Penyerangan Jemaat HKBP di Bekasi


Begitu mirisnya di tengah situasi hari raya idul fitri kemudian mendengar kabar terjadi penyerangan yang dilakukan sekelompok orang di Bekasi terhadap jemaat HKBP. Kalau kita menelusuri beritanya di internet, sebenarnya peristiwa ini merupakan buntut panjang dari beberapa peristiwa sebelumnya mengenai gereja HKBP yang didemo masyarakat Bekasi yang notabene mayoritas beragama Islam.

Inilah contoh bagaimana masyarakat kita tidak terbiasa dengan kemajemukan yang niscaya terjadi di tengah umat manusia. Mengapa karena umat Islam yang mayoritas lantas segelintir penganut agama lain malah dihalang-halangi untuk beribadah. Menurut pemerintah penyerangan tersebut adalah kriminal murni dan bukan konflik agama, akan tetapi bagaimana jika terjadinya penyerangan tersebut adalah dikarenakan motif atau tendensi agama.

Seperti misalnya pada tanggal 8 Agustus lalu, 700 anggota sebuah ormas Islam justru menghalangi jemaat HKBP dengan membuat pagar betis agar mereka tidak dapat beribadah di pagi hari. Bukankah ini sifat otoritarianisme manusia yang katanya beragama. Sebagai umat Islam seharusnya mengerti tentang prinsip-prinsip pluralisme dan toleransi yang dicanangkan dalam al-Qur’an bahwa “Laa ikraha fi al-diin.” yakni tidak ada paksaan dalam beragama. Tetapi konflik yang katanya murni kriminal ini justru berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas dan berbuntut pada penusukan seorang pendeta.

Mungkin saya takkan terburu-buru mengatakan bahwa oknum yang menusuk pendeta itu adalah orang Islam, akan tetapi saya hanya mengomentari kenapa kita orang Islam begitu susahnya menerima perbedaan di tengah masyarakat, begitu sulitnya berinteraksi dengan orang non-muslim. Apakah hanya karena secara prosedur tidak mendapatkan izin dari masyarakat yang mayoritas beragama Islam lantas kita harus menggempur segolongan umat yang minoritas tersebut.

Seorang Habib Rizieq walaupun dirinya menyangkal keterlibatan ormasnya dalam peristiwa demonstrasi terhadap jemaat HKBP, akan tetapi ucapannya di rakyat merdeka justru membela aksi ormas yang menghalangi jemaat HKBP dan terkesan seperti balas dendam. “Umat Islam membangun masjid di Bali, Sulawesi Utara juga ketat, di Papua tidak mudah, harus izin pendeta, Uskup, dan tokoh setempat. Tapi yang di Bekasi, ada sekelompok orang tidak peduli MUI dan kyai, disini kami bukan membela satu pihak, tapi mencoba memberikan fakta,” papar Habib Rizieq.

Dari ucapan si Habib itu kasarannya kalau umat Islam dihalang-halangi membangun masjid di Bali, gantian di Bekasi kita sebagai orang Islam di daerah Bekasi harus menghalang-halangi mereka membangun gereja. Terus penyelesaiannya demi kerukunan umat beragama yang ditawarkan ada di mana, apakah masjid yang ada di Bali harus didemo juga oleh umat Hindu, harus ada yang ditusuk juga?

Kalau umat Kristen yang ada di Bekasi itu ingin membangun tempat ibadah bagi mereka, ya menurut saya monggo-monggo saja. Kenapa harus ditarik akar konfliknya jadi persoalan ada izin dan tidak ada izin dari masyarakat setempat. Padahal lahan kosong yang dijadikan tempat beribadah saat ini sudah dibeli oleh seorang Jemaat HKBP dan dijadikan tempat beribadah oleh mereka, tetapi masih diganggu juga.

Saya setuju dengan pernyataan Pendeta Luspida Simanjuntak di salah satu surat kabar yang mengaku kecewa atas aksi demostrasi umat muslim. “Tidak ada keadilan bagi warga minoritas,” katanya. Menurutnya, kebaktian mereka laksanakan di lahan kosong di Kampung Ciketing Asem bukan tanpa izin. Justru, penggunaan lahan yang sudah dibeli salah seorang jemaat HKBP itu adalah lokasi alternatif yang diberikan pemerintah daerah, setelah beberapa lokasi ibadat mereka sebelumnya disegel.

Sekarang ketika terjadi penusukan itu apa bisa diselesaikan hanya dengan mencari pelaku penusukan dan mengatakan bahwa hal tersebut adalah kriminal murni, sementara akar persoalan tidak bisa diselesaikan, di mana sebagai mayoritas umat beragama di Indonesia, umat Muslim seharusnya lebih bisa menerima perbedaan di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan umat agama lain dengan sikap toleran dan tenggang rasa. Mereka umat non-muslim meskipun sedikit jumlahnya juga membutuhkan tempat ibadah dan kebebasan untuk menjalankan ibadah mereka sebagaimana umat Islam bebas menjalankan ibadahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s