Negara dan Agama: Lagu Nasional, Pancasila dan Islam


Ketika saya membaca sebuah buku berjudul And God Knows The Soldier: The Authoritaritative and Authoritarian in Islamic Discourse karya Khaled Abou El Fadl, saya terkejut mengetahui bahwa yang mendasari penulisan buku itu adalah karena peristiwa seorang pemain basket muslim Amerika yang tidak mau berdiri serta menyanyikan lagu saat lagu nasional Amerika dikumandangkan. Kejadian itu mendapat kritik keras dari warga Amerika. Alasannya mengapa pemain basket itu tidak mau melakukan sebagaimana khalayak ramai adalah karena lagu nasional Amerika merepresentasikan sejarah penindasan dan perbudakan terhadap warga Amerika keturunan Afrika. Namun kemudian institusi keagamaan dalam hal ini sebuah organisasi massa Islam mengapresiasi tindakan pebasket tersebut dengan dalil-dalil agama berikut fatwa pengharaman.

Saya langsung teringat dengan pengalaman pribadi beberapa tahun silam ketika saya baru lulus s1. Dalam acara wisuda yang diadakan oleh universitas, ternyata ada dan bahkan banyak jumlahnya dari peserta wisuda yang melakukan hal yang sama, yaitu tidak mau menyanyikan lagu nasional Indonesia dan ikut membaca Pancasila. Dalam pikiran saya terbersit, apakah fenomena ini bisa dianggap biasa?

Indonesia yang telah menjadi sebuah nation state yang terbentuk dari beberapa kerajaan-kerajaan di Nusantara merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Rangkaian sejarah masa lalu yang berliku telah memberikan sebuah ciri dan identitas tersendiri akan kebangsaan. Masyarakat majemuk, plural dan heterogen yang kemudian disebut Indonesia. Perbedaan suku, ras, agama dan asal adalah substansi sebuah negara kesatuan di tanah air ini. Namun satu hal yang menjadi sorotan adalah bahwa sejarah bangsa ini yang terus hidup kadang menjadi ‘yang terlupakan’ bahkan ‘tak dipikirkan’ sama sekali dalam menggagas sebuah sikap masyarakat yang mencirikan pluralis dan toleran.

Bagaimana sebuah pemahaman dan penerimaan atas kemajemukan itu sendiri yang nampaknya masih rapuh. Jika ditengok dari dua kasus di atas, mungkin sebuah lagu atau sebuah dasar negara bagi rakyat Indonesia bukanlah hal yang sakral. Namun bagaimana sesuatu yang tidak sakral itu kemudian dibantah dengan hal lain yang dianggap sangat sakral, entah itu primordialisme, bahasa atau bahkan ajaran agama. Inilah yang menurut saya timpang. Dalam fenomena kedua, mereka para calon sarjana yang tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan itu didasari oleh pemahaman kaku akan sakralitas agama, pemahaman yang menurut saya kontra produktif dalam diskursus kewarganegaraan.

Pertanyaan utamanya adalah mengapa manusia harus dibenturkan dengan Tuhan? suatu tindakan yang pada dasarnya adalah tidak patut dilakukan. Manusia mempunyai realitasnya sendiri, salah satunya adalah berbangsa dan berwarganegara. Inilah persepsi saya untuk menolak jika agama harus dilembagakan menjadi sebuah institusi negara, agama terletak pada wilayah personal umat. Islam sebagai agama mayoritas orang Indonesia adalah representasi dari keyakinan 89% penganutnya, sedangkan Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan merepresentasikan 100% orang warga negaranya baik itu yang mayoritas agamanya Islam maupun yang minoritas penganut agama lain.

Oleh karena itu sebagai seorang Indonesia yang muslim maka menyanyikan lagu kebangsaan bukanlah menyalahi ajaran agama, demikian pula dengan membaca pancasila sebagai dasar negara. Kejadian yang serupa seperti membakar dan menginjak bendera merah putih, mungkin secara logika bendera itu hanyalah kain dengan warna merah dan putih dan tidak ada bedanya jika ditambah warna pelangi sekaligus. Namun bandingkan jika pada bendera itu ada tulisan Arab yang membentuk lafaz Allah. Apa jadinya masyarakat muslim Indonesia mengetahui bendera itu diinjak-injak, mereka menganggap tulisan tersebut serta merta sakral karena tertera lafaz Allah yang direpresentasikan dengan bahasa Arab. Logika langsung berubah menjadi rasa, yang semula abjad huruf menjadi keyakinan ajaran. Lalu bagaimana dengan membakar bendera hijau dengan tulisan Arab La ilaaha illa Allah yang berarti tidak ada Tuhan selain dengan gambar pedang di bawahnya yang merepresentasikan bendera bangsa Saudi Arab? Apakah ada yang berani membakarnya, atau ketika ada orang yang membakar bendera itu sebagai bendera negara atau teks agama?

Demikian pula dengan lagu Indonesia dan Pancasila, mengapa kita atau mahasiswa-mahasiswi itu tidak mau membacanya? Apakah lagu dan dasar negara itu merupakan identitas kebangsaan atau menyalahi sakralitas ajaran agama? Seseorang bisa jadi tidak puas dan kecewa terhadap negaranya sehingga membenci negaranya sendiri, akhirnya ia membakar bendera dan melecehkan dasar negaranya, lalu bagaimana jika bendera dan dasar negara memakai atribut-atribut keagamaan, yang dia benci negaranya atau agamanya? Atau malah tidak akan pernah membenci negaranya karena takut mendapat sanksi atau azab seperti yang tersurat dalam teks-teks agama?

Satu yang perlu diingat dan dipikirkan, bahwa Indonesia merupakan negara bangsa dan bukan negara agama. Orang Indonesia menghormati lagu dan bendera karena menghargai semangat kebangsaan, maka sebagai seorang Indonesia yang muslim, semangat itu sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Islam menyuruh umatnya agar saling menghargai antara suku bangsa yang berbeda-beda, maka semestinya konsep ta’aruf dalam ayat al-Qur’an tentang bagaimana menyikapi keragaman suku bangsa dapat dielaborasi lebih lanjut dalam bingkai kehidupan berwarganegara di tanah air ini. Sehingga kita tidak perlu bercita-cita untuk mengganti lagu Indonesia dengan melantunkan ayat al-Qur’an saat upacara kemerdekaan atau acara-acara formal, tidak perlu mengganti pancasila dengan rukun Islam atau rukun Iman karena agama terletak pada tataran personal manusia. Islam huwa al-din laa al-Daulah.

 oleh: Kupret el-Kazhiem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s