Bendera Negara dan Celana Dalam


Seorang Wonder Woman tokoh pahlawan komik itu membasmi kejahatan dengan menggunakan celana dalam bintang-bintang putih berlatar belakang biru, sementara dadanya ditutupi kostum merah yang kesemuanya melambangkan bendera Amerika Serikat. Bagaimana jika Wonder Woman datang dari Saudi Arabia, apakah celana dalam di bagian pantatnya berwarna hijau dengan tulisan arab la ilaa ha illallah, dan di bagian depan bergambar dua pedang menyilang?

Ketika para demonstran memprotes aksi Israel terhadap warga palestina, mereka membakar lambang bintang David yang konon lambang bintang segi enam itu adalah panji kebesaran Nabi Daud ketika berperang. Kemudian ketika aktivis pembela TKI merobek bendera malaysia, mereka melakukannya dengan bangga. Tetapi kenapa ketika berdemonstrasi terhadap kedubes Saudi Arabia, para demonstran tidak berani membakar bendera salah satu pengekspor minyak dunia terbesar tersebut?

Apakah hanya karena ada tulisan Arab dan lafaz Allah sehingga para demonstran tidak berani melakukannya? Atau justru tulisan Arab dan lafaz Allah itu telah dijadikan tameng oleh kerajaan keluarga Saud agar tidak ada rakyatnya di dalam negeri, maupun komunitas muslim di seluruh dunia yang tidak berani mendemonstrasi mereka?

Apakah bendera negara sebagai lambang negara adalah sesuatu yang sakral, sehingga seorang Roy Suryo mencak-mencak ketika Dewa 19 menempelkan lambang cover album mereka di sang saka merah putih. Apakah sakralisasi terhadap bendera merupakan suatu bentuk nasionalisme rakyat dan bangsanya?

Bendera negara adalah suatu representasi sederhana dari relasi antara kuasa dan simbol dalam praktek-praktek hegemoni. Setiap rejim pemerintahan yang berkuasa selalu memikirkan cara bagaimana kekuasaan itu bisa bertahan dan diterima oleh seluruh rakyat dengan legitimasi yang kokoh. Sejak masa Lenin, bahkan jauh sebelum itu, praktik kekuasaan cendrung mencari alat bagaimana pengakuan dan penerimaan publik bisa terus mengalir sehingga ia bisa menjaga institusi negara dalam situasi yang stabil disamping melemahkan segala unsur kekuatan oposisi, baik yang lahir dari basis rakyat sampai gerakan oposisi yang bernaung di tubuh parlemen.

Simbol agama, bahasa-bahasa agama sangat efektif untuk melegitimasi kekuasaan politik. Menurut Pierre Bourdieau, penguasaan atas simbol dijelaskan sebagai kuasa untuk menciptakan realitas yang bersifat seakan-akan legitimate. Kuasa simbolik terjadi melalui salah pengenalan yang dimungkinkan oleh kerja habitus sebagai skema persepsi dan apresiasi realitas. Akan tetapi kuasa simbolik Bourdieau menekankan pada aspek bahasa. Bahasa bukanlah medium transparan yang secara netral menggambarkan realitas. Meski sering diabaikan, sebenarnya bahasa berkait erat dengan kekuasaan. Bahasa adalah karakter yang mendefinisikan manusia, karena manusia juga dikarakterisasikan oleh kreasi musik, seni, tari dan seluruh tingkat dari bentuk-bentuk simbolik.

Hubungan antara bahasa dan kekuasaan dapat mewujud dalam penciptaan realitas melalui bahasa. Pada konteks ini, pemikiran Pierre Bourdieu mengenai hubungan bahasa dan kekuasaan menjadi relevan dalam mengupas praktik kekuasaan yang berlangsung di setiap rejim pemerintahan. Bagi Bourdieu, praktik bahasa dihasilkan oleh habitus dan selalu terjadi dalam ranah yang memiliki skema evaluasi linguistik tertentu. Karena itu setiap diskursus merupakan kompromi antara maksud ekspresif agen dan sensor yang inheren dalam ranah publik.

Maka tidak asing lagi bagi kita bahwa merah berarti berani, dan putih berarti suci. Intepretasi warna dalam bendera negara Indonesia bisa jadi berbeda dengan Polandia yang juga mempunyai dua warna yang sama meskipun letaknya berbeda. Namun persoalan sakralisasi bendera negara juga diselenggarakan oleh rejim-rejim pemerintahan yang berbeda, dan masyarakat yang berbeda pula di setiap negara. Hal tersebut tergantung dari tingkat represif-koersif, atau liberal-demokratis yang dipentaskan dalam panggung pemerintahan setiap negara. Dengan kalimat lain, celana dalam bermotif bendera Amerika atau Inggris belum tentu dapat ditemui secara jamak di Saudi Arabia, atau di Indonesia. Karena sakralisasi terhadap bendera negara, ternyata merupakan konstruksi sosial-politik.

Lalu bagaimana dengan bendera parpol, atau ormas. Saya pernah mendapati salah seorang kawan yang di setiap bagian rumahnya ditempel sticker bendera ormas yang dia ikuti. Bahkan sampai pot bunganya juga terdapat lambang bendera ormasnya. Saya sempat berseloroh, “Kenapa BH Istrimu tidak disablon lambang yang sama.”

Tapi katanya, “Itu tidak etis.”

Jadi persoalannya adalah etis dan tidak etis, sementara di belahan dunia lain misalnya ketika piala dunia, saya pernah melihat foto cewek Brasil yang hanya pakai bikini namun bermotif bendera negaranya. Maka etis dan tidak etis juga persoalan konstruksi sosial.

Lalu apakah ketika demonstran membakar bendera Israel atau Malaysia adalah Etis, sementara membakar bendera Saudi tidak etis. Lantas sebagai orang Indonesia, di mana letak batasan itu, apakah dilandasi atas kesadaran menghargai atribut, lambang, dan simbol negara lain? Atau dilandasi ikatan emosinal satu budaya atau agama yang sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s