Bible Berbahasa Arab


bukuSaya membeli bible berbahasa Arab seharga 65 pon Mesir, berapa ya kalau dirupiahkan? entahlah. Waktu itu sedang ada pameran buku yang sudah menjadi even tahunan di negeri seribu menara tersebut, tiba-tiba saya tertarik mengunjungi stand-stand dari penerbit buku-buku kristen. Saya ingin tahu seperti apa sih bible di Timur Tengah.

Dari sederet bible saya memilih yang ada terjemahannya berbahasa Inggris, itupun karena disodori oleh penjualnya, menurutnya saya orang asing jadi disangka tidak bisa membaca tulisan Arab dan mengerti isinya. Walaupun agak mahal, tetapi karena kertas dan cetakannya bagus maka saya bayar pula. Sampul depannya bertuliskan al-kitab al-Muqaddas, Kitab al-Hayat, dan The Holy Bible. Lalu saya mulai membuka halaman bible tersebut satu persatu.

Dan di dalamnya saya temukan bahwa ada kata Allah dengan tulisan Arab: الله sebagaimana yang tertera dalam al-Qur’an. Kebetulan pula ada budaya dan tradisi rakyat Mesir jikalau hendak memasuki kendaraan umum, seperti angkot atau bis kota, mereka menaiki dengan mengucap, “bismillah” mau agamanya Kristen atau Islam, mereka sudah terbiasa dengan tradisi mengucap bismillah ketika naik kendaraan umum tersebut.

Saya juga pernah menyaksikan tayangan di TV Mesir ketika acara misa diselenggarakan, sang Baba atau pendetanya juga melafazkan kata الله sebagaimana orang Muslim mengucap Alloh, bukan Alah. Ya maklum saja, mereka kan orang Arab, apapun agamanya; Yahudi, Islam, atau Kristen Koptik, tetapi mereka tetap saja orang Arab yang berlidah Arab.

Lalu kemudian di tahun 2008 si Ulil Abshar bikin heboh dengan tulisannya yang berjudul Apakah istilah “Allah” hanya milik umat Islam saja? Artikel tersebut sempat menjadi kontroversi dan menyulut kemarahan orang Islam mainstream di Indonesia.

Namun saat artikel itu beredar di internet dan jadi bahan perbincangan, saya sudah pulang lama sekali dari Mesir, lalu orang-orang di Masjid dekat rumah saya banyak membicarakan soal Ulil dan sekaligus ditambah embel-embel hujatan. Sepulang shalat maghrib, saya ajak beberapa orang tua mengunjungi rumah, kemudian saya persilahkan mereka duduk.

Setelah itu saya membukakan bible berbahasa Arab di mana terdapat lafaz الله di dalamnya, salah seorang bapak membaca ayat itu dengan keras. Setelah membacanya, mungkin dia merasa aneh karena ada semacam kejanggalan dari struktur ayat tersebut, terus dia membalikkan buku ke bagian cover. Bapak itu terkejut bukan main.

“Pak, tahu kan yang tadi bapak baca?” tanya saya, orang tua itu tidak menjawab.

“Bukankah dahulu orang-orang pra Islam telah mengenal kata الله lebih dahulu?” tanya saya selanjutnya. Obrolan kami selanjutnya jadi gamang, saya sendiri jadi tidak enak hati kepada si bapak yang di masjid tadi terus menghina-hina Ulil Abshar dan mengelu-elukan bahwa istilah Allah hanya punya Islam.

Setelah para tamu pamit pulang, saya masukkan lagi bible itu ke dalam rak buku agar suatu saat nanti ketika anak-anak saya bertanya, maka saya dapat menjelaskan kepada mereka dengan gamblang sehingga mereka tidak terjebak dalam taqlid buta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s