Klaim Keagamaan


Beberapa hari lalu setelah lebaran ketika saya sedang menonton televisi, ada suatu acara dimana seorang presenternya yang notabene beragama Kristen tampil dengan memakai sarung dan kopiah kupluk berwarna putih serta kemeja putih. Tiba-tiba saja sahabat saya menyeletuk mengapa orang Kristen -si selebritis- itu memakai pakaian orang Islam. Saya segera memberikan tanggapan, saya menyebut dirinya sedang melakukan klaim keagamaan, padahal untuk memakai sarung dan kopiah kupluk tidak mesti seseorang itu harus beragama apa.

Saya memberi contoh begini, selama ini orang Indonesia menganggap bahwa pakaian jalabiyah atau jubah panjang yang sering dipakai orang-orang Arab adalah pakaian seorang muslim. Padahal di jazirah arab sana, di negara manapun, para rahib/rabbi Yahudi dan orang Yahudi Arab pun berpenampilan sama seperti layaknya orang Islam, memakai jubah dan berkopiah kupluk. Demikian pula Baba/pendeta Kristen dan umat Kristennya, mereka juga berpakaian sama seperti umat Islam. Orang Indonesia terlanjur berpikir semua orang Arab beragama Islam, sehingga apapun yang dipakai mereka diklaim sebagai identitas agama. Padahal pakaian-pakaian itu hanya tradisi bangsa Arab sejak zaman dahulu kala sebelum lahirnya Muhammad saw.

Kemudian pakaian-pakaian itu ditiru oleh orang Indonesia yang nota bene merasa telah mengikuti Rasul dengan copy paste bentuk pakaian. Pola pikirnya pun ikut terbawa arus, yaitu pola pikir “Klaim Keagamaan.” dan the impact is rame-rame orang muslim -seperti sahabat saya- itu merasa “gerah” dan “marah” ketika pakaian semacam sarung, kopiah, jubah, dipakai oleh orang-orang non-muslim. Saya pikir ini suatu bentuk kebodohan yang mudah untuk dimanfaatkan oleh golongan-golongan tertentu yang hendak mendoktrin serta mengajak orang lain untuk masuk dalam kelompok-kelompok mereka.

Saya teringat dengan realitas masyarakat Arab yang saya temui di Saudi dan Mesir, mereka sangat getol menunjukkan pakaian dan atribut di badan mereka sebagai simbol agama, tetapi perilaku mereka banyak tidak mencirikan nilai-nilai substansial dari agama itu sendiri. Ketika orang-orang Indonesia yang menjadi jamaah haji pergi ke Mekkah dan Madinah, di sana mereka disuguhi sebuah lingkungan yang sepertinya penuh dengan kesungguhan menutup aurat, dimana-mana orang memakai jubah dan perempuannya bercadar. Tetapi mereka tidak tahu apa yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri.

Berapa banyak orang menjadikan simbol-simbol itu hanya sebagai kedok belaka, mereka menyiksa pembantu-pembantu mereka, memperkosa, menganiaya dan bahkan banyak yang mengambil paspor-paspor TKW Indonesia agar tidak membayarkan gaji yang semestinya didapat. Pakaian jubah dan cadar juga berguna untuk menyembunyikan pelacuran terselebung, itu faktanya yang terjadi ketika seorang wanita pernah menawari saya bersenggama dengan bayaran 50 real dari balik cadarnya, dan itu pula yang dialami oleh mahasiswa-mahasiswa lain di sana. Tapi mereka tidak membawa cerita itu ke Indonesia, karena di negeri ini simbol-simbol itu sangat dikultuskan. Begitu hebatnya pengaruh klaim keagamaan sehingga dapat menyilaukan mata orang-orang Indonesia yang tertutup wawasannya dari dunia luar seperti ini. Coba mereka berjalan-jalan keluar dari Mekkah dan Madinah, seperti ke Riyadh dan Jeddah, mereka akan melihat realitas bahwa orang Arab pun tak lagi sepenuhnya menjaga tradisi berpakaian mereka lagi.

Sekarang tinggal bagaimana kita dapat memberikan penilaian seutuhnya terhadap pola pikir melenceng ini, “Klaim Keagamaan.” yang saya pikir sebenarnya sangat merugikan orang Islam itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s