Ketika FPI Menggunakan Momentum


Setelah penyerangan terhadap Jama’ah Ahmadiyah kemarin di Cikeusik, FPI seperti mendapatkan momentum untuk melancarkan gerakan politiknya. Ternyata untuk aksi kekerasan pun harus dibutuhkan pelopor, dan bak tak mau ketinggalan, FPI pun berbondong-bondong menggelar aksi sweeping terhadap Ahmadiyah. Tentara-tentara Partikelir itu tak mau kalah rupanya, atau justru minimal kalau yang di Cikeusik bisa bakar dua mobil, maka yang di Tasik paling tidak 5 kendaraan. Tapi mengapa panti asuhan yang menjadi target utama?

Di tahun lalu FPI sempat sesumbar bahwa Ahmadiyah tak punya hak hidup di Indonesia, dan sekarang momentum itu datang setelah sebelumnya beberapa aksi sweeping Ahmadiyah di berbagai tempat juga dilakukan. Namun ternyata aksi mereka kali ini belum mencapai titik kulminasinya. Eskalasi kekerasan tak kesampaian lalu digantikan dengan olok-olok kepada pemerintah dan ancaman.

Ternyata di negeri ini masih ada aja perilaku bar-bar yang dibiarkan oleh aparat. Sayangnya aparat pun selalu lambat menangani aksi-aksi kekerasan. Polisi yang dilengkapi panser plus senjata saja baru ada di Cikeusik setelah 3 orang tewas. Lalu saya jadi bertanya-tanya, apakah FPI ada “main” dengan militer? Apakah FPI merupakan bentukan atau sengaja dibentuk oleh militer, intelejen, aparat polisi, dan negara sendiri?

Ketika aksi sweeping di Tasik gagal karena penjagaan ketat kepolisian, sepertinya antara FPI dan polisi itu saling bertentangan. Hak hidup adalah hak asasi setiap manusia, jika negara menaati ini, terlebih di tahun 2006 pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi dan mensahkan Kovenan Internasional tentang hak-hak asasi manusia ke dalam konstitusi negara, tetapi mengapa seolah negara membiarkan kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan politik semacam FPI yang tak menghargai hak hidup manusia meskipun seorang Ahmadiyah?

Apa negara sedang berkongkalikong dengan mereka atau benar-benar aparat yang tak berdaya?

Rencananya FPI pun akan membentuk partai politik, hebat sekali sebuah partai politik ditambah dengan tentaranya. Dalam The Jakarta Post, katanya FPI dibacking oleh militer, tapi benarkah? seolah saya tidak percaya jika ternyata negara menjadikan FPI sebagai alat untuk menebar konflik, menciptakan isu, dan menetralisir sipil dengan sipil. Atas nama stabilitas, negara pun dapat mewujudkan instabilitas sebagai pencitraan demi pencitraan.

Namun yang pasti adalah, kali ini FPI benar-benar mendapatkan momentum, terutama untuk meraih simpati warga sipil lainnya yang sebenarnya berhaluan keras, sepaham, dan mendukung mereka diam-diam dengan sumbangan, simpatisan, ataupun persetujuan batin semata akan tindakan mereka.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh salah seorang kompasioner bernama Bertha dalam tulisan saya sebelumnya, “negara ini benar-benar akan menjadi negeri bar-bar sampai semua orang menjadi sadar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s