Kesaktian Pancasila?


Ada yang bilang bahwa saat ini di negara ini ideologi telah mati. Ya, pancasila sebagai ideologi negara pun ikut-ikutan mati, jadi apanya yang sakti. Sejak reformasi satu persatu asasnya dipreteli oleh rakyatnya sendiri. Seperti sila ketuhanan yang maha esa. Kalangan agamawan yang sukanya bermain di wilayah ekstrim dan radikal akan bilang bahwa sila pertama itu mengajarkan kemusyrikan. Ketuhanan dianalogikan dengan kepulauan, jika Indonesia yang berjajar pulau-pulau itu disebut negara kepulauan, maka ketuhanan berarti berjajarnya tuhan-tuhan. Karena itu kemudian asas-asas organisasi yang muncul setelah reformasi kembali menggunakan asas agama, dan mengelukan Tauhid dan mencerca pancasila, jadi apanya yang sakti.

Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dan beradab? setiap hari kita jumpai aksi-aksi pembunuhan, tawuran, perkelahian, dari kelas anak remaja ingusan sampai orang tua yang sudah beranak pinak. Alasannya macam-macam, dari alasan kemiskinan, cinta, salah paham, adat istiadat, agama, sampai yang memakai dalih hukum dan undang-undang. Jadi apanya yang sakti dari pancasila.

Lalu sila yang mengatakan persatuan Indonesia, boro-boro persatuan, yang ada justru penyeragaman. Padahal jelas-jelas “motto” negara kita bhineka tunggal ika, atau bahasa kerennya unity in diversity. Tapi apanya yang persatuan, justru atas nama persatuan yang terjadi adalah penyeragaman terhadap perbedaan. Akhirnya konflik pun terjadi, otoritas-otoritas yang mengaku otoritatif berupaya membelenggu orang-orang yang berbeda dari arus mainstream dengan sikap-sikap koersif. Pemerintah yang semestinya menjunjung tinggi undang-undang dan menaungi semua golongan, justru terkadang berpihak pada mereka yang disebut mayoritas. Lagi-lagi pancasila tidak begitu sakti.

Sila keempat lebih memilukan dan memalukan kalau melihat tingkah laku anggota dewan, mereka yang menjadi orang-orang pilihan rakyat, justru malah mengecewakan. Terutama yang disoroti soal kinerja, dan aktifitas boros seperti plesir ke luar negeri, dan menghamburkan uang untuk proyek-proyek yang memakai istilah rakyat dan aspirasi. Sila keempat ini pun sama tidak saktinya dengan sila kelima yang katanya merupakan pokok pikiran utama dari ekonomi kerakyatan di negeri dengan 240 juta jiwa ini.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Benarkah? Dalam bidang ekonomi saja, sulit untuk menentukan makna keadilan, pemerintah musti sibuk membela diri bahwa standar nominal rakyat miskin versi mereka paling valid ketimbang milik PBB dan pihak asing lainnya. Terus kapan mau bertindak? Sudah kok, pemerintah sudah bertindak lewat BLT, konversi minyak tanah, kenaikan harga sembako, perjanjian perdagangan bebas, ekspor buruh migran, dsb. Jadi semestinya keadilan sosial, minimal dalam bidang ekonomi sudah merata dan mensejahterakan rakyat Indonesia, tapi kalau nyatanya tidak, ya mungkin pancasilanya belum sakti.

Ideologi telah mati, mungkin teori ini ditolak mentah-mentah oleh Slavoj Zizek yang berpendapat bahwa selama realitas itu ada, maka ideologi akan tetap ada. Tetapi di negara ini terlalu banyak ide-ide yang dianggap ideal dan disakralkan oleh manusia-manusianya, sakti atau tidak saktinya ideologi dikarenakan manusianya sendiri, manusia yang membuat pancasila menjadi sakti, atau tidak sakti. Oleh karena itu ketika terjadi ketimpangan, rakyat dipaksa untuk sesuai, dan menyesuaikan diri. Manusianya yang sakti atau ideologinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s