Idealitas Agama dan Manusia


oleh: Kupret el Kazhiem

Ketika saya sedang menyaksikan siaran berita salah satu stasiun TV Nasional, tiba-tiba saya dikejutkan dengan sebuah berita pemerkosaan yang dilakukan oleh tiga orang oknum polisi Syariah di Aceh. Berikut kronologinya; si korban yang masih belia tengah berjalan-jalan dengan pacarnya, kemudian seorang polisi syariah menangkapnya dengan alasan telah berkhalwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis. Mereka pun digelandang ke kantor polisi syariah, ketika di sana polisi meminta tebusan agar keduanya dibebaskan, dan si pacar diizinkan pulang ke rumah untuk mengambil uang. Tetapi ternyata lelaki pacar si gadis tak kunjung datang sampai malam. Lalu seorang polisi mendatangi sel dan merayu si gadis agar mau melayaninya sebagai ganti uang tebusan, si gadis menolak namun dua orang polisi lainnya lekas menghampiri, membekap dan memperkosa gadis tersebut. Saat ini korban trauma dan mengalami pendarahan.

Saya seringkali mendengar dan membaca argumentasi orang-orang yang sangat suka mengelu-elukan formalisasi syari’ah yang berujung pada pembentukan negara Islam. Nampak terlihat betapa mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan gagasan-gagasan ideal, sebuah messiah juru selamat bagi bangsa ini. Akan tetapi ketika terjadi suatu fenomena yang mencoreng apa yang mereka anggap ‘sempurna’ atau paling terbaik, maka mereka akan berdalih dan menuding kepada oknum-oknum. Mereka menuding kepada manusia sesama mereka, anehnya mereka seakan tak merasa diri mereka manusia yang sama pada si pembuat cela tersebut, yang sewaktu-waktu dapat terjerumus melakukan hal yang sama. Mereka seolah menjelma menjadi malaikat tanpa menyadari dan memandang kepada apa yang selama ini mereka anggap dan pahami benar, sakral dan transendental. Inilah manusia, saya juga manusia, yang terkadang lupa terhadap sesamanya. Mungkin memang sudah fitrah manusia untuk menjadi otoriter ketika merasa dekat dengan otoritas Tuhan di Bumi, yaitu teks-teks agama.

Sebenarnya tidak perlu menunjuk kepada sistem syari’ah, sistem apapun di dunia akan selalu dianggap ideal oleh manusia, seperti demokrasi, monarki, fasis, aristokrasi, meritokrasi, dsb. Karena angan-angan atau cita-cita manusia akan idealitas, keselamatan, orientasi dan tujuan yang sudah terbentuk menjadi pola pikir sejak dilahirkan. Padahal gagasan-gagasan atau ide-ide itu belum tentu seideal yang diharapkan. Dari masa ke masa, sistem-sistem tersebut akan terus berubah dan mengalami inovasi, evaluasi dan kritik, artinya sebuah proses yang ‘terus menerus menjadi’. Tetapi sadarkah kita jika sesungguhnya yang membuat sebuah proses terus berproses adalah diri kita sendiri, adalah jenis kita sendiri sebagai penghuni bumi ini, yaitu manusia.

Karena kitalah –manusia– bumi ini terus berevolusi, segala isinya baik yang fisik atau metafisik, dunia ide atau praksis terus bergerak, dinamika itu mengisi setiap sisi historis umat manusia, sehingga pada hakikatnya sesuatu yang ideal, yang tetap di dunia ini adalah nisbi. Bahkan perubahan itulah keabadian sejati. Hanya Tuhan yang tahu akhir dari semuanya, atau bahkan tidak akan ada hasil akhir, yang adalah proses dan proses. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kiamat nanti, apakah Tuhan akan membangun dunia baru, semesta yang berbeda dari semesta kita? Kita tidak pernah tahu, oleh karena itu kita harus menyadari bahwa hakikat hidup ini adalah sebuah proses tanpa henti.

Maka yang ada di sekeliling kita; alam yang menjadi sumber komoditas, lingkungan yang membuat dinding imajiner, keluarga yang mempercantik isinya, tatanan masyarakat yang memberikan sekat-sekat, moralitas universal yang membatasi keinginan pribadi, perbedaan-perbedaan yang harus kita hargai, sistem-sistem negara dan undang-undang yang mendominasi. Semuanya itu adalah bagian dari sebuah gerak dan perubahan.

Tidak ada yang ideal di dunia ini, tapi tanpa gagasan-gagasan ideal itu hidup ini pun menjadi hampa, karena itu kita harus merangkainya dengan warna. Warna apapun yang hendak kita berikan pada dunia, baik kelam atau cerah toh fenomena apa saja akan terus terjadi. Peristiwa pemerkosaan yang dilakukan oleh para aparat yang mendapat mandat dari syari’ah sebagai inti agama, ternyata tak luput dari salah. Kenapa saya bilang salah? Karena mereka mencederai dan menganiaya seorang manusia, mereka lupa dengan nilai-nilai kemanusiaan, bukan karena tidak beriman atau menyembah Tuhan. Saya yakin para pelaku pemerkosa itu juga tahu bagaimana melakukan shalat dan zakat. Tetapi apa mereka paham bagaimana menghargai manusia sebagai manusia, apa lantas manusia yang menyalahi aturan karena berpacaran itu serta merta berubah jadi setan seutuhnya? Tidak! Mereka adalah manusia yang seharusnya mendapat perlindungan dari penganiayaan, apalagi pemerkosaan.

Karena itu semestinya kita kembali untuk mencoba melihat pada manusia, bukan hanya diri kita masing-masing tetapi manusia-manusia lain supaya lebih bijak memahami ajaran agama. Sebab kita menggunakan takaran manusia yang tidak lepas dari dosa dan salah, sehingga agama akan membumi dan tidak menjadi kekuatan impersonal yang menekan manusia. Agama akan menjadi cair untuk dipahami dan mudah menyentuh pelbagai kalangan, sehingga diharapkan nantinya kita tidak akan tumpang tindih dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu; ketika seorang oknum berprestasi maka dianggap menjadi bagian dari idealitas, akan tetapi ketika melakukan penganiayaan maka diasingkan bahkan dianggap tak pernah menjadi bagian. Logika seperti ini lahir dari sakralisasi, sehingga manusia dituntut untuk menyesuaikan daripada memberikan inovasi-inovasi dalam mengadapi realitas manusia itu sendiri.

Dengan demikian penting kiranya mengubah nalar religius kita untuk tidak terpaku pada sakralisasi, sehingga tidak terjebak kepada atribut-atribut belaka yang sesungguhnya bukanlah esensi. Seideal apapun gagasan atau sistem, maka ketika sampai pada realitas manusia, semua akan berubah sebab manusia adalah manusia, bukan Tuhan yang absolut dan sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s