Tifatul dan Problematika Salaman Ibarat Pagar Makan Tanaman


Tifatul kena batunya setelah kedatangan Obama kemarin, nampak dia menyalami istri presiden Amerika tersebut. Padahal dalam ideologi PKS yang menganut fikih klasik, bahwa bersalaman dengan bukan mahram adalah haram hukumnya. Bukan itu saja, memandang dan saling bertatapan dengan sengaja antara lawan jenis yang tiada ikatan darah hukumnya juga haram. Oleh karena itu Tifatul menjadi sasaran kritik dari para kader maupun orang di luar partai “dakwah” tersebut.

Namun Tifatul tetap berkilah bahwa kejadian itu sifatnya insidental, “Soal insiden salaman dengan Bu Michelle Obama saya tegaskan sebagai berikut. Pertama, saya tetap pada pendirian/sikap untuk tidak bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim. Ini pandangan fikih Islam yang saya pahami. Saya juga tahu ada tokoh-tokoh besar Muslim yang tetap bersalaman dengan wanita bukan muhrim, itu urusan yang bersangkutan,” begitu katanya.

Pandangan PKS dan kelompok-kelompok revivalis Islam yang setipe lainnya, memang masih berpendapat akan haramnya bersentuhan tangan seperti salaman antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram. Istilah mahram ini sering dilafalkan muhrim oleh orang-orang Indonesia, pengertiannya adalah kriteria-kriteria lelaki atau perempuan mana saja yang haram untuk dinikahi, seperti perempuan atau lelaki yang ada hubungan darah dengan kita, semacam ayah dan ibu kandung, adik dan kakak, nenek dan kakek, paman dan bibi. Dengan demikian istilah bukan mahram atau bukan muhrim diperuntukkan sebaliknya, yaitu kriteria-kriteria lelaki atau perempuan yang halal untuk dinikahi.

Dalam fikih klasik, hukum berinteraksi dengan lelaki atau perempuan yang bukan mahram sangat dibatasi, salah satunya yaitu bersentuhan tangan seperti bersalaman. Namun beberapa ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi memperbolehkan bersalaman selama tidak disertai syahwat serta aman dari fitnah. Mengutip fatwa Yusuf al-Qardhawi dalam Fatawa Mu`ashirah: Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi (yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah) meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram. Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.

Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, yaitu dengan kerabat atau besan yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw. Tidak ada riwayat kuat yang menyebutkan bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan wanita lain (yang bukan kerabat atau tidak mempunyai hubungan yang erat).

Bagi Yusuf Qardhawi, dalam hal bersalaman masih dimungkinkan adanya ijtihad, atau pengambilan putusan hukum oleh para ahli hukum Islam. Akan tetapi pendapat Qardhawi ini juga mendapatkan pertentangan di kalangan kelompok-kelompok puritan yang beranggapan bahwa terdapat kekeliruan dalam fatwa Qardhawi tersebut. Menurut mereka, fatwa Qardhawi telah menyalahi hadis yang diriwayatkan oleh Ma`qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(Thabrani dan Baihaqi)

Qardhawi tidak menampik keberadaan hadis tersebut, akan tetapi menurutnya dalam kasus bersalaman, ada situasi khusus yang diperlukan ijtihad dalam menghadapi problematika tersebut, dan dalam kaidah ushul fikih pun dikatakan bahwa al-ijtihad la yunqazu bi al-ijtihad, ijtihad tidak dapat dibatalkan, atau dihapus oleh ijtihad berikutnya. Seorang ahli hukum yang berijtihad akan mendapat pahala satu jika ijtihadnya salah, dan mendapat dua pahala jika ijtihadnya benar, tetapi kebenaran itu pun dalam penilaian Tuhan, bukan manusia lainnya.

Oleh karena itu fatwa dalam hal ini tidak dapat dibatalkan, dia mengutip hadis lain dari “Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: `Sesungguhnya seorang budak wanita diantara budak-budak penduduk Madinah memegang tangan Rasulullah saw., lalu membawanya pergi ke mana ia suka.” (HR. Bukhari)

Jika kita perhatikan riwayat tersebut, niscaya kita jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah. Kemudian dalam hadis lain dari Anas bahwa Nabi saw. masuk ke rumah Ummu Haram binti Milhan dan beliau diberi makan. Ummu Haram adalah istri Ubadah bin Shamit, dan Ummu Haram membersihkan kepala beliau (dari kutu) lalu Rasulullah SAW tertidur…” (HR Bukhari).

Dengan demikian Yusuf Qardhawi tetap berpendapat akan kebolehan bersalaman dengan lelaki atau perempuan bukan mahram dengan mengajukan syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan dalam fatwanya.

Kembali ke peristiwa “insindental” Tifatul, saya hanya menyarankan pada pak mentri, jika memang menurutnya dalam Islam ada hal-hal yang dapat ditolerir, maka semestinya sebagai petinggi partai “dakwah” itu berarti dia mempunyai kuasa sebagai seorang ideolog. Dan sebagai seorang ideolog, tentunya dia mampu untuk memberikan perubahan, dan mentransformasi ideologi partai dari eksklusif menjadi inklusif yang dapat diterima dan dipahami oleh para kader partainya, maupun orang di luar partai tersebut sehingga, sebagaimana pula yang diharapkan olehnya, persoalan bersalaman saja tidak menjadi bulan-bulanan publik, dan sasaran politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s