Peran Ideologi Dalam Jejaring Hubungan Internasional


Meskipun terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh rakyat Amerika akan penyerangan Israel pada kapal relawan kemanusiaan, tetapi pemerintah negeri adidaya itu tetap diam seribu bahasa, bahkan ketika pemimpin negara-negara Eropa yang merupakan sekutu Amerika mendengungkan kecaman dan mengusulkan agar pemimpin Israel diseret ke meja sidang Internasional, lagi-lagi pemerintah Amerika tetap membisu. Padahal Amerika sebagai anggota dewan keamanan PBB selalu berkoar keras ketika negara-negara di Timur Tengah lain dinilai membikin ulah.

Sebut saja Irak yang berkali-kali ketiban propaganda Amerika dengan keberadaan WMD alias senjata pemusnah massal di negara seribu satu malam tersebut. Akan tetapi setelah tidak diketemukan WMD, propaganda itu dialihkan kepada kediktatoran dan fasisme Saddam, ditunjukkan bagaimana kebiadaban Saddam dengan penjara panopticon-nya. Namun apa bedanya kebiadaban Saddam itu dengan aksi pasukan Amerika yang mengencingi para tawanan perang Irak-AS. Lalu paling akhir adalah propaganda bahwa rakyat Irak sangat mendambakan demokrasi, dan Amerika adalah sang Messias pembawa demokrasi sejati.

Fred Halliday dalam buku the Middle East in International Relations mengatakan bahwa fenomena politik dan hubungan internasional di Timur Tengah banyak dipengaruhi oleh peran budaya dan ideologi yang membentuk kawasannya. Abid al-Jabiri dalam naqd al-fikri al-‘arabi (kritik nalar Arab) mengatakan bahwa Ideologi merupakan senjata menakutkan jika tidak dikatakan yang paling kejam. Oleh karena itu Amerika pun menggunakan ideologi mereka dalam menundukkan negara-negara Timur Tengah, strategi paling jitu sejak dahulu kala sebelum memulai serangan frontal adalah strategi propaganda.

Seperti Iran yang sekarang lagi ketiban sial terus dilanda isu senjata nuklir, meskipun berulangkali pemerintah Iran menyatakan bahwa reaktor nuklir di Iran bukan untuk kebutuhan persenjataan akan tetapi untuk sumber daya energi dan pengetahuan. Lantas apakah Amerika sendiri tidak memiliki reaktor nuklir? jika punya, mengapa dalam acara-acara atau forum-forum mengenai nuklir, selalu saja Iran yang disudutkan dengan keberadaan pengayaan uraniumnya.

Ini semua propaganda, dan propaganda paling bagus adalah melalui dalil-dalil teks agama, Fred Halliday mencontohkan gerakan Zionisme Israel yang bertujuan untuk mendirikan the Jewish State di tanah Palestina adalah termasuk gabungan dari kepentingan politik imperialisme yang disertai dengan dalil-dalil religius. Gerakan ini, bersumber dari buku Theodor Herzl berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi). Buku ini adalah salah satu teks terpenting dalam fenomena Zionisme awal. Kemudian Gerakan al-Qaeda yang dimotori oleh Osama bin Laden pada 1990-an, termasuk dalam gerakan religius yang juga memiliki tujuan politik. Bersama Aiman al-Zawahiri, seorang dokter bedah, ia menggerakkan perlawanan kepada Amerika Serikat berikut fatwa-fatwa yang sering dilontarkannya pada umat muslim dunia. Ia mendirikan World Islamic Front for the Jihad Against Jews and Crusaders (Front Islam Dunia untuk Jihad Melawan Tentara Salib dan Yahudi).

Zionisme dan al-Qaeda adalah contoh dari gerakan politik di wilayah Timur Tengah yang banyak dipengaruhi oleh motif ideologis. Gerakan Zionisme memberikan efek negatif bagi bangsa Arab-Palestina yang tergusur, terusir, bahkan terbunuh di tanahnya sendiri. Sementara itu, gerakan al-Qaeda juga memberikan efek kepada Amerika Serikat dan kepentingan hegemoninya di Timur Tengah melalui kaki tangan mereka, yaitu pemerintahan Israel.

Motif-motif ideologis –seperti kapitalisme, sosialisme, fasisme, populisme, dll- seperti inilah yang membuat negara dengan militer super hebat seperti Amerika tidak berkutik dan sangat gamang untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Logikanya jika Amerika bisa bertindak agresif di Afghanistan dan Irak, mengapa tidak demikian dengan embargo Israel terhadap Palestina di Gaza sana? Tentunya pemerintah Amerika mengetahui bagaimana efek yang ditimbulkan oleh tembok-tembok besar yang lebih tinggi dan lebih panjang dari tembok berlin bagi rakyat Palestina. Bahasa yang digunakan adalah hati-hati, sejak puluhan tahun lalu mereka juga selalu “hati-hati” atau dalam bahasa lain adalah membiarkan.

Kegamangan pemerintah Amerika juga sama gamangnya dengan pemerintah Indonesia, politik luar negeri yang katanya “bebas-aktif” malah terkesan menggantung atau membebek saja. Ketika PBB dan negara-negara dunia mengecam, maka ikut mengecam. Tapi apa seperti itu yang dinamakan bebas tidak memihak dan aktif mewujudkan perdamaian dunia?

Langkah diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia hanya ketika terdapat warga negaranya yang berada di tengah insiden konflik di negara tersebut, dan bisa jadi hal tersebut menjadi “masalah” bagi pemerintah Indonesia. Mungkin saja selain mengecam aksi militer Israel terhadap warga negaranya, pemerintah Indonesia juga akan “menasehati” para relawan seperti, “sudah nggak usah ikut campur permasalahan negara orang lain, di dalam negeri saja sudah banyak masalah.”

Dalam pidato 1 Juni, presiden SBY menekankan pentingnya wacana kebangsaan. Meskipun terdapat komunitas muslim sedunia, kristen sedunia, Tiong-Hoa sedunia, akan tetapi bangsa Indonesia harus lebih mementingkan kepentingan bangsa. Wacana no bordered states tidak boleh “dipelihara” dalam benak warga negara, walaupun perkembangan dan dinamika yang terjadi di zaman sekarang sudah memperlihatkan ke arah sana. Namun sepertinya SBY tidak menyadari bahwa ikatan emosional yang dibentuk oleh kesamaan latar belakang agama lebih erat ketimbang ideologi lainnya, dan hal tersebut yang diidap pula oleh mainstream muslim Indonesia.

The Lovely Bones bagi orang Islam bukan cinta kasih, tetapi ikatan ideologis yang bersumber pada ketundukan akan teks (al-Qur’an dan Hadis) yang dianggap memiliki otoritas mutlak sebagai representasi Tuhan dan Sabda Nabi. Ikatan itu yang menegasikan dan menepikan pancasila sebagai perekat keberagaman dan kemajemukan di Indonesia dengan slogan unity in diversity (bhineka tunggal ika)-nya. Saya jadi ingat ketika shalat idul Adha tahun lalu, sang penceramah berkoar-koar, “kenapa hanya karena tarian pendet, umat Islam di Indonesia rela mengganyang saudara seiman mereka di Malaysia? Bukankah terlalu konyol jika agama yang mulia ini dipecah-belah oleh lenggak lenggok aurat manusia yang diharamkan oleh al-Qur’an.” Bahkan sang penceramah jelas-jelas mengatakan bahwa agama sebagai ideologi tidak bisa digeser oleh ideologi atau isme-isme apapun seperti pancasila, dan sebagainya.

Saya mungkin menafikan gerakan Islam tradisionalis dan liberalis yang juga jumlahnya tidak sedikit, tetapi fenomena gerakan fundamentalisme agama yang menyusupi masjid-masjid dan pengajian-pengajian di tengah masyarakat juga telah menyebar kemana-mana. Hal itu pula yang membentuk the new paradigm di tengah umat Islam Indonesia saat ini, paradigma perjuangan umat yang menembus batas teritorial negara-bangsa. Simpati terhadap Palestina bukan sekedar simpati antara warga negara Indonesia kepada warga negara Palestina, akan tetapi simpati di sini adalah sebuah jihad dari muslim Indonesia sebagai the small Islamic tradition untuk mempertahankan kawasan Timur Tengah yang merupakan the great Islamic tradition dari dominasi dan hegemoni Barat.

survei saja ketika kejadian penyerangan Israel terhadap bantuan kemanusiaan beberapa hari lalu, banyak yang menyesalkan tragedi tersebut dengan alasan kemanusiaan tetapi lebih banyak orang Islam yang mengaitkan hal tersebut dengan dalil teks agama, bahwa umat Islam di seluruh dunia bersaudara (Innama al-Mu’minuuna ikhwatun, fashlihu baina akhawaikum wattaqullaha la’allakum turhamun), demikian pula dengan dalil bahwa orang Yahudi atau Nasrani akan terus menggerus umat Islam sampai beralih kepada ajaran, budaya, dan tradisi mereka (QS. Al-Baqarah: 120). Dan dalih tersebut dibawa pada setiap orasi dalam demonstrasi yang dihadiri ribuan orang. Artinya apa, mau tidak mau peran ideologi sangat signifikan dalam merangkai hubungan-hubungan internasional, baik pada level sebuah negara maupun tingkat lokal yaitu mainstream mindset yang berkembang di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s