Archive

Monthly Archives: July 2011

13118367601461228762

Wajar apabila ketika TV One meliput tayangan tentang keluarnya pak Sultan Hamengku dari Nasdem, tapi juga ironis karena selama ini TV One tidak pernah menayangkan soal Nasdem, pasti lebih banyak menayangkan Golkar dan Abu Rizal Bakrie. Lantas mengapa saya katakan wajar? Kalau sepintas ditinjau dari dua kubu besar di Golkar, yakni Abu Rizal dan Surya Paloh, maka TV One berada pada kubu Abu Rizal. Sedangkan rivalnya, yakni Surya Paloh sudah lebih dahulu diendorse Metro TV, atau justru Metro TV yang dikuasai Paloh.

Adapun mengenai ironinya, karena ketika Surya Paloh belum mencetuskan Nasdem sebagai partai melainkan baru Ormas, mengapa TV One tidak pernah menayangkan seputar Nasdem. Namun ujug-ujug ketika sejumlah deklator atau inspirator keluar dari Nasdem, termasuk Sultan kraton Yogyakarta itu, karuan saja mereka memberitakannya. Apakah itu cuma sekedar berita saja, atau ingin mengatakan kepada Surya Paloh bahwa Ormas Nasdem takkan bertaji ketika bermetamorfosis jadi Partai politik.

Tapi ada keraguan dalam diri saya, apa benar Nasdem jadi partai politik? meskipun tadi pagi saya lihat tayangan berita tentang pawai budaya ala “Partai Nasdem” di Metro TV. Memang sejak awal banyak yang menuding bahwa deklarasi Nasdem sebagai ormas digadang-gadang hanya untuk menggalang kekuatan dan dukungan sebelum bertransformasi menjadi partai politik. Tetapi apakah hal ini tidak diketahui oleh orang sekelas Sultan? Atau apakah Sultan masih setia dengan Golkar? Atau Golkar menjanjikan kepada Sultan kedudukan penting di 2014 nanti, atau malah Sultan ingin mengamankan posisinya sebagai orang penting yang populer di negeri ini saja. Karena untuk menjadi presiden pun, Sultan masih terbelit jabatan dia saat ini yang belum selesai proses regulasinya, undang-undang tentang daerah istimewa itu justru menjadi polemik tersendiri andaikan dia menginginkan atau ada sebagian orang yang mendukung langkahnya menuju RI 1.

Kembali ke soal media dan partai politik, setelah era reformasi ini makin kentara bagaimana media menjalin jejaring kuasa dengan partai politik. Selain Metro TV dan TV One, stasiun televisi lainnya nampaknya adem ayem karena lebih banyak menitikberatkan hiburan-hiburan populis seperti sinetron reliji, musik musiman, reality show, kuis, dll. Mereka seolah tak mau menyentuh jagad politik walaupun ketika membicarakan peristiwa politik tanah air, bias-bias menghamba pada partai-partai politik tertentu tak dapat dielakkan. Yang menarik belakangan ini ketika Demokrat menjadi lawan politik bersama, dua media yang gencar memberitakan berita; Metro TV dan TV One, seperti sedang dilanda kemesraan. Makanya orang-orang Demokrat mencak-mencak dan menggeneralisir menyalahkan pers, walaupun mungkin saja yang dimaksudkan adalah dua stasiun televisi tersebut. Sebab pemberitaan terhadap partai mereka tak segarang dan sesering di Metro TV dan TV One.

Menurut saya bagus juga jika setiap partai punya stasiun televisi sehingga tidak perlu beriklan di stasiun televisi lain. Mau menayangkan subjektifitas partai dipersilahkan, mau promosi jargon dan janji yo monggo. Mirip klub sepakbola di Inggris, ada MU TV, Chelsea TV, dll. Yang demikian malah lebih jelas kompetisinya, tidak seperti saat ini seolah independen dan objektif tapi tersirat (bahkan kadang sarat) kepentingan partai politik di balik tayangan-tayangannya.

Beberapa hari lalu saya menyaksikan Ganjar Pranowo di TVRI yang mengatakan bahwa saat ini tiada lagi tokoh aktivis dari kalangan mahasiswa sebagaimana pernah ada pada angkatan 45 sampai 98. Sekarang mari kita tanya balik kepada para politisi termasuk pengamat politik yang seringkali menjadikan mahasiswa sebagai excuse mandegnya dinamika politik di tanah air. Mahasiswa generasi sekarang sudah dibentuk oleh sistem dan kondisi sosial-ekonomi untuk menjadi pragmatis, jadi untuk apa mereka menimpakan semua alasan kepada pundak mahasiswa. Padahal mereka sendiri yang menjadikan kondisi politik tanah air compang-camping. Perhatikan saja para mantan aktivis, apa kerjanya mereka sekarang? apa masih mengurusi politik, atau mengurusi keluarga pribadi? Hidup ini tentunya tidak cuma memikirkan politik belaka. Pertanyaannya sepenting apa sih politik bagi mahasiswa, atau justru malah nggak penting?

Seberapa banyak mahasiswa saat ini yang turun ke jalan? paling-paling turun ke jalan kalau pas tawuran gara-gara rebutan pasangan, saling menghina antar kampus dan sok membela nama universitas, ribut soal bayaran kuliah, atau karena membela organisasi ekstra kampus yang kadang-kadang dianggap lebih penting karena memerjuangkan ideologi golongan. Selebihnya mungkin hanya sibuk dugeman, atau kuliah pagi pulang sore sebagai geek. Lantas bagaimana dengan politik? jawabnya bisa jadi penting nggak penting. Toh mahasiswa yang berdemonstrasi soal kondisi bangsa atau mengkritik pemerintah dan DPR, kadang-kadang baru mau turun jika uangnya juga turun. Alias mahasiswa merupakan lahan basah untuk dijadikan rebutan generasi-generasi tua mereka di balik meja partai politik, kelompok oposisi, ormas, LSM, dsb.

Apakah kondisi itu mau dipersalahkan? Sekali lagi buat para tokoh-tokoh aktivis mahasiswa dari angkatan masa lalu, jangan menyalahkan generasi sekarang. Berkacalah kepada diri kalian yang kini sudah menduduki jabatan-jabatan tertentu di parlemen atau kepemerintahan. Bukankah kalian yang membuat semakin hari kondisi politik di negeri ini kian tidak jelas. Carut marut itu ada karena kalian memertontonkannya, sehingga para mahasiswa merasa jengah terjerumus dalam permainan kalian. Lebih baik menonton atau mengabaikan gonjang-ganjing ini dan memikirkan kehidupan pribadi, setidaknya untuk bertahan hidup di negara terkutuk ini. Seperti lulus kuliah dengan cepat, mencari kerja atau membuka bisnis kecil-kecilan, lalu menikah dan membangun keluarga, serta mati dengan bahagia karena terlepas dari kehidupan yang menyakitkan ini.

Pikirkan sekali lagi untuk menjadikan mahasiswa sebagai alasan, mahasiswa bukan sumber daya untuk dieksploitasi. Kalau partai politik di negeri ini ingin menggunakan mahasiswa sebagai instrumen, lebih baik bermimpi saja, atau sediakan uang yang banyak. Percuma menjejali dengan idealisme jika tingkah laku partai politik dan patron-patronnya ternyata tidak idealis. Lebih baik membela kepentingan organisasi-organisasi masyarakat, golongan-golongan pribadi atau sektarian, yang lebih bisa menjamin keberlangsungan komunitas yang mereka gandrungi; entah komunitas pekerjaan, komunitas hobi, komunitas keagamaan, komunitas bakat, komunitas kuliner, komunitas wisata, komunitas games, komunitas foya-foya, dan sebagainya. Yang demikian itu lebih menjamin mahasiswa untuk membangun jaringan sosial kemasyarakatan dan ekonomi, daripada harus berkecimpung dalam partai politik.

Kenapa demikian? Bisa jadi karena mahasiswa bosan dengan tawaran-tawaran yang di masa lalu tampak menggiurkan. Sebaliknya saat ini tawaran-tawaran itu telah basi dan bikin bosan. Nggak perlu membawa-bawa kondisi seolah menyeramkan jika masa transisi demokrasi tidak tuntas di 2014 nanti, bahkan ada pengamat politik yang bilang jika 2014 nanti konsolidasi politik tidak terpecahkan, maka Indonesia terperangkap dalam masa transisi permanen. Apakah karena dalil demikian maka para mahasiswa di Indonesia harus kembali melek politik? Atau justru semakin membuat politik sebagai barang usang yang patut dibuang atau digadaikan?

Menyaksikan acara liputan acara orasi kebangsaan di Metro TV, tak ubahnya pepesan kosong acara ospek di kampus, yang diisi senior-senior sok idealis yang kerjanya cuma bisa membebankan apa saja kepada orang-orang yang lebih muda. Mengapa pemuda dijadikan generasi untuk menanggung kesalahan-kesalahan yang diperbuat generasi sebelumnya, padahal mereka sendiri yang membuat kesalahan-kesalahan itu dan seharusnya mereka yang bertanggung jawab. Mereka yang membikin negara ini hancur, dan anak muda yang digojlok untuk membenahinya, didelegasikan setumpuk persoalan untuk diselesaikan. Semestinya generasi yang tua ini meminta maaf kepada generasi setelahnya. Mereka yang membuat tiap kepala yang lahir di negara ini langsung terbelit hutang, terlilit sejuta porak poranda, dan terjebak dalam kekisruhan di segala bidang.

Itu kan kesalahan generasi tua yang ujug-ujug dibebankan kepada generasi muda, sementara mereka enak-enak meninggalkan dunia ini tanpa meminta maaf, lari cuci tangan dan bersembunyi. Mereka sendiri yang lupa dengan masa depan dan lebih mementingkan generasinya sendiri, dan sekarang mengemis kepada generasi muda untuk menjadi idealis. Seharusnya mereka bertanya pada diri mereka sendiri, ke mana menghilangnya idealisme kalian. Apakah cuma untuk mencari popularitas dan disebut sebagai tokoh bangsa, atau agar bisa mendapatkan kedudukan, meraih posisi di lahan basah, supaya kehidupan pribadi atau keturunan kalian sendiri aman-aman saja tak tergerus kemiskinan.

Hai generasi masa lalu, berkacalah kepada diri kalian sejauh mana andil kalian dalam menciptakan carut marut seperti sekarang. Manusia itu berubah, demikian pula tiap periode dalam lintasan sejarah, generasi selalu berubah. Jangan menerapkan standar kalian kepada generasi selanjutnya, jangan melihat kami generasi muda dengan cara pandang kalian. Padahal di satu sisi kalian generasi tua selalu menyalahkan kami generasi muda dengan segala perbuatan dan tingkah laku kami tidak sesuai dengan sejarah kalian. Sedangkan itu sejarah kalian, bukan sejarah kami. Kalian menyembunyikan ketakutan kalian tentang adanya keterputusan antara kami dengan kalian, dan kalian takut dinilai buruk oleh kami sehingga kalian bilang, “Jangan lupakan sejarah.” Sekarang kami akan bertanya, sejarah apa yang kalian buat untuk kami sampai terlahir di tengah penderitaan ini.

Untuk para generasi tua, mengapa kalian kerjanya hanya bisa mendaur ulang sejarah, menciptakan idealisasi sejarah dan menjadikan generasi penerus kalian sebagai babu dan kacung yang seolah telah kehilangan moral. Pernahkah kalian tujukan itu pada diri sendiri, atau malahan kalian menganggap generasi kalian terdiri dari orang-orang suci yang patut digugu dan ditiru. Dan sekarang kalian berdiri menyombongkan diri sebagai idealitas sejati. Ucapkan itu pada kemaluan kalian sendiri, yang kami maksud adalah rasa malu kalian saat mengumbarnya. Generasi muda bukanlah instrumen yang bisa dengan mudah kalian kooptasi, apalagi dijadikan sumber daya untuk saling diperebutkan. Kalau kalian perlu senjata, berjuang sendiri saja dengan badan kalian yang rapuh untuk memertanggung jawabkan hasil sejarah masa lalu buatan tangan-tangan kalian.

Kalau apa yang telah terjadi sekarang ini tak mampu kalian benahi, tak perlu sok idealis dan lagi-lagi menabur janji serta cita-cita utopis. Kalian ingin kejujuran? Jujurlah pada diri sendiri dan biarkan generasi muda berjuang bertahan hidup serta menemukan penawar bagi segala kontaminasi zaman yang menyejarah ini. Simpan borok kalian dan nikmati sendiri, setiap periode punya masa dan sejarahnya masing-masing. Betapa menyakitkan diperalat demi kepentingan masa lalu dan juga masa depan, betapa mengerikan terjebak dalam konflik aktor-aktor di balik layar, betapa bodohnya kami sebagai generasi muda terseret arus pertentangan yang tak kunjung usai. Mengertilah akan hal itu dan hentikan ke-norak-an kalian.

Kadang saya bertanya sebenarnya apa sih yang diinginkan orang-orang yang menyatakan kepada orang lain bahwa agamamu salah, atau cara beragamamu salah. Ketika saya berdialog dengan orang-orang seperti itu dan menanyakan apakah sebenarnya tujuan akhir yang hendak dicari, biasanya mereka menjawab bahwa Tuhan tidak menilai hasil akhir, melainkan prosesnya. Jadi dengan kata lain mereka akan tetap melakukan itu tanpa tahu apa yang hendak dituju, dan hanya menjalankan sesuatu yang dianggap sebagai proses. Kebanyakan proses itu kemudian diterjemahkan sebagai perintah agama, dan siklus mengatakan orang lain salah dalam beragama akan terus berputar tanpa henti dalam kehidupan ini.

Jika Tuhan menilai prosesnya, lalu kriteria bagaimana dalam proses itu yang dinilai Tuhan paling benar? Apakah masih pantas untuk dipakai logika semisal kalau tidak bisa pakai tangan maka pakai mulut, dan jika tidak bisa keduanya maka cukup di dalam hati? Jawabannya mungkin karena ini bukan logika tetapi bagian dari sebuah teks agama, maka sepanjang hayat manusia harus mempraktikannya. Namun kalau dikembalikan ke pertanyaan di atas, sebenarnya apa yang hendak dicapai dengan terus memainkan peranan sebagai pelaksana penggalan bunyi teks ini? Dan lagi-lagi dalih yang dipakai, Tuhan tidak menilai hasil akhir melainkan prosesnya. Makanya siklus ini terus berputar-putar tiada henti.

Padahal kalau kita seringkali mendengar kata-kata, “Lakum diinukum waliyaddin.” alias untukmu agamamu dan untukku agamaku. Dalam pemahaman rasional saya yang sering distempel sesat, makna untukmu agamamu dan untukku agamaku, tidak hanya berhenti pada makna tekstual agama sebagai acuan normatif. Selain itu ada bingkai subjektifitas di dalamnya yang berakar pada masing-masing individu manusia. Tiap kelas atau stratifikasi sosial, menyimpan bentuk-bentuk subjektif yang jika dipaksakan untuk diseragamkan melalui satu sistem kode atau nilai tertentu, maka yang timbul adalah relasi dominasi-hegemoni. Seperti kelas terpelajar kepada kelas non-terpelajar, kelas agamawan kepada non-agamawan.

Sementara di sisi lain subjektifitas manusia bukanlah terbentuk dari lahan kosong dan tiada isinya. Setiap orang membawa latar belakang beragam yang tidak bisa serta merta dipaksa seragam oleh sakralitas teks yang dibilang sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Sedangkan dorongan dalam diri berdasarkan latar belakang subjektif itu begitu kuat untuk melakukan pembuktian-pembuktian. Seorang yang berprofesi sebagai dokter dengan segala subjektifitas dia karena mempunyai latar belakang ilmu kedokteran semestinya boleh saja melakukan pembuktian-pembuktian terhadap dalil-dalil teks agama, demikian pula orang-orang lain yang punya latar belakang berbeda. Karena itu beragama adalah persoalan subjektif yang dikembalikan kepada masing-masing individu.

Namun kadang kala kita terbentur oleh gagasan totalitas sebagai mahluk sosial yang mudah digiring kepada cita-cita utopis untuk mewujudkan ummatan wahidah, umat yang satu, dan istilah-istilah semacamnya. Bukankah nantinya jika kita telah menjadi umat yang satu, maka akan ada umat-umat yang kita anggap sebagai musuh. Dan atas nama kesatuan itu, lagi-lagi kita dikorbankan untuk sesuatu yang absurd. Bahkan sudah bertahun-tahun cara pandang kita dikonstruk semakin garang kepada orang-orang yang berbeda. Dan pertanyaan di awal akan datang kembali, apa sih yang hendak kita raih demi semua pertentangan ini?

Masing-masing kita beragama dengan kebenaran yang kita percaya sebagai kebenaran, jika memang demikian untuk apa menjadikan agama hanya sebagai legitimasi pembantaian atas nama surga, juga pengenyahan kemanusiaan atas nama neraka. Bukan tak mungkin jika agama menjadi neraka bagi kemanusiaan itu sendiri. Tapi kadang kala kita tetap bersikeras bahwa hidup di dunia ini harus ada yang menang dan kalah, karena dunia itu sendiri sering dibilang sebagai permainan.  Lalu setelah itu apa yang kita dapat kalau kita berada di kubu pemenang? Ketenaran? Kekuasaan? Atau apa?

Tetapi kemudian pertanyaan di awal dikembalikan kepada saya pribadi, ternyata saya pun tidak terlepas dari praktik-praktik justifikatif terhadap pihak lain yang saya tidak sukai. Dalam artian, subjektifitas agama ketika terintegrasi ke dalam subjektifitas individu akan menampilkan dua hal; ego dan respect. Dua hal ini batasnya sangat tipis, dan banyak faktor yang saling memengaruhi. Kadang bisa mendorong kita untuk menghargai keragaman subjektifitas di antara manusia, kadang bisa mendongkrak ego kita lebih tinggi. Mungkin pertanyaannya perlu diubah, bukan apa yang didapat sebagaimana pertanyaan di paragraf awal. Tetapi bagaimana kita menatap agama atau cara beragama lain yang berbeda? Apakah dengan ego atau respect?

Ternyata kita cuma bisa berkelit di balik, Tuhan hanya menilai prosesnya.

Judul Buku: Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik

Penerbit: Pustaka Pesantren, 2011

Penulis: Syaikh Idahram

Buku ini merupakan kelanjutan dari jilid pertamanya yang berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Mungkin ada yang beranggapan bahwa isu wahabi merupakan isu jadul yang sengaja dihembuskan kembali. Tetapi kesimpulan seperti itu tidak berhenti di situ saja jika melihat perkembangan dan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Artinya wahabi bukan cuma sekedar isu, tetapi juga fenomena sosial yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan akademik. Sama seperti jika kita membicarakan ideologi, agama, dan sebagainya. Ada berbagai macam isu yang terus berkembang dan tidak pernah stagnan.

Menguatnya pembicaraan tentang Wahabi tidak urung lagi berkaitan erat dengan kian banyaknya pemberitaan dan literatur penelitian yang membahas hal ini. Seperti yang dikatakan Azyumardi Azra dalam pengantar buku jilid ke-2, mengenai penelitian terbaru seputar Wahabi, yakni buku karya Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad (Oxford-Cairo: Oxford University Press, 2005). Wahabi merupakan aliran pemikiran dan gerakan politik yang paling tidak toleran dalam Islam, yang berusaha dengan cara apapun –termasuk jalan kekerasan- untuk menerapkan apa yang dianggap oleh mereka sebagai “Islam Murni”. Ini bisa terlihat dari pemikiran dan kiprah Muhammad Ibn Abd al-Wahab di tanah Hijaz sejak abad ke-18, yang menguasai lanskap keagamaan di Saudi Arabia setelah menduduki Mekkah dan Madinah bersama dengan trah Saud.

Semua golongan yang dianggap telah melakukan Bid’ah atau kesesatan dibasmi dengan menggunakan segala cara termasuk dengan kekerasan. Sampai kini Wahabi tetap dianut dan diterapkan dalam sistem pemerintah Saudi Arabia, demikian pula dengan penyebaran atau mengimpor ajaran itu ke seluruh dunia Islam juga terus digencarkan, seperti melalui pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok-kelompok dalam komunitas muslim. Dalam bidang akademis, salah satu caranya dengan membagikan literatur karangan Muhammad Ibn Abd al-Wahab agar proses transmisi keilmuan, pola pikir, dan gerakan mereka terealisasi dengan baik.

Pada buku kedua ini, sang penulis buku membeberkan bagaimana kelompok Wahabi berupaya memalsukan buku-buku karya ulama klasik dan sejumlah ajaran-ajaran yang menjadi pondasi dasar keyakinan mereka. Misalkan pemalsuan kitab Diwan Imam al-Syafi’i. Kelompok Wahabi sangat membenci kaum sufi yang mereka tuding sesat, karena itu mereka menghilangkan beberapa bagian nasihat Imam Syafi’I tentang sufistik dalam buku versi terbitan mereka. Padahal di buku-buku lainnya versi penerbit lain yang berasal dari Beirut, Damaskus, dan Kairo.

Imam Syafi’I berujar: “Jadilah ahli Fikih dan Sufi Sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberi nasihat kepadamu. Orang yang hanya memelajari ilmu fikih tetapi tidak memelajari ilmu tasawuf, maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan nikmatnya takwa, sebaliknya orang yang hanya memelajari tasawuf saja akan menjadi bodoh, tidak tahu yang benar.”

Bait ini kemudian dihilangkan oleh penerbit-penerbit buku di Saudi. Selanjutnya demikian pula dengan kitab hadis Shahih Bukhari, seperti penghilangan pasal al-Ma’rifah pada Bab al-Mazhalim, padahal dalam kitab Fath al-bari karya Ibn Hajar al-Asqalani yang menjadi Syarh atau berfungsi untuk menjelaskan kitab Shahih Bukhari, di situ ditulis jelas mengenai komentar Ibn Hajar mengenai hadis-hadis yang terdapat di dalam pasal al-Ma’rifah. Kemudian pada kitab Shahih Muslim ada sebuah hadis tentang keutamaan empat perempuan terbaik di dunia yakni; Siti Maryam (Ibunda Nabi Isa), Siti Asiah (Istri Firaun, ibunda angkat Nabi Musa), Siti Khadijah, dan Siti Fatimah. Tetapi dalam cetakan penerbit Saudi, Masykul, justru hadis yang tercantum dalam bab Fadhail Khadijah (keutamaan Khadijah) itu dihilangkan. Malah yang dicantumkan adalah hadis tentang keutamaan istri Nabi yang bernama Aisyah. Mengapa hal ini terjadi, disinyalir hadis tersebut jika dicantumkan maka kaum Syi’ah dapat menemukan justifikasi tentang keutamaan Khadijah yang melahirkan Fatimah sebagai keluarga (Ahl Bait) Nabi, sebaliknya Aisyah dalam Perang Unta pernah berperang melawan Ali yang menantu Nabi serta suami Fatimah. Oleh karena itu mereka menghapus hadis itu dan mengganti dengan hadis tentang Aisyah namun malah memasukkannya di bab Fadhail Khadijah. Padahal hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Katsir dan diriwayatkan dalam kitab Ibn Katsir yang notabene dibilang termasuk dari kalangan Sunni.

Selain membeberkan beberapa penghilangan teks tulisan dari naskah-naskah klasik. Kelompok Wahabi juga mempunyai beberapa ajaran lain yang menjadi pondasi dasar. Salah satunya yaitu membenci ilmu sains yang dikatakan sebagai ilmu orang-orang kafir. Makanya ketika kita menghadiri pengajian kaum Salafi Wahabi, biasanya apa yang disebut ilmu hanya dalam kerangka ilmu ketuhanan yang meliputi tauhid, al-Qur’an dan Sunnah, dan cara-cara beribadah ritual belaka. Sementara ilmu lainnya tidak dapat disejajarkan dengan hal itu apalagi digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti teks-teks utama Islam seperti al-Qur’an dan Sunnah.

Semisal dalam karangan salah satu ulama Saudi Abd al-Karim Ibn Shalih al-Humaid yang mengarang buku Hidayah al-Hairan fi Mas’alati al-Dauran, dikatakan bahwa keyakinan tentang bumi berputar merusak akidah mereka. Mereka keberatan jika bumi dikatakan berputar dan mengelilingi matahari. Karena menurut akidah mereka, Allah turun ke langit bumi ini setiap sepertiga malam yang terakhir sebagaimana dikatakan oleh teks utama. Namun mereka memahami secara literal-tekstual benar-benar turun ke bumi dari kursi Arasy. Maka jika bumi berputar berarti Allah tidak akan naik ke Arasy, sebab dengan adanya perputaran bumi setiap bagian bumi mengalami siang dan malam secara bergantian. Lantas kalau Allah tidak bisa naik kembali ke Arasy, kursi Arasy pun akan menjadi kosong. Dengan demikian mereka menolak pengetahuan yang mengajarkan tentang bumi yang berputar ini.

Dalam buku itu dikatakan: “Sesungguhnya di antara musibah yang merata terjadi di zaman sekarang ini adalah masuknya ilmu-ilmu kontemporer kepada umat Islam dari yang sesungguhnya menjadi musuh-musuh mereka, yaitu golongan Dahriyah dan Mu’aththalah (golongan orang yang tidak mengartikan teks agama secara tekstual), dan adanya dominasi ilmu-ilmu tersebut atas ilmu-ilmu agama. Ilmu kontemporer ini ada dua macam: pertama, ilmu mafdhulah yang mendominasi syariat Islam dan melemahkannya, maka ilmu itu diharamkan. Kedua, ilmu yang merusak akidah, seperti ilmu yang mengatakan bumi itu berputar dan yang lainnya dari ilmu-ilmu kafir.”

Dalam halaman lain Ibn Shalih al-Humaid juga menyatakan: “keyakinan bumi berputar jauh lebih berbahaya dari keyakinan manusia berasal dari kera… Semua dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang bumi itu berputar adalah takwilan yang sesat.”

Syaikh Ibn Baz juga mengatakan hal yang sama tentang sesatnya keyakinan bumi berputar. Bahkan dia menyatakan bahwa orang yang bersikeras mengatakan bumi itu berputar maka orang itu murtad, halal nyawanya dan hartanya. Pendapat Ibn Baz ini terekam dalam kitab karangannya, al-Adillah al-Naqliyah wa al-Hissiyyah ‘ala Jaryan al-Syams wa Sukun al-Ardh (Dalil-Dalil Naqli dan Inderawi tentang Berputarnya Matahari dan Diamnya Bumi). Pada tahun 1976 melalui Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, fatwa serupa juga dikeluarkan bahwa, “Sesungguhnya keyakinan yang mengatakan bahwa matahari tetap dan bumi berputar adalah perkataan yang sangat keji dan munkar. Siapa saja yang mengatakan bumi berputar dan matahari tidak berjalan, maka dia telah kafir dan sesat. Dia wajib diminta bertaubat. Itu jika dia mau bertaubat, jika tidak maka dia dibunuh sebagai kafir murtad, dan harta yang ditinggalkannya menjadi milik Baitul Mal kaum muslimin.” (Fatwa ini dikeluarkan oleh lembaga fatwa Saudi Arabia, Idarat al-Buhuts al-Amah wa al-Ifta’ wa al-Da’wah wa al-Irsyad dengan nomor fatwa 1/2925 tertanggal 7/22/1397 H).

Membaca  beberapa fatwa lain dari para ulama Saudi dalam buku ini, menandakan bahwa fenomena-fenomena yang terjadi dalam kondisi keragaman komunitas muslim dewasa ini, termasuk isu mengenai Wahabi yang tentunya tidak mungkin direduksi pada tataran isu semata. Maka perlu kiranya dalam penelusuran mengenai Wahabi tidak berhenti dengan mencantumkan aspek normatif, tetapi juga tidak kalah penting menelusuri bagaimana fenomena penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia, semisal melalui media televisi berupa sinetron dan film bertema-tema keagamaan, serta beberapa media cetak dan radio. Mungkin hal itu dapat diteliti oleh si penulis pada buku jilid selanjutnya yang katanya akan segera terbit dalam waktu dekat. Hal tersebut dimaksudkan agar dinamika pergolakan di tengah umat akan terpetakan semakin jelas dan kentara, sehingga tidak bisa dengan gampang dimatikan begitu saja dengan atas nama kesatuan dan keseragaman, karena dalam melihat fenomena pasti ada perdebatan dan beragam cara baca untuk menelaahnya.

BELAJAR dari kekalahan pahit bangsa Arab (Mesir, Jordania, dan Suriah) dalam perang enam hari, Juni 1967, saya khawatir, jatuhnya Baghdad akan meninggalkan luka lama, dan mendorong munculnya sikap defeatisme di kalangan mereka.

Pada gilirannya, perasaan itu dapat di- “ekspor” ke seluruh bangsa Islam di seantero dunia, lalu menciptakan semacam “mood melankolis” tentang kekalahan dalam benak umat Islam di mana-mana.

Solidaritas keumatan akan menciptakan perasaan, jatuhnya Baghdad adalah jatuhnya harga diri umat Islam secara keseluruhan. Karena kejatuhan kota ini oleh serangan brutal pasukan AS dan Inggris, dengan mudah hal itu akan menimbulkan perasaan kebencian kepada dua negara itu. Bukan tidak mungkin, kebencian itu akan berkepanjangan sehingga menjadi kebencian atas “Barat”, betapapun kaburnya pengertian “Barat” sendiri dalam pikiran umat Islam.

DEFEATISME adalah kekalahan yang diabadikan terus-menerus, diratapi secara “melankolis”, akhirnya memenjarakan orang bersangkutan dalam lorong gelap tak berkeputusan. Defeatisme adalah laksana labirin, seperti lorong bercabang-cabang yang tanpa ujung; manakala seseorang terjerembab dalam ruangan itu, dia akan sulit keluar dari sana. Defeatisme ingin mengabadikan kekalahan, dalam pelbagai bentuk, dan tidak mengubah kekalahan itu menjadi semacam energi untuk bangkit.

Dari defeatisme itulah akan lahir semacam frustrasi kolektif, dan salah satu bentuknya “menyalahkan terus pihak lain” tanpa ada kesediaan untuk menelaah ke dalam diri sendiri secara kritis. Seperti dengan baik pernah diulas Fouad Ajami dalam buku The Arab Predicament yang terbit tahun 1981 (14 tahun setelah kekalahan pahit itu), defeatisme yang menghantui bangsa Arab sejak tahun 1967 lalu melahirkan gejala fundamentalisme di seluruh kawasan Arab. Sejak itu, mulai populer semboyan “Islam adalah solusi” (Al Islam huwal hall), dan hancurlah seluruh kepercayaan bangsa Arab pada gagasan liberal yang sempat mendapat dukungan cendekiawan Arab di peralihan abad ke-20 (seperti direkam dengan baik Albert Hourani dalam Arabic Thought in the Liberal Age). Kekalahan bangsa Arab pada tahun itu, menaikkan popularitas Islam sebagai “alternatif ideologi”, dan memerosotkan secara drastis ideologi- idelogi sekuler lain yang dianggap telah bertanggung jawab menghancurkan identitas asli dan harga diri mereka.

Kembali kepada tradisi, memburu otentisitas, itulah tema pokok yang menguasai kesadaran bangsa Arab setelah kekalahan itu. Islam lalu ditoleh sebagai “kendaraan” yang diharapkan mampu menebus kekalahan itu. Tetapi, seperti ditunjukkan Ajami, tradisi yang hendak ditoleh kembali adalah tradisi yang telah mengalami “keretakan”; Ajami menyebutnya sebagai fractured tradition. Di satu pihak, bangsa Arab hendak kembali ke masa lampau, ke zaman Nabi yang gemilang dan suci-jernih, tetapi di pihak lain, kenyataan bangsa Arab abad ke-20 justru memperlihatkan betapa mereka, baik sebagai pemerintah dan bangsa, amat tergantung pada negara-negara asing di luar Arab. Di depan pintu mereka berdiri negara Israel yang seperti menyempurnakan perasaan pahit sebagai bangsa kalah. Lebih menyakitkan lagi, kenyataan bahwa bangsa Arab diperintah para penguasa yang despot. Dengan getir, penyair Palestina, Mahmoud Darwish, menggambarkannya, “I saw nothing but a scaffold/With one single rope for two million necks/I see armed cities of paper that bristle/With kings and khaki”. Kehendak untuk kembali kepada tradisi dan mencari otentisitas (biasa disebut di kalangan intelektual Arab sebagai ashalah), malah makin menimbulkan perasaan getir lebih dalam, dan menambah dalamnya defeatisme dalam “psike” bangsa Arab.

Itu sebabnya, “bahasa kemarahan” lebih mendominasi wacana bangsa Arab dalam tiga dekade terakhir ini. Bahasa ini akhirnya mempengaruhi bagaimana wacana Islam dibentuk sepanjang periode itu: suatu “genre” Islam yang sarat kutukan dan kemarahan yang diarahkan “keluar” begitu rupa sehingga tidak ada lagi ruangan cukup untuk “menelaah ke dalam”. Bahasa Islam yang sarat kemarahan inilah yang “diekspor” ke kawasan-kawasan lain di luar Arab.

SETELAH tragedi 11 Seprtember 2001, muncul mood atau perasaan hati yang kuat di kalangan umat Islam untuk melakukan soul searching, kritik diri, suatu kesediaan batin untuk menerima kenyataan bahwa ada yang salah dalam “kesadaran” umat Islam, karena itu suatu reform atau pembaruan perlu dilakukan. Di mana-mana, orang berbicara tentang bahaya pemahaman agama yang parokialistik, yang sempit, yang hanya bertunjang pada penelaahan harafiah, tetapi abai terhadap visi besar Islam sendiri. Saya kira, ini suatu kecenderungan yang baik dan positif. Mood yang sama juga mulai muncul di Indonesia setelah terjadinya pengeboman di Bali.

Mood itu, kini tampaknya mulai menguap, diganti kemarahan atas Barat, wa bilkhusus atas AS. Keharusan memperbarui pemahaman Islam juga mulai kehilangan relevansinya. Dalam kemarahan, orang lebih suka melihat “obyek” lain di luar untuk ditonjok, ketimbang menengok ke “dalam”, dan melakukan koreksi diri. Dampak buruk perang Irak, dan kejatuhan Baghdad, adalah suatu kekecewaan yang lalu berubah menjadi kemarahan terhadap barat, dan dengan demikian melemahkan kembali kesadaran kritis yang sudah pelan-pelan mulai muncul setelah terjadinya tragedi WTC. Saya khawatir, setelah Irak kalah, umat Islam akan mudah terjerembab ke dalam defeatisme, lalu “disandera” wacana-wacana keagamaan fundamentalistik.

Dalam retorika yang berkembang di masyarakat Islam, orang-orang yang mendorong proses pembaruan pemahaman Islam, kerap dipandang sebagai “antek” atau boneka kepentingan bangsa asing (AS dan Yahudi). Retorika itu sengaja diembuskan untuk membangkitkan sentimen negatif umat Islam terhadap tiap gagasan pembaruan.

Setelah perang Irak, saya khawatir aneka tuduhan semacam ini akan meningkat. Yusuf Qardlawi, ulama Mesir, pernah menulis buku, Al Hulul Al Mustauradah, Solusi-Solusi Yang Diimpor, sebagai kritik atas wacana-wacana Islam liberal- progresif yang dianggap sebagai wacana impor dari bangsa asing; wacana yang menurutnya pasti gagal. Aneka tuduhan pada kaum Muslim progresif dan liberal sebagai pengimpor gagasan-gagasan asing dari Barat akan amat mungkin makin menguat setelah kejatuhan Baghdad yang tragis. Sebagai pengimpor gagasan asing, kaum Muslim liberal-progresif akan rentan menjadi sasaran kemarahan umat Islam.

Harus diakui, kesadaran umat Islam modern yang sarat bahasa kemarahan dipengaruhi Barat. Karen Armstrong, dalam The Battle for God, menggambarkan dengan amat baik, bahwa kemarahan umat Islam adalah produk “modernitas” yang datang ke dunia Islam dalam bentuk “serbuan”, bukan dalam bentuk pembebasan dan kemakmuran.

Modernitas hadir ke dalam memori kolektif umat Islam dalam bentuk tank dan pesawat tempur yang membunuhi anak- anak dan perempuan tak berdosa di Irak dan Palestina. Dengan begitu, tak heran jika umat Islam lalu menoleh kembali ke tradisi kegemilangan yang kemilau di masa lampau, dan mulai menampakkan muka bersungut-sungut kepada Barat dan kepada orang-orang yang dianggap sebagai “agen” dan “boneka” mereka?

Apakah defeatisme ini harus dibiarkan, dan kita maklumi karena itulah konsekuensi logis dari keberandalan dan kekurangajaran Barat?

Bagi saya, tidak ada pilihan lain bagi umat Islam kecuali mencari pintu keluar dari defeatisme yang sarat kemarahan itu. Defeatisme akan menggerogoti sendiri tubuh umat Islam dan memojokkan mereka terus-terusan dalam mentalitas apologetik dan defensif, yang sama sekali berbahaya.

Meski agak menyakitkan dan getir, tetapi kata-kata Bernard Lewis dalam What Went Wrong, amat perlu dipertimbangkan, “Manakala mereka (bangsa Arab, juga umat Islam-Red) bisa membuang jauh-jauh kemarahan dan perasaan mereka sebagai korban (victimhood), mengatasi aneka perbedaan mereka, lalu menyatukan kembali bakat, tenaga, dan sumber daya mereka dalam usaha kreatif, saat itulah mereka akan menjadi pusat peradaban di zaman modern, seperti pernah terjadi di zaman klasik.”

Saya tidak suka semangat buku yang ditulis Lewis itu, tetapi nasihatnya amat penting untuk didengar. Bahasa kemarahan tidak akan bisa menyelesaikan masalah umat. Defeatisme akan bisa diatasi bila umat Islam berhenti mengutuk, berhenti melihat sejarah masa lampau, (sejarah Nabi, sahabat, dinasti-dinasti klasik) sebagai sesuatu yang “suci” yang tidak boleh ditelaah secara kritis. Umat Islam juga harus mulai bertanya: apakah betul jargon “Islam sebagai solusi alternatif” adalah jargon yang berdasar, atau hanya retorika untuk menutupi kekalahan? Bukankah jargon itu akan menambah umat Islam terisolasi diri, dan memusuhi, sumber-sumber kreatif yang datang dari barat atau tempat- tempat lain, dan dengan demikian makin menambah umat Islam terpuruk ke dalam mentalitas defeatisme?

Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL). Associate researcher di Freedom Institute, Jakarta.

URL Source:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/17/opini/261209.htm

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=1707&coid=1&caid=53&gid=1

1309468577233856670

Hukum pancung itu bukan barang baru. Isu ini sengaja dikobar-kobarkan oleh mereka yang non-Muslim untuk menyudutkan umat Islam. Demikian dikatakan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ali Yafie kepada voa-islam usai Kajian Al-Qur’an Komprehensif yang diadakan Yayasan Al-Washiyyah di Jakarta.

“Apa bedanya, hukum pancung dengan hukum mendudukkan seseorang di atas kursi listrik. Kan sama saja, hanya medianya saja yang berbeda. Jadi itu bukan hal yang prinsip. Tak usah kita repot menanggapi persoalan ini,” ujar kiai. Menurut KH Ali Yafie, ada upaya untuk menjelek-jelekkan Islam dalam fenomena-fenomena tertentu yang sifatnya musiman. Termasuk isu hukuman pancung yang dikait-kaitkan dengan Islam. Kita tahu, di seluruh dunia, umat Islam disudutkan, Timur tengah dikocar-kacirkan. “Yang jelas, sikap kita jalan terus, tetap istiqamah dengan sesuatu yang kita anggap benar,” tegas Ali Yafie yang juga penasihat Yayasan Al Washiyyah.

——————————————————————————————

Jadi buat orang-orang Indonesia yang pada teriak soal hukuman pancung para TKI di Saudi, lebih baik tutup mulut saja. Untuk apa membela mereka karena nanti dituding bersekongkol dengan orang-orang non-muslim untuk mengacak-ngacak Islam. Walaupun alasannya adalah karena kemanusiaan, tetapi tetap saja itu memberikan citra buruk kepada Islam. Sekarang bagaimana kalau kita balik logika orang-orang seperti Ali Yafie ini dengan mengatakan bahwa yang menyudutkan Islam adalah karena orang-orangnya sendiri.

Bagaimana jika kekuatan luar yang selalu jadi bahan tuduhan sebenarnya datang dari dalam? Kadang kala ketika seseorang tersudut maka muncul mekanisme self defense dalam diri dengan cara menyalahkan orang lain, mencari-cari dalih untuk mengatakan si anu, si ini, si itu sebagai kambing hitam. Lagi pula apakah solidaritas sesama bangsa tanpa melihat latar belakang agama seperti yang dilakukan beberapa organisasi atau lembaga swadaya adalah salah? Apakah bisa selalu dibilang menyudutkan Islam sementara jelas yang dibela adalah manusianya. Kepala manusia yang mempunyai identitas warga negara Indonesia dan sebentar lagi akan dipancung.

Kemudian muncul lagi dalil begini, “Itulah kelemahan sistem negara bangsa, membuat sesama muslim di seluruh dunia saling gontok-gontokkan.”dan disambung dengan, “Makanya harus ada sistem yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Caranya dengan sistem Khilafah atau Kekhalifahan.” Lagi-lagi jawaban seperti ini yang muncul. Jadi sama saja, nilai kepala manusia tidak akan berharga demi tegaknya sebuah sistem yang digadang-gadang ideal.

Kalau logika “Menyudutkan Islam” ini terus dipakai maka jurang pemisah itu akan terus terjadi. Seseorang yang berkebangsaan Indonesia tetapi non-muslim tidak bisa menyuarakan solidaritasnya atas nama kemanusiaan. Karena ketika menyinggung soal hukuman pancung maka akan terbelit dan berbenturan dengan agama. Sementara di belahan negara lain, mereka pun bebas menyuarakan gerakan anti hukuman mati, baik dengan menggunakan kursi listrik atau suntikan mematikan. Inilah apa yang disebut dengan defeatisme, kekalahan yang diabadikan terus-menerus, diratapi secara “melankolis”, akhirnya memenjarakan orang bersangkutan dalam lorong gelap tak berkeputusan. Dari defeatisme itulah akan lahir semacam frustrasi kolektif, dan salah satu bentuknya “menyalahkan terus pihak lain” tanpa ada kesediaan untuk menelaah ke dalam diri sendiri secara kritis.

Justru seharusnya gerakan-gerakan mengecam hukuman pancung, atau katakan hukuman mati kepada para TKI di luar negeri, dapat dijadikan sebagai momen agar pemerintah melek terhadap kondisi rakyatnya sendiri. Apakah setiap ada kejadian seperti ini, lantas kita tidak boleh bersuara cuma gara-gara khawatir dibilang menyudutkan Islam. Bagi saya sih alasan seperti ini adalah non-sense. Dan apakah para pembela buruh migran itu mengaitkan hukuman pancung dengan hukum Islam? Atau jangan-jangan karena orang-orang semacam Ali Yafie saja yang tersudutkan karena kebetulan fenomena ini sedang marak sekarang terjadi di Arab Saudi yang notabene sistem negaranya mengadopsi hukum Islam, dan juga oleh sebab apa yang ke-arab-arab-an selalu diasosiakan oleh orang Indonesia dengan Islam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 268 other followers