Menyelamatkan Sri Mulyani Menggunakan Bank Dunia


Judulnya saya rasa tidak terlalu provokatif, tetapi ini hanya asumsi saya sementara saja dan siapa tahu bisa berubah. Saya tidak menafikan sosok Sri Mulyani yang katanya “cerdas”, “jenius”, “Pintar”-nya bukan main, karena sepak terjangnya dalam urusan finansial sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi ketika saya membaca adanya rencana Bank Dunia menjadikan Sri Mulyani sebagai managing director. Pikiran konspirasi saya berputar lagi. Apa ini bukannya salah satu langkah negosiasi politik rejim SBY atau manuver Sri Mulyani sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran pansus dan penyidik kasus Century?

Kasarannya, biar Sri Mulyani lengser dari kementrian keuangan karena ditarik oleh Bank Dunia, bukan akibat dari keterlibatannya dalam kasus century. Benarkah begitu? Tapi ini sekilas baru asumsi sederhana saya. Baik Century dan Sri Mulyani sendiri masih memainkan rangkaian episode panjang yang sangat stripping, tentunya jalan keluarnya tidak bisa didapatkan dalam waktu seminggu-dua minggu. Lalu bagaimana dengan sepak terjang Bank Dunia.

Kalau membaca bagaimana permainan Bank Dunia di Indonesia, tentunya para pakar dan pengamat lebih mengerti dan memahami intrik-intrik Bank Dunia untuk menjerat dan mencengkram Indonesia dengan berbagai macam policy, MoU, dan perjanjian-perjanjian lainnya. Bukan satu atau dua tahun Bank Dunia “bermain” di Indonesia, tetapi puluhan tahun, dan negeri kita pun tetap begini-begini saja. Utang ditukar kepentingan dan pinjaman ditukar dengan kemiskinan. Artinya ada harga mahal yang harus dibayar oleh rakyat Indonesia sampai tujuh turunan.

Ada pula mungkin yang lebih tajam dari saya yang berpendapat bahwa promosi Sri Mulyani sebagai Managing Director Bank Dunia adalah untuk melindungi Sri Mulyani sebagai agen para kapitalis dunia terbaik di Indonesia agar tidak diseret ke balik jeruji atas skandal century. Namun yang lebih miris lagi jika nantinya Sri Mulyani memang “pindah kantor” ke Bank Dunia, dan itu dianggap sebagai prestasi anak bangsa sementara kepergiannya meninggalkan lubang besar yaitu penyelesaian dari skandal kasus Century.

Apakah hanya karena World Bank menunjuk Sri Mulyani sebagai Managing Director lantas Kejeniusan Sri Mulyani di bidang finansial dan ekonomi adalah yang paling jenius di atas orang-orang Indonesia? Apakah pengakuan World Bank itu menjadi justifikasi yang legitimate untuk hal tersebut? World bank atau Bank Dunia adalah bagian dari the global order yang mendominasi sistem perekonomian dunia setelah perang dunia ke II, di mana kapitalisme menjadi pemenang dan semakin merajalela, maka tentunya Bank Dunia akan mensupport orang-orang atau tokoh-tokoh di belahan dunia yang sejalan dengan misi mereka. Lantas apa narasi besar ini bisa menjustifikasi rakyat Indonesia untuk bangga dengan “dicomotnya” Sri Mulyani sebagai bagian dari the global order yang distandarkan oleh mereka?

Toh, bagi saya, masih banyak orang-orang Indonesia yang lebih mempunyai kapabilitias melebihi Sri Mulyani dan memiliki integritas tinggi dengan sistem perekonomian Indonesia yang berbasis kerakyatan, meskipun mereka bertentangan dengan Bank Dunia. Jadi apa yang perlu dibanggakan dari sistem yang “mengintimidasi” Indonesia selama puluhan tahun? Mengapa Indonesia tidak bisa membangun sistem perekonomian yang tidak memposisikan bangsa ini dari menjadi “kacung” di negeri sendiri.

Mungkin orang-orang yang mendukung Sri Mulyani untuk segera “minggat” ke luar negeri berpendapat bahwa Sri Mulyani adalah manusia cerdas, jenius yang telah berupaya melakukan perubahan tetapi diperlakukan hina dina dan dihujat sana-sini. Saya katakan pada mereka, orang sekelas Soeharto itu kurang apa melakukan perubahannya bagi negara ini, tetapi ada sisi-sisi di mana rakyat menilai sesuatu hal atau fenomena yang terjadi di birokrasi telah bertentangan dengan rasa keadilan mereka, terutama pada permasalahan-permasalahan di bidang hukum. jadi kenapa harus dikatakan bahwa di Indonesia ini banyak rakyat tidak tahu terima kasih atau berbalas budi atau rakyat Indonesia diibaratkan sekumpulan orang terdiri hanya dari otak-otak yang sok tahu, sok pinter dan omong doang.

Katakan saja status hukum Sri Mulyani masih saksi, terperiksa, atau bahkan bukan dua-duanya. Tetapi mau tidak mau Sri Mulyani tetap harus stay di Indonesia sampai kasus Century benar-benar dituntaskan meskipun memakan waktu cukup lama. Karena ketika kasus Century digulirkan, Sri Mulyani-lah yang menjadi Menkeu di negara ini, mau tidak mau dia terkait dengan rentetan persoalan-persoalan seputar kasus Century. Atau mungkin setidaknya dia bisa stay sampai lembaga-lembaga penegak hukum dari Buaya sampai Cicak menetapkan status hukum Sri Mulyani. Bagaimana jika, misalkan, status hukumnya tiba-tiba ditetapkan naik tingkat sedangkan dia berada di luar negeri, pastinya penyelesaian kasus Century tambah berbelit-belit, karena tentunya Sri Mulyani akan menyiapkan manuver berikutnya untuk menyelamatkan diri lagi, seperti menggalang bantuan dari kolega-kolega asingnya untuk menekan proses penyelesaian kasus Century.

Negara ini bukan milik Sri Mulyani seorang, dan seorang Sri Mulyani bukanlah manusia super yang yang paling benar, yang terlindungi dari segala dosa dan kesalahan. yang tidak bisa diadili, yang tidak bisa terjerat kasus. Justru karena Sri Mulyani sama halnya dengan seluruh rakyat Indonesia yang hanya manusia biasa, maka seorang Sri Mulyani bisa saja terjerat atau terlibat dalam skandal Century, dan itu memang perlu pembuktian, makanya jangan sampai kepergian Sri Mulyani ke luar negeri meninggalkan lubang besar menganga pada penyelesaian kasus Century.

oleh: kupret el-kazhiem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s