Melawan Sikap Represif Pemerintah yang Menjerat Rakyat


Sikap Represif Pemerintah SBY nampak dari penarikan buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century yang lekas menghilang dari pasaran usai SBY menyatakan ketidaksukaannya.

Dari dulu pemerintah kita menerapkan politik anti subversif, dengan alasan menciptakan stabilitas nasional, akhirnya setiap elemen, entitas, organisasi, institusi masyarakat yang berupaya memberikan penilaian, deliberasi dan kritik terhadap pemerintahan akan ditanggapi secara represif. Tak jarang pula pemerintah menggunakan elemen masyarakat itu sendiri untuk melancarkan tindakan koersifnya pada setiap individu, dan akibatnya kultur beroposisi tidak terbangun di negeri ini, karena mereka-mereka yang berusaha menumbuhkan hal tersebut justru akan termajinalisasi.

Ketika masyarakat Indonesia harus menanggung hutang sampai tujuh turunan, mari kita pikir-pikir baik-baik, itu ulah siapa kalau bukan mereka-mereka yang menjalankan pemerintahan negeri ini. Lalu mengapa kita tidak boleh mengkritik lembaga atau perorangan dari mereka, bahkan orang yang disebut presiden republik itu sendiri. Karena kita tak terbiasa dengan kultur beroposisi, tidak terbiasa dengan keanekaragaman wacana dalam kehidupan sehari-hari, maka setiap wacana, pemikiran, buku, penelitian, tulisan dan suara dari rakyat akan dihadapi oleh pembredelan, penarikan, penculikan dan penghilangan. Sedangkan mereka hanya bisa beretorika seolah telah menjamin kebebasan berpendapat di negeri ini. Apa kita terus diam menyaksikan kamuflase birokrasi tanpa melakukan apa-apa, atau hanya pasrah, atau malah apatis?

Tulisan ini bukan hanya untuk membela sikap pemerintah terhadap buku semacam Membongkar Gurita Cikeas, tetapi juga kepada penulis-penulis yang kritis terhadap pemerintah atau orang-orang yang menjalankan pemerintahan tersebut; sebut saja Tan Malaka, Soe Hok Gie, Pramoedya Ananta Toer, Wisnu Kencana, dan masih banyak yang lainnya. Paling minim mereka mendapatkan intimidasi, siapa lagi kalau bukan dari pemerintah, lha wong tulisan-tulisan mereka itu banyak yang mengkritisi pemerintah, bahkan sebagai corong oposisi. Apa kita akan tetap terus begini?

Dalam setiap kesempatan pemerintah selalu menggembar-gemborkan sikap bersahabat mereka dengan rakyat, mereka merasa membutuhkan rakyat dalam membangun negeri ini. Tetapi apa yang mereka butuhkan? Tidak jauh dari dua hal pastinya, suara ketika pemilu dan satu lagi yaitu uang alias pajak. Selebihnya apa mereka membutuhkan masyarakat? Jawabannya adalah tidak. Mereka tidak pernah tuntas membereskan kasus, program mensejahterakan malah justru menyengsarakan, kadang malah berhenti di tengah jalan, tak jarang pula mereka menganiaya masyarakat demi kepentingan asing dan pemodal besar. Dengan dalih statistik dan survei yang tentunya bisa dimanipulasi, kemudian dibuatlah undang-undang dengan asal-asalan, mereka berani mengkhianati legitimasi yang telah diberikan oleh rakyat.

Memangnya siapa mereka? Apakah orang-orang di pemerintahan itu adalah para malaikat wakil Tuhan? Punya kuasa apa mereka jika tanpa rakyat. Mereka-lah yang seharusnya menjilat sepatu kita, bukan kita yang menghamba pada mereka karena diiming-imingi mimpi dan bualan tentang kesejahteraan dan uang. Hutang negeri ini saja sudah ratusan trilyun, semestinya kita lebih bisa berpikir logis sehingga bujuk rayu uang dan janji-janji muluk itu tidak lagi bersarang dalam akal sehat kita.

Sementara itu mereka juga tidak membiarkan rakyatnya cerdas, mereka bilang sistem Ujian Nasional adalah sistem terbaik untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi mereka menutup mata dengan siswa-siswa di pelosok pedalaman yang masih tersendat untuk membaca, apalagi mengerjakan matematika, dsb. Perhatian mereka terhadap fasilitas dan tenaga pengajar juga kurang, kemana larinya duit-duit yang seharusnya digunakan untuk mencerdaskan generasi ini. Atau apakah sebetulnya pemerintah sengaja membiarkan rakyat negeri ini bodoh agar tidak ada orang-orang brilliant yang bisa menulis buku penuh lembaran kritikan pedas yang memekakkan telinga. Anggaran 20 prosen pendidikan hanya sebatas di atas kertas, sejatinya hal itu adalah omong kosong!!

Dengan dibungkamnya masyarakat dari kultur oposisi, apakah rakyat negeri ini mampu bertahan melawan arus pragmatisme modern? Pemerintah seolah membiarkan wabah ini menjangkit di masyarakat, karena pada dasarnya mereka membutuhkan situasi demikian, situasi dimana rakyat hanya bisa termangu, terpesona, apatis, dan diam terhadap pemerintah. Lalu mereka akan menutupinya dengan, sekali lagi, menggunakan istilah stabilitas nasional.

Menjauhi pragmatisme, itulah sikap dan mindset dasar bagi seorang oposan. Pragmatisme berarti membiarkan hidup kita ditelan oleh siklus rantai makanan yang lebih besar dari sekedar piramida berundak. Kita lahir dengan bebas, dijejali makan, menikah, berkeluarga dan mati, tetapi dibalik itu semua sebenarnya kita hanya bekerja atau berada di barak kerja rodi, sebab di negara ini kita dipajaki sampai mati. Ketika kita berkata biarlah mereka yang mengatur kita, maka bersiaplah mengangguk saat peraturan yang mereka buat membinasakan kita. Itulah pragmatisme, dan seorang oposan tidak membutuhkan hal tersebut. Kita hidup untuk menggiatkan wacana, membangun argumentasi, dan membela yang termarjinalisasi.

Kita tidak berpolitik, mereka yang berpolitik untuk menjerat para oposan. Kita tidak membuat kekacauan, mereka justru yang melakukan menekan dengan kekerasan. Kita hanya menulis wacana, di surat kabar, dalam puisi dan prosa, dalam epik dan cerita, dalam media elektronik, mural dan ruang publik lainnya. Kita tidak tahu esok hari tulisan kita akan diapakan, bisa jadi dibredel oleh pemerintah, atau malah kita sendiri yang dicekal untuk menulis melalui putusan pengadilan. Semua itu bisa terjadi, tetapi para oposan tetaplah oposan sampai mati. Sampai semua jerat gurita ini terangkat.

oleh: kupret el-kazhiem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s