Archive

Monthly Archives: January 2012

1327846893393821752

Sudah lama saya menyoroti aksi ormas-ormas tukang rubuh patung. Yang terbaru adalah kasus di Pekanbaru. Bosan saya membahas tentang pendapat para ulama yang membolehkan patung asalkan tidak dipergunakan untuk disembah, dan semata untuk estetika belaka. Tetapi whatever, namanya pendapat pasti selalu terdapat perbedaan. Namun di dalam kondisi keragaman yang majemuk seperti di Indonesia, di mana patung bagi pemeluk agama tertentu mengandung nilai transendental dan spiritual semestinya tiap komunitas menghargai hal tersebut, termasuk apabila hanya dijadikan “pajangan” belaka.

Dalam suatu perbincangan tentang beberapa kasus pengrusakan patung di Indonesia, ada kawan saya yang berceletuk, “Mendingan semua patung di Indonesia dibawa ke Bali saja.” mengapa ke Bali? sebab di Indonesia ini, daerah di mana warganya sangat menghargai kesenian memahat patung. Walaupun tidak cuma di Bali, di Papua juga kesenian patung berkembang namun biasanya kalau seniman patung internasional bertanya soal festival patung di Indonesia, ya merujuknya ke Bali.

Warisan sejarah Nusantara pun tak terlepas dari seni patung, namun karena alasan warisan sejarah ini pula seringkali dijadikan dalih bagi para “pembenci patung” untuk menghancurkannya; semisal, “Nabi saja dahulu menghancurkan patung yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Arab pra-Islam.” fakta sejarah semacam itu kemudian diadopsi di Indonesia dengan gerakan pembersihan patung yang sangat tidak cocok antara di masa Nabi dahulu dan pada masa kini di Indonesia, dengan mengira semua patung yang ada di Indonesia dibuat untuk disembah atau dianggap berhala dan perilaku tersebut dihukumi sebagai perbuatan musyrik. Entah bagaimana saya menyebutnya, apakah di sini ada pertarungan antara dominasi agama atas budaya atau kompetisi antara agama dan budaya.

Apakah dengan semakin berkembangnya seni patung di Indonesia lantas kita dapat dengan mudah mengatakan, “kita telah kembali ke zaman jahiliyyah?” saya rasa terlalu simplifistik mengatakan seperti itu, demikian pula dengan solusi semua patung dibawa ke Bali. Tetapi bagaimana lagi, seolah terkesan pesimis dengan kedewasaan bangsa ini yang tidak bisa menghargai perbedaan, mungkin memang sudah selayaknya Indonesia ini disekat-sekat sehingga nanti ada orang yang akan bilang begini, “Kalau mau mematung ke Bali aja.” atau “Kalau mau pake hukum cambuk ke Aceh saja.”

Sebenarnya apa sih yang menjadi persoalan daripada pembuatan patung di Pekanbaru? Desas desus terdengar dananya sampai 4 Miliar. Bisa-bisa isunya bergeser merembet pada dugaan korupsi dari yang sebelumnya adalah isu mengenai bahenol atau tidak bahenol. Atau malahan bisa jadi berbagai macam isu sengaja digembar gemborkan, yang penting patung-patung harus dihancurkan.

Kalau sudah demikian, di manakah letak kebhinekaan kita sebagai bangsa? Atau masyarakat sudah jengah dengan slogan kebhinekaan itu sendiri? Entah.

sumber: internet

Dalam Al-Quran Allah Ta’ala menceritakan kisah Fir’aun dan Nabi Musa as, Fir’aun yang telah mengaku sebagai Tuhan, ia tidak percaya dengan adanya Tuhan selain nya, dan otomatis juga tidak percaya bahwa Nabi Musa as adalah seorang utusan (Rasul) Tuhan, karena Fir’aun berasumsi bahwa setiap yang ada (wujud) pasti punya tempat, memang sangat wajar bila seorang Fir’aun menyangka demikian, karena ia telah mengaku diri nya Tuhan, tentu dipikiran nya Tuhan Nabi Musa as juga seperti diri nya, harus punya tempat yang jelas, tapi yang sangat tidak wajar bila asumsi Fir’aun itu (setiap yang ada pasti punya tempat) datang dari seorang makhluk yang bertauhid dan percaya Tuhan berbeda dengan makhluk (semoga kita dijauhkan dari pemikiran Fir’aun), dari asumsi tersebut, Fir’aun mencoba meraba apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as bahwa Nabi Musa as adalah utusan “Tuhan yang memiliki langit dan bumi”, tentu saja Fir’aun mempertanyakan di mana keberadaan Tuhan Nabi Musa itu, karena ia yakin “setiap yang ada pasti punya tempat”, dan pilihan yang ada cuma dua yakni di langit atau di bumi, bila di bumi tentu Nabi Musa as telah menunjukkan nya, bila di langit bagaimana Nabi Musa as bisa tahu, bagaimana mendapatkan risalah nya, Fir’aun yang telah termakan dengan asumsi nya yang salah, tidak percaya sesuatu yang ada tapi tanpa bertempat, walaupun seorang Tuhan tidak mungkin tidak bertempat, ia telah membuktikan kepada kaum nya bahwa tidak ada Tuhan lain di bumi selain dari dia, dan hanya satu tempat lagi yang belum ia buktikan yaitu di langit, sehingga ia perintahkan pembantu nya untuk membangun bangunan yang tinggi di atas gunung, agar ia bisa melihat Tuhan Nabi Musa as, sebagaimana di ceritakan dalam Al-Quran Surat Ghafir ayat 36-37 :

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ (37)

“Dan berkatalah Fir`aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu [36] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan nya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir`aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir`aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian [37]“.

Imam Ar-Razi [606 H] dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan ada 4 masalah yang dipahami oleh golongan musyabbihah dari ayat ini :

وفي الآية مسائل المسألة الأولى : احتج الجمع الكثير من المشبهة بهذه الآية في إثبات أن الله في السموات وقرروا ذلك من وجوه الأول : أن فرعون كان من المنكرين لوجود الله ، وكل ما يذكره في صفات الله تعالى فذلك إنما يذكره لأجل أنه سمع أن موسى يصف الله بذلك ، فهو أيضاً يذكره كما سمعه ، فلولا أنه سمع موسى يصف الله بأنه موجود في السماء وإلا لما طلبه في السماء ، الوجه الثاني : أنه قال وإني لأظنه كاذباً ، ولم يبين أنه كاذب فيماذا ، والمذكور السابق متعين لصرف الكلام إليه فكأن التقدير فأطلع إلى الإله الذي يزعم موسى أنه موجود في السماء ، ثم قال : { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } أي وإني لأظن موسى كاذباً في إدعائه أن الإله موجود في السماء ، وذلك يدل على أن دين موسى هو أن الإله موجود في السماء الوجه الثالث : العلم بأنه لو وجد إله لكان موجوداً في السماء علم بديهي متقرر في كل العقول ولذلك فإن الصبيان إذا تضرعوا إلى الله رفعوا وجوههم وأيديهم إلى السماء ، وإن فرعون مع نهاية كفره لما طلب الإله فقد طلبه في السماء ، وهذا يدل على أن العلم بأن الإله موجود في السماء علم متقرر في عقل الصديق والزنديق والملحد والموحد والعالم والجاهل . فهذا جملة استدلالات المشبهة بهذه الآية

“Dan dalam ayat tersebut ada beberapa masalah, Masalah pertama, kebanyakan golongan Musyabbihah (menyamakan Tuhan dengan makhluk) berhujjah dengan ayat ini dalam menyebutkan (Itsbat) bahwa Allah di langit, dan mereka menjelaskan nya dengan bermacam alasan :

Alasan pertama : Sesungguhnya Fir’aun adalah dari pada pengingkar bagi ada (wujud) Allah, dan semua yang ia sebutkan tentang sifat Allah itu sungguh karena bahwa ia mendengar dari Nabi Musa as yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah ada di langit, seandainya bukan demikian, kenapa juga Fir’aun mencari Tuhan ke langit.

Alasan kedua : Fir’aun berkata: “sungguh aku yakin Musa seorang pendusta” dan ia tidak menyatakan tentang apa Musa berdusta, alasan di atas (alasan pertama) memastikan maksud Fir’aun adalah Musa berdusta tentang keberadaan Tuhan di langit, seolah-olah Fir’aun berkata : “maka aku lihat Tuhan yang di dakwa oleh Musa sesungguhnya Dia (Tuhan) ada di langit”, kemudia Fir’aun berkata : “sungguh saya yakin Musa seorang pendusta” yakni “sungguh aku yakin Musa berdusta tentang dakwaan nya bahwa Tuhan ada di langit”, dan itu menunjukkan bahwa agama Musa adalah Allah ada di langit.

Alasan ketiga : pengetahuan bahwa “kalau Tuhan ada, sungguh Dia ada di langit” adalah ilmu badihi (pengetahuan yang datang sendiri dan mustahil di tolak atau Fitrah) yang terdapat pada setiap akal, karena itu anak kecil saja apabila tunduk kepada Allah ia mengangkat wajah dan tangan nya ke langit, dan bahkan Fir’aun pun sedangkan ia sangat kufur, manakala ia mencari Tuhan, maka ia cari ke langit, dan ini menunjukkan sungguh mengetahui Tuhan ada di langit adalah ilmu yang terdapat pada akal orang yang benar, dan Zindik, dan Mulhid, dan Muwahhid, dan Alim dan Jahil. Inilah kesimpulan cara berdalil kaum Musyabbihat dengan ayat ini” [Lihat Tafsir Al-Kabir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37]. Dan Imam Ar-Razi pun telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah di atas, dalam Tafsir nya yang akan kami tulis nanti di bawah pada sesi jawaban [Insyaallah].

Sekarang coba perhatikan di antara Firqah-Firqah yang mengaku Islam tapi sangat mendukung pemikiran Fir’aun dan Musyabbihah di atas, adalah para Syaikh Wahabi (Salafi) dan pengikut mereka sangat setuju dan mendukung ideologi dan Sekte Fir’aun itu, mereka sangat kompak dan sepakat bahwa “Setiap yang ada pasti bertempat” dan sepakat “Memahami makna dhohir dalam bab Mutasyabihat”, sehingga mereka terjerumus dalam kekufuran yang nyata dan di nyata-nyatakan, (na’uzubillah), sungguh sebuah kesesatan yang super bodoh bila termakan oleh ideologi Fir’aun yang sempit, bila itu juga menjadi asumsi seorang yang mengaku Islam dan bertauhid, dan mengaku sebagai pemurni Tauhid dan bahkan kata nya “ber-Manhaj Salaf”, memang harus di akui bahwa cara Wahabi paling bagus dan aman dalam menebar kesesatan atas nama Islam, mereka tidak pernah merasa malu dan bersalah, semua yang menentang mereka pasti akan mendapat fitnah dari mereka di masa hidup atau setelah wafat, siapa yang mencoba menasehati mereka pasti akan dicampakkan, mereka sama sekali tidak menghiraukan kebodohan mereka dan penyimpangan mereka, yang penting sesuai selera mereka, betapa banyak ayat Al-Quran dan Hadits yang telah mereka salah-gunakan, lihat saja bagaimana cara mereka menafsirkan ayat di atas, bila memang ber-Manhaj Salaf, adakah seorang Ulama Salaf yang berdalil dengan ayat tersebut ? bila memang mengikuti pemahaman sahabat, adakah salah seorang sahabat yang berdalil demikian ? sungguh sebuah pendalilan yang memalukan, asumsi seorang yang tidak percaya pada Tuhan digunakan oleh orang yang mengaku percaya pada Tuhan, apa benar Fir’aun mengetahui Tuhan ada di langit karena mendengar dari Nabi Musa as ? apa benar ajaran Nabi Musa Tuhan ada di langit ? apa benar mengakui Tuhan ada di langit sudah menjadi Fitrah manusia ? mari kita simak lanjutan Tafsir Ar-Razi di atas, (wallahul musta’an, semoga mereka mendapat hidayah-Nya, bi-jaahi Sayyidina Muhammad saw).

Imam Ar-Razi telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah dalam berdalil dengan ayat tersebut, ini lanjutan dari tafsir Ar-Razi di atas :

والجواب : أن هؤلاء الجهال يكفيهم في كمال الخزي والضلال أن جعلوا قول فرعون اللعين حجة لهم على صحة دينهم ، وأما موسى عليه السلام فإنه لم يزد في تعريف إله العالم على ذكر صفة الخلاقية فقال في سورة طه { رَبُّنَا الذى أعطى كُلَّ شَىء خَلْقَهُ ثُمَّ هدى } [ طه : 50 ] وقال في سورة الشعراء { رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءابَائِكُمُ الأولين * رَبُّ المشرق والمغرب وَمَا بَيْنَهُمَا } [ الشعراء : 26 ، 28 ] فظهر أن تعريف ذات الله بكونه في السماء دين فرعون وتعريفه بالخلاقية والموجودية دين موسى ، فمن قال بالأول كان على دين فرعون ، ومن قال بالثاني كان على دين موسى ، ثم نقول لا نسلم أن كل ما يقوله فرعون في صفات الله تعالى فذلك قد سمعه من موسى عليه السلام ، بل لعله كان على دين المشبهة فكان يعتقد أن الإله لو كان موجوداً لكان حاصلاً في السماء ، فهو إنما ذكر هذا الاعتقاد من قبل نفسه لا لأجل أنه قد سمعه من موسى عليه السلام .

وأما قوله { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } فنقول لعله لما سمع موسى عليه السلام قال : { رَبّ السموات والأرض } ظن أنه عنى به أنه رب السموات ، كما يقال للواحد منا إنه رب الدار بمعنى كونه ساكناً فيه ، فلما غلب على ظنه ذلك حكى عنه ، وهذا ليس بمستبعد ، فإن فرعون كان بلغ في الجهل والحماقة إلى حيث لا يبعد نسبة هذا الخيال إليه ، فإن استبعد الخصم نسبة هذا الخيال إليه كان ذلك لائقاً بهم ، لأنهم لما كانوا على دين فرعون وجب عليهم تعظيمه . وأما قوله إن فطرة فرعون شهدت بأن الإله لو كان موجوداً لكان في السماء ، قلنا نحن لا ننكر أن فطرة أكثر الناس تخيل إليهم صحة ذلك لا سيما من بلغ في الحماقة إلى درجة فرعون فثبت أن هذا الكلام ساقط .

“Jawab : Sesungguhnya mereka (Musyabbihah) adalah orang-orang yang sangat bodoh, yang membuat mereka semakin lengkap dalam kehinaan dan kesesatan, oleh karena mereka telah menjadikan perkataan Fir’aun yang terlaknat, sebagai dalil mereka atas kebenaran agama mereka, sementara Nabi Musa as dalam memperkenalkan Tuhan, tidak pernah melebihkan dari menyebutkan sifat penciptaan, sebagaimana dalam surat Thoha :50 “Tuhan kita adalah yang memberikan tiap sesuatu bagi makhluk-Nya kemudian memberi petunjuk” dan sebagaimana dalam surat Asy-Syu’ara ayat 26, 28 “Tuhan kalian dan Tuhan bapak kalian yang terdahulu – Tuhan timur dan barat dan diantara kedua nya” Maka nyatalah bahwa memperkenalkan Tuhan dengan keadaannya di langit adalah agama Fir’aun, dan memperkenalkan Tuhan dengan penciptaan dan makhluk adalah agama Nabi Musa as, siapa yang berpendapat dengan yang pertama, adalah ia di atas agama Fir’aun, dan siapa yang berpendapat dengan yang kedua, adalah ia di atas agama Nabi Musa as, kemudian kita menjawab, kita tidak bisa menerima bahwa semua yang disebutkan Fir’aun tentang sifat Allah ta’ala karena ia pernah mendengar dari Nabi Musa as, tapi karena Fir’aun berada dalam agama Musyabbihah, maka tentu ia berkeyakinan jika memang Tuhan ada, pasti Dia berada di langit, maka keyakinan Fir’aun ini sungguh datang dari diri nya, bukan karena mendengar dari Nabi Musa as, adapun perkataan Fir’aun “sungguh aku yakin Musa adalah pendusta” maka kita jawab, kemungkinan ketika Fir’aun mendengar Nabi Musa berkata “Tuhan langit dan bumi” lalu Fir’aun menyangka maksud Nabi Musa as bahwa Tuhan nya menetap di langit, sama seperti ungkapan “dia yang punya ini rumah” maksud nya dia tinggal di rumah itu. Ketika Fir’aun semakin yakin dengan sangkaan nya maka ia sebutkan asumsi nya, dan ini tidak jauh kemungkinan, karena Fir’aun adalah sangat bodoh sehingga mungkin menisbahkan asumsi demikian kepada nya, bila ada yang bilang tidak mungkin Fir’aun berasumsi demikian, itu karena asumsi tersebut layak dengan mereka, ketika mereka berada di atas agama Fir’aun, tentu mereka sangat menghargai ideologi Fir’aun itu, dan adapun alasan Musyabbihhah “sesungguhnya fitrah Fir’aun bersaksi bahwa Tuhan kalau Dia ada sungguh Dia berada di langit” maka kita jawab: kita tidak mengingkari bahwa fitrah kebanyakan manusia menyangka benar demikian, apa lagi orang yang kebodohan nya telah sampai ketingkat kebodohan Fir’aun, maka alasan fitrah tidak bisa menjadi alasan”. [Lihat Tafsir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37]

Itulah jawaban Imam Ar-Razi untuk 3 alasan kaum Musyabbihah di masalah yang pertama, sementara tiga masalah lagi yang di disebutkan oleh Imam Ar-Razi tidak kami sebutkan di sini, yakni :

المسألة الثانية : اختلف الناس في أن فرعون هل قصد بناء الصرح ليصعد منه إلى السماء أم لا؟
المسألة الثالثة : ذهب قوم إلى أنه تعالى خلق جواهر الأفلاك وحركاتها بحيث تكون هي الأسباب لحدوث الحوادث في هذا العالم الأسفل
المسألة الرابعة : قالت اليهود أطبق الباحثون عن تواريخ بني إسرائيل وفرعون أن هامان ما كان موجوداً ألبتة في زمان موسى وفرعون وإنما جاء بعدهما بزمان مديد ودهر داهر

Silahkan buka Tafsir Ar-Razi, surat Ghafir: ayat 36-37 bagi yang ingin membaca lebih panjang penjelasan dari Imam Ar-Razi tentang ayat tersebut, di sini cukuplah masalah yang pertama, menjadi pelajaran bagi siapa telah salah sangka kepada Tuhan. [Maha suci Allah dari Arah dan Tempat]

Begitu jelas pertentangan tafsiran ayat ini dari Golongan Musyabbihah dan Neo Musyabbihah yakni Salafi-Wahabi dengan nash di ayat yang lain, apalagi Salafi-Wahabi yang kata nya sangat anti dengan ilmu kalam, tapi mereka menggunakan ilmu kalam untuk membenarkan ideologi Fir’aun, tapi sayang ilmu kalam mereka justru bertentangan dengan Nash, mereka menuduh Nabi Musa as membawa ajaran “Tuhan ada di langit” tapi tidak ada dalil yang shohih dan shorih, hanya termakan oleh pernyataan Fir’aun “sungguh aku yakin Musa adalah pendusta”, ingkar Fir’aun kepada Nabi Musa as ternyata bukan ingkar kepada tempat Tuhan di langit, tapi ingkar kepada kerasulan Nabi Musa as dan ingkar kepada adanya Tuhan selain nya.

Abu Mansur Al-Maturidi berkata :

للمشبهة تعلق بظاهر هذه الآية يقولون: لولا أن موسى – عليه السلام – كان ذكر وأخبر فرعون: أن الإله في السماء، وإلا لما أمر فرعون هامان أن يبني له ما يصعد به إلى السماء ويطلع على إله موسى على ما قال تعالى خبراً عن اللعين.
لكنا نقول: لا حجة لهم؛ فإنه جائز أن يكون هذا من بعض التمويهات التي كانت منه على قومه في أمر موسى – عليه السلام

“Kaum Musyabbihah [menyerupakan Allah dengan makhluk] berpegang dengan dhohir ayat ini, mereka beralasan : Seandainya bukan karena Musa as telah menyebut dan memberitahu Fir’aun bahwa Tuhan di atas langit, sungguh Fir’aun tidak menyuruh Haman membangun bangunan agar ia dapat naik ke langit dan melihat Tuhan Nabi Musa as, sebagaimana Firman Allah menceritakan pernyataan Fir’aun [Al-La'in].
Tetapi kita menjawab : Tidak ada dalil bagi mereka, karena kemungkinan pernyataan Fir’aun tersebut sebagian dari kebohongan Fir’aun kepada kaum nya tentang Musa as”. [Lihat Tafsir Ta'wilat Ahlus Sunnah surat Ghafir ayat 37].

Ibnu Katsir [774 H] berkata :

أنه كذب موسى في أن الله عز وجل أرسله إليه

“Sesungguhnya Fir’aun tidak percaya Musa pada bahwa “Allah ‘Azza wa-jalla telah mengutusnya” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Ghafir ayat 37].

Ibnu Katsir berkata :

تكذيب موسى فيما زعمه من دعوى إله غير فرعون

“Ketidak-percayaan Fir’aun kepada Nabi Musa as pada yang disampaikan oleh Nabi Musa as yaitu mendawka ada Tuhan selain Fir’aun” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Qashash ayat 38].

Al-Baghawi [516 H] berkata :

وَإِنِّي لأظُنُّهُ يعني موسى، { كَاذِبًا } فيما يقول إن له ربًا غيري

“sungguh aku (Fir’aun) meyakini Musa berdusta tentang “ada Tuhan lain selain nya” [Lihat Tafsir Ma'alim At-Tanzil surat Ghafir ayat 7].

Al-’Allamah Syaukani [1250 H] berkata :

وَإِنّى لأَظُنُّهُ كَـٰذِباً أي: وإني لأظنّ موسى كاذباً في ادعائه بأن له إلاهاً، أو فيما يدّعيه من الرسالة

“sungguh aku (Fir’aun) meyakini Musa berdusta, maksud nya sungguh aku (Fir’aun) meyakini Musa berdusta tentang dakwaan nya bahwa “bagi nya punya Tuhan” atau pada dakwaan kerasulan nya” [Lihat Tafsir Fathul Qadir surat Ghafir ayat 37].

Al-Baidhawi [685 H] berkata :

وَإِنّى لأَظُنُّهُ كَـٰذِباً في دعوى الرسالة

“Dan aku yakin Musa berdusta pada dakwa kerasulan”. [Lihat Tafsir Anwaru At-Tanzil wa-Asraru At-Ta'wil surat Ghafir ayat 37].

Al-Mufassir An-Nasafi [710 H] berkata :

وَإِنِّى لأَظُنُّهُ أي موسى { كَـٰذِباً } في قوله له إله غيري

“sungguh aku (Fir’aun) meyakini Musa berdusta pada perkataan nya “bagi nya ada Tuhan selain aku”.[Lihat Tafsir Madarik At-Tanzil wa-Haqaik At-Ta'wil surat Ghafir ayat 37].

Berkata Al-Mufassir As-Shobuni :

وإِني لأعتقد موسى كاذباً في ادعائه أن له إلهاً غيري

“Sungguh aku (Fir’aun) berkeyakinan bahwa Musa berdusta pada dakwaan nya bahwa “bagi nya ada Tuhan selain aku”.[Lihat Tafsir As-Shobuni surat Ghafir ayat 37].

Berkata Al-Qurthubi [671 H] :

وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً أي وإني لأظن موسى كاذباً في ادعائه إلٰهاً دوني

“وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً maksud nya sungguh aku yakin Musa berdusta pada dakwaan nya “ada Tuhan selain aku”.[Lihat Tafsir Al-Jami' li-Ahkami Al-Quran surat Ghafir ayat 37].

Abu Hayyan [754 H] berkata :

وإني لأظنه كاذباً: أي في ادعاء الإلهية

“Dan aku yakin Musa berdusta, artinya pada dakwaan ketuhanan [Tuhan selain Fir'aun]“. [Lihat Tafsir Al-Bahru Al-Muhith surat Ghafir ayat 37].

Imam Al-Qusyairi [465 H] berkata :

ولو لم يكن من المضاهاة بين مَنْ قال إن المعبودَ في السماء وبين الكافر إلا هذا لكفي به خِزْياً لمذهبم . وقد غَلِطَ فرعونُ حين تَوَهَّمَ أنَّ المعبودَ في السماء ، ولو كان في السماء لكان فرعونُ مُصِيباً في طَلَبِه من السماء .
قوله جل ذكره : { وَكَذَالِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ } .
أخبر أنَّ اعتقادَه بأنَّ المعبودَ في السماء خطأٌ ، وأنَّه بذلك مصدودٌ عن سبيل الله

“Kalau tidak ada keserupaan antara orang yang berkata bahwa Tuhan di langit dengan orang Kafir [yang menyembah berhala di bumi] kecuali ini [sama-sama meyangka Tuhan bertempat], sungguh cukup dengan ini, kehinaan pendapat mereka. Dan sungguh Fir’aun salah ketika memahami bahwa Tuhan di langit, seandainya benar Tuhan di langit, sungguh Fir’aun benar pada mencari Tuhan ke langit, sementara pada Firman Allah selanjutnya

وَكَذَالِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ

Allah menyatakan bahwa i’tiqad Fir’aun “Tuhan di langit” itu salah, dan dengan demikian ia pun tertutup dari jalan Allah”. [Lihat Tafsir Lathaif Al-Isyarat surat Ghafir ayat 37].

At-Thabrani [360 H] berkata :

وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً ، أي إني لأظن موسى كَاذِباً فيما يقولُ إنَّ له ربّاً في السَّماء

“وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً maksud nya, sungguh aku yakin Musa berdusta pada pernyataan nya bahwa bagi nya ada Tuhan di langit“. [Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].

Di sini Wahabi mencoba mencari celah dan menuliskan sebagian saja, untuk membenarkan aqidah sesat mereka, padahal selanjutnya Imam At-Thabrani menjelaskan siapa yang meyakini Tuhan di langit.

ولما قالَ موسى: ربُّ السَّماواتِ، فظنَّ فرعون بجهلهِ واعتقاده الباطل أنه لَمَّا لَم يُرَ في الأرض أنه في السماء

“Dan mana kala Nabi Musa berkata : Robbu As-Samawat, Fir’aun menyangka dengan kebodohan dan i’tiqad nya yang batil, bahwa ketika Tuhan Nabi Musa tidak ada di bumi, pastilah Dia di langit“. [Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].

Imam Ibnu Jarir At-Thobari [310] berkata :

وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا

“وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا maksudnya berkata Fir’aun sesungguhnya aku yakin Musa berdusta pada apa yang ia katakan dan dakwakan bahwa bagi nya ada Tuhan di langit [menurut makna dhohir nya] yang mengutusnya kepada kita”.[Lihat Tafsir Jami' Al-Bayan surat Ghafir ayat 37].

Di sini juga Wahabi mencoba mencari celah, bahkan Wahabi memakai Tafsir Imam At-Thabari di ayat tersebut, demi mencari pembenaran atas akidah sesat mereka, sekilas kalau kita perhatikan tafsiran Imam Thabari di atas, sepertinya Imam At-Thabari sesuai dengan pemahaman Wahabi yakni Allah berada di langit/Arasy, tapi sebaiknya tidak menebak-nebak atau berprasangka tentang Aqidah seseorang, apalagi sekelas Imam At-Thabari.

Dalam Tafsir yang sama, di surat Al-Baqarah ayat 29, Imam Thabari sangat jelas dan tegas berkata :

فكذلك فقل: علا علـيها علوّ ملك وسلطان لا علوّ انتقال وزوال

“Seperti demikian maka katakanlah : Tinggi Allah atas ‘Arasy bagaikan tinggi Raja, bukan tinggi berpindah dan berubah”[Lihat Tafsir Jami' Al-Bayan surat Al-Baqarah ayat 37]

Maka seperti ini juga maksud Imam At-Thabari dalam tafsir ayat di atas, fis-sama’ artinya ‘alas-sama’ yakni tinggi martabat, bukan tinggi dzat atau bertempat, terlepas Imam At-Thabari dari segala tuduhan Wahabi.

KESIMPULAN

Manhaj Fir’aun adalah Manhaj nya orang-orang yang meyakini Allah di langit, karena Fir’aun lah orang pertama yang menduga Allah di langit, cuma saja Fir’aun tidak percaya adanya Allah karena tidak bisa dibuktikan ke langit.

Ajaran Nabi Musa as tidak mengajarkan keyakian Tuhan berada di langit, tapi itu hanya salah kaprah Fir’aun dalam memahami apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as, sebagaimana salah kaprah Salafi Wahabi dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

Fir’aun bukan mengingkari keberadaan [tempat] Tuhan di langit, tapi mengingkari adanya Allah dan kerasulan Nabi Musa as.

Fir’aun mengakui bahwa setiap yang ada pasti bertempat, sekalipun Tuhan, karena membandingkan dengan dirinya yang mengaku sebagai Tuhan.

Tidak ada bedanya antara penyembah Tuhan di langit dengan penyembah Tuhan di bumi, kedua nya sama-sama menyembah berhala.

Termasuk dalam kategori Musyabbihah, orang yang meyakini Tuhan punya sifat bertempat, sekalipun tempat nya berbeda.

Fir’aun dan Salafi Wahabi sama dalam metode memahami makna Mutasyabihat, yakni berpegang dengan makna dhohir nya.

Judul itu belum selesai. Maksud saya, anak kecil tidak tahu kebenaran akan tetapi mereka hanya menyuarakan hal-hal yang dianggap kebenaran karena hasil dicekoki oleh para orang tua mereka. Bagi saya anak kecil tidak lain dan tidak bukan hanyalah proyeksi idealisme orangtua akan sesuatu hal. Banyak kan orang tua yang mencekoki bayi-bayi yang baru lahir dengan nilai-nilai yang mereka anggap benar, atau mungkin mereka yakini sebagai satu-satunya kebenaran.

“Nak, begini lho yang paling benar.” atau “Yang benar tuh begini bukan begitu.” kata ayah atau ibunya. Setelah dicekoki, kemudian anak-anak kecil itu dipaksa untuk melakukannya meski dalam kondisi tanpa terpaksa. Karena dalam konstruksi sosial ada yang namanya rekayasa sosial. Dalam keadaan terrekayasa sulit menyadari bahwa mereka sedang direkayasa perilaku, pemikiran, pemahaman dan sudut pandangnya.

Sekarang lihat ini:

1327113601258572487

Sejak kecil dia sudah diajari bahwa KAPITALISME itu biadab, meskipun dia tidak kenal siapa itu John Locke, bahkan mungkin orang tuanya juga tidak tahu namun meyakini begitu karena juga korban indoktrinasi. Atau misalkan ini;

13271136881301356413

Memangnya anak-anak kecil itu mengerti arti daripada spanduk dan slogan-slogan yang digenggam di tangannya? Atau mungkin ada anak-anak kecil atau dibawah umur yang sudah dicekoki bahwa lebih baik dipoligami daripada berzina?

1327113785997444027

Atau dicekoki bahwa hanya khilafah-lah satu-satunya sistem paling hebat dan unggul, sedangkan demokrasi, monarki dan sebagainya sama dengan haram?

13271138641825592214

Atau mungkin dilatih mengangkat senjata sambil dicekoki bahwa diri mereka adalah tentara Tuhan sedangkan selain mereka adalah musuh Tuhan?

132711396849487630

Kemudian anak-anak kecil itu tumbuh menjadi dewasa, menjadi baligh, dan bergaul dengan dunia luar selain dari lingkungan atau milieu rumahnya. Di sinilah timbul dilema bagi mereka, apakah tetap memertahankan nilai-nilai hasil indoktrinasi atau pencekokan orang tuanya, ataukah justru berubah dan melawan? Atau mencoba untuk adaptif dan kompromistis antara nilai-nilai dalam keluarganya dan nilai-nilai lain yang dia terima dari luar?

Masalah tambah rumit apabila ternyata para orang tua yang sudah susah payah mencecoki anak-anak mereka dengan hal-hal yang mereka anggap sebagai kebenaran, tiba-tiba merasa terganggu dengan hal-hal lain yang dalam pandangan mereka adalah menyimpang. Biasanya para orang tua tidak punya tenaga untuk menghalau dan bisanya hanya marah serta mengutuk. Lantas apakah sampai sekarang kita masih mencekoki anak kita? Itu semua pilihan, kembali kepada bagaimana cara kita membangun keluarga. Saya hanya ingin membongkar konstruksi sosialnya saja dengan bahasa sederhana.

ps. tiada lagi kata-kata. “anak kecil aja tau mana yang benar.” semua itu produk fabrikasi pencekokan. Selamat Mencekoki!

1326521924980042557

Karena “gerah” dikabarkan terus menerus mengajarkan terorisme, Abu Jibril meluncurkan makalah packaging kuliah umumnya yang bertajuk Mewaspadai Kejahatan Kristen Radikal di Indonesia. Boleh jadi selama ini Abu Jibril cs (Munarman, Rizieq Syihab, Deedat Syihab, dll) makin kepanasan karena melulu disudutkan sebagai blok kalangan radikal dalam komunitas muslim. Bahkan tak jarang ada yang menghujat mereka sebagai oknum pencoreng wajah umat Islam Indonesia. Seringnya dianggap sebagai setitik nila yang merusak susu sebelanga, justru membuat mereka kian getol melakukan perlawanan.

“Lu nyerang gua radikal. Gua serang balik elu radikal.” kasarnya begitu. Bahkan saya menemukan istilah lama yang dulu sering saya dengar, yakni demonologi. Istilah ini jadi rancu, karena kalau kita bicara soal sejarah agama-agama dan ajaran-ajaran teologis, demonologi digunakan sebagai ilmu untuk memelajari seputar kepercayaan, ajaran, doktrin, yang berkisar tentang setan dalam literatur-literatur mitologi, cerita rakyat dan sebagainya. Namun yang dimaksud dengan demonologi dalam pengertian demonologi Islam yang kerap dilontarkan oleh mereka, sederhananya adalah pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui penjulukan-penjulukan “fundamentalisme Islam” (Islamic Fundamentalism), “terorisme Islam” (Islamic Terrorism), dan “bom Islam” (Islamic Bomb), yang dipopulerkan media massa. Label dan istilah seperti itu diklaim sebagai strategi Barat dalam meruntuhkan Islam. Karena itu mereka menyerang balik kaum Kristen radikal yang dianggap sebagai dalang di balik semua pelabelan tersebut.

Berbagai situs di Internet dibuat untuk melakukan counter attack, demikian pula ceramah-ceramah dan pengajian yang isinya menyebarkan keyakinan mereka tentang perang dengan mengatasnamakan Tuhan, ayat Tuhan, ajaran agama, dan semacamnya. Termasuk dengan membuat DPO alias Daftar Pencarian Orang yang sedang dicari-cari oleh para mujahidin di Indonesia. Begitulah setidaknya menurut Munarman, bahwa orang yang paling berbahaya bagi para mujahidin Indonesia adalah Gories Mere. Gories Mere adalah daftar DPO nomer satu bagi mujahidin ujarnya.

“Jadi permainan-permainan ini sudah biasa, dan otak utamanya proyek-proyek ini sekarang adalah Gories Mere seorang polisi Nashara (Kristiani). Saya kira kalau polisi punya daftar DPO maka seharusnya mujahidin juga punya daftar DPO. The Most Wanted of Mujahidin  adalah Gories Mere,”

Munarman juga menjelaskan posisi dan peta di tubuh densus 88, khususnya peranan Gories Mere dalam memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

“Di dalam Densus itu sebenarnya ada unit yang diistimewakan betul daripada unit lainnya, yaitu unit Tim Anti Bom. Tim Anti Bom ini dikomandani langsung oleh Gories Mere. Kuncinya itu merekrut polisi-polisi Kristen dan polisi-polisi kafir lainnya,”

Dikarenakan peranan dan kebencian Gories Mere yang begitu besar dalam memusuhi mujahidin, maka Munarman menjadikan mantan Kadensus ini sebagai DPO nomer satu bagi mujahidin. Pernyataan Munarman ini diamini oleh Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), yang menjadi pembicara berikutnya. Menurut beliau, jika mujahidin ingin menyusun daftar list DPO terhadap orang-orang yang berbahaya bagi Islam, maka daftar list itu harus disusun oleh ulama yang berkompeten berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah.

“Saya sepakat dengan Pak Munarman. Para mujahidin itu saat ini seharusnya sudah membuat daftar list. Siapa sih sebetulnya musuh-musuh Islam? Siapa sih sebetulnya orang-orang yang darahnya untuk ditumpahkan? Siapa sih orang-orang yang harus dihabisi? Tapi tentunya kita tidak sembarangan membuat daftar itu, sesui dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah,”

Jadi jelas sekarang bahwa semua permusuhan yang terjadi dalam sejarah umat manusia memang sengaja dibuat oleh para aktornya sendiri. Sementara yang menjadi sorotan saya adalah konflik antar/intra umat beragama, mungkin ada pula yang menyoroti konflik antar ras, suku, sampai antar negara. Tetapi balik lagi ke persoalan ormas-ormas radikal yang memang sulit diatur aparat atau bahkan dipelihara negara. Konstruksi sosial politiknya bisa dilacak dan sangat jelas, apalagi ada yang berpendapat bahwa mereka cari makan memang dari aksi-aksi radikal di jalanan. Sungguh saya tidak habis pikir, hanya karena atas nama agama maka orang-orang Indonesia rela membuat daftar permusuhan sesama saudara sebangsa. Dan mungkin kita (terpaksa) sepakat bahwa sampai kapan pun perang antar agama takkan pernah berakhir, hanya kemasannya saja yang berbeda. Sedangkan kita hanya menurut dan mau digiring ke dalam situasi semacam ini tanpa bertindak dan berkehendak serta memutuskan sendiri bahwa perang ini harus berhenti.

Kok sastrawan doang, sastrawatinya mana? Maksudnya sastrawan di sini berarti mencakup sastrawati juga. Seperti kata Arab “Muslim yang sering dipakai untuk mewakili kata muslim (umat Islam lelaki) dan muslimah (umat Islam perempuan). Maklumlah, kita kan menganut sistem patriarkal jadi cukup dengan menggunakan kata sastrawan. Nah, sekarang mari kita bahas soal sastrawan. Pertanyaan awalnya adalah, sastrawan itu apaan sih?

Katanya di Indonesia pernah ada paus sastra. Orang-orang memanggil namanya H.B. Jassin. Beliau ibarat seorang sastrawan yang memegang otoritas kesusasteraan di Indonesia. Tetapi era-nya pak Jassin sudah berakhir alias tempoe doeloe bin jadul. Lalu bagaimana di jaman sekarang?

Apakah sastrawan itu orang yang belajar di fakultas sastra?

Kalau menurut saya pribadi sih, yang ada di jaman sekarang adalah Penulis cerita atau Penulis puisi. Kalau mau disingkat ya Penulis sastra, bukan sastrawan.

Sastrawan itu ya Penulis Sastra. Mosok sih?

Lantas mereka yang kuliah di jurusan sastra bisa dibilang sastrawan?

Hasil ubek-ubek google daripada harus obrak-abrik rak buku hanya untuk menulis beginian, yang namanya sastra berarti seni, ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam,  ekspresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang memesona. Jadi yang disebut sastrawan adalah seseorang yang mengetahui, menguasai, dan mempraktikkan semua hal yang tercakup dalam definisi sastra itu?

Apakah sastra sedemikian penting bagi kehidupan? kalau jaman perjoeangan doeloe sih mungkin. Karena di dalam sejarah sastra Indonesia pernah ada pertarungan kubu para penyastra. Dengan kalimat lain, dulu itu sastra penting karena dibawa ke ranah politik. Tetapi sekarang ini sastra cuma lalu lalang begitu saja. Orang-orang lebih mementingkan belajar agama daripada belajar sastra. Apalagi sastra Indonesia, memangnya fakultas-fakultas sastra Indonesia masih banyak peminatnya?

Masihlah!

Baiklah, katakan saja masih banyak peminatnya. Tetapi kalau di kampus saya yang berbau agama, sastra Indonesia sama sekali tidak laku dan berganti dengan sastra Arab. Saya heran melihat kawan saya sampai tingkat pascasarjana memelajari sastra Arab ketimbang sastra Indonesia. Kalau ditanya soal sastra Arab pun belum tentu menguasai sepenuhnya ilmu kesusasteraan Arab yang jelimet; ada nahwu, sharaf, balaghah, ditambah sejarah sastra Arab. Sampai-sampai dia harus meneliti sastra Arab dari masa Pra-Islam. Kalau ditanya, “Untuk apa kamu belajar sastra Arab?”

Untuk mengetahui sya’ir-sya’ir bangsa Arab atau paling tidak bisa mengkaji corak kesusasteraan al-Qur’an. See! Ujung-ujungnya lari ke agama, ke pondasi awal dari bangunan suatu agama yaitu kitab suci. Lalu apa yang bisa dibuktikan dari kajian sastra terhadap al-Qur’an. Syukur kalau masih sama dengan arus mainstream, kalau berbeda dengan para mufassir yang sudah eksis dari jaman klasik seolah paling otoritatif, bisa-bisa kena damprat dan hujat. Sastra tidak pernah dapat tempat signifikan dan mapan dalam tradisi keilmuan Islam.  Karena yang utama adalah Fiqih, tafsir dan hadis. Makanya banyak orang yang didaulat sebagai sastrawan Timur Tengah di abad modern sering kali mendapat ancaman pembunuhan karena coba menyastrakan sumber ajaran agama.

Kawan saya yang belajar sastra Arab itu ketika ditanya, “Apa kamu merasa dirimu sastrawan?” pasti jawabannya tidak. Mengkaji puisi Arab bisa tetapi membikin puisi Arab tidak bisa. Masih mending mahasiswa-mahasiswa sastra Indonesia yang bisa membikin puisi berbahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mau mengaku sebagai sastrawan atau masih malu-malu mengakui kesusasteraan diri atau tulisan mereka sendiri. Dan kalau para mahasiswa sastra Indonesia itu lulus dari bangku perkuliahan, apakah mereka akan menahbiskan diri sebagai sastrawan dan bergerak di bidang sastra atau malah menjadi guru bahasa Indonesia?

Semisal adik perempuan saya yang lulusan sastra Inggris di Universitas terkemuka di Jakarta. Ketika lulus kuliah dia malah jadi guru bahasa Inggris walaupun aktif di kegiatan sastra sewaktu masih kuliah. Kalau ditanya soal teori lekas dijawab, “Aduh, lupa lagi, itu kan dulu pas di kuliah.” padahal saya cuma tanya misal tentang teori mimesis-nya Plato. Ini menandakan bahwa ternyata ada realita yang lebih pelik yang harus dihadapi di luar dunia perkuliahan ketimbang saat masih di dalam. Artinya, menjadi sastrawan bukanlah cita-cita setiap lulusan SMA yang masuk fakultas sastra.

Oke, anggap saja para penyair, novelis, cerpenis adalah sastrawan. Apalagi jika buku karya mereka sudah best-seller. Tidak perlu kita bedakan apakah karya mereka populer atau non-populer, pasaran atau estetik. Sekarang kita tanya balik, “Apakah mereka sastrawan?” Lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak, tergantung selera. Sekarang mari kita sangkut pautkan dengan sastra populer dan sastra tinggi dalam konteks menghasilkan suatu karya. Kira-kira mengikuti minat pasar, mana yang lebih diinginkan oleh penerbit buku, sastra populer atau non-populer? Tentu semua orang boleh berdalih bahwa menulis novel, kumpulan cerpen atau puisi adalah semata berkarya. Adapun uang hanya efek samping dari hasil karya kita. Namun dalih seperti itu hanya ucapan klise saja. Kalau mau novelnya populer, si pengarang gampang saja tinggal contoh resep penulisan best seller. Toh, banyak workshop penulisan buku menawarkan tips, ramuan, dan resep suatu karya menjadi best seller. Tetapi apakah karya mereka layak disebut karya sastra atau bukan? lagi-lagi jawabannya bisa ya dan tidak tergantung selera.

Kriteria apa yang bisa menunjukkan seseorang dapat disebut sebagai seorang sastrawan. Semua orang bisa menulis atau sebutlah membuat sebuah karya yang layak dibaca. Tapi sekali lagi, karya yang layak dibaca oleh siapa? Oleh seorang guru atau sebutlah mereka yang mengerti teori, atau sekedar orang awam yang merasa terhibur membaca karya itu. Sebut sajalah sebuah tulisan yang tak terlalu bagus dalam ukuran teori namun dapat membuat pembacanya, yang dalam hal ini adalah orang yang tidak mengerti teori, benar-benar terhibur dan senang akan tulisan yang dibacanya. Dibandingkan dengan tulisan seseorang yang mengerti teori meski belum sepenuhnya, dan berusaha menerapkannya, namun tulisan itu hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mengerti teori. Sedangkan orang awam yang katanya tidak mengerti teori hanya bisa mengerutkan kening, dan malah menimbulkan kesan enggan membaca karena kesulitan dalam memahami rangkaian kalimat yang terdapat dalam tulisan itu. Terlalu banyak estetika malah bikin yang awam jengah. Jangankan yang awam, editor buku pun terkadang merasa ingin muntah.

Lalu kalau sudah begini, masihkah sekarang ada yang namanya sastrawan? Atau seperti yang saya bilang di atas, yang ada hanya penulis saja; seperti penulis novel ya novelis, bukan sastrawan.

———————————————————

ps. dialog sastrawan muda dan sang ayah.

Anak: “Yah, saya mau jadi novelis.”

Ayah: “Apaan tuh?”

Anak: “Penulis novel.”

Ayah: “Gajinya berapa?”

Anak: “Bukan digaji, tapi nulis buku terus dijual.”

Ayah: “Oh, jualan. Berarti dagang toh. Kalau dagang ya boleh, kan jelas halalnya.”

Anak: *tepuk jidat*

Bagi umat islam Qur’an adalah fiman Allah, dimana Allah berbicara lewat  malaikat Jibril kepada Muhammad: “Kitab ini tidak perlu diragukan lagi,” tegas al-Qur’an pada pembukaannya di surat al-Baqarah. Para sarjana dan penulis di negara-negara Islam yang telah mengabaikan peringatan tersebut telah kadang-kadang mendapati diri mereka menjadi target ancaman pembunuhan dan kekerasan yang dikirimkan secara dingin ke  universitas-universitas di seluruh dunia.

Namun, tanpa menghiraukan ancaman itu, beberapa ahli telah diam-diam menyelidiki asal-usul al-Qur’an dan menawarkan teori-teori radikal baru tentang arti teks dan kebangkitan Islam. Christoph Luxenberg, seorang sarjana bahasa Semit kuno di Jerman, berpendapat bahwa Qur’an telah salah dibaca dan diterjemahkan selama berabad-abad. Karyanya, berdasarkan salinan paling awal dari al-Qur’an, menyatakan bahwa bagian-bagian dari kitab suci  Islam ini berasal dari teks-teks sekte kristen berbahasa Aram yang disalah-tafsirkan oleh ulama Islam di kemudian hari yang tengah mempersiapkan edisi Qur’an yang kelak kita miliki saat ini.

Misalnya houri, bidadari perawan yang kelak menunggu para syuhada yang saleh sebagai hadiah mereka di surga, pada kenyataanya kata itu harusnya diterjemahkan sebagai  ”kismis putih”.

Christoph Luxenberg (nama samaran) dan buku ilmiahnya The Syro-Aramaic Reading of the Koran tadinya mengalami kesulitan mencari penerbit, meskipun dianggap sebagai karya baru besar dengan beberapa ulama terkemuka di bidangnya. Verlag Das. Arabische Buch di Berlin akhirnya mau menerbitkan bukunya.

Peringatan ini tidaklah mengejutkan. Buku Salman Rushdie Ayat-ayat  Setan menerima fatwa bakar dan penulisnya wajib disediakan sayembara hadiah bagi yang menangkap atau membunuhnya, karena karyanya tampak mengejek Muhammad. Novelis Mesir Naguib Mahfouz ditikam karena salah satu bukunya dianggap ‘tak beragama’. Dan ketika sarjana Arab Sulaiman Bashear berpendapat bahwa Islam dikembangkan sebagai sebuah agama secara bertahap, bukannya muncul dan terbentuk secara tiba-tiba dari mulut sang Nabi, dia terluka setelah dilempar dari kelasnya lewat jendela di lantai dua oleh murid-muridnya di Universitas al-Najah, Nablus di Tepi Barat Palestina. Bahkan banyak Muslim liberal berwawasan luas menjadi marah ketika kebenaran sejarah dan keaslian Qur’an dipertanyakan.

Gemanya telah mempengaruhi para sarjana non-Muslim di negara-negara Barat. “Manakala terjepit di antara  ketakutan dan kepura-puraan politik, tidaklah mungkin untuk mengatakan apapun selain omong kosong manis tentang Islam,” kata seorang sarjana di sebuah universitas Amerika yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengacu pada ancaman kekerasan serta keengganan luas di perguruan tinggi Amerika Serikat untuk mengkritik budaya lain.

Sekalipun tafsir kitab suci  mungkin tampak seperti aktivitas terpencil dan tidak berbahaya, studi tekstual Kitab Suci Yahudi dan Kristen memainkan peran yang besar dalam melonggarkan dominasi Gereja pada kehidupan intelektual dan budaya di Eropa, dan membuka jalan bagi pemikiran sekuler agar tidak terkekang. “Kaum Muslim mendapatkan manfaat dari pengalaman Eropa, dan mereka tahu benar bahwa sekali anda mulai mempertanyakan kitab suci, anda tidak tahu di mana itu akan berhenti,” jelas seorang sarjana.

Pendekatan pada pertanyaan tentang Quran sebenarnya datang jauh sebelum eskalasi militansi Islam. Sejak  tahun 1977, John Wansbrough dari Sekolah Studi Oriental dan Afrika (school for Oriental and African Studies – SOAS) di London menulis tesis yang menempatkan Qur’an dalam analisa-analisa yang selama ini dikenakan pada kritik biblikal.  Hal mana selama ini tidak pernah dikenakan pada Qura’n.

Lewat analisanya Wansbrough berpendapat bahwa teks-teks Quran tampaknya merupakan gabungan dari sumber-sumber yang berbeda atau naskah-naskah yang dikompilasi  selama puluhan, jika tidak ratusan tahun. Lagian, para sarjana sepakat bahwa tidak ada bukti apapun dari keberadaan naskah-naskah Qur’an sampai 691 M, yaitu 59 tahun setelah kematian Muhammad, ketika Kubah Emas di Yerusalem dibangun yang konon membawa beberapa inskripsi dari al-Qur’an.

Inskripsi ini berbeda dari versi Qur’an yang telah diwariskan selama berabad-abad. Para ahli menyarankan bahwa Qur’an mungkin saat itu masih berkembang sampai dasawarsa terakhir abad ketujuh. Selain itu, banyak dari apa yang kita kenal sebagai kehidupan dan perkataan Nabi (Sunnah) didasarkan pada teks-teks yang ditulis dan dikodifikasi antara 130 sampai 300 tahun setelah kematian Muhammad.

Pada tahun 1977 dua sarjana lainnya dari SOAS di London University, Patricia Crone (sekarang seorang profesor sejarah di Institute for Advanced Studi di Princeton) dan Michael Cook (seorang profesor sejarah Timur Dekat di Princeton University), mengusulkan pendekatan baru yang radikal dalam buku Hagarism: The Making of the Islamic World.

Karena tidak ada catatan sejarah dalam bahasa Arab dari abad pertama Islam, mereka berdua mencari dokumen-dokumen abad ketujuh dari sumber-sumber non-muslim yang memberi petunjuk bahwa Muhammad dianggap bukan sebagai pendiri suatu agama baru tetapi sebagai seorang pengkhotbah dalam tradisi Perjanjian Lama yang memanggil kedatangan seorang Mesias. Banyak dokumen awal mengacu pada para pengikut Muhammad sebagai “Hagarin,” dan “suku Ismail,” dengan kata lain sebagai keturunan Hagar (Siti Hajar), hamba sahaya dari Sarah istri Abraham (Nabi Ibrahim) bapak bangsa Yahudi, yang diangkat sebagai gundik untuk meneruskan keturunan Abraham, yang darinya nanti lahirlah Ismail.

Dalam bentuknya yang paling awal, Crone dan Cook berpendapat bahwa para pengikut Muhammad mungkin telah melihat diri mereka sebagai pemiliki misi untuk merebut kembali  Tanah Suci, bersama sepupu Yahudi mereka. Dan dari catatan yang ada, memang kaum Yahudi menyambut kedatangan orang Arab sebagai pembebas ketika mereka memasuki Yerusalem pada tahun 638.

Gagasan bahwa mesianisme Yahudi tertanam dalam benak para pengikut awal sang Nabi tidak diterima secara luas di lapangan, tetapi “gerakan Hagarisme” dipercaya sebagai pembuka dari pemikiran ini. “Crone dan Cook muncul dengan beberapa ide revisionis yang sangat menarik,” kata Fred M. Donner dari University of Chicago dan penulis buku terbaru Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing. “Saya pikir dalam rangka mencoba merekonstruksi apa yang telah terjadi, mereka menyelam ke kedalaman dan menanyakan pertanyaan yang tepat.”

Sekolah revisionis Islam awal telah diam-diam mengambil momentum dalam beberapa tahun terakhir pada saat sejarawan lain mulai menerapkan standar rasional untuk membuktikan materi ini. Cook dan Crone telah merevisi beberapa hipotesis awal mereka sementara beberapa bagian dari tesis itu masih tetap mereka pegang.  ”Kami yakin ada beberapa detil yang keliru,” kata Crone. “Tapi saya tetap berpegang pada titik dasar yang kami buat; Bahwa sejarah Islam tidak timbul sebagaimana tradisi klasik ceritakan”

Crone tetap berpegang bahwa Qur’an dan tradisi Islam menyajikan sebuah paradoks yang mendasar. Qur’an adalah teks yang direndam dalam cara berpikir monoteistik, penuh dengan cerita dan referensi kepada Abraham, Ishak, Yusuf dan Yesus, namun sejarah resmi menegaskan bahwa Muhammad, seorang pedagang onta buta huruf, menerima wahyu di Mekah, di bagian terpencil Arab dengan populasi yang jarang, jauh dari pusat-pusat pemikiran monoteistik, dalam lingkungan Badui Arab yang menyembah berhala. Nampaknya sukar untuk menerima ide kisah tentang munculnya malaikat Jibril. Crone mengatakan para sejarawan entah bagaimana harus menjelaskan semua ide dan kisah monoteistik ini sampai ke Qur’an.

“Hanya ada dua kemungkinan,” kata Crone. “Entah harus ada sejumlah besar orang Yahudi dan Kristen di Mekah atau Qur’an sebenarnya disusun di tempat lain.”

Memang, banyak sarjana yang tidak setuju merevisi bahwa Islam harus ditempatkan kembali ke dalam konteks historis yang lebih luas dari agama-agama di Timur Tengah daripada melihatnya sebagai produk spontan dari padang pasir Arab murni. “Saya kira ada peningkatan penerimaan, bahkan pada bagian dari banyak warga Muslim, bahwa Islam muncul dari sup monoteistik yang lebih luas di Timur Tengah,” kata Roy Mottahedeh, seorang profesor sejarah Islam di Harvard University.

Para sarjana seperti Luxenberg dan Gerd. R. Puin yang mengajar di Saarland University di Jerman, telah kembali ke mushaf Qur’an awal untuk memahami apa yang dikatakannya tentang asal-usul dokumen dan komposisinya. Luxenberg menjelaskan salinan ini ditulis tanpa vokal dan titik-titik diakritik bahasa Arab modern yang digunakan untuk membuat jelas apa yang dimaksudkan surah-surah. Pada abad kedelapan dan kesembilan, lebih dari satu abad setelah kematian Muhammad, komentator Islam menambahkan tanda diakritik untuk menjernihkan ambiguitas teks, memberikan makna yang tepat untuk bagian-bagian berdasarkan apa yang mereka dianggap konteks yang tepat mereka. Teori radikal Luxenberg adalah bahwa banyak dari kesulitan teks ini bisa diklarifikasi jika dilihat sebagai keterkaitan erat dengan bahasa Aram, rumpun bahasa yang paling banyak digunakan oleh Kaum Yahudi dan Kristen di Timur Tengah pada saat itu.

Sebagai contoh, bagian terkenal tentang bidadari perawan didasarkan pada kata ‘Hur’, yang merupakan kata sifat dalam bentuk jamak feminin yang cuma berarti “putih”.  Tradisi Islam menegaskan bahwa ‘hur’ secara istilah berarti “bidadari”, yang berarti perawan. Namun Luxenberg bersikeras bahwa ini adalah salah baca teks yang dipaksakan, baik dalam bahasa  Aram kuno dan maupun setidaknya di salah satu kamus terpercaya bahasa Arab awal, ‘Hur’ berarti “kismis putih”.

Luxenberg telah menelusuri naskah-naskah yang berkaitan dengan surga dalam teks Kristen yang disebut Hymne Surgawi yang ditulis oleh seseorang di abad keempat. Luxenberg mengatakan kata ‘firdaus’ atau surga berasal dari kata bahasa Aram untuk taman dan semua deskripsi tentang surga digambarkan sebagai taman air yang mengalir, buah-buahan yang melimpah dan kismis putih, camilan lezat paling berharga di Timur Dekat kuno. Dalam konteks ini, kismis putih, sering disebut sebagai ‘Hur’. Luxenberg katakan penjelasan ini lebih masuk akal lebih dari hadiah nikmat seksual.

Dalam banyak kasus, perbedaan dalam Qur’an bisa sangat signifikan. Puin menunjukkan bahwa dalam salinan kuno Qur’an awal, adalah mustahil untuk membedakan antara kata-kata “melawan” dan “membunuh.” Dalam banyak kasus, katanya, ahli tafsir Islam menambahkan tanda diakritik yang menghasilkan makna keras, mungkin mencerminkan suatu periode dimana Imperium Islam sering berperang.

Dengan kembali ke naskah awal Qur’an, Puin dan sarjana lainnya menyarankan, mungkin akan membimbing kita pada pemikiran islam yang lebih  toleran, juga lebih sadar akan hubungan dekatnya baik Yudaisme maupun Kristen.

“Ini adalah kerja serius dan menarik,” tanggapan Crone tentang karya Luxenberg. Jane McAuliffe, seorang profesor studi Islam di Georgetown University, telah meminta  Luxenberg untuk berkontribusi sebuah esai kepada Ensiklopedia Qur’an, yang tengah ia edit.

Puin akan senang melihat “edisi kritis” dari Al-Qur’an yang nantinya dihasilkan, yang didasarkan pada pekerjaan filologis baru-baru ini. Tetapi, “kata kritis sering  disalahpahami di dunia Islam, itu terlihat sebagai mengkritik atau menyerang teks.” jelasnya.

Beberapa penulis muslim telah mulai mempublikasikan karya skeptis, revisionis atas Qur’an juga. Beberapa volume karya kesarjanaan revisionis, The Origins of Qur’an dan The Quest Historical Muhammad telah diedit oleh Ibn Warraq yang mengepalai sebuah kelompok yang disebut Institut for the  Secularization of Islamic Society. “Karya kesarjanaan Alkitab telah membuat orang kurang dogmatis, lebih terbuka,” katanya, “dan saya berharap ini terjadi pada masyarakat Muslim juga.”

Namun banyak umat Islam yang memperlihatkan klaim ofensif terhadap revisionisme. “Saya pikir implikasi yang lebih luas dari beberapa sarjana revisionis adalah untuk mengatakan bahwa Qur’an bukan buku otentik, dan bahwa Qur’an itu dibuat 150 tahun kemudian,” kata Ebrahim Moosa, seorang profesor studi agama di Duke University, serta ulama Muslim yang kecenderungan kecenderungan teologis liberalnya membuat dia dimusuhi  oleh kaum fundamentalis di Afrika Selatan, yang ia tinggalkan setelah rumahnya dibom oleh para fundamentalis.

Andrew Rippin, seorang sarjana Islamisist dari University of Victoria di British Columbia, Kanada, mengatakan bahwa kebebasan berbicara di dunia Islam lebih cenderung berevolusi dari dalam tradisi interpretatif Islam daripada serangan luar atasnya. Pendekatan al-Qur’an sekarang yang dicap sesat -yang menafsirkan teks metaforis ketimbang secara harfiah- secara luas pernah dipraktekkan dalam Islam mainstream seribu tahun yang lalu.

“Ketika saya mengajar sejarah penafsiran, ini bagaikam membuka mata bagi para siswa akan sejumlah  pemikiran independen dan interpretasi keragaman yang ada pada abad-abad awal Islam,” kata Rippin. “Barulah pada abad-abad kemudian ada kebutuhan untuk membatasi interpretasi.”

disadur dari: Radical New Views of Islam and the Origins of the Koran, New York Times | Saturday, March 2, 2002 | By ALEXANDER STILLE

13252613992054086072

Mengagetkan mendengar kabar pembakaran terhadap pesantren Syi’ah di Sampang Madura. Patut diketahui sebelumnya bahwa konflik Sunni-Syi’ah adalah konflik yang sudah bertahan ratusan abad dan mengiringi perjalanan konstruksi ortodoksi Islam, baik untuk Sunni, Syi’ah, maupun aliran teologis serta politik lainnya di dalam komunitas muslim. Entah mengapa konflik ini sengaja dipelihara dari tahun ke tahun bahkan sampai pula ke Indonesia. Di era Orde baru pun pemerintah melalui instrumen agamanya yakni MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang Syi’ah yang berujung pada himbauan agar masyarakat “harus” menaruh curiga terhadap eksistensi Syi’ah. Bahkan Kementrian agama juga merilis daftar penyimpangan Syi’ah dari arus mainstream yakni Sunni.

Dalam menanggapi pemberitaan tentang pembakaran pesantren Syi’ah berbagai reaksi bermunculan termasuk wacana transmigrasi bagi pengikut syi’ah. Jadi demi eksistensi, maka yang marginal terpaksa harus direlokasi. Apakah langkah tersebut sudah tepat? Namun yang paling menjadi pertanyaan pokok adalah adanya ketakutan pada level akar rumput. Ketakutan bahwa apa yang sudah mapan kemudian digugat oleh eksistensi kelompok lain yang berbeda. Tetapi karena tak sanggup menerima dengan dialog maka yang muncul adalah sikap reaksioner dengan alasan penyebaran aliran.

Beberapa hari lalu kita mendengar berita terbaru dari Timur Tengah tepatnya di Yaman yang melibatkan tewasnya dua orang WNI akibat serangan pemberontak Syi’ah. Entah apakah kabar tersebut bisa dikonfirmasi kebenarannya bahwa pelaku penyerangan itu dari kalangan Syi’ah atau bukan, tetapi jelas konflik antara Sunni-Syi’ah ini sengaja diungkit kembali di era modern. Sebenarnya sulit juga mengaitkan antara apa yang terjadi di Timur Tengah dengan di negeri ini, namun umat Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari tradisi besar-nya yang ada di Timur Tengah. Dengan media informasi semakin terbuka maka setiap informasi akan mudah disebarkan baik melalui lisan dan cara-cara tradisional maupun melalui teknologi seperti internet. Apalagi ditambah bumbu manis surgawi membela kebenaran dan membasmi kesesatan. Tambah semarak lagi yang namanya konflik antar/intra umat beragama.

Yang patut disayangkan adalah konflik antar atau intra umat beragama di Indonesia kerap sekali berujung pada aksi kekerasan. Mengapa? sampai sekarang pun saya tak pernah mendapat jawaban pasti karena yang ada hanya spekulasi dan penyelesaian yang tidak tuntas. Lalu pasca konflik tersebut pertanyaannya adalah apakah umat Islam di Indonesia harus menerima konflik impor yang sudah berlangsung sejak ratusan abad lalu? Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, dapatkah kita memandang bahwa mereka juga saudara-saudara kita? Apakah nurani kita telah dibutakan oleh agama jika ternyata agama memang bisa membutakan kita. Atau lagi-lagi peristiwa ini hanya pengalihan isu dan sengaja dipelihara oleh elit-elit yang punya sejuta kepentingan politik?

Indonesia, Indonesia, se-barbar itukah bangsa ini?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 268 other followers