Jilbab Sebagai Representasi Politik?


Banyak tulisan yang mengatakan bahwa jilbab merupakan produk budaya. kondisi iklim dan geografis suatu daerah sangat mempengaruhi umat manusia untuk menghasilkan suatu produk budaya yang disebut jilbab. Karena jika melihat struktur dan bentuknya, di setiap negara yang memiliki daerah gurun pasti mengenal kain lebar dan longgar yang dijadikan penutup kepala dan tubuh meskipun kain itu dinamakan dengan bahasa yang berbeda-beda, sebut saja Cina, India, dan negara-negara Timur Tengah. Dan jilbab itu sendiri telah dikenal oleh masyarakat Arab jauh sebelum Islam hadir, lalu kemudian bentuknya diadopsi sebagai representasi dari perintah mengenai berjilbab yang diturunkan dalam al-Qur’an.

Konon kerajaan Assyiria pada tahun 1813-1780 SM. menjadi kerajaan pertama yang membekukan jilbab dalam hukum positif. Di dalam peraturannya Jilbab wajib dikenakan oleh para perempuan bangsawan. Menurut Leila Ahmed dalam bukunya Women and Gender in Islam (1992: 14), jilbab tidak boleh dikenakan oleh budak perempuan dan para pelacur. Jika seandainya diketahui Jilbab di pakai oleh budak perempuan dan pelacur maka mereka akan di hukum cambuk sampai kepada disiram ter panas di kepala, atau kedua kupingnya dipotong. Di masa Assyria ini jilbab tampaknya juga dipakai sebagai simbol yang membedakan perempuan menurut aktivitas seksualnya. Analisis terhadap Hukum Assyria di atas dapat dibaca dalam buku karya Gerda Lerner, The Creation of Patriarchy (Oxford University Press, 1986).

Akan tetapi patutkah jika ditarik dalam konteks Indonesia, untuk mengadopsi bentuk jilbab yang sama dengan apa yang dikenakan oleh masyarakat Arab di masa lampau itu? Pertanyaan ini bisa dilihat dalam perspektif berbeda sebagai jawaban atas ketidakharusan bentuk jilbab di Indonesia untuk menyerupai jilbab versi tradisi bangsa Arab. Ada kisah menarik terjadi di Iran di mana dalam hal pakaian perempuan sangat kental nuansa politis dan ideologisnya.

Sami Zubaida menulis tentang hal tersebut dalam bukunya Law and Power in the Islamic World. Pada tahun 1928, Permaisuri dari Reza Khan (1877-1944, Reza Khan adalah Syah Iran, ayah Reza Pahlevi yang dilengserkan oleh Ayatullah Khomeini) mengunjungi tempat ziarah di kota suci Qum di Iran. Sewaktu doa-doa dan zikir sedang dilantunkan, permaisuri tampak tetap tidak memakai jilbab. Dia berpakaian seperti pakaian perempuan modern Eropa pada waktu itu. Hal ini mengusik pikiran seorang ayatullah, namanya Ayatullah Bafqi, ia lalu mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada sang permaisuri: “jika Anda bukan seorang Muslimah, kenapa Anda datang ke tempat suci ini? Jika Anda seorang muslimah kenapa Anda tidak memakai jilbab?” Tapi sang permaisuri cuek bebek saja. Ayatullah Bafqi tampak kesal. Ketika Ayatullah Bafqi menyampaikan khutbahnya, ia mulai mengkritik Syah Iran, dan memprovokasi para hadirin. Syah Iran akhirnya mengetahui insiden ini. Syah Iran pun marah. Ia lalu datang ke kota Qum. Bersama pengawalnya ia masuk ke tempat ziarah dengan tidak membuka sepatu boot. Ia mencari Ayatullah Bafqi, sewaktu ketemu, sang ayatullah pun dihajar habis, dan kemudian dipenjarakan. Selang beberapa lama kemudian, Syah Iran menerapkan hukum uniformity of dress yang melarang perempuan memakai jilbab, dan laki-laki memakai surban (dispensasi hanya diberikan untuk para ayatullah). Polisi pun dikerahkan untuk menerapkan hukum ini. Jika ada yang memakai jilbab di jalan-jalan, atau ada yang pakai surban tapi yang bersangkutan bukan ayatullah, maka polisi berhak untuk membuka pakaian itu secara paksa.

Memang mungkin banyak orang mendasarkan, khususnya kaum wanita, jika ditanya mereka akan menjawab bahwa alasan mereka yang memakai jilbab adalah karena dalil ajaran agama. Tetapi jika kita melihat ke belakang dalam sejarah bangsa ini. Bagaimana sebenarnya umat Islam Indonesia memandang persoalan jilbab? sebut saja seorang tokoh seperti Muhammad Natsir yang getol menyerukan Negara Islam, akan tetapi jilbab yang dikenakan istrinya pun hanya kain tipis yang dikalungkan di kepala, tanpa terikat, menutup rapat atau bahkan panjang lebar. Demikian pula istri-istri dari para tokoh Islam lainnya seperti Wahid Hasyim, Mohammad Hatta, dll. Kalau ditarik ke belakang lagi, contoh saja Cut Nyak Dien, jika beliau masih hidup di jaman sekarang, mungkin sudah kena cambuk oleh aparat wilayatul hisbah yang ada di Aceh.

Artinya disini adalah bahwa dinamika perubahan dan bentuk jilbab di kalangan muslimah Indonesia adalah suatu fenomena yang terjadi akibat pengaruh-pengaruh yang lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal. Di sini yang paling intens adalah pengaruh politik. Bentuk jilbab besar, panjang dan tertutup rapat dari kepala hingga dada atau seluruh tubuh mulai muncul di Indonesia setelah revolusi Iran tahun 1979. Ketika dewan ulama, para pemuka agama mulai mengambil alih kekuasaan dan menjalankan roda pemerintahan. Kala itu revolusi Iran dianggap sebagai pelopor kebangkitan Islam, walaupun mungkin sebelumnya sudah banyak gerakan-gerakan serupa. Ketika revolusi itu berlangsung, tayangan televisi di seluruh dunia memberitakan tidak saja mengenai perpolitikan negeri itu, melainkan juga kehidupan masyarakatnya dan tampak pula tontonan mengenai bentuk jilbab yang dikenakan oleh muslimah negeri tersebut.

Dahulu siswi-siswi Islam yang datang ke sekolah dan kuliah mungkin hanya mengenakan kain tipis di kepala dan setelah pulang cukup diselendangkan di leher, perlahan pemandangan itu mulai hilang dan berganti kain-kain yang tertutup rapat sekali dan hanya menampilkan wajah para pemakainya saja. Fenomena jilbab yang tertutup rapat itu bermunculan di Indonesia seiring dengan afiliasi organisasi-organisasi keagamaan yang telah mengakar di Timur Tengah. Dari tipologi yang mengarah pada puritanisme hingga moderat. Di kala itu pula umat Islam benar-benar mengalami sebuah eforia besar-besaran yang berhasil memberikan respon dan reaksi keras untuk menghalau kekuatan politik Barat yang mengusung ideologi liberalisme-sekulerismenya.

Demikian pula dengan cara berjilbab, tak jarang muslimah-muslimah yang walaupun sudah menutup seluruh kepalanya dengan kain, tetap saja masih dibilang belum berjilbab atau berjilbab tapi telanjang. Setiap golongan punya syarat-syarat tersendiri mengenai jilbab, ada yang harus panjang sampai ke bawah dada atau seluruh tubuh, ada yang harus berwarna hitam polos, ada yang harus memakai cadar sehingga yang terlihat hanya kedua mata saja, dan ada pula yang cukup dengan syarat menutup kepala sampai ke dada sebagaimana yang terdapat dalam bunyi teks al-Qur’an (metode harfiah).

Permasalahannya kemudian adalah para kelompok-kelompok yang saling berbeda pemahaman dan definisi ini berlomba-lomba untuk menerapkan pengertian mereka dengan proses aplikasi yang menurut mereka benar tanpa berkompromi atau menghargai pendapat orang lain. Tetapi seiring aliran dan kelompok keagamaan yang masuk ke Indonesia makin besar dengan membawa beraneka ragam ajaran. Maka persaingan pun terjadi. Tak jarang mereka saling menuding dan menyesatkan satu sama lain. Imbasnya adalah jilbab juga dijadikan alat untuk menuding kadar dan tolak ukur keimanan seseorang dilihat dari bentuknya. Ideologi mengedepankan simbol-simbol keagamaan alias simbolisme dalam Islam ini sampai sekarang makin berkembang pesat.

Sebenarnya kini jilbab pun telah di bawa ke dalam ranah fashion oleh para designer yang nota bene terjun dalam bidang tersebut. Mereka bisa membawa jilbab pada ranah yang tak tersentuh pertarungan ideologi dengan lebih menghargai nilai estetika dan artistiknya. Akan tetapi mungkin saking mencoba melepaskan diri dari pemahaman agama, maka jilbab hasil modifikasi para designer ini benar-benar nampak kontras dan menjadi lebih kontroversial. Jilbab yang semula dalam agama diperintahkan dengan maksud untuk menutupi dan melindungi aurat wanita dari pria-pria yang ‘bukan mahram’-nya (atau pria-pria yang boleh dinikahi karena tidak ada hubungan darah secara kandung atau belum akil baligh), tetapi justru berubah menjadi alat untuk mengumbar bagian-bagian tubuh wanita dengan setiap lekukan tubuhnya.

Maka di sini jilbab pun tampak sebagai komoditas, baik itu komoditas dagang, maupun persaingan ideologi dan politik. Persaingan ideologi jelas sekali antara kelompok radikal, moderat, dan sekuler, tidak pernah habis membahas soal jilbab. Macam-macam bentuk jilbab itu pun dimanfaatkan menjadi komoditas dagang, terutama di layar kaca. Tak terkecuali dalam persaingan politik. Coba saja, tidak perlu jauh-jauh, jika kita melihat partai politik di Indonesia yang berasaskan Islam, bisa diperhatikan seperti apa bentuk jilbab yang dikenakan oleh para simpatisan, partisipan dan kader muslimahnya, terdapat beberapa perbedaan mencolok.

Melihat kenyataan faktual ini, bisa jadi bahwa jilbab di Indonesia adalah merupakan representasi dari masing-masing gerakan, kelompok, golongan dan organisasi massa. singkatnya bahwa aktifitas berjilbab muslimah di Indonesia sebagian besar dipengaruhi dengan kegiatan berpolitik masyarakatnya. Berpolitik itu tidak mesti dalam partai politik, persaingan aktifitas keagamaan di antara kelompok-kelompok agama juga bisa masuk dalam aktifitas politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s