Benarkah Hidup Ini Pilihan?


Siang hari ini ketika saya mampir ke sebuah netcafe, salah satu penghuni kabin sebelah yaitu dua remaja putri yang masih duduk di bangku sekolah. Bukan berniat untuk menguping, tetapi akibat sekat kabin yang tipis dan suara perbincangan mereka pun terdengar sampai ke kabin saya. Dari perbincangan mereka saya mengetahui bahwa mereka tengah membolos sekolah. Saya juga mendengar keluh kesah dan kepasrahan mereka seakan telah mengetahui bahwa mereka tidak akan pernah naik kelas. Sebetulnya bukan itu yang paling mengejutkan, bagian terpenting adalah saat mereka membicarakan hal yang dulu ketika saya masih seumuran mereka adalah sesuatu yang tabu, apalagi kalau bukan seputar seksualitas.

Mereka mengatakan bahwa ketika naik kelas nanti akan diajar oleh seorang guru yang mana telah menjadi rahasia umum di antara siswa bahwa guru itu suka mencabuli siswi-siswi perempuan. Tapi mereka tidak membicarakan soal bagaimana melaporkan si guru ini, akan tetapi malah berkata, “siap-siap aja lu ilang perawan lu.” dan dari perbincangan selanjutnya mereka pun sudah mengenal berbagai macam alat kontrasepsi, tetapi yang fokus menjadi pembicaraan mereka adalah seputar kondom. Mereka membicarakan sebuah berita yang katanya di Indonesia sudah ada kondom untuk kaum perempuan.

Saya tidak tahu apakah di tingkat SMU, banyak remaja yang tingkah laku dan pembicaraannya seperti mereka dan saya pun tidak akan menjustifikasi mereka sebagai manusia yang amoral atau nakal atau segala macam sebutan yang biasanya disematkan oleh lingkungan masyarakat kepada contoh-contoh perilaku seperti mereka.

Tapi mari kita lihat mereka dari sebuah adagium sederhana bahwa “hidup itu adalah pilihan“, salah satu lawan dari teori ini adalah filsafat yang mengatakan bahwa hidup adalah ijbar Tuhan, yakni aliran filsafat yang mengatakan bahwa hidup tidak lebih dari infiltrasi dan intervensi bahkan represi Tuhan kepada manusia, jadi apa yang dilakukan manusia sesungguhnya paksaan dari kehendak bebas Tuhan kepada manusia. Manusia makan, minum, tidur, atau membunuh sekalipun tidak akan pernah terlepas dari kehendak bebas Tuhan. Manusia diibaratkan seperti Puppet atau boneka tali yang gampang digerakkan ke sana kemari oleh penciptanya.

Lalu pendapat selanjutnya adalah teori penangguhan yang membebaskan manusia berbuat sesuai kehendak mereka di dunia akan tetapi segala perbuatan itu ditangguhkan hingga hari persidangan (Judgement Day) ketika kiamat tiba, dimana semua amal perbuatan ditimbang dan dihitung kebaikan dan kejahatan yang pernah dilakukan oleh manusia. Ibarat ikan yang baru ditangkap dari lautan lalu dikilo di pelabuhan untuk dibandrol harganya sebelum dilemparkan kepada para distributor atau konsumen. Demikian pula dalam teori ini, sebelum masuk ke surga atau neraka atau sebelum melalui hari perhitungan, maka manusia dibebaskan melakukan apa saja di dunia.

Pendapat selanjutnya adalah teori yang mengcounter kedua teori di atas, menurut pendapat ini meskipun manusia bebas melakukan apa saja di dunia akan tetapi tak pernah terlepas dari pengawasan Tuhan, karena Tuhan pun memberikan ganjaran kepada manusia baik di dunia sekarang saat manusia masih hidup ataupun saat akhirat nanti. Jadi agar di dunia selalu mendapat ganjaran yang baik maka manusia harus mematuhi sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan akan kebaikan dan kebenaran.

Akan tetapi kemudian muncul teori yang mempermasalahkan pandangan ini, yaitu mengenai kebenaran Tuhan. Tidak ada satupun manusia yang sanggup menginterpretasikan kebenaran Tuhan dan memegang kebenaran Tuhan. Kalaupun dikatakan bahwa terdapat agen-agen Tuhan yang membawa risalah kebenaran Tuhan, akan tetapi agen-agen itu di masa sekarang telah meninggal dunia, oleh karena itu manusia bebas menginterpretasikan risalah kebenaran itu sendiri seperti apa. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana jika seorang manusia yang membunuh manusia lain mengatakan bahwa dirinya benar karena itulah interpretasinya terhadap kebenaran dan hal-hal yang diyakini adalah benar. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para pendukung teori ini berargumen bahwa membunuh bukanlah sesuatu yang dibenarkan atau berasal dari risalah kebenaran Tuhan karena yang sejati dari risalah kebenaran Tuhan adalah kedamaian, maka muncul gagasan hak-hak asasi manusia, salah satunya adalah hak untuk hidup. Jadi hidup itu sendiri merupakan landasan hak bagi manusia. Baru kemudian ada hak-hak lain seperti hak untuk tidak dianiaya, tidak disakiti, tidak dirampas haknya, sampai persamaan hak-hak umat manusia sendiri.

Lalu bagaimana dengan hidup adalah pilihan? ketika manusia-manusia saling membentuk sebuah jaringan sosial dan diikat oleh mekanisme yang disebut organisasi maka tiap-tiap individu itu tergabung dalam suatu sistem yang bisa disebut komunitas, sistem sosial, masyarakat, atau bahkan negara, makanya ada sebagian filsuf yang berpendapat bahwa negara sejatinya jaringan mekanisme yang sangat kompleks dari individu-individu, komunitas, alam, dan lain-lain. (saya menggolongkan sosiolog juga ke dalam filsuf secara sosiologi menurut Comte adalah filsafat tentang manusia dan pola interaksinya.)

Ya, saat komunitas-komunitas semakin mengakar sebagai sistem sosial, maka akan menekan individu dan kemudian timbullah (dalam bahasa Durkheim) sentimen komunitas yang mendistorsi kebebasan individu dan hak-hak individu. Sentimen komunitas menjadi sesuatu yang transenden dan harus diamini oleh individu-individu sebagai bagian terkecil dari sistem sosial. Oleh karena itu argumentasi bahwa hidup adalah pilihan kembali naik ke permukaan agar terdapat counter bagi para pemuja sistem sosial di zaman modern yang telah bergerak menuju proses unifikasi atau penyeragaman, konformitas dan totaliterianisme.

Sekarang mari kita kaji kedua anak remaja putri itu dengan kacamata “hidup adalah pilihan”, kita bisa mengatakan bahwa kedua remaja itu mempunyai pilihan, bahkan banyak sekali pilihan. Seperti pilihan untuk membolos atau tidak membolos. Pilihan untuk mengakses internet atau tidak, pilihan untuk membicarakan seks atau bukan seks. Atau mungkin juga pilihan untuk melepaskan keperawanannya atau tetap menjaganya. Semuanya pilihan, yang lebih ekstrim seperti Dostoievsky bahwa manusia dapat memilih untuk mematikan hidupnya. Lantas mengapa hal tersebut adalah pilihan dan mengapa hidup itu pilihan, karena hidup adalah pencarian untuk menemukan “butir terdalam” yang mana bagi Dostoievsky adalah “Kehendak Diri”. Mengapa manusia terjerembab dalam ketidakbahagiaan, kemiskinan, kesusahan, hal itu dikarenakan manusia memilih untuk tidak mengekspresikan kehendak dirinya, untuk bangkit dari semua keterpurukan, manusia harus mengekspresikan kehendak dirinya.

Namun secara internal manusia sangat mudah ditimpa rasa takut, takut membuat pilihan dan menjalankannya. Secara eksternal tekanan dari sistem sosial juga membuat manusia tidak sanggup membuat pilihan. Kembali ke remaja putri tadi, bayangkan saja andaikan mereka membuat pilihan untuk melepaskan keperawanannya, mereka pun akan mendapatkan tekanan dari sentimen komunitasnya. Berbagai cercaan bertubi-tubi datang, atau contoh lain adalah seorang anak yang ingin menjadi musisi dan ternyata sentimen komunitas di keluarga si anak itu, baik dari yang terdekat, keluarga besar hingga satu kampung, menganggap bahwa musisi adalah pekerjaan yang prospeknya tidak jelas, dan duit yang dihamburkan untuk meraih penghasilan materi juga tidak sedikit, ditambah lagi pergaulan antar musisi yang kadung mendapat stigma buruk dan tercela. Maka pilihan anak tadi akan berbenturan dengan sentimen komunitas di sekitarnya.

Selama ini saya masih menganggap bahwa hidup itu adalah pilihan tetapi sejauh yang bersifat individual, misalkan saya dapat memilih untuk menikmati pornografi sendirian di kamar atau tidak sama sekali, atau saya memilih untuk merokok sendirian di kamar tetapi saya masih takut untuk merokok di dalam angkutan umum, apalagi ketika sekarang ada perda larangan merokok di tempat umum. Mau tidak mau undang-undang atau doktrin hukum juga merekayasa sentimen komunitas, maka saya tidak mau terjadi benturan. Nah, sekarang mari kita tanyakan lagi pada diri kita, apakah hidup itu pilihan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s