Sikap Jumud Neo-Salafisme di Acara Pernikahan


Hari ahad saya menghadiri acara pernikahan kawan saya, karena datangnya terlalu cepat jadinya saya ikut menghadiri prosesi akad nikah. Kemudian saya duduk di kursi tamu undangan. Orang yang di samping saya ini dari awal sampai akhir menggerutu bahwa sepanjang acara pernikahan ini adalah telah melakukan bid’ah, berarti kalau bid’ah, itu tandanya melakukan kesesatan.

Saya langsung familiar dengan orang-orang jumud, katrok semacam orang tersebut. siapa lagi kalau bukan kelompok salafi, wahabi, atau puritan. Biasalah yang jadi kritikan adalah seperti tidak ada hijab dan ikhtilath, karena tamu pria dan wanita tidak ada pemisah yang berupa tabir dan undangan-undangan lainnya pun tidak disediakan tempat duduk sehingga untuk menikmati hidangan mereka harus berdiri. Kemudian pakaian pengantin perempuan yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh serta jilbab yang menurutnya bukan bentuk jilbab yang benar. Dia juga mengkritisi adat daerah yang dipakai.

Inilah sikap jumud orang-orang salafi, memangnya adat apa yang harus dipakai? adat orang-orang Arab? Saya sendiri pernah menghadiri acara pernikahan kawan lainnya yang keturunan orang Arab, adatnya pun berbeda-beda. Bahkan ada yang memakai tari-tari perut segala sebagai hiburannya. Sedangkan di pagi itu, kawan saya hanya memakai acara seserahan sebagaimana adat Jawa. Lalu adat Islam seperti apa? seperti cara Rasul menikah, namun dalam literatur sejarah yang digambarkan hanya bentuk-bentuk normatif dan bukan secara detail protokolernya seperti apa. Saya rasa pernikahan kawan saya bukanlah sesuatu hal yang sesat jika hanya memakai adat Jawa. Dan kemudian ketika akad nikah, dia juga mengkritisi pemakaian kalimat yang bukan bahasa Arab, sedangkan rasul mengucapkan akad nikah dengan bahasa Arab. Lagi-lagi saya menggelengkan kepala.

Adapun untuk persoalan makan berdiri, saya tidak mau membahasnya terlalu jauh ke ranah kaidah-kaidah hukum Islam (Ushul Fiqh). Orang-orang neo-salafi ini sangat suka mengangkat hadis mengenai larangan minum sambil berdiri dan menganalogikannya dengan makan. Hadis ini ada yang menilai dha’if (lemah), tetapi ada pula yang memasukkannya sebagai hadis Shahih. Tetapi karena mereka mengikuti metodologi Hanbali, bahwa hadis dha’if pun sangat diterima ketimbang penggunaan nalar atau akal. Maka saya juga akan menggunakan hadis yang sering dinilai dha’if. Yaitu yang diriwayatkan oleh Ali ibn Thalib, bahwa suatu saat dia ditegur oleh seorang sahabat ketika dia sedang minum sambil berdiri, kemudian apa yang menjadi jawaban Ali? Dia menjawab: “Aku minum sambil duduk karena melihat Rasul minum dengan duduk, dan aku minum sambil berdiri karena melihat Rasul minum sambil berdiri.”

Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya terdapat persoalan-persoalan kasuistik yang patut dilihat dalam menetapkan hukum. Ketika hukum Islam dibaca dengan peradigma literalis semata, maka permasalahannya akan menjadi runyam. Saya juga pernah dikritik soal cara makan saya tidak mengikuti sunnah (katanya) sebagaimana yang pernah saya tulis di blog saya. Kemudian saya juga pernah dikritik bahwa Rasul makan dengan tiga jari, sedangkan saya dengan lima jari. Saya hanya menjawab secara sederhana bagi orang-orang yang suka sekali copy paste ini. Yaitu dulu Rasul makannya roti, bukan nasi. Ya jelaslah dia bisa makan pakai tiga jari, sedangkan saya sendiri sebagai orang Indonesia yang terbiasa makan nasi, saya merasa tidak bisa makan pakai tiga jari. Entah jika ada orang-orang Indonesia lain yang bisa makan nasi pakai tiga jari daripada lima jari.

Kemudian soal pakaian perempuan, hijab, ikhtilath, dan sebagainya, yang menurut saya tidak perlu menjadi persoalan. Apakah hanya karena pakaian-pakaian ketat itu dan tanpa hijab itu, maka nafsu syahwat kita serta merta timbul dan kemaluan kita berdiri? Saya sendiri sebagai laki-laki tidak pernah mengalami itu. Unifikasi hukum Islam tanpa melihat konteks serta fenomena masyarakat seperti gerakan-gerakan neo-salafisme itu, sebenarnya telah mendiskreditkan serta mengerdilkan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, yang mana jika Islam merupakan patokan ideal bagi umat manusia, maka semestinya Islam pun harus benar-benar membumi di tengah kondisi sosial yang melingkupinya.

One thought on “Sikap Jumud Neo-Salafisme di Acara Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s