Ancaman FPI, Guyonan Bagi SBY


1297963967693332980

Yenny Wahid mengatakan agar seharusnya ancaman FPI untuk menggulingkan SBY ditanggapi dengan serius, sementara Anas Urbaningrum dan Kiemas berpendapat bahwa untuk menggulingkan SBY mesti lewat parlemen, atau mekanisme demokrasi. Namun FPI tetap ngotot ingin meniru revolusi yang sedang bergejolak di beberapa negara Arab. Mungkin karena telah dicubit oleh SBY dengan wacana pembubaran ormas-ormas yang menggunakan cara kekerasan, maka FPI merasa tersindir sekaligus tersinggung.

Artinya FPI sengaja menantang SBY dalam pertarungan kuasa. Sementara SBY sendiri pastinya sudah tahu siapa saja orang-orang di balik FPI. Namun ancaman tersebut ditanggapi dingin oleh SBY, mungkin saja lantaran belum ada instruksi dari Amerika. Karena biasanya SBY itu paling antusias tampil di muka publik jika berkenaan dengan urusan yang sejalan dengan proyek Amerika, contoh saja isu terorisme. Sedangkan soal kasus Century yang menimpa sejumlah “kenalan” atau “kroni”-nya, SBY seakan cuci tangan sembari menonton dari jauh pertengkaran antar penegak hukum. Untuk persoalan ancaman kali ini pun, SBY kembali bergeming dan menyerahkan pada anak buahnya pak Kapolri.

Sebenarnya ancaman FPI itu makar atau kelakar? Adhie Massardi  menilai ancaman FPI untuk menggulingkan SBY apabila pembubaran Ahmadiyah tidak dilakukan hanyalah “sandiwara belaka”. Ancaman ini bukan pertama kalinya terjadi. Seusai insiden Monas pada 1 Juni 2008 saat dilangsungkannya kegiatan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Presiden SBY juga menyatakan bahwa negara tidak boleh kalah dengan pelaku kekerasan, dan ancaman penggulingan SBY juga datang.

Tapi apakah ancaman tersebut sebenarnya rekayasa SBY dan FPI sendiri agar statistik tingkat kepercayaan publik terhadap SBY kembali naik setelah sempat menurun dalam isu penanganan korupsi? Artinya, bisa jadi FPI sebenarnya adalah makelar yang pandai berkelakar atas perbuatan makar-nya sendiri. Makelar apalagi jika bukan makelar pengalihan isu.

Dalam kelakarnya, FPI mengklaim bahwa selama ini umat Islam telah mendukung SBY, jika SBY membubarkan Ahmadiyah maka FPI siap menjadi bumper depan SBY. Sementara jika SBY membubarkan ormas Islam yang dibubarkan SBY dengan cara-cara keji, dengan cara biadab, dengan cara curang, dengan cara kejam, “maka saya akan ajak umat Islam di manapun berada: kita gulingkan SBY,” ujar Rizieq.

Pandai sekali bukan Rizieq mengalihkan isu kekerasan ormas Islam yang memang dilakukan oleh ormas pimpinannya dan saudara kembarnya FUI. Padahal tidak semua ormas Islam melakukan kekerasan, dan ormas-ormas Islam yang tidak melakukan kekerasan justru lebih moderat dalam menerima Ahmadiyah. Berbeda dengan FPI yang coba mencari-cari alasan pembenaran bagi sikap kekerasan yang seringkali mereka gunakan ketika menghadapi aliran-aliran yang mereka tuding sesat.

Menurut Saiful Muzani, di tingkat elit agama, para ulama melihat Ahmadiyah sebagai ancaman terhadap umat Islam. Tapi para pejabat negara terkait sebenarnya tidak merasa seperti itu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang memandang bahwa paham seperti yang dipegang oleh Ahmadiyah merupakan hak jemaah Ahmadiyah sendiri dan negara tidak boleh memaksa mereka ber-Islam selain cara mereka sendiri. Mereka juga percaya bahwa negara wajib melindungi setiap keyakinan apa pun, termasuk keyakinan yang dikaitkan dengan Islam, seperti Ahmadiyah. Tapi elit negara itu takut terhadap umat kalau harus mengatakan demikian secara terbuka kepada publik. Mereka takut dinilai merusak Islam, dan takut dimusuhi umat Islam.

Ketakutan elit negara, yang umumnya awam dengan tafsir Islam, itu semakin menjadi-jadi karena hampir tidak ada ulama tandingan dari umat Islam yang berpengaruh untuk menyampaikan paham alternatif terhadap pandangan tentang Islam yang dinilai umum tersebut. Kita tahu ada sejumlah ulama atau intelektual yang menoleransi adanya perbedaan paham dalam Islam, termasuk yang berkaitan dengan akidah, karena mereka tahu bahwa perbedaan semacam itu punya sejarah yang panjang dalam tradisi Islam. Dan merupakan fakta historis, seperti contoh bagaimana pendukung Sayidina Ali dan para pendukung Sayidina Usman saling mengkafirkan, saling mengeluarkan masing-masing mereka dari Islam. Padahal mereka semua para pengikut setia Nabi. Mereka berebut pengaruh. Bukan soal paham agama betul.

Makanya ketika SBY hanya menanggapi dengan dingin dan terkesan ambigu. Sikap demikian adalah sikap yang tepat, meskipun seolah melontarkan ketidakpastian hukum. Bisa jadi karena SBY tak ingin adanya keberpihakan atau justru SBY sendiri yang memainkan peran, atau sudah tahu siapa yang berperan di balik FPI. Dengan demikian, SBY sebenarnya memahami bahwa umat Islam yang diklaim oleh Habib Rizieq itu hanya segelintir kecil orang saja. Tapi permasalahannya mengapa kepolisian seolah tak berdaya menghadapi FPI?

Contoh saja dalam setiap sweeping Klub malam yang diselenggarakan oleh FPI menjelang Ramadhan, memangnya semua klub malam di Jakarta kena sweeping? Dan apakah para polisi itu tidak mengetahui bahwa FPI akan menggelar sweeping? tentunya mereka lebih tahu ketimbang masyarakat biasa. Tapi mengapa polisi selalu telat datang, atau datang tapi dengan personel dan perlengkapan tidak memadai?

Tentunya karena persoalan bayaran, menghadapi FPI dengan menghadapi teroris jauh berbeda. Polisi lebih senang menghadapi teroris karena terus didanai Amerika, sedangkan menghadapi FPI yang didapat cuma luka memar dan fisik, atau bisa-bisa meninggal seperti bentrokan di makam Priuk. Tapi tetap saja SBY dan Kapolri hanya diam serta koar-koar di televisi, padahal tidak punya keberanian membubarkan ormas tersebut.

Orang-orang yang membela cara-cara kekerasan ala FPI, biasanya akan membalikkan arah pada kelompok atau aliran yang dituding sesat. Menurut mereka, justru aliran-aliran sesat itu yang harus dibubarkan karena telah menggunakan cara kekerasan telah memporak porandakan ajaran agama. Argumen berkedok agama ini sama sajak ketika FPI menggunakan istilah Terorisme Moral bagi pelaku pornografi dan selebriti yang tampil dengan pakaian yang memerlihatkan dada atas dan paha.

Istilah kekerasan menjadi dibolak balik, dipermainkan sisi semantikanya. Padahal FPI menggunakan cara-cara kekerasan agar mereka mendapatkan donasi, sumbangan, bantuan uang sebagai biaya hidup mereka. Justru dengan cara kekerasan simpati dari orang-orang yang sebenarnya mendukung diam-diam pun berdatangan. Kemudian mereka memberikan donasi karena mengira aksi FPI sebagai aksi heroik dalam romantisme abad-abad pertengahan di mana agama adalah sumber absolut yang mengatur pola hidup manusia dalam wilayah privat dan publik. Tapi ada pula yang sengaja mendonasi FPI dengan berkedok agamis, dan memanfaatkan gaya preman berjubah mereka saat beraksi. Sementara di sisi lain anggota-anggota FPI ini memang membutuhkan sumber pemasukan bagi mereka untuk survive, mengingat banyak dari mereka yang pengangguran atau berpenghasilan rendah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s