Khutbah Kaum Puritan


Saya masih ingat tahun 1430 H kemarin di tanggal yang sama 10 Dzulhijjah, di mana umat Islam melaksanakan shalat Iedul Adha. Isu nasional yang berkembang saat itu adalah mengenai klaim pemerintah Malaysia terhadap beberapa produk budaya Indonesia, dari Reog, lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, dan lain-lain. Di samping itu isu lain adalah maraknya aksi densus 88 dalam meringkus teroris. Hal ini dijadikan ajang bagi kelompok-kelompok puritan, dalam hal ini adalah kelompok salafi wahabi, untuk menyuarakan anti nasionalisme mereka.

Saya masih ingat ucapan pendakwah mereka ketika khutbah di lapangan dekat rumah saya, “kenapa hanya karena tarian pendet, umat Islam di Indonesia rela mengganyang saudara seiman mereka di Malaysia? Bukankah terlalu konyol jika agama yang mulia ini dipecah-belah oleh lenggak lenggok aurat manusia yang diharamkan oleh al-Qur’an.” Bahkan sang penceramah jelas-jelas mengatakan bahwa agama sebagai ideologi tidak bisa digeser oleh ideologi atau isme-isme apapun seperti pancasila, dan sebagainya. Kemudian dia juga mengingatkan bahayanya jika jihad direduksi oleh pemerintah sebagai aksi terorisme, karena jihad itu merupakan cita-cita sejati perjuangan umat Islam.

Saat ini di tahun 1431 H, mereka pun berulah lagi. Propaganda mereka ketika khutbah dengan melancarkan klaim demi klaim, seperti Ahl al-Sunnah-lah yang paling benar di hadapan Allah. Sedangkan yang lain adalah sesat. Ahl al-Sunnah-lah yang nantinya akan diberikan syafa’at. Saya jadi bertanya-tanya, apakah salafi/wahabi benar termasuk ahl al-Sunnah? Apakah doktrin ahl al-Sunnah mengajarkan orang Islam untuk mengklaim kebenaran dan mengatakan orang atau kelompok lain adalah sesat? Mengapa mereka masih terus menerus melestarikan perdebatan dari ratusan abad silam di mana kondisi dan situasi global telah berubah?

Masyarakat dunia saat ini tengah mengkampanyekan perdamaian dunia, utamanya gerakan-gerakan sipil non-profit, termasuk dalam gerakan-gerakan keagamaan. Tetapi mereka masih saja melestarikan perdebatan lama, antara kelompok sesat dan tidak sesat, padahal mereka bukan Tuhan yang bisa mengetahui kebenaran bahwa kelompok selain mereka adalah sesat. Kebenaran yang mereka anggap sebagai kebenaran, hanya egosentris belaka yang kemudian menjadi persepsi. Mereka mengira itulah kebenaran, itulah kehendak daripada teks, dan intepretasi demikian yang dilegitimasi oleh Tuhan.

Pada suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang kawan yang pernah tinggal dan sekolah di Inggris. Menurutnya, saat ini di Inggris wacana keislaman yang berkembang adalah bagaimana mengatakan, “Being a good moslem, and being a good British.” Padahal dahulu di tahun 90-an gerakan dan wacana keislaman yang berkembang di Inggris sempat didominasi oleh kelompok-kelompok Puritan, seperti Hizbuttahrir. Sama seperti Hizbuttahrir di Indonesia, di Inggris pun gerakan tersebut menyuarakan bangkitnya kekhalifahan Islam. Akan tetapi sekarang ini sudah tidak laku dan ditinggalkan, karena masyarakat sana sudah capek dengan permusuhan. Dalam perbedaan dan kemajemukan, yang harus dibangun adalah harmonisasi, bukan keseragaman atau permusuhan. Oleh karena itu antara being British dan being Moslem tidak perlu dipertentangkan.

Lalu Bagaimana dengan di Indonesia? Masih saja ada ideologi-ideologi puritan yang sedang laku dan nge-trend di Indonesia seperti HTI, FPI, Salafi/wahabi, dll. Terutama di lingkungan masyarakat Urban semisal di Jadebotabek, karena di masyarakat Urban lebih banyak orang-orang yang awwam dan mudah didoktrin dengan ideologi-ideologi tanpa mereka sadari. Berbeda dengan di daerah di mana tradisi NU atau Muhammadiyahnya kuat, pesantren tradisi sebagai pondasi utama pembentuk sosio-kultur di kalangan mereka, sehingga tidak mudah bagi kelompok puritan semacam salafi/wahabi untuk menjual dagangan mereka di sana. Meskipun mereka mulai membangun pesantren-pesantren tandingan yang fasilitasnya lebih bagus dan mewah ketimbang pesantren tradisional.

Di samping itu, di Indonesia memang masih sulit untuk mengajak kelompok keislaman untuk sama-sama membangun dinamika sosio-kultur yang saling menghargai dan menjaga kerukunan umat. Karena semuanya sama-sama punya kepentingan untuk menguasai masyarakat di mana budaya orang Indonesia yang sangat dekat dengan relijiusitas dan spiritualitas, dapat menghasilkan legitimasi tersendiri kepada kelompok-kelompok keislaman yang saling berkompetisi sebagai yang otoritatif.

Berbagai media pun digunakan, di antaranya radio, televisi, film, iklan, termasuk yang paling tradisional adalah ceramah-ceramah. Media sangat ampuh untuk berbagai macam klaim sekaligus stigma terhadap the other, akan tetapi tidak seluruhnya para pendakwah menggunakan media sebagai corong kepentingan mereka, masih ada orang-orang yang menyerukan gagasan saling menghargai dan menghormati untuk menyikapi berbagai perbedaan dan tidak perlu melestarikan perdebatan panjang di masa silam.

Saya setuju dengan kawan saya yang pernah tinggal di Inggris tersebut, mungkin gagasan dan wacana keislaman ke depan yang perlu dikembangan adalah bagaimana being a good Moslem, and being a good Indonesian. Meninggalkan pertentangan dan permusuhan selama ratusan abad lalu, dan menatap ke depan demi menjalin perdamaian di tingkat lokal dan global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s