Akhirnya Ulil Kena Batunya


1300210353639396334

Mari kita kesampingkan dulu alasan polisi salah prosedur dan bom di BNN, karena logikanya tidak ada hubungannya antara Ulil dan BNN, tetapi mungkin jika ditarik secara politik dalam design yang lebih besar seperti kekacauan negara atau sebagai kamuflase, bisa saja ada hubungannya. Namun jika persoalan ini didudukkan dalam konteks isu yang selama ini berusaha ditutupi tentang liberalisme dan radikalisme, bisa jadi ancaman bom terhadap Ulil bisa dilihat dalam perspektif berbeda. Karena Ulil sendiri bukan tidak mungkin disebut seorang liberalis radikal, pemikirannya ketika pertama kali mengorbit di Indonesia telah mendobrak akar kemapanan komunitas muslim mainstream.

Namun yang patut disayangkan adalah kategorisasi alumni almamater Timur Tengah yang bertitel Lc sebagai representasi kalangan radikal. Hal itu dikatakan oleh Moqsith Ghazali di TV One dan seorang pemerhati Islam moderat di Metro TV yang saya lupa namanya. Keduanya meskipun menggunakan tanda kutip seolah menyatakan bahwa para Lc itulah yang membawa gerakan-gerakan puritan, skriptural, dan radikal di Indonesia. Padahal di Jaringan Islam Sendiri ada orang-orang seperti Novriantoni dan Guntur Ramli yang kerap mangkal di sana. Saya tahu siapa orang-orang itu ketika di Mesir dahulu.

Dan mahasiswa Indonesia yang ada di Timur Tengah, semisal di Mesir tidak seluruhnya bisa digeneralisir, di Mesir pun ada kontestasi perjuangan pergerakan mahasiswa antara kalangan liberal dan non-liberal, atau seperti pembagian yang diberikan oleh Adian Husaini, ada yang fundamentalis dan anti-fundamentalis. Saya termasuk orang-orang yang berseberangan dengan kalangan fundamentalis yang digawangi oleh salah satu partai besar bermoto keadilan serta kesejahteraan. Lalu presenter TV One dan Metro TV asal menerima saja kategorisasi itu. Walaupun pakai tanda kutip, okelah ini persoalan kuasa simbolik kata pembicara di Metro TV.

Ada benarnya jika berargumen soal kuasa simbolik ala Bourdieu. Tetapi tujuan utamanya apa dari penggunaan simbol tersebut, baik liberal dan radikal, atau Lc dan non-Lc. Dalam pandangan Melucci, penggunaan simbol dalam memobilisasi massa adalah dalam rangka perebutan otoritas atas kontrol. Demikianlah yang dikatakan oleh Melucci sebagai pangkal daripada konflik. Dengan kalimat lain, konflik sesungguhnya disebabkan oleh aktor-aktor yang saling memerebutkan kontrol dalam domain publik maupun privat. (Alberto Melucci, “A Strange Kind of Newness: What’s New in New Social Movement?,” dalam New Social Movements: From Ideology to Identity, ed. Enrique Laraña dkk. Philadelphia: Temple University Press: 1994).

Adonis berpendapat bahwa sejak sepeninggal Nabi, perebutan otoritas telah terjadi dan memunculkan friksi di kalangan umat Islam. Otoritas dikonstruk atas dasar kedekatan pada tradisi masa lalu. Dalam arti, legitimasi otoritas tergantung dari seberapa konservatif atau tidaknya seorang individu atau sebuah kelompok. Hal ini dikarenakan kedekatan mereka pada akar kemapanan, baik secara etnis maupun normatif. Sedangkan kelompok-kelompok yang termarjinalkan akan berusaha untuk mengonstruksi otoritas dengan membangun dasar-dasar pemahaman baru, menafsirkan Islam sesuai dengan kehidupan, kebutuhan, dan kepentingan-kepentingannya. Ekspresi tersebut muncul sebagai akibat perlawanan dari wacana dominan yang mewakili kemapanan. (Adonis, al-Tsabit wa al-Mutahawwil: Bahts fi al-Ibda wa al-Itba’ ‘inda al-Arab. Telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab-Islam, Yogyakarta: LKIS, 2007).

Persoalannya adalah Islam Mainstream di Indonesia sejak pra-kemerdekaan telah melekat dengan simbol-simbol keagamaan yang digunakan oleh kalangan konservatif. Simbol-simbol tersebut ditransmisikan melalui jaringan ulama untuk semakin menegaskan otoritas mereka sekaligus mengokohkan akar kemapanan yang dipandang sebagai ortodoksi. Makanya Sharfi berpendapat bahwa ortodoksi adalah sebuah produk fosilisasi dogmatis dari generasi-generasi awal yang dijadikan preseden oleh umat muslim setelahnya, termasuk melegitimasi otoritas mereka. (Abdelmajid Sharfi, Islam: Between Divine Message and History, terj. Huda Fakhreddine. Budapest dan New York: Central European University Press, 2005).

Sebagaimana diungkapkan oleh Kuntowijoyo bahwa dulu pernah ada kompetisi yang melahirkan isu antara adat dan agama di masa perang padri, lalu tradisional dan modern pada masa organisasi-organisasi massa terbentuk, kemudian formalisasi syariat Islam, pengembalian 7 kata dalam piagam Jakarta, dan sebagainya. (Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi. Cet, 8. Bandung: Mizan, 1998). Namun saat ini isu-isu tersebut bangkit kembali ke permukaan dan lebih kompleks seiring dengan munculnya kalangan pemikir-pemikir liberal seperti Nurchalis Madjid dan Gusdur. Dalam sejumlah majalah kalangan fundamentalis seperti SABILI, orang-orang semacam Ulil dan kawan-kawan yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal disebut sebagai putra mahkota yang mewarisi generasi pertama macam Nurchalis.

Bukan sekali dua kali Ulil difatwa hukuman mati, nampak pula dalam buku berisi bom itu bertemakan daftar orang-orang Indonesia yang pantas dibunuh. Termasuk di dalamnya adalah si Ulil pastinya. Orang-orang bisa menafikan, bahkan Ulil sendiri memertanyakan mengapa ketika dia aktif di politik dan tidak lagi berbicara soal pemikiran keagamaan, justru ancaman bom itu sangat nyata. Seharusnya Ulil berkaca bahwa dia termasuk orang yang berusaha mendobrak akar kemapanan kalangan fundamentalis yang telah sekian lama berhasil meraih otoritas mereka di kalangan muslim mainstream Indonesia.

Ulil dan kawan-kawan begitu berani membentuk komunitas Jaringan Islam Liberal dengan dalih penyegaran pemikiran keagamaan tatkala umat muslim tak siap menerima wacana-wacana baru. Bahkan sampai sekarang pun, resistensi terhadap Ulil dan kawan-kawan kian menjadi. Bahkan Gusdur yang kerap dikatakan sebagai bapak pluralisme, di beberapa radio milik kaum fundamental-radikal, tokoh satu itu dimaki-maki tiada henti. Ketika Gusdur meninggal mereka mendoakan agar Allah mengampuni kesesatannya. Kelompok-kelompok seperti ini terus bergerak di kalangan grass-root dengan terus mengajarkan pemahaman keagamaan yang mereka anggap ortodoks dan otoritatif seraya menghina orang-orang macam Gusdur, Nurchalis, Ulil, Moqsith, dan sebagainya. Sementara di permukaan yang tampak seolah adem ayem saja. Artinya adalah ada pertarungan kaum elit di sini yang sama-sama berebut otoritas kontrol agama terhadap umat.

Penggunaan simbol dan penyebaran isu adalah sangat biasa dalam kontestasi ini. Masyarakat umum mungkin bertanya-tanya seolah mereka terombang-ambing berbagai berita. Tetapi strategi-strategi politik semacam inilah yang makin berkembang di era modern (atau sebagian bilang pos-modern), ketimbang melancarkan strategi frontal. Seperti menggunakan perangkat teknologi untuk menyiarkan simbol-simbol dalam tayangan film, ceramah, penerbitan buku, dan sebagainya, termasuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk proses transmisi. Itulah yang dibilang Foucault sebagai bio-power yang produktif untuk mengoperasikan kuasa. Cara-cara lama yang represif ditinggalkan, tapi masih saja ada yang menggunakannya dan terkadang atas nama perdamaian, agama, keamanan, dan lain-lain.

Tapi model strategi-strategi kuasa bukanlah hal baru yang digunakan oleh kalangan elit. Demikian pula komunitas JIL yang sejak awal didirikannya dalam pandangan saya adalah bukan untuk menyegarkan pemikiran keagamaan, tetapi untuk masuk ke dalam kalangan elit. Justru dengan membentuk komunitas semacam organisasi tersebut, Ulil telah mengumumkan elit yang telah mapan untuk bersiap diguncang. Sementara mereka yang telah mapan memandang Ulil dan kawan-kawan sebagai ancaman tersendiri dan mati-matian melawan Ulil, baik secara sosial-politik.

Secara sosial jelas telah disebutkan sebelumnya dengan munculnya buku-buku, tayangan televisi, siaran radio yang ramai-ramai menghujat paham liberalisme, pluralisme, dan sekularisme agama yang seringkali menjadi tema diskusi JIL. Sedangkan secara politik, fatwa haram paham-paham tersebut telah dikeluarkan oleh MUI. Namun mengapa kalangan konservatif-radikal menggunakan strategi lama dengan cara frontal seperti mengirimkan bom.

Ini yang patut ditelaah sejatinya, karena walaupun Ulil berpendapat bahwa ada motif politik di balik ancaman bom tersebut, tetapi bisa jadi dia pribadi atau kawan-kawannya yang mendalangi ancaman bom, sehingga masyarakat seolah melihat keberadaan mereka terancam. Dengan sedikit tragedi maka mereka berupaya mengalihkan pandangan masyarakat ke arah mereka, sekaligus sebagai momen bagi Ulil dan kawan-kawan JIL dalam menunjukkan eksistensi mereka. Ya, strategi pandangan eksistensialisme usang  yang mengedepankan sisi heroistik manusia.

Kalaupun misalnya ancaman bom itu bukan didalangi Ulil pribadi atau kawan-kawannya. Di sini Ulil pun jadi kena batunya. Jelas sekali bahwa eksistensi mereka tidak diterima oleh otoritas-otoritas elit yang telah mapan dan mempunyai posisi di tengah mainstream umat Islam Indonesia. Sejak kemunculan JIL saya termasuk yang menolak pendirian komunitas itu sebagai sebuah organisasi. Mengapa, karena itu sama saja dengan bunuh diri alias useless. Karena jika Ulil ingin konsisten dengan dalih menyegarkan pemahaman keagamaan, dalam arti menumbuhkan wacana Islam liberal di tengah umat. Maka semestinya dia dan kawan-kawannya bergerak secara diaspora, kultural dan akademis, sehingga tidak terjebak pada politik praktis semacam sekarang yang justru menjadi boomerang buatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s