Bangsa Aji Mumpung


Saya kadang heran juga, dulu ketika kasus Bibit Candra, banyak sekali orang yang menghujat Susno. Terus ketika Susno membongkar si markus Gayus, tidak sedikit pula yang memuji keberaniannya. Kemudian ketika ada beberapa dana mengalir ke rekening Susno dan ternyata si Mr. X yang katanya berinisial SJ itu paling dekat dengan Susno di Mapolri, masyarakat kembali lagi dibawa ke arah tebak-tebakan; jangan-jangan pengakuan Susno itu bagian dari konspirasi. Saya melihat bangsa ini betapa sangat mudah terombang-ambing berita, masyarakat seperti dibiarkan masuk dalam ranah abu-abu yang sangat perlu sekali melakukan sebuah dekonstruksi, padahal bangsa ini belum siap melakukan itu. Contohnya saja betapa masyarakat kita paling cepat untuk menyimpulkan sesuatu, tergesa-gesa meneriakkan suara antara kebenaran dan kesalahan, lalu kemudian lekas melupakannya. Dengan mudah pula setiap isu, berita, dan wacana digandrungi, lalu sangat mudah beralih atau mengalihkan ke isu lain.

Pola pikir kita dibiarkan melompat-lompat di atas eforia. Ketika headline kasus century merebak, rasanya bangsa ini seperti menunggu-nunggu keadilan yang kemudian meletup sekejap saat rapat paripurna, ketika anggota parlemen bertarung antara A dan C. Setelah itu kempis lagi, diganti dengan pengakuan Susno, masih merindukan eforia yang seakan diberikan oleh skenario penangkapan Gayus. Lalu redup lagi, beruntung masih ada Mr. X yang memeriahkan suasana, atau berita tentang panggung selebriti pindah ke panggung politik, atau berita tentang perempuan punya anak sebelum menikah, atau janda yang merebut suami orang, campur aduk semuanya di dalam kotak bernama televisi.

Tapi kalau kembali pada kasus Gayus atau makelar kasus, sebenarnya saya pikir sosok Gayus yang seperti itu adalah biasa di negeri ini, jumlah uangnya juga tidak seheboh Century, akan tetapi yang membuat headline kasus Gayus santer adalah para oknum dari pelbagai instansi yang terkait di dalamnya serta aksi “heroik” Susno. Sebenarnya mungkin ketika menonton televisi, rakyat tidak terlalu memahami dan mengikuti sampai di mana atau mau dibawa ke mana kasus itu berakhir, bahkan tidak mau tau ada follow up yang dilakukan satgas mafia hukum atau polisi atau kejaksaan. Rakyat hanya butuh eforia, dan satu lagi keabsahan dari pendapat mereka; bahwa selama ini pejabat tak lebih dari orang bejat dan pengkhianat.

Saya pikir itu, tapi takutnya saya menggeneralisir kata ‘rakyat’ dan ‘pejabat’, tapi coba renungkan sendiri, seperti apa kadar nasionalisme atau -jangankan nasionalisme- kecintaan kita kepada negara ini. Mungkin seratus prosen pun tidak, apalagi jika yang menjadi tolak ukur kita adalah kacamata realitas empiris dari polah dan tingkah pejabat serta aparatur negara. Kita juga tidak benar-benar mengakui jika kadang kita sendiri bertingkah seperti Gayus. Contohnya saja ketika kita punya saudara atau sahabat atau bahkan pasangan, yang mana mereka bekerja di instansi pemerintahan, pasti kita mengharapkan bisa “kecipratan” mendapatkan materi yang tidak sedikit, salah satunya dari tender yang tentunya lewat orang dalam meskipun “iklannya” dibuka untuk umum.

Ketika kita sudah mendapatkan tender, kita pun menaikkan harga, mengubah kuitansi, dan segala macam cara kita mengakali birokrasi serta prosedur yang lagi-lagi atas kerjasama diri kita dan pihak-pihak lain termasuk si “orang dalam”. Kita akui sajalah keterlibatan kita sebagai “makelar” atau “broker”, misalnya kalau kita punya saudara seorang polisi, kadang mungkin kita suka bertindak sebagai makelar untuk penjualan barang bukti. Memangnya barang bukti dijual? kan bukannya seharusnya dikembalikan kepada pemiliknya? Tetapi mau mengambil barang bukti kadang menebusnya pakai duit, apalagi kalau kendaraan bermotor. Dan bagi yang lebih rela agar motornya selalu “diamankan” dalam gudang oleh kepolisian ketimbang memberi duit beberapa ratus ribu, mereka tidak mau susah payah mengurusnya. Barang-barang yang disimpan ini akhirnya menumpuk sementara gudangnya tidak muat, maka buat apa lagi kalau tidak dilelang atau dijual. Mumpung dapat duit, kenapa tidak?

Ya, bangsa ini juga bangsa aji mumpung. Semua dimumpungin. Mumpung hari raya, harga tiket naik, paling enak jadi calo. Harga bahan pokok pun naik, mumpung tahun baru. Padahal kenaikan gaji pun tidak selalu diperbaharui. Kalau pun sudah diberikan kenaikan gaji dan sekian remunerasi, akan tetapi tetap saja kita suka mengeluarkan jurus “aji mumpung” ini untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Macam-macam dalihnya, kalau misalnya seorang pendakwah yang koar-koar di televisi dan pengajian serta mimbar-mimbar khutbah biasanya berdalil, “Tujuannya untuk berdakwah tetapi kalau Tuhan memberikan rezeki kenapa harus ditolak, mumpung ada yang berjiwa besar.” Tapi tetap saja mumpung dan mumpung, kita terus mengejar si aji mumpung ini. Seorang sahabat sampai membuat kalkulasi kasar, bayangkan jika seorang pendakwah dalam setiap pertemuan dibayar 250 ribu rupiah, lalu dia mencari “lahan basah” itu setiap minggu empat kali pertemuan, berapa yang dia terima dalam sebulan. Lalu bagaimana yang tampil di televisi dengan bayaran 1-2 juta per episode?

Ckckck… (mirip cicak), kita terus mengejar mumpung-mumpung ini dan tak mau berhenti meskipun kita menyadari apa yang sedang dilakukan, kita berlindung dibalik topeng krisis ekonomi dan menafkahi keluarga, tapi apa kabar dengan “saling berbagi?”. Bahkan bisa saja istilah “saling berbagi” dijadikan acara untuk aji mumpung lagi mencari popularitas serta membuat drama reality show agar digilai dan mendapat rating tinggi. So what?!! Makanya saya pikir, tidak perlu berlebihan menghujat Gayus, karena dia juga manusia yang sama dengan kita, dan bukan mustahil atau bahkan tanpa kita sadari kita sedang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Gayus.

Selama nalar kita masih nalar aji mumpung, maka sekalian saja basah masuk ke kolam. Oya by the way ketika saya sedang menulis kontemplasi ini di sebuah warnet, dua orang pesinden waria memasuki ruangan dengan menggoyangkan pinggulnya sembari membawa kantong plastik yang diedarkan ke seluruh meja, “Mereka terhimpit keadaan alias terpaksa atau aji mumpung ya?” pikir saya. Lalu ketika pulang sampai kamar saya teringat sebuah perkataan Nabi bahwa manusia itu mahluk yang pelupa dan suka berbuat salah (terjemah bebas dari al-Insan, makkaan al-Khata’ wa al-Nisyaan). Sepertinya mungkin Nabi juga lupa jikalau selain dua yang di atas, manusia juga suka aji mumpung.

kupret el-kazhiem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s