PUBLihat betapa naifnya Indonesia ini. Sudah naif, pun manipulatif dan munafik. Bagaimana tidak, sudah ada undang-undang penistaan/penodaan agama, sekarang mau ada lagi keluar Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama. Agama terus-menerus dibentengi dengan berbagai macam produk kebijakan politik. Lalu bagaimana dengan perlindungan terhadap orang-orang yang tidak beragama, adakah?

Yang namanya agama; sesuatu yang rapuh itu terus dipelihara supaya para elite bisa cari makan di sana, bisa mengambil keuntungan politis di sana, makanya negara tak henti mengurusi agama. Tidak heran bila agama terus melatih manusia untuk menjadi manipulatif. Melatih orang untuk mengeruk uang bagaikan bunglon buntung yang bermuka-muka (bukan cuma muka dua). Ironisnya, banyak orang di Indonesia yang tidak taat beragama, tapi justru memusuhi orang-orang yang jujur dan terus terang mengakui ketidakberagamaannya. Dengan adanya pembahasan RUU Perlindungan Agama (PUB), maka bangsa ini semakin dididik untuk bermuka-muka.

Yang namanya agama, terutama agama terorganisir (organized religion), seolah menyediakan kepada banyak orang dan masyarakat tentang suatu tujuan hidup. Komunitas-komunitas keagamaan dapat memiliki banyak pengaruh yang menguntungkan dan menduduki pusat berbagai macam identitas budaya seseorang, tapi itu tidak membuat klaim yang dilakukan agama-agama berisi sesuatu yang benar. Pada kenyataannya, agama itu sendiri tidak berhak menetapkan satu-satunya makna kehidupan bagi seseorang. Sebaliknya, masing-masing individu berhak memilih untuk memberikan makna pada hidup mereka melalui berbagai macam aktivitas yang mereka lakukan setiap hari. Dengan demikian, hal itu dapat ditemukan di luar agama, dan mencari makna dalam hidup bisa jauh lebih memuaskan daripada mengikuti aturan dari otoritas agama.

Misalkan, seseorang bertanya; kalau kita mati masuk mana, neraka atau surga? Seseorang yang beragama terus menerus berceramah tentang surga dan neraka. Semua sikap dan tingkah laku dalam hidup dibangun berdasarkan agama, malah segala hal ditarik ke agama. Selama hidupnya pun berada dalam ketakutan akan neraka dan siksaan-siksaannya.

Namun kalau kita mau mencari sesuatu di luar agama mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan kita maka kita akan mendapat jawaban lain. Seperti misalnya yang dikatakan Carolyn Porco, seorang astrofisikawati dunia, “All the atoms of our bodies will be blown into space in the disintegration of the Solar System, to live on forever as mass or energy. That’s what we should be teaching our children not fairy tales about angels and seeing grandma in heaven.”

Seseorang bisa memilih untuk percaya yang dikatakan ajaran agamanya, tapi bisa juga memilih untuk hidup dengan hasil observasi saintifik. Lantas mengapa perlu ada segala macam Undang-Undang yang dibuat negara hanya untuk melindungi agama? Sesuatu yang non-sense dan percuma.

Memercayai sesuatu bukan langsung membuat yang dipercayai itu adalah sesuatu yang benar. Demikian pula, menginginkan sesuatu tidak memastikan keingingan itu benar-benar menjadi kenyataan. Yang terjadi adalah delusi. Hal yang sama berlaku untuk agama. Tidak peduli apakah Anda percaya sesuatu yang membuat Anda merasa lebih baik tentang diri Anda, atau menjadikan hidup Anda lebih berarti. Namun jika tidak ada bukti untuk mendukung itu, maka sama saja hanya ber-delusi.

Ketika seseorang mengatakan, “Tanpa Tuhan, hidup tidak ada artinya,” apa yang dia katakan sesungguhnya adalah: “Saya ingin percaya bahwa kehidupan memiliki makna, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana itu mungkin tanpa Tuhan, jadi saya ingin percaya bahwa Tuhan adalah nyata.”

Nahasnya, kita hidup dalam dunia “klaim kebenaran”, bukan berdasarkan bukti-bukti yang nyata, dapat diverifikasi, diobservasi, dan difalsifikasi. Sementara itu, ketika keyakinan berdasarkan ajaran agama ini terus dipertahankan, psikologis Anda hanya akan semakin rusak. Ketika Anda bersikeras mengklaimnya sebagai kebenaran di saat bersamaan mendapat benturan dari luar.

An Uncomfortable Truth Is Always Better than a Comforting Lie. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah kita menjadi penakut karena kenyamanan kita dalam beragama terganggu?

Dalam rangka untuk mengindoktrinasi pengikutnya dan jaminan ketaatan, agama sering memanfaatkan (atau kasarannya mengelabui) masyarakat kelas bawah dengan menciptakan kekosongan yang kemudian harus diisi dengan Tuhan. Setelah itu orang-orang akan dengan mudah mengatakan bahwa mereka secara inheren menjadi buruk atau berdosa, dan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi baik adalah dengan memberikan kendali atas hidup mereka dengan keimanan. Padahal, tidak ada bukti bahwa semua itu benar. Agama, pada dasarnya, menciptakan masalah imajiner sehingga dapat menjual solusi imajiner.

Pengalaman akan ketidakberdayaan diciptakan oleh agama agar dapat membuka jalan bagi penipuan untuk mengambil keuntungan dari orang-orang yang mudah tertipu, dari orang-orang yang rentan. Ide-ide yang salah tentang alam semesta, termasuk janji-janji bahwa orang-orang yang baik dikasih pahala dan orang-orang berdosa dihukum, dapat menetapkan harapan palsu tentang keimanan atas Tuhan. Kemudian menjauhkan diri dari perangkat-perangkat observasi yang dibutuhkan untuk benar-benar menghasilkan solusi atas peristiwa yang menantang mereka untuk bertahan hidup dengan cara yang sehat dan rasional.

Seperti dikatakan oleh Bertrand Russell, “No satisfaction based upon self-deception is solid, and, however unpleasant the truth may be, it is better to face it once for all, to get used to it, and to proceed to build your life in accordance with it.”

Kita seharusnya bebas menentukan makna tanpa terikat dogma. Tidak ada kekuatan tunggal di luar sana yang memaksakan makna pada setiap peristiwa dalam kehidupan Anda. Tidak ada bukti apa pun bahwa peristiwa kehidupan masyarakat sesuai dengan semacam rencana ilahi atau takdir. Hidup ini, secara obyektif berarti berkenaan dengan skala ruang waktu di mana kita sebagai manusia hanyalah berperan kecil dari alam semesta yang luas. Karena itu, sangat absurd bila kita berpikir ada semacam sosok kosmik yang perannya sangat menentukan diri kita.

Begitu juga dalam hubungan antara beragama dan bernegara. Untuk apa negara mengurusi agama orang? Negara memakai bahasa “melindungi umat beragama”. Padahal, undang-undang lain sudah ada. Misalnya, jika ada konflik antar-umat beragama, lihat saja siapa yang melakukan kekerasan terhadap yang lain. Bukankah undang-undang untuk itu sudah ada. “Melindungi umat beragama” dari apa? Dari penghinaan atas ajaran agamanya? Tidak ada yang mempertentangkan jika ajaran agama diterapkan pada individu pemeluk dan kepada komunitasnya. Tetapi yang terjadi di Indonesia adalah agama diterapkan untuk orang lain di luar komunitas, malahan diterapkan dalam publik. Semua yang ada di publik diatur berdasarkan nilai-nilai agama. Inilah yang absurd. Maka bertambah absurd lagi jika negara melindungi sesuatu yang absurd.

Kita sebagai manusia bebas untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atau menikmati kesenangan sederhana, seperti seks dan makanan. Kita memiliki kemampuan untuk menciptakan makna bagi kehidupan kita dengan menetapkan tujuan yang berharga, bekerja untuk meningkatkan kehidupan orang-orang di sekitar kita, menikmati waktu kita di bumi, membuat koneksi dengan manusia lain dan mencintai orang-orang yang dekat dengan kita. Semua kegiatan ini bermanfaat, dan tidak satupun dari mereka membutuhkan keberadaan Tuhan.

Sebaiknya Indonesia belajar untuk tidak menjadi negara yang memuja kebodohan. Jika sesuatu yang rapuh terus-menerus dibentengi, maka suatu saat Anda akan kehabisan beton dan baja, lalu menggantinya dengan tengkorak manusia. Ingatlah, dunia pernah ada di abad-abad kegelapan itu.

- Sumber: siperubahan.com

tongkat sulapBeberapa waktu lalu Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan yang kesannya mengakui teori evolusi, big bang, dan modern sains.

“When we read about Creation in Genesis, we run the risk of imagining God was a magician, with a magic wand able to do everything. But that is not so,”

“He created human beings and let them develop according to the internal laws that he gave to each one so they would reach their fulfillment.”

“God is not a divine being or a magician, but the Creator who brought everything to life,”

“Evolution in nature is not inconsistent with the notion of creation, because evolution requires the creation of beings that evolve.”

Reaksi berdatangan dari kalangan saintis yang notabene kebanyakan dari mereka adalah ateis atau agnostik. Pernyataan Paus Fransiskus seolah mendukung sains, tapi justru sebaliknya hanya menggunakan sains sebagai “senjata” kaum kreasionis. Dengan kata lain, institusi Gereja semakin menyimpang-siurkan kreasionisme dan sains. Sedangkan kaum kreasionis yang memang gemar suka mencocok-cocokkan antara sains dan dogma, sangat mengapresiasi ucapan Paus tersebut. Para kreasionis ini terus-menerus menolak dasar-dasar ilmiah yang melandasi pemahaman atas sejarah planet kita. Mereka dengan tegas mengandalkan pada penafsiran literal dari kitab-kitab dogma agama mengenai penciptaan dan sebagainya.

Jadi, apa maksud Paus mengeluarkan pernyataan itu? Apakah karena Tuhan tidak mempunyai tongkat sulap maka Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan mekanisme bernama “Big Bang” dan “Evolusi”?

Ada sebuah tulisan menarik di situsnya Richard Dawkins. Ditulis oleh seorang profesor biologi Amerika Serikat, Jerry Allen Coyne. Ia mengatakan bahwa evolusi telah menjadi fakta ilmiah yang diterima sejak sekitar tahun 1870, kira-kira satu dekade setelah teori ini diusulkan oleh Darwin pada tahun 1859. Dan ada begitu banyak penelitian yang mendukung teori tersebut, seperti yang didokumentasikan dalam buku Jerry Coyne sendiri Why Evolution is True, lantaran tidak adanya bukti untuk “penciptaan” alternatif berdasarkan kredo agama yang mengandalkan sosok bernama Tuhan. Menurutnya, ketika Paus Fransiskus/Francis mencoba memasukkan unsur Gerejawi ke dalam modernitas, itu hanya akan terlihat kreasionisme semata.

Benar bahwa teori evolusi dicetuskan di abad ke-19, yang relatif kurang pembuktian ilmiah dibanding masa kini. Tapi sekian banyak teori dan penemuan ilmiah bahkan dihasilkan lebih tua lagi. Dan teori yang terbukti salah akan digugurkan, sementara teori yang telah terbukti ilmiah akan bertahan, dan makin berkembang seiring kemajuan pengetahuan. Teori evolusi bisa bertahan dan makin berkembang seperti sekarang dengan melalui proses yang sama. Terlebih, jika tidak ada pembuktian, maka teori bahkan tak bisa disebut teori, paling banter hanya berupa hipotesa. Teori adalah hipotesa yang sudah teruji. Ini salah satu alasan mengapa kreasionisme bahkan bukan sebuah teori.

Tetapi jika kita mengurai kata-kata Paus Fransiskus kemarin, itu diucapkan saat ia meluncurkan patung pendahulunya, Paus Benediktus XVI, kita akan menemukan bahwa yang didukung Gereja tetaplah kreasionisme. Bahkan, sikap resmi Vatikan tentang evolusi secara eksplisit tidak ilmiah: kombinasi teori evolusi modern dan kitab agama, khususnya soal penciptaan. Gereja tidak bisa memasuki dunia sains modern. Sebelumnya juga sama, pernah ada Paus yang mencoba merekonsiliasi antara sains dan agama, tapi itu cuma omong kosong.

Untuk kepentingan mereka, kaum agamawan suka sekali mengutip sebuah pernyataan Albert Einstein bahwa “sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta”. Sehabis mengutipnya, mereka langsung berkata, “Lihatlah Einstein itu saintis yang saleh beragama, maka itu hidupnya lurus, sehat dan bugar, tak seperti Stephen Hawking yang lumpuh.” Malah ada agamawan yang sangat eksentrik sampai bisa menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Muslim syiah yang hidupnya diberkati Allah.

Pada sisi lain, banyak juga orang Kristen evangelikal menyatakan bahwa Einstein adalah seorang Kristen saleh yang hidupnya diperkenan dan diberkati Yesus. Kaum agamawan Buddhis juga mengklaim bahwa Einstein pernah menyatakan Buddhisme non-theis adalah agama yang sejalan dengan sains modern.

Rupanya kaum agamawan berkepentingan untuk menarik Einstein ke kubu agama mereka masing-masing dan memanfaatkannya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah Einstein seorang saintis yang beragama. Kalau kita telusuri tulisan-tulisan Einstein tentang Allah dan agama, kita harus simpulkan bahwa Einstein tidak percaya pada Allah yang diberitakan agama-agama monoteistik, termasuk Allah bangsa Yahudi, bangsanya sendiri. Dia bukan seorang monoteis.

Kalau Einstein memunculkan kata “Allah” dalam tulisan-tulisannya, kata ini diberi makna metaforis olehnya, bukan makna ontologis. Umumnya memang begitu: Kalau seorang saintis memakai kata Allah, kata ini bermakna metaforis, tidak bermakna literal. Kalau Einstein berkata-kata tentang Allah, bagi dia Allah adalah struktur kosmologis yang sangat mempesonanya, yang ditata oleh hukum-hukum kosmologis. Bagi Einstein, Tuhan adalah kemahabesaran jagat raya, yang terungkap dalam strukturnya yang sangat menakjubkan, yang dibangun dan ditata dengan berfondasi hukum-hukum kosmik, yang bekerja juga lewat hukum-hukum alam ini. Hanya sebagian kecil saja dari kemahabesaran kosmik ini yang sudah dipahami manusia lewat sains modern. Namun manusia akan terus menguak rahasia alam semesta sampai kapan pun juga. Einstein dengan tegas menolak untuk percaya pada suatu Tuhan personal yang diberitakan oleh agama-agama, terutama tiga agama monoteistik, Yahudi, Kristen dan Islam.

Pada 22 Maret 1954 Einstein menerima sebuah surat dari Joseph Dispentiere, seorang imigran asal Italia yang telah bekerja sebagai seorang masinis eksperimental di New Jersey. Sang masinis ini telah menyatakan dirinya ateis dan sangat kecewa ketika membaca sebuah berita yang menggambarkan Einstein sebagai seorang yang beragama konvensional. Pada 24 Maret 1954, Einstein menjawab, tulisnya:

“Tentu saja suatu dusta jika anda membaca tentang keyakinan-keyakinan keagamaan saya, suatu kebohongan yang dengan sistimatis diulang-ulang. Saya tidak percaya pada suatu Allah personal dan saya tidak pernah menyangkali hal ini tetapi telah mengungkapkannya dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat disebut religius, maka ini adalah suatu kekaguman tanpa batas terhadap struktur dunia yang sejauh ini sains dapat menyibaknya.” (Lebih lanjut, sila baca bukunya Richard Dawkins, The God Delusion).

Dahulu Paus Pius XII pernah menyatakan bahwa evolusi mungkin memang benar, tapi evolusi itu menegaskan bahwa ada pengecualian khusus untuk manusia karena manusia telah diberikan oleh Allah dengan jiwa, fitur yang tidak ada dalam spesies lain. Lantas pengecualian itu berbuntut pada Adam dan Hawa yang dipandang sebagai nenek moyang dalam sejarah dan literal dari seluruh umat manusia.

Kedua fitur tersebut tentu berseberangan dengan sains. Kita tidak punya bukti bagi jiwa karena yang disebut perasaan, emosi, keyakinan, cinta, hanya proses kimiawi yang dihasilkan “otak reptil” kita. Sebagaimana ahli biologi yang melihat spesies kita hanya sebagai produk dari evolusi alamiah dari spesies sebelumnya. Selanjutnya, evolusi genetika telah secara meyakinkan menunjukkan bahwa kita tidak pernah memiliki nenek moyang atau leluhur yang hanya dua orang. Jika kita mau menghitung dari jumlah variasi genetik yang hadir dalam spesies kita hari ini, ukuran populasi minimum manusia dalam jutaan tahun terakhir adalah sekitar dua belas ribu. Artinya, minimal kita punya nenek moyang berjumlah dua belas ribu, bukan hanya dua orang yang bernama Adam dan Hawa.

Gagasan Adam dan Hawa sebagai leluhur tunggal dan sejarah manusia modern hanyalah sebuah fiksi yang masih dipertahankan agama-agama monoteistik. Namun biasanya, kalangan kreasionis berdalih dengan memainkan teks literal kitab dogma agama dengan ranah penafsiran. Mereka mencoba untuk mengkonversi menjadi metafora. Inilah yang membuat sengkarut kreasionisme bermunculan.

Seorang Astrofisikawan, Neil deGrasse Tyson, menyindir ucapan Paus Fransiskus. Mengapa Paus Fransiskus berani mengakui teori evolusi dan big bang, “jangan-jangan dia baru saja menonton Cosmos.”

Cosmos adalah tayangan sains di sebuah kanal berbayar National Geographic Channel. Lengkapnya, Cosmos: A Spacetime Oddysey. Acara ini sangat bagus. Sayangnya, di Indonesia justru hanya bisa ditonton di kanal berbayar sementara tidak semua orang Indonesia mampu berlangganan TV Kabel. Neil deGrasse sendirilah yang membawakan acara tersebut. Mungkin memang sudah ada tayangan sains di kanal-kanal publik kita, tapi masih berbau kreasionisme. Alangkah bagusnya bila ada stasiun televisi swasta nasional yang mau membeli hak siar acara Cosmos tersebut, dan menayangkan secara luas di Indonesia daripada menayangkan acara-acara tidak bermutu.

- Sumber: Siperubahan.com

hate speechBeberapa waktu lalu ada debat di televisi Amrik antara Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris, Nicholas Kristof dan Michael Steele. Ada kutipan atau quote dari Affleck yang mengatakan bahwa, mengkritik Islam adalah gross (menjijikkan), rasis, dan stereotip. Sementara itu, Kristof, seorang kolumnis New York Times, mengatakan bahwa biasanya orang kulit putih yang rasis menggunakan karikatur untuk menyuarakan kritik mereka. Namun Sam Harris, seorang saintis, mengatakan bahwa, “Islam is not a Race. Criticism of Islam is not Racism“. Agama bukanlah ras, dan mengkritik agama sama sekali bukan rasis.

Tentu ini berlaku juga buat kristen. Mengkritik kekristenan bukan rasis karena bukan ras. Mengkritik agama sama halnya dengan blasphemy, dan biasanya blasphemy memang distempel oleh kalangan agama sebagai penodaan atau penistaan terhadap agama. Indonesia termasuk negara yang masih memberlakukan undang-undang itu.

Bagaimana dengan hate speech dan hate crime? Sejak 1960-an, beberapa negara demokrasi liberal di Eropa telah mengesahkan undang-undang yang mengkriminalkan ujaran kebencian. Undang-undang ini membatasi kemampuan seseorang untuk misalnya menyuarakan keyakinannya yang bersifat rasial atau penolakannya terhadap peristiwa Holocaust atau genosida di Armenia. Di Denmark, misalnya, Pasal 266(b) KUHP yang mengkriminalkan orang yang “menyampaikan dan menyebarluaskan kebencian rasial”. Pada 2001, beberapa politisi Denmark diadili berdasarkan pasal ini karena ulah mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang “anti-Islam”. Pada Juni 2010, jaksa negara Denmark berusaha mencabut kekebalan parlementer PM Jasper Langballe sehingga dia bisa diadili berdasarkan pasal ini dengan tuduhan menerbitkan artikel mengenai “Islamisasi Eropa” yang berlangsung deras dan status perempuan yang terpinggirkan di dalam Islam.

Di Perancis, undang-undang mengenai ujaran kebencian terdapat misalnya dalam UU Pers 1981, yang Pasal 24-nya mengkriminalisasi penghinaan yang bisa berakibat pada terjadinya diskriminasi, kebencian, dan kekerasan rasial berdasarkan keanggotaan seseorang (atau non-keanggotaannya) ke dalam satu kelompok etnis, kebangsaan, ras, atau agama. UU seperti ini sudah digunakan berkali-kali. Pada 2002, empat organisasi Muslim mengadukan penulis Michel Houellebecq yang dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Islam itu “bodoh” dan “berbahaya”. Contoh lainnya, pada 2005, politisi Jean Marie Le Pen, yang menduduki posisi kedua dalam pemilihan presiden Perancis tahun 2002, juga diadili karena komentarnya di majalah Le Monde pada 2003 yang menyatakan akibat berbahaya dari imigrasi kaum Muslim di Perancis.

UU tentang ujaran kebencian juga ada di Belanda. Pasal 137(c) dan 137(d) dalam KUHP melarang orang untuk dengan sengaja menghina atau menyatakan kebencian terhadap orang atau kelompok lain berdasarkan ras, agama, orientasi seksual, atau keyakinannya. Kasus terbesar yang terkait dengan pasal-pasal ini adalah kasus yang menimpa politisi Geert Wilders, pada 2009, akibat pernyataan-pernyataannya mengenai Islam dan kaum Muslim serta film dokumenternya yang menghina kitab suci al-Qur’an. Sementara itu, di Inggris, Pasal 18(1) dari Public Order Act (1986) menyatakan: “[a] person who uses threatening, abusive, or insulting words or behaviour, or displays any written material which is threatening, abusive, or insulting, is guilty of an offence if: (a) he intends to thereby stir up racial hatred, or; (b) having regard to all the circumstances racial hatred is likely to be stirred up thereby,” Selain itu, sebagai pelengkap, pemerintah Inggris juga mengesahkan apa yang disebut “Racial and Religious Hatred Act” pada 2006. Pada April 2010, Harry Taylor, seorang atheis yang dengan sengaja meletakkan gambar-gambar yang mengandung satire terhadap agama Kristen dan Islam di satu ruang ibadah di bandar udara, diadili berdasarkan aturan di atas dan dihukum enam bulan penjara.

Tapi persoalannya adalah; di negara-negara Barat, selain UU hate speech dan hate crime, juga diakui kebebasan berbicara dan berekspresi. Kritik adalah bagian dari kebebasan berbicara. Kritik bukan mencemooh. Namun sayangnya, ini pula yang dikemukakan dalam perdebatan yang mengerucut antara Ben Affleck dengan Sam Harris, bahwa hate speech menjadi luas cakupannya sehingga tidak boleh sama sekali mengkritik doktrin agama. Padahal, menurut Sam Harris, yang mengambil contoh Islam dalam perdebatan itu.

“We have to be able to criticize bad ideas, and Islam is the Mother lode of bad ideas.’ This statement has been met with countless charges of ‘bigotry’ and “racism” online and in the media. But imagine that the year is 1970, and I said: ‘Communism is the Mother lode of bad ideas.’ How reasonable would it be to attack me as a “racist” or as someone who harbors an irrational hatred of Russians, Ukrainians, Chinese, etc. This is precisely the situation I am in. My criticism of Islam is a criticism of beliefs and their consequences—but my fellow liberals reflexively view it as an expression of intolerance toward people.”

Intinya, kita harus bisa mengkritik ide-ide, gagasan-gagasan, doktrin-doktrin yang bodoh dan irasional. Jangan jadikan hate speech justru sebagai piranti untuk membungkam hal tersebut.

Tapi bagaimana dengan mengkritik Yahudi, khususnya Yahudi yang dikaitkan dengan Israel. Apakah Israel adalah suku bangsa, ras, atau etnis? Lalu apakah Yahudi eksklusif pada orang Israel? Apakah Yahudi merupakan ras yang menyatu dengan agama, dan menjadi agama ras? Bagaimana jika mengkritik mereka, apakah rasis?

Menurut beberapa artikel, Israel itu sebuah bangsa. Sedangkan Yahudi itu mengacu kepada suku bangsa Israel yakni kaum Yehuda dan Dua suku lain yang tinggal di tanah Judea orang Benyamin dan orang Lewi. Jadi, Israel itu belum tentu Yahudi, sedangkan Yahudi itu merupakan Israel. Saat pecahnya kerajaan Israel sepeninggal raja Salomo, kuil peribadatan orang Israel berada di tanah Judea di mana orang Yahudi beribadah di sana, lokasinya diperkirakan di masjid the dome of the rock (kubah emas) sekarang. Sedangkan 10 suku Israel yang lain yang disebut orang Samaria (mengacu kepada tempat mereka tinggal) dibuatkan kuil peribadatan lain oleh rajanya sendiri. Tapi apakah semua historical artefact ini masih eksis dan patut dipertahankan, terlebih dikultuskan?

Yahudi bentuknya ethnoreligion, terbatas eksklusif hanya untuk mereka yang berketurunan etnis Yahudi, atau yang menikah dengan etnis Yahudi lalu memeluk Yudaisme. Ketika yang dikritik itu ideologi yang mereka anut misal: tindakan mutilasi kelamin atau istilah kita adalah sunat pada perempuan, itu bukan sebuah tindak rasisme. Namun ketika yang dikritik itu karakteristik lahiriah etnis mereka, maka itu rasisme.

Ideologi adalah sesuatu yang nurture, sedangkan karakteristik etnis itu nature. Kita tidak bisa memilih lahir sebagai suku apa, tapi kita bisa memilih mau menganut ideologi apa. Mau beragama atau tidak beragama. Tidak ada ideologi atau agama yang bebas dari kritik. Berusaha melanggengkan ideologi yang tidak boleh dikritik merupakan pembunuhan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Demikian pula soal kritik dan mencemooh. Misalnya di Indonesia, ada beberapa sistem keyakinan atau kepercayaan yang mengikat sistem keturunan darah atau kesukuan. Katakanlah, etnis Tionghoa. Untuk apa SBY gonta-ganti istilah keturunan China atau Tionghoa, sebenarnya itu tidak terlalu berpengaruh. Yang lebih substansial adalah perlakuan masyarakat Indonesia yang masih terdapat diskriminatif.

Jika kita mengatakan China atau Tionghoa, itu bukanlah sesuatu yang rasis lantaran mereka tidak bisa memilih mau dilahirkan sebagai orang China atau bukan. Itu adalah sesuatu yang nature. Namun ketika ada orang yang mengungkit soal “sipit”, baru bisa dikatakan sebagai rasis. Sama seperti tindakan diskriminatif terhadap warna kulit atau gender. Sesuatu yang nature kemudian dijadikan alat untuk mengkritik, apalagi mengolok-olok, adalah sesuatu yang rasis.

Melihat Israel pada masa sekarang, yang terjadi adalah Israel is a state not a religion. Saat ini Israel mewujud pada negara. Oleh karena itu, menyikapi Israel tidak perlu dikaitkan terus-menerus kepada agama. Banyak warga negara Israel yang juga mengkritik kebijakan politik pemerintahnya yang kerap merugikan negara lain tanpa memandang agama atau etnis mereka. Namun mengkritik doktrin Yudaisme juga tidak ada salahnya, sama saja dengan mengkritik Islam, Kristen, dan agama-agama lain. Yang sering diungkap dan dibesar-besarkan orang adalah bahwa kebebasan beragama harus dihargai, bagaimana dengan kebebasan tidak beragama? Sedangkan para orang beragama bukan hanya hate speech, mereka bahkan mengutuk, menjelek-jelekkan, atau memusuhi dari mimbar-mimbar dalam rumah peribadatan mereka kepada orang-orang yang tidak beragama. Jadi, Untuk apa kita sok “berpolitik” dan membentengi diri kita dengan peraturan semacam hate speech, ini yang membuat kita semakin dangkal dan bersikap standar ganda.

- Sumber: Siperubahan.com

netizen-beri-gelar-sby-bapak-pilkada-tak-langsung

Yang paling busuk dalam pembahasan RUU Pilkada di DPR adalah Partai Demokrat yang walkout. Padahal, kalau Demokrat mau berpihak ke koalisi Jokowi maka koalisi PDIP, HANURA, dan PKB bisa memenangkan voting (NASDEM belum masuk DPR karena DPR yang baru dilantik di akhir tahun atau tahun depan). Mengapa paling busuk? Pada awalnya, pemerintah melalui Kemendagri mengusulkan pilkada melalui DPRD hanya untuk Gubernur, adapun untuk Bupati/Walikota harus secara langsung. Alasannya, Gubernur bisa dipilih oleh DPRD karena dalam UUD 1945 yang sudah diamandemen pun tidak ada aturan Kepala Daerah harus dipilih secara langsung. Hanya disyaratkan ‘dipilih secara demokratis’. Berbeda dengan pengaturan pemilihan Presiden yang secara nyata disebutkan ‘dipilih secara langsung’. Selain itu, posisi pemerintahan Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur adalah sebagai Unit Antara (perantara antara Pemerintahan Pusat dengan Daerah) sementara Pemerintahan Kabupaten/Kota adalah Unit Dasar yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Dikarenakan adanya frase ‘Unit Antara’ maka pemilihan Gubernur bisa melalui DPRD Provinsi. Adapun untuk Bupati/Walikota secara langsung. Alasannya pemerintahan Kabupaten/Kota merupakan unit yang langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk kenyamanan pelayanan tersebut, masyarakat perlu memperoleh kesempatan untuk secara langsung memilih siapa yang akan memimpinnya. Naskah Akademik ini lalu dituangkan dalam Draft RUU Pilkada Pasal 2. Disebutkan dalam draft RUU awal: ‘Gubernur dipilih oleh Anggota DPRD Provinsi secara demokratis berdasar asas langsung, bebas, rahasia, jujur, dan adil’.

Adapun untuk pemilihan Bupati/Walikota dari Naskah Akademik itu dituangkan dalam draft RUU sebagai berikut: ‘Pemilihan bupati/walikota dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.’ (Draft RUU Pasal 41). Di sini tidak ada kalimat dipilih oleh Anggota DPRD. Konstelasi politik kemudian berubah. Perumusan RUU kemudian menjadi dibalik: Gubernur dipilih langsung dan Bupati/Walikota dipilih oleh DPRD. Sudah bergeser dari Naskah Akademiknya. Itu terjadi di awal tahun 2014. Kemudian berubah lagi setelah kubu Prabowo-Hatta kalah di Pilpres 2014 dan juga di MK, maka oleh koalisi merah putih menjadi semuanya diusulkan dipilih oleh DPRD. Tidak ada yang dipilih langsung. Usulan inilah yang memicu gelombang protes masif dari berbagai elemen masyarakat.

Menjelang detik-detik voting, Presiden SBY muncul dengan sikapnya yang berbalik arah mendukung pilkada langsung. Partai Demokrat yang sebelumnya bersama parpol Koalisi Merah Putih, menyatakan mendukung pilkada langsung. Namun dalam praktiknya, mereka mengajukan 10 syarat yang harus dimasukkan dalam draf pasal-pasal RUU Pilkada. 10 Syarat itu adalah: Pertama, uji publik atas integritas calon gubernur, calon bupati dan calon wali kota. Kedua, efisiensi biaya penyelenggaraan pilkada mutlak dilakukan. Ketiga, perbaikan atas pengaturan dan pembatasan pelaksanaan kampanye terbuka. Keempat, akuntabilitas penggunaan dana kampanye. Kelima, larangan politik uang dan sewa kendaraan partai. Keenam, fitnah dan kampanye hitam dilarang. Ketujuh, larangan pelibatan aparat birokrasi, kedelapan larangan pencopotan aparat birokrasi pascapilkada. Kesembilan, perbaikan atas penyelesaian sengketa pilkada dan kesepuluh pencegahan kekerasan dan tanggungjawab calon atas kepatuhan pendukungnya.

Namun persoalannya di DPR kemarin, Partai Demokrat malah walkout setelah memunculkan opsi ketiga yang cuma dibelanya sendiri. Mereka meninggalkan ruang sidang paripurna DPR pengesahan RUU Pilkada. Sikap ini diambil karena fraksi partai penguasa itu merasa opsinya soal pilkada langsung dengan 10 syarat tidak diakomodir dalam hasil lobi antar-pimpinan fraksi. Partai pendukung pemerintah SBY itu demikian angkuh seolah membikin jalan atau poros tengah. Mereka cuma cuci tangan dan membiarkan dua kubu (Koalisi Merah Putih Prabowo dan Koalisi Jokowi-JK) bertengkar sendiri. Sementara itu di istana, si SBY menyesalkan bahwa RUU Pilkada disahkan.

Inilah bukti bahwa dalam membela kepentingan rakyat, tidak ada yang namanya jalan tengah, melainkan keberpihakan; pada status quo atau rakyat. Kini kita kembali ke status quo yang dipertahankan oleh antek-antek Orde Baru. Setelah pilpres 2014 yang dimenangkan Jokowi-JK, memang banyak orang-orang absurd yang mengira dirinya mengatasnamakan rakyat, seperti mereka yang berada di Koalisi Merah Putih. Demikian pula dengan pemerintah kita yang juga absurd. Cukup layak apabila di dunia maya, masyarakat menggelari SBY di akhir periode kepresidenannya sebagai ‘Bapak Pilkada Tak Langsung’ atas sikapnya yang hipokrit, plin-plan, dan ambigu. Oleh karena itu, untuk menghadang laju para antek Orde Baru, diharapkan agar setiap elemen pergerakan dan organisasi massa untuk mengajukan judicial review ke MK. UU Pilkada via DPRD mengkhianati Hak Pilih rakyat untuk memilih kepala daerah dalam sebuah pesta demokrasi. Efek paling buruk adalah menyuburkan praktik politik uang yang tak terukur di DPRD dan raja-raja kecil di daerah semakin merajalela. Bahkan, Partai Demokrat pun seharusnya bertanggungjawab dengan sikap walkout-nya sehingga mereka mau tidak mau yang paling depan mengajukan judicial review.

sumber: siperubahan.com

Gara-gara SBY menetapkan (atau apa bahasanya, entahlah) bahwa penggantian sebutan kata Cina bagi orang-orang keturunan “Cina”, dengan Tiong Hoa, maka media ikut-ikutan mengganti penyebutan negeri yang dijuluki tirai bambu itu dengan Tiongkok. Kedengaran mirip cerita silat Kho Ping Ho kan? Apalagi pemberitaannya berbarengan kasus kecelakaan Malaysia Airlines. Okelah, kalau di suatu masa dalam sejarah, negeri itu pernah disebut Tiongkok, tapi saat ini mereka pun punya nama Internasional yang sudah umum dikenal sebagai China (People’s Republic of China), atau Cina dalam ejaan Indonesia.

Pernah dengar bagaimana istilah ‘black’ diklaim kembali oleh kaum Afro-America sebagai identitas mereka? Dulunya, orang tersinggung disebut ‘black’ dan sekarang mereka menepuk dada dan berucap: “I am proud to be black”, meski istilah “Nigger” atau Negro tetap tidak mereka terima. Namun terlepas dari itu, berkaca dari sikap SBY yang seolah ingin meredakan penderitaan warga negara keturunan “Cina” pasca kejadian 1998 lalu, tampaknya menjadi “apologi” belaka di penghujung karir kepresidenannya. Saya jadi teringat tentang Gusdur yang waktu itu meminta maaf karena kejadian pembunuhan jutaan orang anggota PKI. Kontan sikap itu dikritik oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu yang juga termasuk “korban” walau cuma diasingkan belasan tahun. Permintaan maaf Gusdur mewakili dirinya sendiri karena telah menjadi bagian dari apa, atau kedudukannya sebagai kepala pemerintahan negeri ini? Atau mengatasnamakan seluruh bangsa Indonesia, atau apa?

Ya, apologi pemerintah yang latah diikuti media “sok” anti diskriminasi. Lalu bagaimanakah dengan etnis lain di Indonesia ini? Arab, India, apa perlu dilabeli pakai kepres segala? Saya pernah menyaksikan ada seorang aktris Indonesia yang keturunan Inggris dan Indonesia, dia cerita ketika pertama kali ke Indonesia dipanggil “bule”, padahal orang “bule” sendiri katanya tidak suka disebut “bule” begitu sudah tahu pengertiannya. Lalu si aktris bilang begini, “Kalau saya dipanggil bule, lalu Anda mau dipanggil pribumi?”

Kenapa sih di Indonesia yang sudah “sangat” majemuk perlu ada yang seperti itu? Makanya saya tidak pernah mau dibilang “Orang Jawa” karena ayah saya lahir di Jawa Tengah, atau “Orang Sunda” karena ibu saya lahir di Jawa Barat, dan juga “Orang Jakarta” karena saya lahir di Jakarta. Saya orang Indonesia ya Indonesia saja. Bukan berarti saya kehilangan “identitas budaya” dan “asal usul” yang jelas sekali bisa saya perdebatkan. Terlebih jika kita ngotot asli-aslian budaya Indonesia yang kebanyakan percampuran, asimilasi, eklektis, dari sejak zaman baheula hingga kini. Maka dari itu, tanpa menyudutkan etnis Cina atau Tionghoa atas diskriminasi yang diterima mereka di masa lalu, saya tidak pernah melabeli mereka dengan kata-kata itu (baik Cina atau Tiong Hoa). Yang terpenting bukan panggilannya, melainkan pengakuan kita terhadap mereka sebagai bagian dari bangsa ini.

Mengapa tidak menyebut orang ‘ajam atau mawali bagi orang-orang keturunan Arab? Ya, dalam bahasa Arab, literatur Arab, sejarah dunia Arab, ada istilah macam-macam untuk orang-orang yang tidak murni kearabannya, alias percampuran;

- Ada mawali, orang yang lahir dari orang tuanya, ayahnya Arab dan ibunya non-Arab. Ini yang umum di zaman modern dipakai. Banyak di Saudi Arabia sana, anak-anak remaja yang disebut mawali-mawali. Istilah ini sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam buku-buku sejarah fikih, banyak ahli fikih yang datang dari kalangan mawali, tapi kalau zaman dulu istilah ini untuk muslim lain yang non-Arab. Saat ini, seperti fenomena keturunan mawali di Saudi, mungkin maknanya sudah melebar.

- Ada ‘Ajam, orang non-Arab yang berbahasa Arab. Pernah dalam satu masa, ketika ekspansi dinasti-dinasti Arab sampai ke Eropa, banyak orang-orang ‘Ajam yang dituding merusak kemurnian bahasa Arab karena logat dan dialeknya yang berubah.

Kenapa orang Indonesia nggak sekalian sebut mawali untuk keturunan etnis Arab yang menikah di Indonesia dan melahirkan keturunan, seperti orang Indonesia lancar menyebut blasteran (atau cukup blaster) untuk pernikahan antaretnis, atau antar ras. Atau sebut mereka etnis Arab yang ada di Indonesia sesuai daerahnya, ada yang Hadramaut (Arab Yaman), Mesir, Saudi, dan lain sebagainya. Kayaknya banyak banget label di Indonesia ini yang disematkan untuk orang-orang yang dibilang “non-pribumi” Indonesia (negeri label; halal pun pakai label).

Taruhlah kita lupakan semua deskripsi sejarah itu, tidak perlu juga kali media latah mengubah apa yang sudah ada dan umum. Sebut negara Cina ya Cina saja, untuk apa harus Tiongkok segala. Tionghoa perlu kepres, nanti Tiongkok juga?

Same Regime, Same Story

13956680792033687396Saya nggak tahu siapa yang berhak melarang peredaran film di Indonesia, apakah Lembaga Sensor Film, ataukah Menparekraf, atau laskar ormas.  Baru-baru ini film NOAH mendapat perhatian karena dianggap menyalahi kisah Nabi Nuh dalam al-Qur’an. Silakan klik link berita pelarangannya. Di sejumlah negara Timur Tengah, film ini juga dicekal. Mungkin kiblat LSF ya Timur Tengah itu, yang sedikit banyak tidak jauh berbeda dengan lembaga keagamaan di sini.

Film Noah ini juga sedikit banyak mendapat kritik dari pihak Kristen walau tetap tidak reaksioner menuntut pelarangan pemutaran film tersebut. Di artikel ini dijelaskan kenapa cerita Noahnya menjadi melenceng jauh dari Alkitab, dan membuat beberapa orang Kristen yang punya interpretasi sendiri atas Alkitab juga kurang setuju dengan film ini karena melihat kejadian cerita Noah dari sudut fantasi penulis yang punya latar belakang pemikiran sekuler liberal. Beberapa petunjuk cerita tentang nyelenehnya Noah adalah sebagai berikut :

1. Si Noah ini diceritakan merupakan environmentalis, atau semacam aktifis lingkungan, pertama di jaman itu, jadi cerita tentang kejahatan manusia adalah bukan kejahatan biadab melawan moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, penghinaan terhadap Tuhan, tapi lebih merupakan kejahatan terhadap alam (hewan, tanaman, bumi) yang mengakibatkan lingkungan saat itu rusak parah.

2. Lingkungan pada masa Noah hidup digambarkan rusak parah, hanya merupakan padang pasir tanpa pohon sama sekali. Noah mendapatkan biji ajaib dari mertuanya Methusalah utk ditanam di tengah padang pasir yang menjadi pohon raksasa bahan utama kapal pengangkut. Mungkin di situ bagian fiksi fantasinya, membuat cerita dalam Alkitab atau Alquran yang punya kisah Nuh juga, setara dongeng biasa lainnya.

3. Noah mendapatkan gambaran ancaman banjir bukan langsung dari Tuhan, tapi dari mimpi yang digambarkan lebih merupakan hasil kegelisahan seorang Noah yangsedang bergulat menghadapi ancaman kerusakan lingkungan parah, sebagai seorang environmentalis, Noah menjadi terganggu kejiwaannya.

4. Keturunan raksasa yang merupakan bagian dari orang orang yang tidak disukai Tuhan karena merupakan pemberontak (kalau di Alquran yang memberontak adalah anak lelakinya sendiri, yaitu Kan’an), di film ini malah menjadi dewa penolong si Noah ini, ikut membantu Noah menyelesaikan kapalnya.

5. Si Noah lebih mikirin binatang dan alam daripada manusia, sehingga menginginkan agar manusia musnah saja dan tidak melanjutkan keturunannya setelah banjir selesai. Eh, ternyata yang masuk ke dalam kapal ada juga perempuan (menantunya) yang hamil dan nggak jadi deh manusia punah.

Begitulah ceritanya mengapa si Noah di film ini menjadi kontroversial karena mengusung semacam agenda ‘go green’ alias konsep environmentalist. Meskipun penggambaran sosok Nuh dan interpretasi riwayat hidupnya jauh dari konsep keagamaan secara umum (seperti dalam Kristen atau Islam), tapi film ini harus tetap diapresiasi dan diputar di Indonesia. Keliru jika LSF atau lembaga lain di negara ini justru melarangnya. Well, jika kita dewasa dan tidak sekanak-kanak LSF atau pihak lain yang menentangnya, kita nggak perlu marah dan melihat itu sebagai ancaman. Harusnya bisa melihat bahwa memang ini bukan film religious, tapi film yang mengangkat isu kekinian dengan mengambil karakter tokoh agama, bukan film agama.

Ini linknya kalau mau dibaca komplit: http://beginningandend.com/russell-crowes-noah-film-a-warning-for-christians/

Bachtiar Nasir, Lc. Alumni Univ Islam Madinah, Sekjen MIUMI, dan aktif ceramah berbagai tempat ini adalah seorang misionaris wahabi di Indonesia. Beberapa tahun lalu dia berhasil menembus televisi swasta nasional ANTV bersama Yusuf Mansur dengan acara audisi pendakwah atau da’i muda. Kemudian di TVOne beliau juga pernah dengan keras mengemukakan anti-komunisme-nya dan mengisyaratkan bahwa orang-orang yang berpaham marxis-sosialis tidak berhak hidup di Indonesia. Sekarang ini sekali lagi dia menembus stasiun televisi dalam acara KULTUM di RCTI.

Paham wahabi adalah paham yang gampang sekali mengkafirkan dan mengatakan sesama muslim sebagai sesat, bid’ah, dan khurafat jika ada hal-hal yang menurut mereka tidak sesuai atau menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, dan tiga generasi pertama umat Islam yang sering mereka istilahkan salaf al-shalih. Khusus untuk Bachtiar Nasir ini, dia menyebarkan ajaran wahabi–salah saktu sekte dalam komunitas muslim dunia–setelah menyelesaikan studinya di Saudi.

Ada pengalaman pribadi ketika beberapa tahun lalu di Bekasi, tepatnya pada khutbah shalat ied, dia mengatakan bahwa Islam adalah agama sekaligus ideologi paling benar dan terletak di atas isme-isme yang ada di dunia, seperti nasionalisme, kapitalisme, sosialisme, dll. Menurutnya, umat Islam Indonesia tidak boleh mempunyai rasa nasionalis terhadap negara apalagi menjadikan sesuatu yang bukan dari Islam seperti Pancasila serta UUD 45 sebagai pedoman, panutan, dan hukum.

Kemudian dia berulah lagi dengan mengatakan bahwa Syi’ah adalah sesat dan bukan dari Islam. Karena itu, ketika terjadi kekerasan di Sampang seperti yang dialami oleh minoritas Syi’ah di sana, dia malah membandingkannya dengan tragedi di Suriah yang menurutnya adalah perang antara Sunni-Syi’ah abad modern. Sebagaimana yang tercantum dalam situs pribadinya yang bertajuk, “Jangan Ragu Memvonis Kesesatan Syi’ah.”

Kali ini dia menyerang Jokowi yang dicapreskan PDI-P di akun twitternya. Pemerintah Kita kurang tegas dan lemah. Orang semacam ini yang membuat Indonesia kacau. Media di Indonesia juga sekali lagi memegang peranan penting dalam membuat sebagian bangsa menjadi radikal, karena media hanya memikir duit. Tidak ada upaya media untuk memikirkan deradikalisasi bagi para radikalis, tapi malah melegitimasi keberadaan mereka. Sangat disayangkan.

bachtiar nasir bachtiar nasir1

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 525 other followers