling getol pakai bahasa Arab ketika berbicara dan mengganti kata-kata bahasa Indonesia dalam penggunaan tertentu dengan bahasa Arab. Mungkin mereka sedang berusaha melakukan proses asimilasi budaya. Tetapi ketika ada tendensi untuk meng-klasifikasikan yang mana Islami dan yang mana tidak islami, maka saya bilang mereka sedang jualan dogma. Propagandis keliling PKS sering menggunakan kata akhi atau ukhti untuk mengganti bahasa Indonesia seperti mas, bang, kak, dik. Mungkin hal tersebut dimaksudkan hanya untuk biar nampak keren karena berbahasa Arab. Tetapi bagaimana jika tidak, bagaimana penggunaan kata tersebut dimaksudkan untuk mengenali mana yang telah seideologi atau bukan. Karena doktrin PKS atau kelompok-kelompok lain yang sering menggunakan akhi atau ukhti didasari landasan mana yang masuk ke dalam lingkup persaudaraan secara ideologis. Makanya sering muncul istilah ikhwan, ukhuwwah, akhwat, ikhwan fillah, ikhwanul muslimin, dan sebagainya. Penggunaan kata akhi atau ukhti juga sering dimaksudkan untuk membiasakan orang muslim berbahasa Arab ketimbang bahasa asing lain seperti Inggris, karena dinilai bahasa Inggris adalah bahasa orang kafir, penjajah, Barat, dan musuh Islam. Lantas kerangka ideologis demikian, apakah tidak bisa dikatakan sebagai kuasa simbolik?

Ada kejadian ketika di Mesir, ada kawan yang sejak dari Indonesia sering menggunakan akhi-ukhti, abi-ummi, ana-antum, dan sebagainya.  Saya memertanyakan sama dia, kenapa sering pakai kata-kata demikian. Terus terang saya lebih suka ditegur pakai kata mas atau bang, ketimbang akhi. Karena orang Arab sendiri tidak menggunakan kata-kata itu dalam pergaulan mereka. Orang Arab lebih suka menegur dengan menggunakan kata panggilan berupa nama, suku bangsa, atau julukan. Seperti misalnya ya andunisi (hai orang Indonesia), ya bundu (hai coklat, maksudnya berkulit coklat), ya Mahmud, ya Ali, kadang pula untuk orang Asia kecil, mereka seenaknya panggil ya jacky chan, atau kalau sudah kenal maka mereka memanggil nama kita dengan benar. Lebih akrab di telinga mereka ketimbang memanggil akhi-ukhti, bahkan dalam percakapan sehari-hari tidak ada yang menegur sapa dengan akhi-ukhti. Lalu abi-ummi, orang Arab sendiri yang sejak lahir berbahasa Arab tidaklah memanggil orang tua mereka atau pasangan mereka dengan abi-ummi yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah ayah-ibu, melainkan mereka juga mengatakan baba-mama. Kata-kata abi-ummi adalah bahasa yang dijumpai dalam buku, mirip bahasa Indonesia EYD yang cuma ada di dalam buku pelajaran atau kamus. Tetapi sehari-hari, orang Arab memanggil orang tua mereka atau pasangan mereka (suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya), dengan kata-kata Baba wa Mama, alias Papa dan Mama. Kenapa jadi Baba, karena mereka sulit melafalkan huruf P, makanya iklan SPRITE ditulis SBRAIT dalam abjad Arab. Tapi tidak ada yang bicara abi-ummi kepada orang tua mereka, di sekolah-sekolah, di obrolan sehari-hari, mereka bilangbaba wa mama. Justru para suami banyak yang memanggil istrinya mama dan para istri juga sebaliknya memanggil suaminya baba.

Lalu kenapa sahabat saya yang sudah sampai sekolah ke Mesir, dan melihat realitas itu, masih saja bilang abi-ummi, akhi-ukhti, dan sebagian penggalan kata-kata Arab ketika  berbicara sesama orang Indonesia? Apa untuk dibilang keren karena berbahasa Arab? Padahal kami semua mahasiswa bisa bahasa Arab, lalu apa alasan mereka bertingkah demikian. Atau untuk menunjukkan dirinya telah Islami banget dengan berbahasa Arab? Bagi saya alasannya jelas, yakni alasan ideologis. Karena sahabat saya telah terdoktrin oleh dakwah-dakwah yang menggunakan bahasa sebagai simbol agama tersebut, sampai akhirnya dia terjebak di dalamnya.

Tidak bisa dipungkiri jika bahasa memang medium tepat untuk berdakwah, berpropaganda, atau sederhananya seperti Iklan di televisi yang sedang menawarkan barang dagangan mereka. Namun apakah kita lantas harus terjebak dalam muatan-muatan tertentu di dalamnya, entah apakah politis, ideologis, agamis, dan semacamnya. Namun kalau kita beranggapan bahwa bahasa adalah media yang bebas digunakan oleh siapa saja dengan latar belakang apa saja, maka untuk apa mengklaim, “ini bahasa saya, ini bahasa anda.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s